
Harga paket pemotretan senilai lima juta, dengan tema outdoor akan aku ceritakan pada Aca. Tetap dengan busana pengantin khas Jawa dan Aceh, berikut dengan make up dan satu buah foto cetak dan juga satu bingkai besar.
"Loh?" Kamar tidurku hanya terisi anak-anak.
Ke mana wanita gembulku?
"Astaghfirullah!!!" Aku sampai memekik kaget, melihat penampakan yang mengejutkan.
"Ya Allah, Aca Septriasa." Aku geleng-geleng kepala dengan mengusap-usap dadaku sendiri.
Ia berada di ambang pintu menuju walk in closet, dengan rambut hitam yang tertata acak-acakan. Aku kira, tadi adalah setannya Kin. Rupanya, istriku yang tengah cosplay menjadi kuntilanak.
"Ngapain sih? Ngagetin aja tuh." Aku menutup pintu, kemudian berjalan ke arah ranjang.
"Dari mana coba?! Keluyuran aja! Mentang-mentang nikahnya siri, tak berasa kah udah beristri tuh?" Ia malah sewot, dengan berjalan ke arah ranjang yang diisi dengan Kal.
Nahda di kasur lipat dengan Kaf.
"Dari Ghava, Ma. Aku tak bisa tidur." Aku merebahkan tubuhku di ranjang.
Ah, nyamannya.
"Kalau masih pengen keluyuran tuh, jangan nikah dulu."
Tumben apa ia marah-marah seperti ini?
"Terus, masa mau cerai dulu baru bisa ngobrol di luar?" Aku meliriknya yang masih duduk di pinggiran ranjang.
Ia melemparkan bantal ke arah wajahku, benar-benar akurat lemparannya. Tidak meleset sama sekali, mendarat sempurna dengan tujuan yang pas. Wajahku menjadi sasarannya.
"Jawab aja!" Ia merebahkan tubuhnya di sisi kiri dari Kal. Kal tidur di tengah-tengah ranjang.
"Ya nanti tak sopan, kalau diajak ngomong tapi diam aja. Jawab, salah juga. Aku tak macam-macam kok, aku tak aneh-aneh. Cuma ke studio, ngobrol aja di sana. Nanyain paket pemotretan, nanyain ketersediaannya pakaian pengantin adat," jelasku kemudian.
"Ya tak harus sampai jam dua belas malam juga. Istrinya lagi hamil juga, tapi tuh bertingkah aja."
Oke, amarahnya karena hormon kehamilannya. Ya sudah, aku mengalah.
"Iya, maaf ya? Aku janji tak ulangi lagi." Aku berbicara amat lembut, agar tidak mengundang emosinya lagi.
"Hmmmm…."
Oke, masalah selesai. Aku bisa langsung terlelap.
__ADS_1
"Aku tak suka ditinggal pas lagi tidur, Papa tak sopan. Aku kaget, lihat Papa tak ada di kamar. Ngantuk aku langsung ilang, aku tak bisa merem lagi. Harusnya, Papa tuh ngerti. Papa tak cuma sekali punya istri, tak cuma sekali menikah. Masa masih kek bujangan aja? Jagain istrinya, jangan ditinggalkan."
Apa perempuan berdrama ketika hamil?
Hufttt…..
"Iya, maaf ya? Aku janji tak ulangi lagi." Aku pikir, Aca tidak sama seperti Kin. Karena Aca normal, sedangkan Kin memiliki sindrom.
"Maaf, maaf aja." Suaranya menurun dan terisak.
Apa harus diajak menggoreng tempe? Aku membolak-balikkan ia, agar ia bisa terlelap setelahnya.
Aku bangkit untuk duduk, lalu menggeser posisi Kal. Aku memberinya bantal, agar ia tidak berguling dan terjatuh. Barulah, aku mengisi posisi Kal tadi. Aku memeluk istri gembulku ini, istri gemoy yang ketika hamil saja. Selebihnya, gemoy bagian belakangnya saja.
Ia menangis, aku memeluknya dan mengusap-usap perutnya. Aca menjadi cengeng, aku malah teringat dengan Cendol.
"Biar apa sih keluar malam?"
Loh, masih saja dibahas?
"Tak biara apa-apa, aku belum ngantuk. Soalnya tadi tidur siangnya kelamaan." Ini murni alasanku.
"Memang jadinya bisa tidur, kalau habis keluar rumah?" Suaranya bergetar karena tangis lirihnya.
Ia masih terisak, hanya tidak berbicara kembali. Hingga beberapa saat kemudian, ia terlelap dengan dengkuran halus. Aku pun, segera terlelap menyelami dunia tidurku.
Pekerjaan yang luar biasa banyak. Ria tidak main-main, memberiku banyak dokumen yang perlu ditandatangani. Dewi pun ada di hadapanku, ia membantuku menempelkan materai pada dokumen yang penting.
