Istri Sambung

Istri Sambung
IS286. Tertarik dengan yang lain


__ADS_3

"Tinggal ngomong aja, Pa." Aca membelai pelipisku.


Aku bangkit dan duduk di sofa dekat jendela. Aca membenahi tatanan rambutnya, lalu menghampiriku. Lihatlah, orang sebesar ini duduk di pangkuanku.


Aku sampai meringis menahan linu. "Nyeri loh, Ma," rintihku yang membuatnya terkekeh.


Ia sepertinya sadar bahwa dirinya benar-benar besar. Ia langsung berpindah dan duduk di sampingku, dengan mesra ia bergelayut di lenganku.


Ya Allah, ngapnya. Ternyata seperti ini yang bang Givan rasakan tiap detik, saat Cendol bertingkah seperti ini di depan keluarga. Jujur, kadang aku merasa iri karena tidak pernah memiliki wanita yang begitu manja dan mesra. Rupanya, rasanya seperti ini ya? Mau kubilang risih, takut Aca tersinggung. Aku diam saja, aku sudah berkeringat dan haus karena gerah dan napas yang mendadak ngos-ngosan.


Aku melepaskan tangannya, kemudian duduk setengah bersila dengan menghadapnya. Dengan seperti ini, Aca tidak mungkin bergelayut padaku lagi.


"Sok cerita apa?" Ia memposisikan dirinya sama seperti posisiku.


"Tak ada cerita, Ma." Aku tersenyum manis.


"Gelagat Papa itu beda sekarang. Apalagi pas tadi di ruangan kerja Papa, Papa itu kek pura-pura mesra. Kek biar tak ketahuan selingkuh gitu tuh, padahal mencirikan betul." Aca menempatkan satu bantal sofa di atas pangkuannya.


Benarkah aku seperti itu? Atau, itu hanya nalurinya saja?


"Tak juga kali." Aku memencet hidungnya. "Perasaan Mama aja," lanjutku kemudian.


"Jujur aja, Pa. Kalau memang belum terlanjur kan, ya kita benahi biar tak sampai kejadian. Janji deh tak marah." Ia menarik tangan kananku, kemudian memainkan jemariku di atas bantal sofa yang berada di pangkuannya.


Dengan hormon kehamilannya, aku tak yakin Aca tak akan marah. Tapi aku memiliki sedikit keyakinan, mungkin pengharapan juga sepertinya, jika aku pasti akan bisa berbelok para Farida. Jujur, sebelumnya aku sulit untuk suka dengan perempuan lain. Bahkan, kemarin hidupku seolah terpaku dengan Canda. Tidak ada yang sebanding dengan rasa tertarikku pada dia.

__ADS_1


Namun, setelah aku bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Canda. Aku malah mudah sekali tertarik dengan lawan jenis, bahkan pada relasi bisnisku. Padahal, posisiku beristri. Untuk dekat dan mencintai Aca saja, aku seperti berusaha dulu. Aku sampai menjadikan tempat iseng saja, tapi malah berlanjut menjadi keseriusan dan ketertarikan rasa karena kenyamanan. Ada usahaku mendekati Aca dan ada usahaku, untuk bisa terus berhubungan dengan Aca.


"Aku tertarik sama perempuan lain." Aku tertunduk dan terdiam.


Mau bagaimana pun juga, Aca tetap tempat terbaikku untuk bercerita.


"Tapi aku tak mau dimadu."


Aku mendapati wajahnya yang manyun. Aca seperti bukan Aca, ketika tengah mengandung. Ketika aku bercerita, biasanya ia tadi pernah terpancing emosi atau terbawa perasaan. Atau, karena posisinya sekarang ada istriku dan aku mengaku menyukai perempuan lain.


"Aku tau, aku pun tak kuat punya dua istri." Meladeni Aca saja, aku sampai berkeringat dingin. Apalagi harus memenuhi batin dua wanita, sedangkan batangku hanya patuh pada Aca saja.


Memang benar, darahku seolah berdesir dan ingin melakukan hal dewasa setiap kali rupa Farida menghipnotisku. Tetapi, batangku tidak bereaksi. N**** tinggi, tapi tidak sejalan dengan perkumpulan darah yang mengumpul di tengah-tengah tubuhku. Tidak ada pengerasan apapun yang terjadi, meski aku begitu minat saat seperti kemarin Aca ke kantorku dan bertepatan dengan Farida yang hadir di sana. Kejadian aku minat pun, karena Aca yang aku guraui dengan hal dewasa itu.


