Istri Sambung

Istri Sambung
IS304. Album foto


__ADS_3

"Nih hasil fotonya, katanya mau cepat. Sampai nyalip antrian." Ghava menghampiriku yang duduk di teras rumah bersama Kaf.


Hari ini, adalah hari ketiga setelah kami berfoto bersama di studio milik Ghava. Bahkan, anak-anak kami pun ikut berfoto dengan pakaian adat berukuran kecil.


"Yey, ada aku." Kaf melongok saat aku membuka album foto yang berukuran cukup besar ini.


"Simpan dulu ini bingkai foto besarnya."


Aca sepertinya ingin memiliki foto pernikahan yang dipajang di ruang tamu seperti Canda. Pernikahan rujuk mereka, dipajang di ruang tamu dengan sejarah kenangan yang begitu kompleks. Aku pun sampai teringat karena istriku bolak-balik ke apotek saja, untuk membeli obat semprot untuk sakit gigi. Aku pun masih Teringat, saat membantu memandikan jenazah mantan suami Canda yang gagal rujuk di malam sebelum pernikahan kedua mereka.


Aku pun sampai memberikan buket bunga yang masih ada keterangan nama mempelai laki-laki yang sebenarnya. Sampai aku menahan bang Givan, untuk tidak melihat buket bunga dariku yang aku berikan untuk Canda. Ukiran nama dalam cincin yang berada di dalam buket bunga tersebut pun, ya terukir nama almarhum calon mempelai yang gagal menikah di malam pernikahan mereka. Cerita ini, ada dalam novel Canda Pagi Dinanti.


"Pengantin hamil besar, satu-satunya pengantin yang aku foto. Sebelumnya, ya maternity." Ghava memberikan beberapa barang yang masih berkaitan dengan foto ini.


"Ya kan Aca sekalian maternity." Aku terkekeh kecil.


"Udah ya? Udah beres semua, aku tak punya utang nih." Ghava mengenakan sandalnya kembali.


"Oke, oke. Makasih," sahutku cepat.


"Apa itu?"


Aku celingukan, setelah Ghava sudah berada jauh dari pandangan. Suara siapa itu?


Aku menoleh ke arah pintu rumah, tidak ada Aca di sana.


"Kaf…."


Kini giliran anakku yang dipanggil dengan sosok yang belum aku lihat wujudnya.


"Ya, Bingung," sahut anakku.


Eh, ternyata Cendol. Ia tengah bertolak pinggang, dengan berdiri di pintu samping penghubung halaman rumah kami.

__ADS_1


"Paketan baju distronya udah datang tuh. Sana unboxing sama ayah," pinta Canda masih dari tempatnya.


"Wah? Betul udah datang, Biyung?" Kaf langsung bersemangat, kemudian meninggalkan aku bersama album foto ini.


"Betul." Canda melangkah ke arahku, dengan Kaf yang pergi dariku. Mereka berlawanan arah.


"Apa itu?" Canda menunjuk album foto milikku.


"Foto pernikahan dong, pakai dua adat loh." Aku memamerkannya pada Canda.


Aku tertawa geli sendiri, karena aku seperti anak-anak yang tengah pamer.


Canda langsung melihat-lihat isi album foto ini.


"Aku udah booking foto tema Mafia."


Entah mengapa, aku malah tertawa renyah. Istri mafia memakai jilbab begitu? Lagi pun, aku tidak pernah melihat foto dengan tema mafia dengan perempuannya berpakaian rapat seperti Canda.


Aku tergelak lepas. Lagi pun, di antara kami benar-benar tidak ada yang ingin merasakan memiliki tato. Karena kami paham hukumnya, tato pun sangat ditentang di kampungku ini.


"Pakai tato temporer pun, dia keknya kepaksa karena kau ngerengek terus pengen foto tema mafia," celetukku membuatnya tertawa malu.


Oh, pantas saja rambut bang Givan lama tidak dicukur. Aku mengajaknya ke barbershop pun, ia menolaknya. Ternyata, ia dalam misi memanjangkan rambut agar bisa berfoto dengan tema mafia. Terakhir yang aku lihat, model rambutnya sama seperti anak sulungnya dari Canda. Hanya dipanjangkan dan diikat di bagian atas saja, sedangkan samping kanan kiri dan belakangnya dicukur hampir habis.


