
"Kau tak punya anak, Vi. Semua anak kau, Tika yang lahirin ke dunia." Aku mencoba membuka pikirannya.
"Riwayat operasi caesar, diulangi untuk hamil dengan jarak dekat. Itu resikonya besar loh, Kin pernah nasehatin kan? Kau bilang apa? Tak apa, kak. Aku pengen punya banyak anak, bentuk keluarga besar. Memang, kau pun kelak bakal mampu besarin mereka sendiri. Tapi aku yakin, mereka tak bisa jadi keluarga tanpa peran ibu. Dikasih lima anak, dalam umur pernikahan kurang lebih sembilan tahun, malah kau depak yang kasih kau anak lewat rahimnya." Ghavi hanya menunduk.
"Kau bela-belain istri yang udah jadi istri orang??? Apa faedahnya untuk keturunan kau? Setahun loh kau di penjara, lima anak kau siapa yang biayai? Apa ada istri siri kau datang, terus ngasih kebutuhan anak kau? Ganteng tak seberapa, kau banyak tingkah, Vi! Tak masalah lah, kalau kau kaya kek kemarin. Nah, sekarang kau punya apa? Rumah? Jual sana! Tapi jangan harap, orang tua kau mau nampung kau setelah kejadian ini." Aku menunjuk-nunjuknya dengan rasa kesal.
Matanya langsung mencilak. "Jangan lupa ya, Bang! Kau pun pernah ngajak kakak ipar untuk jadi istri kedua kau. Kau dua kali dituduh hamili dia, aku ingatkan kalau kau lupa!" Baru kali ini, aku mendengar Ghavi meninggikan suaranya.
Malasnya begini jika menasehati orang lain. Borok kita diungkit-ungkit.
"Masalah kita beda. Aku, bukan karena syahwatku. Sedangkan kau? Kau tau sendiri jawabannya." Setelah mengatakan hal itu, aku keluar dengan diikuti dengan dua kembar ini.
Sekalipun dituduh menghamili, nyatanya aku tidak pernah menghamili Canda. Itu hanya tuduhan karena posisi bang Givan mengalami lemah s****. Lalu kejadian kedua, karena salah paham saja.
Lagipula, saat itu Kin mau dimadu. Yang terpenting, hanya dengan Canda dan aku tidak boleh meninggalkannya. Kin tahu, akan rasa khawatirku pada Canda. Mungkin, banyak fakta yang ia tahu tapi tak ingin menyakiti dirinya sendiri seperti Novi. Ia hanya tahu, lalu tetap mencoba menarik perhatianku padanya. Bukan mencari ribut seperti Novi.
Sudahlah, memang sepertinya sudah watak.
"Hei!" Mamah mengembangkan matanya dengan menahan tawa.
Ada apa ini?
Bukannya tegang, malah terlihat geli seperti itu.
__ADS_1
"Ini, Mah. Lagi adu kekuatan nangis." Aku membawa empat anak ini, pada mamah yang berdiri di teras rumah.
"Hei, kau tak tau hebohnya di dalam kah? Segala Ra, Nahda, Rere. Terus, Hadi juga datang. Belum Fandi yang lagi diobati, sampai nangis kalap. Mana orang-orang dewasa pada repot aku belum mandi, aku belum sholat. Kau tak bayangkan kah jadi Mamah?" Mamah tertawa sumbang, dengan geleng-geleng kepala.
"Masih untung, anak-anak kau lebih anteng di pondok Canda. Yang dari pondok Canda kumpul di sini juga, udah keknya kaca jendela semuanya bergetar." Mamah mengambil salah satu anak perempuan dari gendonganku.
"Aku juga dalam misi jatuh cinta, Mah. Tak bisa aku bawa balik anak, atau bantu urus anak-anak." Aku hanya iseng mengatakan hal ini.
Namun, mamah malah langsung mencubit perutku.
"Bantuin mamah dulu, sampai yang hanya singgah pun pada pulang. Mamah belum tau juga Tika kenapa, terus apa masalahnya." Mamah mempersilahkan cucu kembarnya untuk masuk.