Ia mengontrak di penginapan mamah, ia betah di sini. Tidak ada lagi pembahasan mengenai masa lalu kami, Dewi benar-benar profesional dalam bekerja. Usianya sudah cukup matang, tapi ia tidak kunjung menikah. Alasannya, menikah itu adalah tujuan. Sedang, ia belum memiki tujuan untuk menikah.
Membingungkan memang. Lebih baik beralasan, belum menemukan pasangan yang tepat. Memang, mungkin membuat kita malu.
Tapi pernikahan pun, kadang belum tentu jodoh juga. Diusahakan sebagaimana baiknya, jika tidak jodoh ya tidak bertahan lama.
"Bang, kepalaku pusing. Boleh izin balik tak?" Ria mendatangiku di ruangan.
"Kau sakit?" Aku memperhatikan wajahnya.
Ia terlihat lelah, tapi tidak pucat.
"Kecapean aja keknya, Bang. Aku boleh pulang ya?"
Aku mengangguk. Aku yakin, Ria pasti sudah tanggung jawab pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Istirahat nanti, Dek. Jangan main HP, tapi tidur," pesanku padanya.
Ia mengangguk, kemudian memberiku banyak tumpukan berkas.
Ya Allah, ini saja belum selesai. Sudah ada lagi saja berkas-berkas yang memusingkan kepala ini.
"Cuma perlu dipahami, tak perlu ditandatangani. Lepas itu, Abang ada obrolan di luar kan? Kan itu aturan sama aku, tapi aku tak bisa. Abang bisa pergi sama asisten aku, atau sama Dewi." Ria melirik Dewi yang berada di hadapanku.
"Biar aku sendiri aja." Pergi dengan perempuan lain, meski itu adalah karyawanku adalah hal yang kurang baik. Toh, rapat itu pun yang diperlukan cuma kehadiranku.
"Oke, nanti aku kirim alamatnya."
Aku hanya manggut-manggut. Entah beberapa lama Ria membantu memisahkan berkas, kemudian ia pamit untuk pulang.
Sekarang, aku menuju ke sebuah tempat yang sudah dijanjikan. Restoran luar di salah satu hotel di daerah Takengon, menjadi tujuanku. Ada obrolan serius, dengan pengelola resto yang memiliki banyak cabang ini, karena ia menggunakan produk dari perusahaanku.
Perempuan.
Nah, inilah yang jarang. Aku jarang bertemu dengan relasi bisnis seorang perempuan.
Oh, wanginya. Manisnya senyumnya. Indahnya bentukannya.
Astaghfirullah, Far. Istri hamil gembul sedikit, melihat perempuan ayu rupa langsung memuji dalam hati saja.
Tahan, Far. Gembul karena darah daging kau, Aca lahiran pasti kembali ke bentuk normal. Aku mencoba menguatkan hatiku sendiri.
"Tak nyangka nih, bisa langsung ketemu sama owner-nya langsung." Suaranya renyah sekali seperti kacang disangrai.
"Oh, iya. Kebetulan aja." Aku tidak pandai berbasa-basi jika dengan orang luar.
Obrolan bisnis dimulai. Sayangnya, mataku terus terpaku mengagumi keindahannya. Setelah ini, aku akan berbicara pada Ria agar tidak menyuruhku bertemu dengan relasi bisnis yang satu ini.
Namanya Farida, ia terlampau membuat nyaman untuk ukuran relasi bisnis. Obrolannya begitu nyambung, wawasannya luas dan ia bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Ia memiliki kecakapan berbicara, melebihi Aca yang mampu mengimbangi seluruh curhatanku.
Aku tak yakin, jika aku tidak tergoda. Sudah rupanya indah, ngobrolnya nyambung, aku khawatir menggeser posisi istriku di rumah. Aca terlampau sempurna untuk disingkirkan, aku tak mau menyia-nyiakannya hanya karena perempuan lain. Bisa jadi, ia hanya bersikap profesional dan mencoba akrab denganku. Aku yang hanya tertarik, karena mata laki-laki umumnya suka dengan keindahan.
Bukan Aca tak indah lagi juga, tapi memang ya tidak seperti dulu lagi.
Ah sudahlah, jangan dibandingkan. Aku akan lebih berdosa untuk itu.
"Wah, dengar-dengar katanya Pak Ghifar ini duda anak dua ya?" Ia bertanya dengan seulas senyum manisnya.
...****************...
__ADS_1
Aku pernah dengar cerita tentang fakta seorang laki-laki yang banyak berselingkuh ketika istrinya hamil, nah perubahan fisik adalah salah satu sebabnya. Gimana ya kira-kira Ghifar ini? Tahan uji gak? Atau, sama kek beberapa laki-laki yang kurang bersyukur yang berselingkuh di saat istri mereka mengandung darah daging mereka.