Istri Sambung

Istri Sambung
IS165. Jalan-jalan bersama (mantan?)


__ADS_3

Aku tertegun, melihat Novi keluar dari rumah dengan berjalan mundur. Ia menggosok lantai rumahku dengan sebatang tongkat, dari gerakannya aku melihat ia tengah mengepel rumah. Hanya seperti itu saja, hatiku tersentuh.


Benar tidak aku akan menceraikannya? Menceraikan wanita yang begitu mengurus hunianku. Rasanya aku seperti tidak berbelas kasih dan tidak tahu terima kasih.


"Papa, ke mama," rengek anak yang berada di dekapanku.


"Oh, iya-iya." Aku kembali melangkah menuju ruko galon ini.


"Ibu mana, Ra?" tanyaku, pada anak kecil yang menunggu pintu masuk ruko galon ini.


Ia tengah duduk di tengah pintu, dengan menopang kedua pipinya.


"Walung. Iyung bobo, mama ibuk. La ma iyapa?" Ra malah melamun.


Ruko galon ini belum buka, biasanya akan buka pukul delapan pagi. Sedangkan sekarang, masih pukul setengah tujuh pagi.


Aduh, janda ini. Ternyata masih merokok saja dia, padahal sudah memiliki anak.


"Ma…."


Kepanikan terjadi, kak Aca langsung menjatuhkan rokok miliknya. Kemudian ia berbalik badan, lalu tersenyum padaku dan Nahda.


Kaki yang menggunakan sandal teplek itu langsung menggilas rokok tersebut. "Nahda udah bangun?" tanyanya begitu ramah.


Wanita merokok menurutku bukan berarti ia wanita nakal. Bisa jadi, ia tengah mengusir kesepian atau memang pilihannya karena lingkungan pergaulannya.


Sepertinya, ia pun tengah mencuri-curi waktu untuk bisa merokok. Mumpung ibu Ummu tengah keluar rumah. Karena Ra tadi mengatakan, bahwa ibu pergi ke warung.


"Udah dong, kan mau jalan-jalan." Aku memberikan Nahda pada ibunya.


"Mandi, Mama. Mam." Nahda menggosok hidungnya yang berair.


Jika Kin masih ada, ia pasti bisa menguras air hidung untuk melegakan napas anak yang terserang flu. Ada suatu cairan, yang diisi pada sebuah suntikan tanpa jarum. Lalu disemprotkan ke salah satu l*bang hidung, agar ingus keluar dari sisi l*bang hidung satunya.


"Ayo kita mandi, dadah dulu sama Papa." Kak Aca menunjukku.


"Dadah, Papa. Tunggu aku ya?" Nahda terlihat ceria, meski terserang sumeng seperti ini.


"Dadah." Aku melambaikan tanganku ke arahnya.


Kemudian, aku undur diri dan kembali ke rumah. Terlihat di mataku lagu, kegiatan Novi yang tengah menyapu halaman.

__ADS_1


Mungkin menurutnya rumah begitu kotor, lantaran ia meninggal rumah selama kurang lebih seminggu. Untuk halaman rumah, memang aku tidak pernah membersihkan. Tapi, aku mengurus bagian dalam rumah juga.


"Mau ke mana, Brodie?" Aku menahan anak sulung dari rahim Canda ini.


Ia berjalan sendiri ke arah ruko galon, dengan membawa kantong plastik berwarna putih. "Tuh." Ia menunjuk Ra yang masih melamun di tengah pintu itu.


"Aku belikan sarapan buat Ra, Nahda, mama, ibu, biyung," terangnya melanjutkan.


"Kau beli sama siapa?" Dari rambutnya, kelihatannya Chandra sudah mandi.


"Sama kak Devi, Pa. Aku mau ke Ra dulu, kasian dia ngelamun aja." Chandra meninggalkanku.


Benarkah anak-anak seumurannya bisa membagi kasih sayangnya untuk adik-adiknya? Apa benar, Chandra sudah mengerti untuk menyayangi adiknya?


Kalau keadaanku tidak terbatas, rasanya aku ingin memiliki banyak anak seperti Canda. Aku berjanji, aku akan membantu untuk mengurus anak-anak dan memberinya penjaga jika istriku keteteran. Aku tidak akan lalai, seperti kesalahan Ghavi kemarin. Aku pun berusaha akan menjadi lebih baik dari contoh seperti bang Givan, yang mampu menjadi ayah dari banyak anaknya.


Aku kembali ke dapur, untuk melanjutkan sarapanku. Setelahnya, aku bergegas berangkat ke kantor untuk mengambil pekerjaan milikku. Aku akan mengerjakannya malam saja, kemudian akan mengantarkannya besok.


