Istri Sambung

Istri Sambung
IS175. Diusir


__ADS_3

"Aku cekik juga kau!!!" Kak Aca sudah menempatkan kedua tangannya di leherku.


"Kak, sebentar aja." Aku menyentuh lengannya.


Kak Aca langsung menghempaskan tanganku, kemudian ia mendorong kepalaku dengan pakaian yang sudah ia ambil dari dalam lemari. Ia langsung melenggang pergi ke luar kamar, dengan membawa pakaiannya.


Melamun lagi.


Aku harus bagaimana? Agar segera turn off?


Sampai akhirnya, aku kembali berpakaian meski dengan keadaan tengah-tengah tubuh yang mengganjal. Tersiksa sekali, Ya Allah. Rasanya aku ingin mengarungi kak Aca saja, karena sulit sekali menjinakkannya.


Anak-anak kembali pulang, dengan kak Aca yang muncul dengan wajah masam. Bibirnya pucat tanpa pewarna, tanda jelas ia mandi tanpa berdandan setelahnya.


"Pa, mainan yuk?" Nahda langsung bermanja-manja padaku.


Namun, kak Aca langsung menarik anaknya dari pangkuanku.


"Pulang sana!" Tanpa segan, kak Aca malah mengusirku.


"Pagi tadi bilang mau ada yang diomongin katanya." Aku bersandar pada kursi yang cukup empuk ini, dengan memperhatikannya yang menyuapi Nahda dan Ra secara bergantian.


"Oh, iya." Kak Aca menepuk jidatnya sendiri. "Aku mau bayar hutang, Far. Biasa, cicil." Kak Aca meninggalkan ruang tamu, ia masuk entah ke ruangan mana.


Ia muncul dengan uang cash berwarna biru. "Canda kasih aku cash, karena dia abis ambil cash lumayan banyak katanya." Kak Aca menghitung uang di hadapanku.


"Nih, Far. Empat juta dulu ya?" Aku segera menerima uang tersebut.


Kak Aca kembali mengambil piring makan anak-anak, lalu menyuapkan ke mulut Nahda dan Ra. Mereka makan dalam satu piring yang sama.


"Padahal aku tuh ke kau ini bayar, tapi Novi kalap betul. Keknya tak boleh sekali kau minjemin uang ke saudara." Kak Aca menghempaskan alas duduknya ke kursi ruang tamunya ini.


"Kau kasih jaminan tak sih ke Novi?" lanjutnya kemudian.


"Kasih lah, nafkah dahulu yang belum terpenuhi juga aku kasih. Kek waktu baru nikah itu, kan keuangan aku kacau betul tuh. Nah, aku ganti sekarang. Celengan Novi yang terpakai, aku ganti juga. Pokoknya untuk keuangan, dia tak rugi lah, dia tak kekurangan jaminan sekarang." Aku merasa sudah lebih untuk memberikan nafkah padanya.


Aku malah teringat saat kami ribut karena memberikan uang sebesar tiga ratus ribu pada Ghavi. Hingga akhirnya, aku hampir menceraikannya malam itu.

__ADS_1


"Waktu, perasaan, kebersamaan, itu yang bisa kau ganti. Belum lagi dari perawan pindah ke janda, fisiknya pasti ada yang berubah."


Aku jadi memikirkan. Aku jadi dilema sendiri, apa sudah benar aku menceraikan Novi?


"Apa aku harus rujuk sama dia? Tapi aku tertarik sama kau, Kak." Aku memandangnya lantai dengan murung.


"Hei, ngomong apa kau ini?!"


Aku memandang kak Aca yang berada di hadapanku. Ia terlihat kaget, dengan wajahnya yang terlihat tegang.


"Apa aku harus rujuk sama Novi? Tapi aku tak bisa memulai dengan kesalahan yang udah terjadi itu, Kak. Belum bang Ken yang selalu ada di pandangan aku, rasanya aku ada keselnya gitu. Kasarnya lebih baik sama orang lain, karena kalau saudara sendiri jadi canggung untuk membencinya." Setelah ini pun, Novi akan pindah ke rumah Giska. Sedangkan Giska, akan menempati rumah baru yang di sebelah rumah bang Givan.


