Istri Sambung

Istri Sambung
IS98. Mencari keyakinan


__ADS_3

"Entah, Bang. Aku pun bingung." Aku menunduk, sengaja menghindari kontak mata dengan bang Givan.


Karena, ia pasti paham gerak-gerikku ini.


"Abang minta intinya aja, Far. Jawab dengan anggukan atau gelengan. Sebenarnya, di hati kau masih ada istri Abang kah?"


Sialnya lagi, entah mengapa. Aku malah reflek mengangguk. Namun, aku malah tetap menunduk.


Helaan nafas panjang terdengar. Aku mengangkat kepalaku, untuk melihat keadaan di depan mataku.


"Sebelas tahun yang lalu loh, Far. Sesulit itu kah? Maaf dari Abang kurang kah? Di mana lagi Abang harus benahi, biar kau ada ikhlasnya?" Bang Givan langsung murung.


Aku sudah menduganya, bang Givan akan terlihat kecewa seperti ini. Jika aku bukan adiknya, mungkin aku sudah habis karena sudah mencintai istrinya selama itu.


"Tak perlu ngomong gitu, Bang. Aku ikhlas, aku tak pernah cemburu. Cuma, aku tak tenang aja kalau Canda tak nampak di mata. Aku khawatir gitu, takut-takut kemalangan datangi dia terus aku tak tau atau tak ada yang nolong. Aku tak pernah muluk-muluk, tak pernah berniat untuk ambil balik juga." Aku mencoba tersenyum tenang.


"Oke, Abang percaya itu. Tapi, gimana dengan kebahagiaan kau? Rumah tangga kau? Abang paham sih, kenapa Kin bisa kena sindrom itu. Mungkin dia tau, kalau kau udah mati rasa ke orang lain." Semudah itu bang Givan percaya padaku. Jika aku masih berharap lebih, itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.


"Aku bisa menempatkan Kin juga, Bang. Novi pun punya tempat tersendiri, mungkin karena sikap aku aja kali, jadi sampai begitu cemburunya." Buktinya, aku sampai sepuruk itu ketika ditinggal Kin. Tapi tidak butuh waktu lama untuk bangkit, meski tetap bayang-bayangnya masih begitu jelas.


"Masalah sikap sih, kaunya juga harus ngerti. Contoh kecilnya Abang sama Canda ini. Canda malas gerak, ya gimana lagi gitu, udah sifat. Abang ya begini, kau taulah, ya Canda biasa aja. Ya memang di awal kaku hati betul. Kenapa punya istri, harus aja diberi perintah. Ya mungkin Candanya juga mikir, kenapa punya suami galak betul. Kadang heran juga. Orang yang sifatnya kek Abang gini, malah disandingkan sama perempuan yang nguji kesabaran habis-habisan. Jadi sama-sama pihak, harus saling ngerti juga. Abang sama Canda, ngerti ketika udah jadi mantan suami istri. Makanya mikir gini, betulkah buang perempuan yang sebodoh ini, takut dipungut orang. Milih perempuan lain, takut sabarnya tak kek mantan istri ini. Raba nurani lebih dalam, ternyata begini loh sifat dia. Liat responnya juga, ketika Abang ngamuk, posisi udah mantan ini. Dia malah cekikikan dan lebih santai. Bukannya mikir, bahwa Canda ini udah ngerti sifat Abang. Tapi Abang malah mikir, ini perempuan ada otaknya tak sih??? Kok dimarahin, malah ketawa lepas gitu." Di akhir kalimat, aku yang malah tergelak.


"Entah kau tak bisa move on karena apa? Jujur Abang sih nih ya, lupain Canda itu mudah aja. Cuma, kasiannya ini luar biasa. Tak tega, tak sampai hati gitu. Pas surat cerai datang juga, ini Canda di sana sama siapa? Gimana caranya dia ngurus, gimana caranya dia dapat uang? Ada rencana mau bawa rujuk pun, karena memang tak tega. Ini perempuan siapa yang biayain hidupnya? Gimana masa depannya? Khawatir dibodohi laki-laki. Kalau masalah cinta begitu, mungkin datang secara tidak sadar. Kek kalau udah seatap begini, komunikasi terus nampak tiap hari. Kadang cinta itu tak teraba, tapi nampak rasanya pas kek suasana genting gitu. Kek waktu kabar buruk tentang Canda. Rasa khawatir ditinggal selamanya itu besar, kemungkinan itu udah cinta setengah mampus itu. Cuma memang karena Abang dominan pikiran, jadi tak begitu pedulikan hati." Mendengar ceritanya, aku malah curiga bahwa ia masih cinta dengan Ai Diah. Mantan tunangannya itu.

__ADS_1


"Kau masih cinta ke Ai kali, Bang?" Aku berusaha menggali dan mengecoh.


Alisnya menyatu, kemudian ia menggeleng berulang.


"Kalau ke Ai, bukan cinta yang tersisa. Saat kau dihina dan direndahkan, tak dihargai juga. Gimana posisi hati kau gitu? Kek rasanya, serapah itu tak mampu nutupin sakit hati. Mungkin, kalau liat dia sengsara atau gimana. Keknya baru agak plong gitu." Ekspresi wajahnya terlihat sekali seperti tidak suka.