"Makanya Chandra, Zio rambutnya dipanjangkan," tambahnya kemudian. Anak-anak mereka adalah anak sekolah, tapi karena ayahnya berpengaruh, guru-guru mereka tidak berani memangkas paksa rambut anak bos itu.


"Chandra sih dari kecil style rambutnya udah begitu. Dia sih mafia yang udah lama, bukan mafia jadi-jadian." Sejak masih TK, gaya rambut Chandra tidak pernah berubah. Panjang di bagian atas saja, dengan senantiasa diikat. Namun, setelah diikat itu seperti digelung. Jadi rambutnya terlihat rapi, di sekolah pun seperti itu. Tapi jangan kira, jika ia tengah keramasan rambutnya sudah seperti anak perempuan.


"He'em. Foto tema mafia pun, terinspirasi dari dia. Apalagi orangnya diam, tapi sorot matanya galak meski wajahnya kalem juga."


Aku akui, anak-anak Canda pasti begitu mirip dengan Canda. Hanya saja, mereka memiliki sisi seram turunan ayahnya. Hanya Ceysa, anak Canda yang tidak mirip dengan Canda. Ceysa full mirip dengan almarhum mantan suaminya yang gugur di malam pernikahan itu. Jadi mereka itu pernah menikah, bercerai, kemudian ingin rujuk kembali. Sayangnya, umur bang Lendra tidak panjang.


Chandra yang terlihat kalem, tadi sorot matanya seolah seperti orang galak. Ra pun berwajah teduh, hanya saja sifatnya brutal sekali. Dia sering main pukul dan main tendang saja, meski dalam asuhanku sekalipun. Cani yang belum terlihat, karena ia masih dua tahunan saja.

__ADS_1


Untuk saat ini, hanya Chandra yang akan menjadi pewaris terbesar dalam usaha bang Givan. Karena ia anak laku satu-satunya, yang memiliki nashabnya. Anak laki-lakinya yang lain, ia hadir sebelum adanya pernikahan. Ia tidak memiliki kuasa apapun, dalam harta benda orang tuanya.


"Canda…," teriak banb Givan lepas.


"Eh…." Canda langsung buru-buru turun dari teras rumahku. "Iya, Mas." Canda bergegas menuju ke pintu penghubung kembali.


Sepertinya, ia diminta untuk memanggilkan Kaf saja. Tapi, ia malah nyangkut di sini.


"Ada suara Canda tadi. Mana dia?" Aca memunculkan kepalanya dari pintu yang sedikit terbuka.


Tadi Canda yang mengagetkanku. Sekarang tinggal Aca.


"Udah balik, cuma pamer mau foto tema mafia aja," jawabku terkekeh geli.


"Lah, mau ngasih masakan." Aca membuka pintu lebar lebar.


"Nih, fotonya udah jadi." Aku menunjuk album foto yang tergeletak.


Aca tersenyum lebar, kemudian langsung menghampiriku. Senyumannya membuatku semakin bersyukur karena sudah memilikinya.


"Papa waktu foto yang ini nih, ketawa terus ya? Kenapa sih, Pa?" Aca menunjuk foto kami yang terletak paling depan.


"Aku berdiri, mana suruh meluk dari belakang. Jadi nempel betul sama part belakang. Terus, si Ghava ngeh. Jadi ya ketawa terus kita." Aku mengungkapkan alasanku. Foto ini, sampai diulang empat kali.


Sekarang Aca yang malah terkekeh geli. "Bisa-bisanya berdiri pas lagi foto?"


"He'em, tak tau. Soalnya posenya intim betul tuh. Jadi ya turn on seketika, mana nempel-nempel terus." Aku tidak mengerti dengan konsep foto bersama seperti ini. Karena posisinya begitu dekat dan intim, cukup mengganggu untuk di posisi laki-lakinya.


"Pah, ke rumah sakit yuk? Cek up yuk?"


Ada angin apa ini? Kok tumben sekali ia minta cek up sendiri. Apa ia merasakan sesuatu pada perutnya?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2