Istri Sambung

Istri Sambung
IS99. Gagal bergurau


__ADS_3

"Abang bakal lakuin yang Canda minta, kalau memang ada perempuan idaman lain. Tapi sejauh ini, cuma Ra perempuan idaman lain tuh. The next benih cinta Abang pun perempuan lagi, udah keknya kena sawan Ra." Bang Givan malah murung.


Aku tertawa geli di sini. Ia sepertinya merasa terbatasi karena anaknya itu.


"Kalau Canda minta cerai?" tanyaku kemudian.


"Tak Abang kabulkan kalau cerai sih. Tapi misalnya diminta untuk ninggalin itu perempuan, ya pasti Abang tinggalkan gitu. Rasanya, tak mungkin juga ada perempuan idaman lain, Far. Abang bukan tipe laki-laki baperan. Tak mudah jatuh cinta, tapi mudah move on juga. Apalagi Canda tak ada jejak nyakitin Abang, itu mustahil bagi Abang. Kalau Fira kan, ada kejadian dia duain Abang. Udah gitu, di awal Abang ajakin nikah siri, dia nolak. Abang tuh kalau dengar penolakan, udah kek sakit hati aja gitu. Jadi berpaling ke perempuan lain pun, ada alasannya. Karena dari Fira, tak dapat perlakuan yang setimpal. Empat tahun lebih Abang setia sama dia, tapi dia sama kau juga kan ternyata?" Aku mengangguk, ketika bang Givan menanyakan kalimat tersebut.


"Nah itulah, tarik kesimpulan sendiri aja. Kalau memang Canda merasa tersakiti pun, pasti dia kabur. Soalnya kek gitu terus tindakan dia. Belum dapat penjelasan dari Abang tentang Nadya, dia udah kabur. Waktu sama Lendra begitu. Belum dapat penjelasan dari Lendra, dia udah kabur juga." Bang Givan menggerakkan jarinya untuk mengisyaratkan tentang seseorang yang menjauh.


"Ya usahakan dia jangan kabur, Bang. Aku makin tak tenang jadinya." Aku meraup wajahku sendiri.


"Iya, tenang aja. Kita akan produksi anak terus, biar salah satu di antara kami tak bisa kabur." Ia melirikku sekilas.


Aku terkekeh kecil, lalu menunjukkan ibu jariku padanya.


"Dijarakin, Bang. Kasian, Canda." Masalah berapa jumlah anaknya, aku tak ada hak untuk mencampurinya.


"Kau janji ya, kau harus bisa perbaiki rumah tangga kau? Kau janji ya, kau benahi hati kau? Apa kau masih kurang percaya sama Abang, kalau Abang mampu bahagiakan dan jaga Canda?" Aku menunduk, ketika bang Givan memandangku serius.


"Bang, di sini aja lah. Tak apa, aku tak mungkin ngusik. Aku malah tak tenang, kalau jauh di mata." Aku meluruskan pandanganku lagi.


"Abang khawatir Novi kedepannya nyimpan dendam ke Canda." Bang Givan menyeruput kopinya.


"Malah ego aku besar buat nyamperin, Bang. Aku usahain, bakal perbaiki komunikasi sama Novi. Tapi di sini aja, jangan jauh-jauh." Aku seperti memohon.


"Ya Allah, Far." Bang Givan menghela nafasnya.


Aku khawatir ini pasti membuat jarak, antara aku dan mereka.


"Coba biasakan dulu. Untuk kau sendiri, Far. Kau yang tenang coba, Canda udah sama suaminya ini." Wajah bang Givan terlihat kaku.


Ya sudahlah, apa boleh buat. Mau tidak mau, aku mengangguk. Daripada terus memaksa mereka di sini, yang ada hubungan baik kami jadi taruhannya.


"Iya, Bang." Aku tersenyum sewajarnya.


"Mas…. Elus-elus tuh!" Suara itu begitu menggema.


Bang Givan menoleh ke arah pintu penghubung, "Ra belum pulang, Canda!" serunya kemudian.

__ADS_1


Sepertinya, ini adalah kesempatanku untuk pulang.


"Ya udah aku balik dulu ya, Bang?" aku bangkit dari dudukku.