Sarapan yang Novi buatkan itu aman saja, tidak menimbulkan reaksi negatif di tubuhku. Mungkin, ia sedang mencoba mengambil hatiku.


Untuk memenuhi janjiku, aku nekat membawa anak-anak untuk jalan-jalan ke kota. Kal tidak ingin ikut, ia sudah disusul Aniq untuk main bersama Key dan Jasmine. Sedangkan Kaf, ia malah ikut pergi memancing bersama papah, mangge, Chandra dan Zio.


"Bentar, Van. Aku minta izin mas Givan dulu." Canda menahanku masuk ke dalam mobil.


Harus profesional, Far. Meski rasanya ingin menggosok-gosok wajahnya. Aku meneguhkan imanku dalam hati.


"Mas…. Aku ikut Ghifar sama anak-anak, boleh ya?" Canda melakukan panggilan video.


"Duh, heran deh. Kau tak ada aku, mepet terus sama Ghifar."


Percayalah, aku tidak ada maksud untuk menggoda Canda. Aku hanya mengajaknya wajar, karena anak-anaknya pun ikut bersamaku.


"Lebay deh. Aku mau ikut ke mall, mau beli-belian." Canda membuat bentuk pelangi dengan tangannya.


"Sama siapa aja?"


Aku masih berdiri di dekat mobilku, karena pintu untuk tempat kemudi disandari oleh Canda.


"Ghifar, aku, Cani, kak Aca, Ra, Nahda, Shauwi sama Ceysa." Canda menyebutkan beberapa orang yang sudah bersiap di dalam mobilku. Ya, hanya para anak perempuan yang ikut.


"Mana Ghifar? Aku mau ngomong."

__ADS_1


Canda langsung memberikan ponselnya padaku. "Ya, Bang." Aku melihat bang Givan berada di dalam mobil.


Entah ia masih berada di dalam perjalanan, atau ia tengah menunggu Gavin dan Gibran keluar dari bangunan pesantren.


"Nitip, Canda. Kau pun jangan aneh-aneh sama dia. Awas anak-anak, Ra butuh pengawasan ketat juga." Oh, rupanya ia mengizinkan Canda untuk ikut.


"Ya, Bang. Paling nanti ngOyo sebentar," jawabku dengan melirik Canda.


"Kau tak asik jadinya, Far! Awas aja kau!" Ia sampai mengacungkan jarinya.


Aku cekikikan bersama Canda. "Iya, iya. Tenang aja. Aku mau berangkat dulu, Bang." Sekarang sudah pukul sepuluh pagi.


Mall atau swalayan besar biasanya sudah buka. Belum lagi termakan waktu dalam perjalanan, mungkin akan sampai di sana pukul sebelas siang.


"Ya udah, ati-ati. Nanti gantian gendong Cani, barangkali Canda capek." Begini saja ia sampai berpesan. Aku pasti akan menggendong anak-anak, meski tidak ada yang meminta bergantian untuk menggendong.


"Iya, Bang." Aku ingin cepat berangkat.


"Ya udah balikin HPnya ke Canda."


Aku segera memberikan ponsel Canda, kemudian masuk ke dalam mobil. Canda masih menelpon, dengan berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil dari sisi lainnya. Canda duduk di depan bersamaku, dengan Cani yang berada di dekapannya.


Aku tidak menyimak obrolan bang Givan dan Canda, aku langsung melajukan kendaraanku perlahan meninggalkan halaman rumah mamah. Mamah tidak mau ikut, ia ingin bersantai di rumah saja katanya.


Kak Aca duduk di bangku tengah bersama Ra, sedangkan Shauwi, Ceysa dan Nahda berada di bangku belakang. Bukan karena Ra memakan tempat, tapi Ra tengah anteng bermain dengan mainannya. Jika Ra tengah anteng, semua orang sudah biasa menghindar karena kesempatan untuk mereka agar tenang tanpa direcoki oleh Ra.


"Far, nanti temenin aku ke counter toko emas ya?" Canda menepuk lenganku.


Aku? Khawatir malah nanti ada yang salah paham.


"Sama Shauwi tuh." Aku tak akan menarik nama kak Aca, karena Ra pasti sudah akan merepotkannya.


"Pengennya sama kau, aku pengen minta pendapat untuk perhiasan yang aku beli nanti."


Segala pendapat. "Memang kau mau kasih suami kau emas? Jam tangan, lebih masuk di akal. Kemeja, atau parfum. Masa emas?" Aku geleng-geleng kepala.


"Bukanlah, untuk aku sendiri. Maksudnya, gimana kan kalau aku pakai yang aku pilihkan. Apa pantas, kalau aku pakai perhiasan pilihan aku."


Rupanya Canda bosan hidup. Maksudnya apa ia menarikku untuk dimintai pendapat? Bisa-bisa, anak-anakku akan menjadi yatim piatu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2