
"Ma…. Minta nasi dulu." Cendol muncul dengan piringnya.
"Memang belum masak?" Aca mengambil piring di tangan Canda.
Aku tengah bersantap, dengan pakaian yang sudah rapi. Aku ingin berangkat ke kantor, meski sudah telat. Yang terpenting, aku hadir dan mengikuti skedulku hari ini.
"Kocak betul aku ini. Antara marah sama ngelus dada, mas Givan geleng-geleng kepala aja sambil ngusap-ngusap jenggotnya. Aku udah masak nasi dari subuh, tapi belum aku jeplek. Ya jadi belum matang sampai sekarang." Ia terkekeh seorang diri.
Aku sampai terisak seperti tengah menangis. Karena geli tak tertahankan, dengan mulut terisi makanan.
"Ish, kau ini ada-ada aja." Aca tertawa samar, dengan sudah mengisikan piring Canda dengan nasi.
"Eh, banyak sekali. Buat mas Givan aja, aku udah makan nasi campur pas pagi tadi." Canda menerima. Namun, ia berjalan kembali ke arah penanak nasi dan menaruh kembali isi piringnya.
"Ambil sendiri lah kalau begitu. Aku tak tau takaran perut Givan." Aca kembali duduk di hadapanku.
Aku kira petainya matang. Ternyata, petainya hanya hangat saja. Malah, masih terasa mentah saat aku gigit. Beginikah menikah dengan orang dari Jawa Barat? Di sini juga ada tata cara makan sayuran yang dimakan mentah seperti ini. Tapi terus terang saja, lebih banyak olahan daging kambing untuk masakan khas daerah sini ketimbang makan sayuran mentah. Perbedaan itu baik, hanya saja lidahku tidak terbiasa.
Bagaimana ya menjelaskannya?
Bukannya aku rasis. Hey, bahkan ibuku dari Jawa Barat. Tapi, hanya saja lidahku tidak biasa makan makanan seperti ini.
"Makasih ya, Ma? Aku mau nyajikan makanan mas Givan dulu." Canda sudah selesai berurusan dengan penanak nasi.
"Eh, ini. Ada sambal petai, bawalah untuk suami kau." Aca bergegas mengambil piring gelas berukuran sedang.
"Wow, aku minta ayam gorengnya juga. Sayap aja, satu. Kasih juga mas Givan sayur lalabnya juga." Canda berbinar-binar menatapku lalu pauk yang berada di hadapanku.
"Ambil, ambil. Jangan minta diambilkan segala. Istri aku lagi hamil." Aku mempersilahkannya, daripada harus merepotkan Aca.
Aca hanya terkekeh geli, dengan menaruh piring gelas yang sudah terisi sambal petai. Ia mengambil banyak, sepertinya ia tahu dari ekspresiku jika aku kurang suka dengan makanan ini. Tapi tetap kumemakannya, meski aku hanya mengunyah sebentar saja. Bahkan, aku seperti minum obat. Yang memancing makananku dengan air putih.
Memang aku doyan petai, pernah juga aku makan petai mentah. Tapi tidak pernah habis banyak, sedangkan Aca membuatkan seolah suaminya doyan petai.
__ADS_1
"Makasih, Ma. Aku pulang dulu, makasih makanannya." Canda langsung membopong apa yang ia dapat dengan nampan plastik dari dapurku.
"Hm, udah biasa." Aca hanya melirik Canda.
Tak jarang juga, Canda malah makan di sini. Bukan masalah juga sih sebenarnya, apalagi hanya sepiring makanan. Tapi ya, unik sajalah. Dia mantan pacarku, tapi suka keluyuran di rumahku yang jelas ada istriku. Entahlah, bagaimana konsep kekeluargaan ini. Yang terpenting, akur dan saling menjaga. Masalah hormat, aku malah sering meledeknya dengan sebutan Cendol. Aku sering kurang sopan padanya.
"Dari Ghava, aku langsung ke kantor ya? Pulangnya aku mampir dulu ke tempat AC mobil, aku mau pulang cepat tapi ke bengkel dulu gitu." Ini rencanaku hari ini.
"Oke, kabarin aja kalau ada jadwal yang keluar dari rencana. Terus, malam nanti maunya makan apa. Papa kek kurang doyan menu ini, banyakan minum air putihnya."