Mamah tak mengizinkan Novi merantau, karena mamah tidak percaya sendiri dengan pendirian Novi. Tadinya ingin memasrahkan Novi ke bibi dari ibunya, tapi bibinya tersebut mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Turki. Mamah ingin memberikan seluruh tanggung jawab coffee shop pada Novi, tapi Novi malah mengatakan bahwa dirinya ingin hasilnya saja. Susah memang, jika kebiasaan dari kecil sudah dimanjakan total. Menjadi CEO pun, karena ini bidang pendidikannya dulu.


"Bukan itu."


Aku memandangnya dengan dahi berkerut. Memang aku mengatakan hal lain kah? Aku tidak merasa, bahwa aku mengatakan sesuatu.


"Apa memang, Kak?" tanyaku kemudian.


Ada anak kecil yang menjadi tamu.


"Wa'alaikum salam. Ada tuh, Kaf. Sana suruh pulang Papanya!" Kak Aca menunjukku dengan dagunya.


"Apa, Kaf?" Kaf langsung duduk di pangkuanku.


"Jalan-jalan ke pekan raya yang di sana, Pah. Tapi naik motor tuh, Pah. Bang Chandra pergi sama ayah, Ceysa sama dato. Aku sama Papa aja ya? Kakek lagi sakit, Pah. Kata kakek, sana tarik papa kau. Gitu, Pah." Kaf menirukan suara kakeknya.


"Nanti ya abis Maghrib? Sama kak Kal juga, nanti kita pergi naik motor." Aku merapikan rambut anakku yang suka sekali menangis ini.


Kaf dari kecil menguji kesabaran orang tuanya sekali. Ia sering menangis tanpa sebab, bahkan dalam tempo yang lama. Sekarang ia sudah jarang menangis tidak jelas seperti itu, tapi jika tengah sakit ia kumat rewel tidak jelas.


"Pa, aku ikut." Nahda mendekatiku.


"La ma iyapa?" Ra pun langsung menyerobot tempat yang tadinya ingin ditempati Nahda.


"Ra kan punya yayah Ipan, sana sama ayah aja. Papa aku kan udah di surga, Ra. Jadi papa aku ganti, jadinya Papa Ghifar." Nahda menyentuh pipiku.

__ADS_1


Entah tahu dari siapa ini anak, bahwa namaku adalah Ghifar.


Aku mengusap tangan Nahda yang berada di pipiku. Terlihat sekali besar harapannya untuk ikut ke pekan raya bersamaku.


"La sama Papa uga." Ra makin mendesak Kaf untuk pindah dari pangkuanku.


"Iya nanti bareng-bareng, naik mobil aja." Aku tak ingin mereka malah berkelahi.


"Tapi ayah naik motor, Pa. Berdua aja sama bang Chandra, biyung atau adik bang Chandra tak yang ikut. Ya, Pa?" Kaf sampai menciumi seluruh wajahku.


Entah siapa yang mengajarinya merayu dengan seperti ini.


"Iya, iya. Nanti Papa bilang ke ayah, bapa, abi, abu, biar naik motor semua untuk angkut Nahda, Ra, sama saudara yang lain." Pasti akan seperti pawai pemilihan Kuwu baru.


"Sekarang Papa pulang dulu ya, oke?" Kak Aca mengusik secara halus.


Ya sudahlah.


"Ayo pulang yuk, Kaf." Untuk menyamarkan jendol ini, aku memilih untuk menggendong Kaf saja.


Anakku sudah SD saja. Ia berangkat dengan rombongan Chandra, mereka berjalan kaki dengan digiring oleh para pengasuhnya.


"Pa, kenapa kita tak pulang-pulang?" tanya Kaf, saat aku mulai menyusuri jalanan dengan menggendongnya.


"Kan ada mama Cantik di rumahnya," jawabku dengan menahan beban di atas dua puluh kilo ini.


"Memang tak boleh ya kalau ada mama Cantik?" Kaf pro terhadap ibu sambungnya itu, hanya saja ia sering ikut-ikutan judes seperti Kal.


Aku tak bisa menjelaskan tentang perceraian pada anak-anak. Bukan sekali saja Kaf bertanya, tapi aku selalu mengalihkan perhatiannya.


"Nanti nanyanya ke nenek aja ya?" Aku menjawab dengan menciumnya.


"Tuh, nenek lagi. Ayo kita ke sana dulu, ada tante dokter." Kaf menunjukkan emperan masjid wakaf dari bang Lendra itu.


Hufttt, ada bang Ken di sana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2