
"Kita telpon tantenya dulu lah, Far. Tak usah kau langsung ke sana, takutnya malah dapat urat masam dari mereka," ujar mamah, ketika aku bercerita bahwa kemungkinan Novi berada di rumah tantenya di Bengkulu.
"Aku tak punya nomornya, Mah." Jujurku dengan menikmati usapan lembut mamah di kepalaku.
Aku tengah bermanja-manja pada ibuku sendiri, sambil merebahkan kepalaku di pangkuannya di Minggu pagi ini.
"Nanti coba Mamah cari di sosial medianya, karena pasti kan pernah ditandai almarhum tante Bena tuh di postingannya," terang mamah yang ada benarnya juga.
"Aku ikut Mamah aja." Aku tak ingin membantah saran beliau.
"Kau maunya sendiri lagi, atau lanjut sama Novi sih?"
Aku mengingat semua perjuanganku kemarin. Aku sampai rutin ke tabib, rela minum ramuan pahit, hanya untuk keharmonisan rumah tangga kita. Jujur saja, aku sebenarnya anti meminum ramuan pahit begitu. Karena rasanya begitu mual. Tapi aku melakukan itu, demi kebutuhan batinnya terpenuhi.
"Terserah apa kata nanti aja, Mah. Aku ngerasanya pasti sungkan buat nyentuh istri sendiri, sama bang Ken pun jadi kaku, kek sama bang Givan dulu," Sejak tanda merah yang ditunjukkan itu, aku jarang membuka obrolan dengan bang Ken. Jika ditanya, aku menjawab. Jika tidak ditanya, aku tidak membuka obrolan dengannya.
"Sulit memang, apalagi ini beda kasus. Tapi saran Mamah sih, Far. Yang udah, ya udah aja. Tinggal kau ambil keputusan selanjutnya aja, daripada ungkit yang udah terjadi. Karena tak akan memperbaiki keadaan, bagaimanapun kita kuatnya bahas yang udah-udah. Yang ikhlas, sabar, karena kau sendiri yang menolak untuk ditindaklanjuti psikolog. Kau tak mau berobat ke psikolog, berarti syaratnya kau mesti ikhlas. Kalau kau masih ada dendam, atau masih sulit aja menerima, kau bakal susah untuk lanjutin kehidupan kau. Canda ya udah, lepaskan. Novi ya udah, lupakan kejadian. Jadi, kau mau lanjut sama Novi ya enak. Kalau lepas sama Novi ya, kau tak nyimpan dendam juga."
Aku memahami berkali-kali nasihat dari mamah. Berbicara seperti ini, mungkin memang mudah. Tapi, bagaimana denganku untuk mengikhlaskan semuanya?
"Dia tak punya start-nya, Mah."
Aku celingukan mencari keberadaan orang yang menimpali.
"Siapa ya, Mah?" tanyaku dengan memperhatikan wajah mamah dari bawah.
"Iya, tak ada orang di pintu." Mamah menoleh ke arah pintu penghubung halaman belakang.
"Ini di jendela, BESTie." seru seseorang yang membuatku langsung bangkit dan mencari sumber suara.
Kami semua tergelak, melihat anak sulung mamah yang kepalanya muncul dari jendela dapur. Itu adalah ventilasi udara di dekat meja makan.
__ADS_1
"Datang kapan kau?" tanya mamah yang masih mendongak melihat bang Givan.
"Dini hari tadi. Belum masak nasi kah, Mah?" Wajahnya menghilang dari ventilasi tersebut.
Sepertinya, bang Givan tengah berjalan memutar. Ia akhirnya sampai di dekat kami, dengan menggendong anaknya yang paling kecil itu.
Bang Givan langsung mencium tangan mamah, lalu mendudukkan anaknya di kepalaku. Dasar, iseng! Anaknya sampai menangis, yang membuatku langsung reflek menangkapnya dan memeluknya di atas dadaku.
"Anak Papa cantik." Aku mencium anak perempuan yang berhijab ini.
Sepertinya, anak ini tak mengenalku. Membuatnya terus menangis, dengan memperhatikan wajah ayahnya itu.
"Udah itu sama Papa dulu, Yayah mau cari nasi." Bang Givan duduk di sebelah mamah.
"Kau belum makan? Nasi habis buat sarapan tadi, Mamah belum masak lagi." Mamah menanyakan anak sulungnya. Karena jika aku, jelas sudah makan bersama beliau tadi.
"Aku, Canda sama anak yang lain juga udah makan nasi campur. Si Imut tak mau makan nasi campur, maunya nasi putih sama kerupuk katanya. Canda di sana baru cuci beras, kasihan kalau Ces nunggu bakal kelaparan." Untuk anaknya almarhum bang Lendra itu ternyata.