Benar tebakanku, ia memperhatikanku sejak tadi.
"Kasian Mama lagi hamil besar. Beli lauk aja kah? Mau lauk apa? Nanti pulang kerja aku bawa." Ini adalah hal tersering yang aku lakukan saat berumah tangga dengan Novi.
Jika dengan Aca, aku baru satu kali menawar opsi ini. Semoga aja tidak keterusan seperti Novi, hari-hariku malah selalu membeli lauk ketika pulang bekerja.
"Tak ah, mau masak aja. Papa mau dimasakin apa? Sayur mayur lengkap, daging dan bumbu-bumbuan pun ada semua." Ia menuangkan kembali air minum untukku.
"Yang mudah aja, tumis apa gitu. Nanti coba tanyakan anak-anak, mereka mau tumis apa." Aku tidak begitu rewel, yang terpenting bervariasi saja. Jangan sampai kemarin masak cah kangkung, hari ini pun masak cah kangkung. Kan bisa bosan dengan cah kangkung nantinya.
Eh, tak lama mereka muncul bersama.
"Mau minum dulu, Ma." Kaf berjalan ke arah dispenser.
"Kenapa salinnya lama betul, Kaf?" tanyaku kemudian.
"Aku tak nemuin baju kesayangan aku. Capek nyari, tak ketemu juga." Kaf membawa segelas air, kemudian duduk di depanku.
Sedangkan Aca, ia tengah menyendokkan nasi untuk Kaf.
"Yang warna oranye kecoklatan itu?" Itu adalah satu-satunya kaos yang sering cuci, kering, pakai.
"He'em, di mana ya?" Kaf terlihat frustasi.
__ADS_1
"Ma, bukain." Ra muncul dengan mengulurkan snack makanan ringannya.
Ya begitulah anak-anak, ada yang menjaga pun. Perihal membuka bungkus makanan saja, ya harus mamanya.
"Loh, Ra! Itu baju aku!!" Kaf langsung menunjuk baju yang ia cari. Rupanya, baju itu dikenakan anaknya bang Givan ini.
"Sana beli baru! Minta yayah Ra sana!" tanggap Ra dengan berbalik badan dan berjalan ke arah halaman belakang kembali.
"Papa…." Kaf merengek dengan mengacak-acak rambutnya.
"Sana minta ayah tanggung jawab lah." Aca memberikan opsi seperti Ra.
"Pa…." Kaf merengek padaku.
Itu adalah baju dari kakeknya, kakek Adi Riyana. Kaos sederhana, dengan sablon anti lengket yang memiliki harga lumayan. Belum lagi kaosnya yang menyerap keringat dan warnanya gelap dan unik. Kaos distro lah mungkin disebutnya. Padahal, yang serupa hanya beda warna pun ada. Aku bahkan membelikan banyak kaos yang couple denganku. Mungkin, Kaf terlanjur suka dengan warna baju itu.
"Uangnya aja kah? Minta ayah antar, atau kakek tuh. Mau tak? Papa pulang sore loh, apa mau besok?" tawarku kemudian.
"Ya udahlah! Aku ke ayah aja! Tak usah minta uang Papa, ayah pun mampu."
Marah dia.
Ia pergi dengan membawa sepotong paha ayam.
"Udah mulai nulis-nulis Kaf love Elvi. Aku lihat banyak di bagian belakang bukunya."
Ya aku pun seperti itu ketika SD.
"Wajar, dikontrol aja. Nanti sesekali aku ajak ngobrol, biar tak main rasa yang berlebihan dia sama perempuan. Masih kecil, masih SD," sahutku kemudian.
"Aku tanya tuh, cuma temen satu kelas aja katanya," timpal Aca kemudian.
"He'em, ada rasa tertarik gitu karena biasanya perempuannya cantik. Hormon laki-laki lah, normal. Umur tiga tahun aja, udah paham dia kalau anunya geli kalau keras. Dia kecil sering nanya, kenapa kalau pagi keras. Aku bilang aja, itu tuh kebelet pipis. Terus lari dia ke kamar mandi. Setelah kembali, dia nunjukin kalau anunya udah mengkerut karena udah pipis."
__ADS_1
Aca terkekeh geli. "Cikal bakal the next Ghifar keknya," celetuknya kemudian.
...****************...