
Flashback on
"Nih, aku buatkan tumis toge biar subur." Canda membukakan tepak makan yang berwarna pink tersebut.
Untungnya, dulu aku sering tertukar tepak makan dengan adikku Giska. Jadi, saat mendapat hal yang serupa. Aku tidak begitu kaget lagi.
Hanya tepak makan berwarna pink, bukanlah hal yang serius untukku. Aku bahkan sudah tahu, akan Canda yang penyuka warna pink dan karakter kucing lucu itu.
"Memang mau hamil anak aku?" Aku menerima tepak makan yang sudah terbuka itu.
Seperti biasa, bangku taman di dekat parkiran mobil menjadi tempat mojok kami setiap siang hari.
"Mau, bernasab Mas ya? Kalau Mas mau sekarang pun gak apa, asal jangan dibuat hamil dulu."
Baru juga memakan sesendok nasi. Aku sudah dibuat tersedak, karena mendengar ucapan konyolnya.
"Nih, Mas. Minum dulu nih." Canda membukakan tutup botol air yang sama berwarna pink juga.
Semoga hal lain dalam dirinya pun berwarna pink.
Aku menerima botol air tersebut, kemudian menikmatinya setenggak ringan.
"Udahlah, bikin list namanya aja dulu. Biar pas kita ada anak, kita udah tak pusing nih mikirin namanya siapa." Ide konyol itu muncul begitu saja.
"Boleh, Mas. Aku pengen nama anak-anak kita mengandung unsur Aceh." Canda memeluk lenganku.
Untungnya aku belum kembali makan, aku bisa tertawa lepas setelah mendengar tutur katanya itu.
"Kek gimana contohnya?" tanyaku kemudian.
"Teungku Wisnu, Teungku Rezi, Teuku Ghifar." Ia mencolek daguku dengan menarik turunkan alisnya.
Aku tergelak kembali. Canda pun membauri tawaku.
"Tak lah, yang umum aja ya? Kalau perempuan namanya mirip kau, kalau laki-laki mirip aku." Aku mengibaskan lenganku sedikit, karena sadar kami berada di depan umum. Aku tak ingin kami menjadi tontonan, lantaran Canda masih saja mendekap lenganku.
"Oke, deh. Aku sih manut aja, Mas." Canda malah menggeser duduknya menjadi lebih dekat denganku.
Sudah seperti di angkot yang penuh sesak.
"Nama panjang kau siapa tuh? Duh, lupa aku." Aku malah sedikit memundurkan posisi dudukku.
Canda menepuk lenganku dengan bibir yang mengerucut, "Kan waktu itu kita udah kenalan."
Aku tertawa samar, "Iya, siapa tuh namanya?" Aku kurang mengingat nama panjangnya.
"Canda Pagi Dinanti, Mas." Canda menghela nafasnya.
__ADS_1
"Oke…" Aku menerawang sebuah nama, dari nama panjangnya itu.
"Cendana…. Eh, gini deh." Aku mendapatkan sebuah nama, "Chandani, kalau perempuan. Terus kalau laki-laki…." Aku kembali merangkai sebuah nama.
"Ghifar…." Aku berucap pelan, "Ghifari aja deh." Aku tak menemukan kosa kata yang lebih mirip.
"Aku tambahin boleh?"
Aku langsung mengangguk, kemudian menyuapkan kembali makan siangku ini. Ini tidak cuma-cuma, di akhir bulan nanti aku akan mengajaknya berjalan-jalan sebagai timbal baliknya.
"Chandani Qaila Alnetta, anak perempuan bermahkota indah yang selalu tanggap dengan dipenuhi kecerdasan." Canda memamerkan keindahan senyumnya.
"Kalau laki-laki apa?" tanyaku kembali.
"Eummm…." Canda memutar bola matanya.
"Ghifari Mahadi Fattah, laki-laki pemaaf, berhati lembut, mulia dan penakluk." Aku ternganga mendengar arti nama tersebut.
"Kalau arti nama aku apa, Canda?" Aku menoleh ke arahnya dengan melanjutkan kunyahanku.
"Ghifar ya? Artinya, laki-laki pemaaf dan berhati lembut." Canda mencolek kembali daguku.
Dasar, genit!
Flashback off
"Nanti ya aku minta izin mas Givan dulu untuk nama itu?" Suara Canda membuyarkan lamunanku.
Aku kini menjadi perhatian banyak pasang mata.
"Bagilah tau suaminya dulu. Masa tak perlu cerita?" tukas papah kemudian.