"Ck…. Lendranya aja rewel makannya. Tapi susu, vitamin, buah aku penuhi kok, meski nasi sama lauknya tak mau juga." Sebagai orang tua, pasti mereka selalu memberi pengakuan seperti ini ketika anak mereka dikatakan kurus.
"Cerdas tak anaknya, Bang?" Seingatku, begini cara yang Kin pakai. Kecakapan dan ketanggapannya menjadi tolak ukur pertumbuhan anak.
"Bukan lagi, licik loh. Petak umpet, kalau dia yang jadi, dia alesan nyari orang, tapi malah dia pulang ke rumah. Jadi yang nungguin dicari tuh, masih ngumpet aja nunggu Ces. Main squid game, dia jadi, dia balik ke rumahnya. Key, yang lain pada naik-naik ke pagar rumah gitu biar bisa keluar. Ces tak pernah, dia lebih milih utak-atik kode gembok sampai kebuka sendiri. Dia ini hafal semua ulang tahun saudaranya, aku atau Canda, sampai ke tanggal pernikahan. Pernah tuh nanya-nanya, kirain mau tau gitu. Eh, tak taunya buat buka gembok."
Mamah tergelak. "Otak Lendra ternyata."
Bang Givan manggut-manggut. "Iya, Jasmine lebih ke banyak ngomong kek Putri. Semua ucapan bisa diputar balikkan. Kalau Ces, lebih ke main strategi aja. Dia mau gambar objek yang sulit, diterpa itu gambar, bukan lagi ditiru. Objek aslinya itu di belakang sehelai kertas yang dia pakai buat gambar, terus dia cari pencahayaan yang terangnya cukup tuh, jadi kan gambar objeknya samar terlihat di atas selembar kertas itu. Padahal tak ada yang ngajarin dia, tapi dia begitu," tambah bang Givan, yang masih membuatku berpikir.
"Jadi bentuknya lebih nyata ya, Van? Persis seperti objek." Mamah sepertinya mampu memahami penjelasan bang Givan.
Sedangkan aku, masih membayangkan yang bang Givan maksudkan.
__ADS_1
"Iya betul, Mah. Aku nitip Cani, Mah. Mau minta nasi ke saudara dulu. Mau beli nasi putihnya aja ke tukang jualan, kok rasanya malu." Ia terkekeh dengan berjalan pergi.
"Yayayayaya…." Tangis Cani menggemaskan.
"Ini Papa, Nak." Aku bangkit, lalu menggendong tubuhnya.
Sepertinya, bayi ini belum berusia enam bulan. Tapi lehernya sudah tegak dan punggungnya sudah kuat untuk didudukkan.
Tangisnya pelan, tapi terdengar begitu pilu. Tidak seperti tangis Ra yang begitu nyaring dan membahana.
"Sini sama Nenek kah?" Dari teras rumah mamah merentangkan kedua tangannya.
"Mamah beres-beres aja dulu. Biar aku pegang Cani." Aku berjalan ke arah kandang burung kicau milik papah. Ini seperti budidaya konsepnya, karena papah akan mengawinkan burung-burungnya, sehingga mampu bertelur dan menetaskan burung lagi. Jika sudah waktunya di umur yang ditentukan, burung-burung tersebut akan dijual.
Sesekali, Cani mendongak ke wajahku. Aku jadi geli sendiri, melihat mata polosnya yang ketakutan. Rasanya aku ingin membesarkan satu anak yang mirip Canda ini di rumahku, pasti hari-hariku begitu tenang melihat wajah teduh seperti ini.
"Ini Papa, Nak. Papanya Cani, Cani tak kenal ya?" Aku menghadapkan tubuh anak ini di depan wajahku.
Namun, ia malah semakin merengek. Sepertinya, hanya anak ini yang rewel di gendongan orang lain.
"Yuk jalan-jalan keluar yuk? Main ke mana maunya? Ke ibu kah? Atau ke studio?" Aku membawa Cani melewati rumah mamah, kemudian aku kini menginjakkan halaman depan rumah mamah dengan menyusuri jalanan sekitar.
Aku ingin membuatnya tenang dan kenal denganku. Agar ia tidak selalu menangis, bila berada di gendonganku.
"Hei, Biyung." sapaku ketika melihat Canda berjalan menuju ke ruko galon ibunya.
Ia menoleh sekilas dengan meledek anaknya. Bisa-bisanya ibunya seperti Canda, dengan anaknya seperti Cani. Benar saja kan, tangis yang tadi mereda itu kini terdengar kembali.
"Biyung kau agak-agak, Nak." Aku menaruh kepalanya menghadap ke belakang dari punggungku.
Lalu, aku malah berbelok dan menuju ke arah rumah Ahya. Namun, di pertengahan jalan. Aku malah mendapat sapaan dari…..
__ADS_1
...****************...