
Saat aku repot dengan Kaf, aku malah menyaksikan Novi berhias.
Sabar, sabar.
Kinasya mana pernah berhias saat anak-anaknya belum berangkat sekolah. Kadang, ia belum mandi untuk mementingkan kepentingan anak-anaknya. Memang Kinasya bangun pagi, ia hanya cuci muka dan sholat subuh saja. Kemudian, ia langsung dinas di dapur. Membuat sarapan yang begitu lezat untuk kami.
Semua keluarga mengakui, bahwa masakannya begitu lezat. Aku saja sampai memiliki badan ideal lagi, setelah menikah dengannya.
"Papa, kaos kaki aku hilang satu." Kaf merengek, dengan air mata yang tertampung di kelopak matanya.
Aduh, anak ini.
"Biar Papa cari. Kaf lanjutin mulasnya." aku meninggalkan tumpukan bukunya yang berceceran di meja ruang keluarga ini.
Mereka memiliki kamar sendiri-sendiri, ruang bermain sendiri-sendiri. Mereka juga memiliki meja belajar dan lampunya. Tapi, tetap saja mereka melakukan aktivitasnya di ruangan lain.
Dulu pun, mereka tidur sendiri-sendiri. Kinasya akan tidur bersama mereka, sampai mereka terlelap. Lalu, baru kembali ke kamar kami. Kinasya bisa memandirikan mereka sejak dini. Bahkan, Kinasya sanggup bangun malam beberapa kali. Hanya untuk mendisiplinkan anak-anaknya buang air kecil, agar tidak mengompol.
Sekarang, anak-anaknya seperti hidup bebas. Aku tidak sanggup bangun malam setiap jam. Membuatku memilih memakaikan mereka diapers, ketika mereka sudah terlelap. Jika aku malah ikut terlelap, paginya pasti ada saja yang mengompol.
Menyedihkan. Karet kaos kaki anakku sudah pada kendor. Pulang bekerja nanti, aku akan mampir untuk membeli kaos kaki mereka.
Aku jarang mengecek, karna mereka pun biasanya bersiap sendiri. Sekalipun aku yang mencuci dan melipat pakaian anak-anakku. Tetap saja, aku tidak teliti untuk mengeceknya.
Novi duduk di sofa panjang yang semalam ia tiduri, saat aku keluar dari walk in closet setelah mendapatkan kaos kaki milik Kaf.
Ia masih berhias saja, menambahkan warna di kelopak matanya. Ia tidak bekerja, ia tidak perlu berhias bagaikan penyanyi dangdut seperti itu.
Aku ingin banyak protes. Hanya saja, aku masih mementingkan kepentingan Kaf. Novi seolah tidak peduli, dengan kesibukanku pagi ini.
Harusnya ia mengerti, bahwa selain menjadi istriku. Ia juga memiliki dua anak sambung yang masih kecil-kecil, juga keduanya bersekolah.
Jika memang ia telat bangun, harusnya ia menunda jadwal mandinya. Aku pun akan mengerti, kenapa ia tidak segera mandi. Bukannya sudah telat bangun, ditambah menelantarkan anakku.
Jadi, fungsi ibu sambung ini untuk apa?
__ADS_1
Aku menikahinya bukan untuk kepentinganku sendiri. Melainkan, untuk anak-anakku. Ia pun, sebenarnya tahu tentang kenyataan ini.
Mungkin karena hari pertama. Oke, aku akan memakluminya. Aku tidak akan berdebat, ataupun mencari ribut dengannya.
Mungkin, Novi tidak biasa. Mungkin, Novi belum tahu tugasnya. Mungkin, Novi tidak mengerti apa yang harus ia lakukan pagi ini.
Aku akan diam. Semoga, hal ini tidak terulang di esok hari. Harapanku besar padanya.
Setelah Kaf siap, aku langsung mengantarkannya ke taman kanak-kanaknya. Beberapa bulan lagi, Kaf akan masuk SD. Dengan Kal, yang akan naik ke kelas tiga.
Aku sedikit was-was sebenarnya, aku khawatir Kal tidak naik ke kelas tiga. Lantaran, nilainya sangat buruk. Aku akan mengamanatkan Novi, untuk membantu Kal belajar. Karena, ini masih belum tengah semester. Masih ada waktu yang cukup banyak, untuk mengajari Kal.
Saat nanti ulangan tengah semester, aku akan melihat nilai ulangan Kal. Jika ada perbaikan, berarti Novi bisa untuk mengajari Kal. Jika sebaliknya, aku akan menegurnya habis-habisan.