"Bawa tuh kopinya! Diingat kesepakatan kita tadi! Kau harus mulai menata diri kau sendiri!" Bang Givan pun bangkit dari duduknya.


"Jemput Ra, Mas!" seruan dari Canda terdengar lagi.


"Iya, Cendol!!!" Bang Givan pun berseru.


Betulkah Canda aman dengan suami yang minus kelembutan begini?


Aku jadi garuk-garuk kepala sendiri.


Aku berbelok ke arah pintu samping, bang Givan pun berbelok ke arah pintu penghubung ke rumah Ceysa. Aku akan mengunci pintu dan jendela rumahku dulu, baru akan pulang ke rumah mamah. Tentu dengan kopi hangat, yang aku bawa ini.


Aku tidak begitu aktif meminum kopi, tidak seperti saat masih bujangan. Entah kenapa, perutku perih ketika minum kopi.


Rumah sudah aman, aku berbalik arah dengan mengantongi kunci rumahku. Heran juga kenapa aku mesti tinggal di sana, padahal memilliki rumah sendiri.


Tapi, aku ingin kami terkontrol dengan orang tua. Karena aku khawatir, pertengkaran hebat semakin membuat kami berjarak. Dengan begini pun, aku dan Novi mau tidak mau harus satu kamar bersama. Karena tidak enak hati dengan mamah papah, jika kami pisah kamar.


Kak Aca ada di ruang keluarga dengan anaknya.


"Belum." Ia tersenyum manis.


Janda muda anak satu. Janda yang paling baik, karena kasusnya ditinggal mati. Maaf jika pendapatku menyakiti, karena aku pernah mendengar pendapat yang seperti ini.


Aku langsung melewatinya, kemudian naik ke lantai dua. Terasa sunyi senyap dan gelap. Ke mana anak istriku?


"Nov?" Aku membuka pintu kamarku, yang dulu aku tempati bersama Kin.


Kamar ini pun, adalah kamar yang Novi tempati sebelum menikah denganku.


Novi langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantalnya. Kemudian, ia langsung pura-pura terpejam dengan memeluk guling.


Chat dengan siapa?


"Aku tau kau ngumpetin HP, Nov. Kau belum tidur. Terus, anak-anak kita mana?" Aku menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Novi meluruskan punggungnya, dengan melirikku.


"Di kamar luas. Mereka minta di situ." Ia bangkit dari posisinya, lalu bersandar di kepala ranjang.


Kamar luas, adalah kamar untuk cucu-cucu mamah dan papah saat kami masih tinggal bersama. Di mana satu ruang kamar tersebut, berisikan hamparan kasur yang luas tanpa tepi. Pintu pun menggunakan fungsi geser, sehingga tidak memerlukan ruang untuk membuka atau menutupnya.


"Mau kopi?" Aku menyodorkan segelas kopi ini padanya.


"Apa ada isinya?" Novi melongok ke dalam gelas.


Maksudnya bagaimana?


"Oh, ada. Ada obat perangsangnya." Aku menahan tawaku sendiri.


Ia melirikku dan memundurkan kembali kepalanya, "Siapa yang mau ngerangsang Abang?" Aku merasa, selera humor Novi cukup buruk.


Aku menghela nafasku, kemudian menaruh segelas kopi ini di nakas. Moodku tiba-tiba memburuk. Novi terlalu sensitif, untuk diajak bergurau.


Aku berjalan ke arah kamar mandi, juga menyiram kepalaku dengan air dingin. Aku tidak mengerti, kenapa aku cepat emosi. Ditambah lagi, gurauanku ditanggapi dengan serius.


Setelahnya, aku keluar dari kamar mandi dan menuju ke ranjang.


"Abang tidur di sini?" tanyanya, saat aku menyibakkan selimut.


Apa maksudnya?


"Iyalah." Aku mulai meluruskan kakiku satu persatu.


"Dulu, gimana caranya Kin ngadepin Abang? Gimana cara dia memperlakukan Abang? Gimana caranya juga, bisa buat Abang puas?"


Aku memutar bola mataku. Kenapa orang dari masa lalu lagi yang diungkit?


...****************...


Follow ig author ( anissah_31 )


FB author ( Anissah )


Akun NT author juga 😉

__ADS_1


Masuk GC yuk, biar bisa ngobrol 😊


__ADS_2