
"Nov, kau kasih mereka dadar mie?" aku tidak suka dengan orang-orang yang melawan aturanku.
Novi baru memalingkan pandangannya dari kukunya tersebut, "Ya, Bang." ia menjawab tanpa rasa takut.
"Kal ada ingetin kau tak?" aku menoleh sedikit pada Kal, kemudian menoleh kembali ke arah Novi.
Aku ingin tahu, di sini memang Novi yang membangkang aturan. Atau, memang Kal yang membohongiku. Lebih-lebih, apa Kal tidak mengatakannya pada Novi.
"Ada. Tapi gimana lagi coba? Mereka tak mau telur dadar, atau telur mata sapi. Aku sibuk, Bang. Aku cuci baju, nyetrika, nyapu dan ngepel. Bahkan, aku tak sempat sarapan." ia mengatakan, dengan menekuk satu persatu jarinya.
Aku membuang nafasku, kemudian menoleh ke arah anak-anak. Mereka tengah memperhatikanku. Mungkin mereka paham, ini adalah ekspresi marah dari ayahnya. Hanya saja, Novi yang tidak memahami hal itu.
"Sini Papa bantu selesaikan, terus bobo ya?" aku fokus pada buku tulis mereka berdua.
Kal mengangguk, "Pa, ini maksudnya apa?" Kal menunjuk buku pelajarannya.
Aku punya istri, tapi aku tetap saja seperti aktivitasku tanpa istri. Bahkan, Novi yang bersantai mengurus kuku tangannya. Sekarang, ia tengah memasang pewarna di kukunya.
Jika tak ada anak-anak, aku akan mengorek semua pertanyaan yang tersimpan di benakku pada Novi. Novi benar-benar keterlaluan dan kelewat tidak peka.
Setelah anak-anak menyiapkan buku pelajaran untuk besok, aku langsung menggiring anak-anak untuk sikat gigi, cuci tangan dan kaki. Setelahnya, aku mengusap-usap punggung Kaf seperti biasa. Jika Kal, ia menyusun bantalnya sendiri.
"Adek Kaf tadi main apa?" tanyaku, disela aktivitasku mengusap punggungnya.
"Main sama Hadi sama Ceysa, di rumah biyung." Kaf memutar tubuhnya menghadap padaku, "Aku ditawari makan sama biyung, makan sama sayur asem. Tapi aku bilang ke biyung, kalau aku udah makan. Terus diminta makan sayuran yang ada di sayur asemnya aja. Biar ee-nya tak sakit kata biyung." lanjut Kaf dengan wajah yang begitu mirip denganku itu.
Apa aku harus memasak terlebih dahulu kah, ketika akan bekerja? Namun, aku semakin merasa bahwa Novi hanya menambah beban.
Ya ampun, semoga aku tidak berpikiran jelek melulu tentangnya.
"Sok bobo, baca doa." aku memejamkan mata, agar Kaf melakukan hal yang sama.
Hingga anak-anak tertidur, aku membenahi bantal tidur agar mereka tidak terjatuh. Kemudian, aku langsung mengambil beberapa berkas untuk bang Givan.
Masih dengan aktivitas merawat tubuh. Novi kini tengah mengusap-usap betis kakinya, sampai ke pahanya.
Moodku tidak bagus, aku tidak berminat untuk memandang dan menikmati paha yang terhidang itu. Amarahku, rasanya masih meletup-letup saja.
"Mau ke mana, Bang?" tegur Novi, saat aku melewatinya.
"Ke bang Givan" jawabku dengan tetap melangkah.
__ADS_1
"Jangan malem-malem, Bang." Novi sedikit berseru.
"Hmm." aku membalasnya dengan dekheman saja.
Kini, aku sudah duduk di ruang tamu yang berpasir ini. Lantainya marmer, hanya saja motif pasir ini begitu nyata. Sampai menempel ke telapak kakiku.
"Ada pa?" si Tuyul yang malah muncul.
"Panggil yayah, Ra. Abang kau mana, tadi Papa suruh manggil yayah kau?" Chandra yang membukakan pintu rumah tadi.
"Yayah nana?"
Aku sudah malas, jika Ra sudah mencari ayahnya seperti ini. Sepertinya, bang i tidak ada di rumah dan tidak mengajaknya.
"Iyungggg…. Yayah nana?" mulutnya begitu lancip.
Tak lama, kakak ipar yang paling dramatis itu muncul. Ia merapikan hijabnya, dengan berjalan ke arahku.
"Suami kau mana?" tanyaku kemudian.
"Coba kau cari, Far. Sekalian bawa Chandra sama Ra. Pengasuhnya Chandra lagi pulang dulu ke kampung soalnya." ia malah menguap lebar.
"Ya Allah, Canda. Aku ini lagi kesel loh! Malah Kau tambahkan beban aku." aku mengacak-acak wajahku sendiri.