Aku memahami kepanikan di wajahnya. Tapi, langsung kuyakinkan dengan gelengan kepala. Aku tidak berniat menceraikan sama sekali, malah aku ingin Farida yang enyah agar tidak mengganggu konsentrasiku pada Aca. Aku tidak mungkin slengean, jika ia tidak muncul di ceritaku.


"Aku kurang sesuatu ya? Aku harus gimana?"


Menangis tidak ya, jika aku mengatakan mataku sedikit risih melihat corak hitam di leher dan beberapa lipatan tubuhnya itu dari bawaan janinnya itu. Aku pun tidak mengerti, padahal aku paham itu adalah bawaan janin dan aku pun memakluminya. Tetapi, tetap saja mata lelakiku begitu egois hanya karena hal kecil itu. Padahal, Aca hamil karenaku.


"Tak ada kurangnya kok, Ma. Laki-laki selingkuh itu, bukan karena istrinya kurang sesuatu. Tapi dasarnya sifat laki-laki ini rakus, egois dan sedikit fanatik mungkin." Aku sengaja tidak mengatakan tentang kerisihan mataku.


Otakku sadar, bahwa Aca menjadi seperti ini pun bukan inginnya. Terbukti dari beberapa skincare yang ia miliki, ia tidak malas menjaga tubuhnya. Tapi saat aku bentangkan, rasanya aku berat untuk menurunkan kepalaku. Bukan karena aromanya tidak sedap, tapi karena visualnya seperti kurang menarik karena noda hitam itu. Tidak cuma di leher, itu ada di setiap lekuk tubuhnya.


Jalan satu-satunya, ya memang aku harus melawan egoku sendiri. Tidak ada jalan lain, tidak ada pilihan lain. Aku tidak mungkin berganti istri, hanya karena istriku mengandung anakku dan rupanya seperti tidak menarik lagi. Aku harus memperbanyak ibadah sepertinya.

__ADS_1


"Papa udah selingkuh?" Nada suaranya tidak naik atau tidak terdengar marah.


Aku menggeleng. "Tapi udah beberapa kali ketemu. Memang, bukan aku yang menjanjikan. Pertemuan tanpa perjanjian, alias dia datang sendiri ke aku pun, ya sebisa mungkin aku tolak. Tapi akhirnya, ya kita ketemu dalam ruang lingkup pekerjaan. Dia relasi bisnis aku, kami pun belum lama kenal dan ketemu. Belum seminggu keknya, tapi aku hampir kalah sama ego aku sendiri."


Aku yakin, Aca tak akan ngambek dan pulang ke rumah orang tuanya. Aku yakin Aca akan memperjuangkanku, agar aku tidak terbawa oleh perempuan lain. Aku paham sifat keras kepala dan pemaksanya. Orang tua saja ditentang, mertua saja dibujuk sedemikian rupa. Sudah pasti, ia akan melawan orang ketiga di hubungan kami.


"Putus kontrak aja sama dia."


Aku menggeleng. Itu hal yang tidak mungkin, perusahaanku bisa goyah karena hal itu.


"Terlalu beresiko kah? Bisa buat kebangkrutan kah?" Aca menyusul pernyataan lainnya.


"Tak buat bangkrut, tapi pasti kestabilannya terganggu. Aku diminta tetap lanjutkan bisnis sama dia dari saran Ria, karena katanya retensi usaha tahun ini itu udah turun dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi, sejak pergantian produksi karena ladang papah peremajaan besar-besaran. Cuma ayahnya Farida ini langgan setia, bahkan mengenalkan produk aku ke relasi bisnisnya juga." Aku menyingkat penjelasannya.


"Namanya Farida? Apa perempuan yang siang tadi ke kantor?" Feelingnya begitu tepat, padahal aku sejak tadi tidak mengerucut pada seseorang.


"Iya, namanya Farida. Iya, yang siang tadi datang. Sebelumnya, dia ada skedul sama aku dan sampai nunggu aku. Udah telat untuk bahas bisnis sama dia, sedangkan aku sibuk dengan dokumen. Sampai akhirnya Ria cerita banyak, terus aku diminta untuk nelpon Farida dan buat janji di luar jam kantor." Aku menggenggam kedua tangannya.


"Apa pas lembur sore tadi? Apa Papa ada ambil kamar?"


Pikiran Aca terlalu berlebihan. Untuk meladeninya saja, aku sebisaku menghindar.


"Pa, jawab." Aca menggoyangkan kedua lenganku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2