Istri Sambung

Istri Sambung
IS127. Solusi untuk Ghavi


__ADS_3

"Santai ajalah, Kakak Ipar. Kita para jantan, cuma ngobrol aja kok," celetuk Ghavi, dengan bersandar pada tiang beton teras rumahku.


Brak….


Pintu ditutup dengan bantingan. Novi tidak sopan sekali, sedang ada Ghavi main juga.


"Kasih aku uang pinjaman dulu lah, Bang. Lepas itu kau boleh masuk ke rumah." Ghavi terlihat begitu memelas.


"Rumah juga, rumah aku sendiri. Segala, kau yang buat aturan." Aku meraih ponselku, yang tergeletak di sebelah gelas berisikan wedang jahe merah itu.


"Berapa? Tapi jangan buat biaya cerai. Buat modal usaha kau, biar kau bisa ngasih makan anak kau. Ngerepotin orang tua, jangan keterlaluan lah. Mana anak kau lima lagi, Tika juga numpang di sana. Kau pikirkan biaya hidup mamah di sana, udah pasti langsung melonjak itu." Aku tengah memasukkan password aplikasi mobile banking ini.


"Ya, Bang. Aku jual rumah aja kah? Di dalam juga tinggal kasur, sofa ruang tamu, sama perkakas dapur. DVD, TV, akuarium, kipas, AC, elektronik lain pun habis semua, Bang. Tika aja, tak punya HP. Mau tak mau kejual, karena token habis. Padahal, aku ngandelin jualannya Tika. Kan lumayan itu, meski cuma jadi resellernya Cendol aja."


Kita para adik ipar, memang kurang sopan pada Canda selaku kakak ipar kami. Malahan, sering sekali ledek meledek. Puncak menggemaskannya Canda adalah, ketika ia hamil Ra.


Berpuluh kali, kami ketiga adik ipar laki-laki yang telah dewasa. Harus mengurus kakak ipar, yang tengah hamil dan ada saja dramanya. Mana suaminya, tengah membenahi banyak masalah dalam usahanya. Yang paling menyebalkan adalah, ketika kram perut. Jika tidak ditarik kain, kram perutnya lama mereda.


Mana kan, mudah sekali tertidur. Bukan masalah sebenarnya, tapi Canda sering tertidur di lengan kami. Mengobrol, menunggu, bercengkrama dalam keluarga besar, ia bisa pulas dengan menemplok di lengan adik iparnya.


Kadang, aku tidak habis pikir dengan kakak ipar yang katanya paling tua menurut susunan itu. Tapi tingkahnya seperti bocah yang hamil di masa remaja.


"Kenapa kau tak jual HP? Kenapa mesti Tika?" Aku pun pernah menjual ponsel, kala baru saja menikah beberapa hari.


Mau tidak mau, aku menjualnya. Untuk menyambung, sampai ke pembukuan travel di akhir bulan. Tapi itu pun, Kin mau berbagi ponsel.


Model-model memiliki selingkuhan seperti Ghavi. Ya pasti, ponselnya seolah haram disentuh istrinya.


"Karena aku butuh komunikasi dengan dunia luar. Aku hubungi teman-teman lamanya bang Lendra, yang kemarin bikin usaha aku naik pesat. Tapi bubar, karena aku masuk bui." Nada suaranya cenderung rendah, seperti tengah sedih.

__ADS_1


Aku menaruh kembali ponselku, karena Ghavi tidak menyebutkan berapa jumlah yang ia butuhkan.


"Masalah terbesarnya, bukan karena kau curangi usaha Abang." Aku teringat pelik kehidupan di awal sebelum kehancurannya.


"Ya, aku paham. Aku tau sifat mamah aku. Bodohnya lagi aku, udah dikasih kesusahan, tetap aja begini." Ghavi murung, mungkin tengah meratapi kebodohannya.


"Jangan ulangi lagi, kalau tau begitu. Mending, usaha yang aman aja. Gabah, ya udah lanjut lagi aja. Dari situ aja kau, dulu bisa beli ini itu, bisa mampu bangun rumah." Aku memberinya saran, di bidang yang ia kuasai.


"Lama, Bang. Harus nunggu masa panen orang dulu. Anak-anak aku, tak mungkin makan tiga bulan lagi. Pagi pun, buat sarapan aku harus punya."


Padahal, ia adalah anak yang paling lurus hidupnya. Menurut dan patuh, tidak pernah melawan, bahkan ketika dipukul sekalipun.