Sepulang mengantar Kaf ke TK. Aku menyempatkan diri, untuk datang ke tempat ATM. Aku akan menarik uang, untuk persediaan sampai ke tanggal baru.
Satu juta seratus, aku tarik untuk jatah belanja sayur untuk Novi masak setiap hari. Ini sudah tanggal sembilan belas. Aku pikir, seratus ribu sehari tidak begitu buruk. Karena tanggal satu nanti, aku akan mengajaknya belanja bulanan seperti saat bersama Kin dulu.
Aku ingin tahu, bagaimana caranya ia mengatur keuangan.
Aku tidak begitu berlebihan dalam memberi mereka uang. Karena aku malah khawatir, ada yang mengincar mereka karena uang. Pikirku lagi, uang segitu sangat cukup untuk anak-anakku jajan di sekolah. Apalagi, mereka membawa air dari rumah.
Namun, aku malah teringat ucapan Rauzha yang mengatakan Kal memiliki banyak uang. Bahkan, Kal yang menjalani mereka saat Kak main ke rumah Rauzha.
"Nov…." aku menyerukan namanya.
"Ya, aku lagi beresin barang-barang aku." aku langsung berbelok ke arah kamarku.
Tidak ada di kamar.
Pasti, ia berada di walk in closet. Jangan-jangan, Novi mengeluarkan barang-barang milik Kin.
"Nov!" aku bergegas menuju ke ruangan lain, yang berada di kamarku.
"Ya?" ia menoleh ke arah pintu yang baru saja aku buka.
__ADS_1
Ia terlihat bingung, saat menatapku yang terlihat panik ini.
"Barang-barang Kin buat Kal. Nanti aku minta bantuan mamah, buat pindahkan barang Kin ke kamar Kal. Atau, nanti aku beli lemari baru aja buat kau." aku melangkah masuk dan memperhatikan Novi yang tengah menggeser pakaianku yang bertumpuk rapi.
Aku mengharapkannya membuatkan sarapan untukku, saat aku baru pulang mengantar Kaf tadi. Bukannya ia malah membereskan barang-barangnya dahulu.
Memang perutnya tidak lapar?
Hufttt…. Sabar, mungkin karena ini hari pertamanya. Ya, aku akan kembali memakluminya. Ia kemarin gadis, mungkin ia belum tahu kesibukan ibu rumah tangga.
Aku tidak akan mengkomplainnya. Aku khawatir, ia nanti tersinggung. Lebih lagi, ia merasa dijadikan babu atau pengasuh.
"Ya, terserah. Ini pakaian ini, aku geser ke atas ya?"
Aku hanya mengangguk, kemudian memilih untuk masuk ke kamar mandi. Aku akan bersiap untuk bekerja. Jika Novi masih tidak peka, untuk membuatkan sarapan. Maka aku akan memilih meminta Dewi membeli sarapan untukku, ketika aku sudah sampai di tempat kerja.
Aku terbiasa sarapan. Jika tidak sarapan, aku merasa gemetaran. Anak-anakku pun demikian.
Saat aku selesai mandi pun, aku melihat Novi masih sibuk dengan peralatan make upnya. Ia menyusun skincare miliknya, di meja rias milik Kinasya.
Bukan masalah. Toh, Kinasya pun tidak akan datang untuk mengkomplain meja riasnya yang dipakai istri sambungku.
Aku memilih mengambil pakaian kerjaku, kemudian memakai baju di kamar mandi. Aku paham, Novi memperhatikanku yang hanya memakai handuk aja.
Mungkin, ia menginginkan kecupan kecil. Atau, hanya sentuhan kecil dariku.
Namun, aku tidak berminat karena kekeliruan sejak pagi. Jujur, aku dongkol. Aku marah, hanya saja aku lebih memakluminya.
Rasanya, dibandingkan dengan Kin dari segi manapun. Novi tidak sama, dengan cara Kin mengurus pagi kami.
Bahkan, saat baru pengantin baru pun. Sore hari setelah kami menikah, Kin menggiling baju kotor kami sekaligus memasak. Meski saat itu keadaan intinya tidak baik-baik saja, karena aku sudah mengambil mahkotanya.
Aku tidak banyak menuntut. Tidak muluk-muluk, hanya ingin Novi mengerti pagi untuk kami. Di mana paginya anak-anak sekolah, juga aku yang berangkat kerja. Harusnya, ia tidak membiarkanku keluar rumah dengan keadaan perut kosong.
...****************...
__ADS_1