Sepertinya, arah pembicaraan ini sedikit lain. Papah mengira aku tak menyarankan Canda untuk tidak meminta persetujuan para bang Givan, tetapi maksudnya adalah agar Canda tak perlu bercerita tentang masa lalu kami dulu pada bang Givan.
"Mas Givan mana, Pah?" tanya Canda kemudian.
"Lagi urus-urus administrasi."
Setelahnya, kami berbaur bersama dalam obrolan. Sepertinya juga, Canda sudah sedikit melupakan rasa sakitnya itu.
Syukurlah, Canda tidak begitu berlarut-larut, seperti saat operasi pertamanya. Ia sekarang, terlihat lekas membaik dan pulih lebih cepat.
Sampai malam harinya, aku menguap kembali karena bang Givan menahanku untuk menjaga anaknya yang terjaga ini.
Tatapan bayi ini kosong, tetapi terlihat menarik untuk diperhatikan.
"Kasih sayurnya juga tuh, Mas. Kasih dadarnya juga, sama ikan bumbunya juga, Mas." Canda tengah membuat list menu nasi Padang yang akan menjadi santapan kami jam satu malam ini.
__ADS_1
"Banyaknya!" Bang Givan tersenyum kecut.
"Itu, Mas. Sama kerupuk juga deh. Tak apa tak dikasih sambal juga, aku ngerti kok." Canda tersenyum tanpa dosa.
Bang Givan geleng-geleng kepala, "Menurut kau?!" Bang Givan menyambar dompetnya yang berada di atas nakas berbahan baku besi itu.
"Ati-ati ya, Mas? Beli air juga, yang botol besar, Mas."
"Hmm. Jagain dulu, Far." Bang Givan melirikku.
Aku hanya mengangguk samar, sembari mengayunkan bayi yang merengek ketika dibawa duduk ini.
"Far…. Aku mau liat Chandani."
Aku melongo, mendengar Canda menyebut anaknya dengan nama keramat itu.
Aku mengangguk, kemudian membawa bayi ini untuk dekat dengan ibunya. Bayi ini sudah ASI pada Canda langsung, meski Canda belum bisa menopang anaknya sendiri.
"Kau serius mau kasih nama anak kau dengan nama itu?" Aku duduk di kursi dekat tiang infus ini.
Aku mempuk-puk paha anak ini, agar ia mau ketika dibawa duduk seperti ini.
"Ya, udah bilang mas Givan kok. Tapi, mas Givan tak mau namanya terlalu panjang. Jadi mungkin dipangkas," jelas Canda dengan menoleh ke arahku.
Senyumnya terukir, dengan ia menoel-noel pipi anaknya.
"Kau cerita juga tentang kita?" Aku bertanya lirih.
Canda menggeleng samar, "Aku semalam dipaksa mas Givan buat jujur. Kau ngomong apa sih pas main itu. Eh, oh iya. Gelas kopi aku dibawa kau ya?" Canda menepuk tanganku pelan, yang tengah menepuk-nepuk paha anaknya ini.
Random sekali dia ini.
"Iya." Aku terkekeh kecil, "Sebiji aja loh, Canda. Segala ingat gelas kopi." Aku geleng-geleng kepala.
"Iyalah, hantaran dari bang Daeng itu tuh." Canda mengusap-usap pipi anaknya kembali.
Ia menggulirkan pandangannya padaku kembali, "Kau ngomong apa? Sampai sekarang, mas Givan agak kaku ke aku. Gara-gara aku belum jujur. Pas pagi perjalanan ke rumah sakit aja, aku dibilang tak enak sama dia. Katanya, itu tuh tak jujur ke suami, jadinya ketubannya pecah duluan kan. Aku tau itu cuma ungkapan kesalnya aja, tapi tak enak rasanya diungkit terus. Aku terus-terusan disindir tak enak sama mas Givan." Canda memasang wajah murungnya.
Jadi, saat aku pulang dari rumahnya. Mereka malah ribut?
Apa bang Givan cemburu?
"Gimana coba ceritanya. Kau cerita tak satu-satu dulu tuh! Baru buka obrolan, malah ngomong gelas kopi ada di mana. Baru buka cerita lagi, kau pun timbun cerita kau tentang ketuban pecah. Gimana sih kau, Canda?" Canda malah terkekeh kecil.
Aku tahu, ia belum bisa tertawa lepas.
"Iya, mas Givan minta aku jujur tentang perasaan aku. Tak mungkin kan aku bilang, kalau aku masih….
__ADS_1
...****************...
follow author ya 😘