"Papah mau bantu kau tak?" Aku mampu memberinya pinjaman, tapi tidak mampu memberinya saran terbaik.


"Mau, tapi setiap kali lagi ngobrol sama aku tuh, mamah manggil-manggil suaminya terus. Kesannya kek tak boleh, buat bantu aku. Aku sama siapa lagi coba, Bang? Istri aku, udah tak mau berjuang lagi sama aku. Orang tua, kek lepas tangan. Bang Ghava, malah nyalahin aku terus. Katanya, dia tak mungkin ngelakuin hal kek aku, kalau udah ada anak begini. Dia tak paham aja, suntuknya jadi aku, kalau istri ketiduran lepas ngelonin anak-anaknya." Ghavi seolah membenarkan kesalahannya sendiri.


Matanya langsung mencilak. Sepersekian detik, ia terdiam tanpa ekspresi.


"Kau betul, Bang," sahutnya kemudian.


Nah, baru sadar kan?


"Kalau kau sayang istri, ya sediakan pengasuh kek bang Givan tuh. Mulutnya memang ngomong, Canda payah, tak mampu handle anak-anak. Tapi di balik tindakannya itu, dia punya rasa kasihan dan sayang ke istrinya. Dia paham, kalau dirinya pasti tak punya kesempatan untuk berduaan dengan istrinya, kalau dua puluh empat jam, istrinya megang anak-anaknya," ungkapku reflek.


Eh, tapi aku pun baru ngeh di sini. Jadi, ternyata bang Givan seperti itu ya pada Canda?


Dari mulutku yang reflek ini, aku baru sadar bahwa bang Givan lebih layak untuk Canda ketimbang denganku. Karena, dari dulu bersama Kin, aku tidak pernah berpikir untuk memiliki pengasuh. Aku hanya ingin, anak-anakku tumbuh dengan asuhan ibu kandungnya saja.


Dengan keputusanku yang seperti itu, aku pun sama seperti Ghavi. Ya, laki-laki yang tak pernah memikirkan bagaimana lelahnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya.

__ADS_1


Aku seperti tengah menasehati diriku sendiri.


Pantas saja, Yang Kuasa mengambil Kinasya dariku. Panas saja, semesta tak pernah mengizinkan aku untuk bisa bahagia bersama Canda. Ternyata, aku adalah laki-laki yang egois.


Aku harus banyak membenahi diri. Aku harus mencontoh beberapa hal baik kakakku, yang ia terapkan di rumah tangganya.


Meskipun anak-anak dipegang oleh pengasuh. Tapi, peran orang tua tidak ditinggalkannya. Canda yang tetap mendidik agama anak-anaknya, bang Givan pun ikut serta sebagai ayah yang pandai di segala bidang yang anak-anaknya ingin ketahui.


Begitukah rumah tangga yang saling mengerti satu sama lain?


"Kasihlah pengasuh, buat bantu Tika ngurus anak-anak kau. Kau harusnya bersyukur, karena Tika masih waras, ngurus anak-anak kau yang sebanyak itu, mana jarak usianya berdekatan. Mana lagi, kau tak ngertiin keadaannya. Entah-entah, biologisnya pun terpenuhi tak." Aku melirik ponselku yang mengeluarkan suara notifikasi.


Aku teringat ucapan Kin, yang pernah mengatakan bahwa se*s adalah hiburan untuknya. Dia cukup lelah di rumah, apalagi terkurung dalam izin dariku. Hanya kegiatan itu, yang membuatnya rileks dan tidak stress.


"Nah itu. Aku udah pesan dari lepas maghrib, tetap sih malam Tika ketiduran. Mau menuhin juga gimana? Dia udah lelap duluan."


Loh?


"Kan bisa siang, lepas subuh, atau pas anak-anak sekolah." Ini adalah waktu, yang sering aku habiskan berdua bersama Kin, selain waktu tengah malam.


"Anak-anak yang besar sekolah kan, yang kecil ada di rumah. Subuh kan, yang bangun juga anak-anak duluan. Kau bayangkan aja lah, Bang."


Setelah ini, sepertinya ia kapok memiliki anak yang memiliki jarak umur berdekatan.


"Entahlah, Vi. Abang kau ikut pusingnya aja." Aku mengacak-acak rambutku sendiri, kemudian menyugar ke belakang.


Aku tak memiliki jalan keluar untuknya. Barangkali pembaca sekalian memiliki jalan keluar untuk Ghavi, tolong komentar terbaiknya ya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2