Istri Sambung

Istri Sambung
IS178. Scooter


__ADS_3

"Oh, datanya udah di pengadilan. Atas nama siapa? Boleh lihat berkas yang dipegangnya?"


Mamah langsung mendatangkan temannya bang Lendra yang dimaksud. Daripada hampir setahun rumah tanggaku terkatung-katung, lebih baik diselesaikan dengan cara seperti ini. Dipertahankan pun tidak mungkin juga, mamah sudah benci dalam diam pada Novi.


Bukannya apa-apa, tapi taktik licik Novi dimengerti oleh mamah. Bukan aku tak mau merugi kehabisan uang, tapi terlalu lama terkatung-katung begini tidak baik juga.


Jika sudah menjadi janda, Novi pun bebas ingin bekerja lagi ataupun bagaimana. Aku pun tidak terikat lagi dengannya.


Aku memberikan berkas yang ada padaku. Teman bang Lendra yang bernama Aris ini langsung mengambil alih dan menyimaknya.


"Ini sih permainan aja. Kalau menurut Saya, tak perlu begini-begini. Mending langsung turunkan surat, terus masalah keuangan begini selesaikan secara kekeluargaan aja. Toh belum ada anak juga kan?" ucap Aris dengan membaca dokumen yang berada di dalam map khusus. Map tersebut berlogokan pengadilan agama berikut keterangannya juga.


Aku mengangguk. "Iya belum ada anak dari dia," sahutku kemudian.


"Ya udah, dokumennya Saya bawa ya? Untuk informasi selanjutnya, nanti Saya kontak langsung nomor Abang ataupun nomor telepon Mamah." Aris menggulirkan pandangannya padaku dan mamah secara bergantian.


"Oke, baik. Kira-kira, butuh waktu berapa lama?" ujar mamah kemudian.


Aris tersenyum pada mamah. "Saya terus terang di awal aja ya, Mah. Mamahnya inginnya berapa lama? Tapi, ada nilai yang lebih tinggi untuk proses yang lebih cepat. Bikin KTP pun, kurang dari lima belas menit bisa jadi kok, Mah."


Oh, seperti itu pekerjaan.


"Oh ya, Saya lebih suka kalau Anda berterus-terang begini. Daripada berbelit-belit untuk mengatakan sebuah nilai saja, apalagi main kode," timpal mamah yang direspon dengan tawa ringan saja oleh Aris.


"Sekiranya jangan mencurigakan prosesnya karena terlalu cepat, tapi mohon sedikit dipercepat dari waktu umumnya," lanjut mamah kembali.


Aris mengangguk dengan tersenyum lebar. "Bisa, Mah. Untuk proses satu bulan, Saya minta dana di awal sebesar tujuh juta. Sampai dokumen sah bercerainya jadi dan surat duda maupun surat jandanya, Saya minta kembali sekitar lima belas juta. Maaf Saya tinggikan, karena Saya pun lewat tangan kedua. Karena Saya tak nguasain di daerah ini. Saya dari Padang langsung putar kepala ke sini, begitu dapat telepon dari mangge." Aris mencairkan suasana dengan tertawa ringan.


"Oh, asal Padang kah?" Papah baru bertanya di sini.


"Ya, Pah. Asal Padang aku, kenal mendiang Noy pun di Padang. Cuma sering diminta Noy untuk urus dokumen luar Padang, jadi beranilah aku main-main agak jauh sedikit." Gaya berbicaranya sudah tidak begitu formal seperti di awal.


Noy adalah panggilan bang Lendra, untuk beberapa teman akrabnya. Aku pun baru tahu hal ini, setelah bang Lendra digegerkan akan rujuk kembali dengan Canda.

__ADS_1


"Ada pengalaman ya berarti?"


Kami lanjut berbincang-bincang dengan Aris, hingga uang sebesar tujuh juta itu berpindah ke tangannya. Tidak lupa juga, aku memberikan uang ganti bensin untuk perjalanannya dari Padang menuju Aceh Tengah ini. Karena mangge mengatakan bahwa, agar aku mengganti uang bensin Aris, supaya Aris mau jika diberi perintah lagi.


Di awal pergantian dokumen tersebut, Novi sempat kembali menegurku. Untungnya, Kaf tengah berada bersamaku dan dia merengek ingin ke pasar malam. Membuat Novi tidak banyak berbicara, karena aku ditarik Kaf lebih dulu.


Novi tidak pernah berani menemuiku di dalam rumah mamah. Ia selalu menemuiku di luar rumah, atau di halaman rumah mamah. Sepertinya ia tahu, jika mamah sekarang akan berani menegurnya. Karena sebelumnya mamah diam saja, beliau ingin tahu seberapa beraninya Novi.