Aku mengatur nafasku beberapa kali. Rasanya, aku ingin benar-benar mengamuk ke setiap orang.
"Canda! Kau ini setiap hari ngapain aja?! Anak kok sama suami terus? Aktivitas kau ini ngapain aja?" aku bertanya dengan nada yang cukup tegas.
Ia melihatku dengan alis yang bertautan, "Mandi, sholat subuh, bikin sarapan pagi, beres-beres kamar aja, urus mandi dan nyuapin Ra, aku pun sarapan bareng Ra. Terus aku masak buat siang, Ra dibawa mas Givan. Selesai masak, aku rebahan, tidur siang. Setelahnya, sholat dzuhur, makan, nyapu-nyapu sambil nyuapi Ra, nyajiin makanan mas Givan. Abis itu cuci piring, terus tidur siang lagi sama Ra. Sore, nyuruh anak-anak ngaji, aku pun ikut pergi sama Ra. Terus makan malam, santai-santai aja. Kalau mas Givan tak minta jatah, ya aku tidur. Kalau minta, ya melek sampai jam sepuluh. Terus tidur, sampai setengah lima. Terus aktivitas kek awal lagi." dengan santainya ia menyebutkan semuanya.
Apa ia tidak mengerti, bahwa aku tengah marah? Karena ia selalu memanggil suaminya, untuk menjaga anaknya. Belum lagi, kenapa rumah sampai berpasir begini. Membuatku ingat pada Novi saja.
"Suami kau tak marah?" aku masih ingin tahu dengan motif perempuan yang seperti ini.
"Mas Givan yang penting sprei wangi, kamar tak berpasir, makanan ada. Kalau rumah kan, yang beres-beres ibu Muna. Kamar mandi kamar, yang gosok ya mas Givan. Karena aku susah jongkok."
Aku pun tidak menekankan Novi untuk membuat kinclong rumah. Seminggu sekali Kin menyuruh seseorang, untuk bekerja membersihkan rumah. Jika menyapu, ya memang Kin lakukan sendiri dan setiap hari.
Berarti, yang membuatku semakin gondok seperti ini. Karena Novi tidak masak dan tidak mengurus anak.
Aduh, bagaimana aku menegurnya?
__ADS_1
"Mas…. Ada Ghifar nih. Anak Mas juga nyariin terus. Main tuh jangan lama-lama coba. Untung yang besar tak ribut ayahnya aja. Mas tuh tega betul sama aku. Jangan dzalim ke istri coba, Mas. Doa menyesuaikan loh."
Heh?
Bisa-bisanya ia malah menyalahkan suaminya?
Eh tunggu dulu.
Dzalim ya?
Apa aku dzalim ke Novi? Atau Novi yang dzalim padaku?
"Di warung kopi mana? Terus sejak kapan minum kopi? Kalau sakit, aku yang repot. Segala minumnya kopi!"
Aku kaget, melihat Canda yang alim tetapi seperti itu ke suaminya.
Ya, cerewet dan bawel.
"Maaf, maaf, maaf terus! Pengen istri nurut, tapi sendirinya tak patuh." Canda menghela nafasnya, "Jadi Ghifar suruh ke sana aja kah?" ia masih sibuk dengan ponselnya.
"Ya, ya udah. Jangan malem-malem, takut aku ketiduran, Ra sama Chandra masih adu jotos aja." Canda langsung menurunkan ponselnya.
"Ke kedai kopi yang di belakang gangnya tante Shasha aja, Far. Mas Givan lagi nongkrong sama temen-temennya, tanggung katanya kopinya baru jadi." Canda berbicara dengan mulut cemberut.
"Apa sih kau, suami keluar sebentar aja kau manyun gitu?" tanyaku kemudian.
"Aku tak diajak, aku di rumah aja, mas Givan enak main-main sendiri aja kek bujang. Aku main ke mamah aja, dibilangnya 'Canda, ayo pulang!' padahal cuma ke rumah ibu kandungnya sendiri."
Aku gemas melihat istri orang itu mengerucutkan bibirnya.
Sudah ah, jangan terlalu dalam mendengar curhatan istri orang. Apalagi, dia dulu mantan pacarku. Rasa ser-seran itu pasti masih ada.
"Eh, oh iya. Besok aku nitip anak-anak ya? Rencana, mau liburan dulu." aku bangkit dari posisiku.
Canda mengangguk, "Mas Givan udah bilang. Bawakan aja bajunya ke sini. Aku takut masuk-masuk rumah kau."
Pasti masalah yang sama. Ya, seluruh saudaraku takut melihat penampakan Kin di rumah. Kalau memang ada Kin, aku akan memintanya meng*ralku. Biar aku tidak cepat marah seperti ini.
"Iya!" ketusku dengan berjalan ke arah pintu.
"Papa…."
__ADS_1
Ah, sialan! Suara itu.
...****************...