"Dendam kah, Bang?" aku cukup bisa mengerti posisi yang ia jelaskan.


"Tak dendam juga. Gimana ya? Kek pengen liat dia sengsara aja gitu, karena udah nyia-nyiain aku. Cuma dia loh, perempuan yang aku datangi rumahnya. Dari Kalimantan, terbang aku ke pulau Jawa. Aku datangi rumahnya di Majalengka, pencariannya aja itu tak cukup sehari. Sampai sana di rendahkan. Coba buat ngacak-ngacak hidup dia pas pulang dari rehabilitasi, pas udah nikah sama Canda. Ternyata, kembali diinjak-injak. Bukannya masuk perangkap atau gimana. Intinya, aku tandai nih perempuan ini. Awas aja kalau ketemu, aku buat dia mati perlahan." Bang Givan sampai mengetuk meja kacanya dengan ujung jari.


Raut kemarahan pun, begitu kentara di wajahnya.


"Nanti dia mati, kau dipenjara lah. Canda nanti hamil sama aku gimana?" Aku hanya bergurau.


"Tapi kau kek yang paling tersakiti sih, Bang? Nyatanya kan, Ai pergi juga karena kau yang ketahuan main cewek kali." Aku hanya menebak saja.


Bang Givan menggeleng, "Aku tak main cewek. Aku lagi main sama dia, terus dia minta putus." Aku langsung melongo mendengar kisah singkatnya.


Yang benar saja? Pasti bang Givan memperkosanya atau bagaimana.


"Kasar kali. Masa iya lagi dienakin terus minta putus? Aneh aja rasanya." Karena aku dan Kin tidak pernah berkelahi, ketika tengah menikmati.


Yang membuatku kaget kembali. Bang Givan malah mengangguk samar.

__ADS_1


"Cuma sama Canda sehalus ini. Paham dia punya trauma, paham memang orangnya cengeng juga. Kalau dia nangis tuh, keknya seisi dunia hakimi Abang. Kek yang Abang jahat betul, kek Abang ini tega betul. Lebih bersyukur aja sih dapat dia. Karena kalau dapatnya model Ai atau Fira, Abang pasti tak bisa memanusiakan istri sendiri. Pasti sifat buruk Abang tambah berkembang, bukannya teredam begini." Tapi kenapa aku masih ragu, jika bang Givan bisa mencintai Canda sepenuh hatinya? Pasti ada perempuan lain juga di hatinya.


"Ah, masa?" Aku tersenyum kecut.


"Tanyakan aja. Canda mulutnya tak digembok. Ditanya begitu ya, jawab lurus aja dia. Heran juga, tak suka sebenernya sama sifat embernya itu. Tapi gimana lagi, udah settingannya begitu." Bang Givan menghela nafasnya.


"Barangkali di satu tempat, kau dipertemukan sama Ai. Kau pasti lah tertarik atau mengenang kisah lama lagi. Masanya aku tau, bukan lagi ngancem juga. Aku pasti bantu perceraian Canda sama kau, aku minta dia balik ke ibunya." Aku langsung menutup mulutku. Karena, aku merasa seperti keterlaluan.


Bang Givan melirikku sinis, "Asal kau tau aja, cuma Canda yang baru denger kabar buruknya aja aku tangisi. Masalah gimana nanti kalau ketemu Ai, ya biar nanti bagaimana aja. Masa sama Nadya pun, aku ada bilang kalau aku ini beristri. Bagaimana scene selanjutnya kan, tergantung alur cerita dari author. Kalau kau begitu sih, memang dasarnya belum move on aja kau." Bang Givan malah tersenyum meledak.


"Kalau kejadiannya begitu. Sekalipun udah move on, aku bakal tetap mungut Canda. Sayang betul sepatuh itu disia-siakan, mending aku besarkan sepenuh hati."


Namun, di akhir kalimat aku mendapatkan lemparan bantal sofa.


"Udah nanti Canda selesai nifas, Abang boyong ke Kalimantan. Anak-anak yang lain, biar ada neneknya yang ngontrol. Pengasuh pun, pasti Abang arahkan tiap saat. Kau harus belajar menata hati, untuk masa depan kau sendiri. Masalah bagaimana Canda. Canda istri Abang, Abang bakal memperlakukan dia sebaik mungkin. Kau tenang aja, jangan pernah berpikir buat mungut Canda juga. Setelah ini, tak ada perceraian lagi antara Abang dan Canda. Abang berani jamin, Abang juga berani pegang omongan Abang." Apakah itu adalah kalimat penenang?


Aku meliriknya, "Kalau ada wanita idaman lain?" Aku ingin tahu pola pikirnya, bilamana itu benar terjadi.


Bang Givan mengusap kumis dan dagunya, "Abang bakal……


...****************...


Apa Ghifar bisa tenang dengan semua fakta dari kakaknya? Biar dia bisa melanjutkan perjalanan menuju kebahagiaan yang nyata?

__ADS_1


__ADS_2