Hingga akhirnya, aku tinggal menunggu surat keterangan bahwa aku sudah tidak terikat dengan pernikahan bersama Novi lagi. Bersedih, cukup aku rasakan. Ternyata seperti ini ya rasanya bercerai, membangun rumah tangga yang akhirnya bercerai, nyatanya begitu membuat perubahan besar.


Perubahan silaturahmi tentunya. Karena status Novi yang menjadi keponakan mamah, tidak begitu dekat dan hangat lagi. Mamah sudah seperti melihat orang lain, ketika melihat Novi. Novi pun terlihat begitu canggung untuk bertegur sapa dengan mamah.


"Hai, semmmmoxxxx." Aku melemparkan kulit kacang, ke arah part belakang kak Aca yang melewatiku begitu saja.


Sombongnya awet.


Namun, ia menoleh dengan mengacungkan jari tengahnya padaku. Sialan ini perempuan, rupanya ia ingin dimainkan dengan jari tengahku.


"Kenapa, Ca?" Mamah muncul dari dalam rumah, sebelum kak Aca masuk.


Anak-anakku tengah bermain scooter dengan ukuran dan warna yang berbeda. Mereka pun membawa Nahda naik dalam scooternya, membonceng di depan lah istilahnya, tapi dalam posisi berdiri.


"Sama siapa? Jangan sendirian. Giska atau siapa diajak sana." Mamah membawa kak Aca duduk di kursi teras, sedangkan aku di lantainya.


"Giska tak mau, nanti aja sama bang Adi katanya. Giska lebih nyaman pergi sama suaminya keknya, soalnya aku ajak tuh tak pernah mau."


Aku beberapa kali mencuri pandang ke arah kak Aca. Dengan sesekali tersenyum genit, yang membuat pipinya bersemu merah.


"Papa…. Punya aku mana?" Nahda berjalan ke arahku dengan bibir cemberut.


"Gantian aja dong. Itu pun punya kak Key, sama satunya entah punya siapa." Mamah yang mengatakan hal ini.


Mainan cucu-cucunya, adalah hak cucu lainnya juga menurut mamah. Anak-anak pun diajarkan berbagi pada saudaranya.

__ADS_1


"Nanti ya?" Aku memangku Nahda dan mencium pipinya.


"Ini kan hari Minggu, jalan-jalan aja beli scooter buat aku." Usianya sudah naik hampir tiga tahun, hanya menunggu proses ceraiku saja.


"Yuk?"


Aku menoleh ke arah ibunya Nahda ini. Ia ingin healing, tapi tidak ada kawan.


"Ya udah sana, bawa anak-anak kau juga sana, Far." Mamah langsung memberi izin.


"Mak Cek keberatan ya aku nitipin anak?" Kak Aca memajang wajah sedihnya.


"Memang kalian mau pacaran? Jalan berdua? Ada anak kan sebagai sekat, biar aman." Frontal sekali mulut ibuku.


"Ayo Kak Kal, Adek Kaf." Aku memanggil nama anak-anakku.


"Aku tak mau ikut, Pa. Aku minta beli baju aja ya, Pa? Uangnya kasih aja ke kak Hala. Aku mau diajak pergi kak Hala sama Kak Jasmine ke butik, beli dress cantik."


Padahal Kal belum beranjak remaja, tapi sudah tahu penampilan. Ini bukan sekali saja ia pergi membeli baju bersama Jasmine dan pengasuhnya. Aku pun memberikan saja, karena khawatir Kal malah melanjutkan kebiasaan buruknya yang sudah surut karena nasehat dari papah.


"Perginya sama siapa?" tanyaku dengan memperhatikan Kal yang mendorong scooternya ke arah garasi rumah.


"Taksi online, Pa. Naik mobil dong."


Aku jadi teringat akan ibunya Jasmine yang hidup glamor dan mewah. Jasmine yang masih kecil saja, sudah mengerti barang-barang bagus.


"Lain kali, jalan-jalan sama kak Key aja ya?" Karena kelas Key adalah kelas pasar malam.


Masih kecil ini, besar nanti pun mereka pasti paham akan barang sendiri. Tapi sepertinya, jika Jasmine ini memang sudah diajarkan dari kecil oleh ini kandungnya.


"Oke, Papa. Aku udah janji ikut soalnya." Kal pun membantu Kaf memasukkan scooter tersebut.


Jadi, fix nih aku kencan dengan membawa satu anak dari pihak kami masing-masing?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2