Hingga akhirnya, aku diusir kembali dari rumah mamah. Karena semua anak-anak sudah tertidur, tak terkecuali dengan kedua anakku. Sebenarnya aku tak ingin, anak-anak tetap di rumah mamah. Itu pasti merepotkan orang tuaku. Namun, keputusan mereka tidak bisa diganggu. Mereka ingin, aku dan Novi benar-benar saling menjalin hubungan yang baik. Bukan hanya sekedar suami istri, atau orang tua yang baik untuk anak-anakku.
"Masalah Ghavi apa, Bang?" Novi merambat naik ke atas tubuhku.
Novi mengusap dada bidangku yang terekspos. Aku tidak menggunakan baju, karena cukup basah karena keringat.
"Orang ketiga, juga ekonomi." Yang aku ketahui hanya ini.
"Orang ketiga itu, penghancur rumah tangga terbesar ya, Bang?" Ia merebahkan kepalanya di atas dadaku.
Detak jantungku, pasti terekam jelas di telinganya.
__ADS_1
"Ya begitulah. Tapi kalau diri kita sendiri tak mempersilahkan, ya orang ketiga itupun tak akan masuk." Seperti yang pernah mamah katakan.
"Rumah tangga Abang waktu sama Kin dulu, apa ada kasus orang ketiga?"
Tuh kan?
"Jangan ngungkit, Nov! Kita udah baik-baik aja loh." Aku sudah mencium hawa pertengkaran.
Masa iya Novi ingin kami bertengkar juga, seperti Ghavi dan Tika.
"Tak, Bang. Aku memang ingin ngobrol dan ingin tau aja, terus gimana Abang nyikapinnya?" Novi mengangkat kepalanya, lalu memandang wajahku.
Apa benar hanya sebatas pillow talk?
"Tak pernah ada orang ketiga, tapi memang pernah ingin istri dua aja." Alasannya juga, bukan karena syahwatku.
Aku tak tenang, Canda berkeliaran di luar sana. Aku ingin menguncinya, agar tetap berada dalam pengawasanku. Aku pun tidak tega, dengan caranya ia mencari uang di sana. Biar aku yang menafkahi, kemudian memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya.
"Kok bisa sih? Masa kepengen istri dua?" Novi kini berbantal lenganku.
"Alasannya bukan karena syahwat, bukan karena aku selingkuh juga. Tapi posisinya, aku disangka hamili Canda. Waktu Canda ngandung Ceysa itu nah. Kan orang rumah taunya, kalau Canda janda. Sedangkan, nyatanya dia istri orang. Aku pun tak tau, kalau dia istri orang. Pas healing itu, aku minta alamat dia, atau dia aja yang datang ke kamar Oyo aku, buat nanti pulang ke Aceh bareng. Itu tak ada keputusan tuh, karena Canda tetap mau ke rumah mamah sendiri aja. Kata Candanya, dia ini udah naik bus dari terminal Anak Air, dia mau ke Aceh ceritanya. Tapi, pas itu dia muntah-muntah. Mungkin, karena bawaan ngandung Ceysa. Dia minta turun lagi, sama kondektur busnya. Eh, tak taunya turun di depan Oyo tempat aku nginap. Aku baru selesai makan siang, kan aku suka makanan kaki lima gitu, jadi keluar hotel buat ngisi perut. Tak tegalah aku, liat Canda muntah-muntah di trotoar. Jadi, aku bawa dia masuk ke kamar Oyo aku. Cerita-cerita banyak, aku curhat, dia nyimak. Ke bawalah ke ranjang, tapi memang tak pernah hubungan badan. Nah, pas dituduh hamil karena aku itu. Tanpa mau denger penjelasan, karena akan buat Kin sakit hati sendiri. Jadi, Kin mutusin buat rela dimadu. Aku tak bisa ngomong apa-apa, aku diam aja. Mana kan, kena tonjok papah masa itu. Aku tak ngerasa nyiram rahim dia, tapi dituduh menghamili. Aku kek orang bego, aku bingung betul di situ." Setelah sekian lama, aku menceritakan hal ini dari sudut pandangku.
Karena memang, seperti itulah situasi dan kondisi juga kebenaran yang ada. Hanya saja, memang sudah alur penulisnya.
__ADS_1
Novi memandangku seribu makna. Apa ia akan mengamuk? Atau, benar-benar hanya ingin mengobrol dan mendengar cerita saja?
...****************...