Istri Sambung

Istri Sambung
IS170. Karma jalur langit


__ADS_3

"Apa sih, Kak?" Aku mengikuti kak Aca yang masuk ke dalam ruko galon.


Aku mengekorinya, hingga sampai di sofa ruang tamu yang berada di bagian belakang ruko galon ini. Bangunan ini, lebih cenderung tinggi. Lantai bawah digunakan sebagai toko, lantai dua, sebagai ruang keluarga, tiga kamar dan ada kamar mandi pribadi juga. Lalu lantai ketiga adalah kamar yang cukup luas, dengan balkon dan taman kecil yang indah. Belum lagi walk in closet yang cukup mewah, dengan kamar mandi pribadi yang lengkap. Dulunya, kamar ketiga itu adalah milik Canda. Sekarang, entah siapa yang menempati.


"Kau udah cerai kah sama Novi?" tanyanya, setelah kami duduk berhadapan.


"Iya bisa dibilang udah. Tapi aku masih kasih nafkah iddah atau nafkah tunggu, nafkah mut'ah atau penghibur, nafkah madhiyah juga kasih. Semacam kebutuhan Novi yang belum aku penuhi gitu." Kuasa hukum dari mamah yang ditunjukkan untuk Novi, yang menuntut itu semua. Aku pun tidak keberatan, karena memang itu hak Novi.


Menurut kuasa hukumku juga, aku masih bisa proses rujuk jika keadaannya belum habis iddah. Entahlah, aku mengklaim diriku sendiri sudah duda. Mungkin karena prosesnya yang sedikit lama, membuatku malah sudah terbiasa tanpa Novi.


Aku pun tidak begitu dzolim. Aku memberikannya ponsel, aku pun membebaskannya menjadi dirinya sendiri.


"Belum resmi kan berarti? Masih proses itu, Far. Nah, masih proses begini. Harusnya kau tak ngode aja, apa-apaan kau dekati Nahda dari segala sisi. Aku risih lah, Far. Aku tak enak Novi bikin status menyindir terus, dikiranya aku haus uang kau. Aku butuh uang, aku bisa minta orang tua atau mak cek aku, tanpa perlu gatal-gatal ke kau."


Tunggu sebentar.


Novi membuat status? Tapi tidak pernah terlihat olehku, padahal gabutku itu pasti melihat semua story WA yang ada di kontakku. Sepertinya Novi meng-hide kontakku.


"Aku tak pernah punya pikiran mau nunggu Nahda besar, terus aku kawini," jawabku kemudian.


Bukan hanya sekali saja, mulut kak Aca mengatakan bahwa aku mendekati Nahda. Memang dia kira aku pedofil kah? Atau sejenis kakek-kakek yang suka dengan anak remaja?


Kak Aca malah menepuk jidatnya sendiri. "Kau dekati anaknya, untuk dapatin mamanya. Biar dapat simpati gitu lah," terangnya yang membuatku melongo.


"Mana ada aku cari simpati. Niat nyari simpati sih, sekalian aja ke Canda. Entah si anak yang laki-laki, atau yang perempuan. Tiap hari ada aja yang aku antar mereka balik ke pondoknya, ada aja yang minta jajan, minta uang, minta belikan ini, minta belikan itu. Orang tuanya tak ada berpikir ke arah simpati, aku pun biasa aja, tak cari simpati." Bahkan anak-anak yang lain juga, anak Giska apalagi. Fandi selalu kalap, jika Kaf punya barang yang aku berikan sedangkan aku tidak memberikan untuknya.


Kak Aca tertawa lepas sampai matanya hilang. "Ya kau salah sasaran, Canda mana ada pikiran bahwa kau nyari simpati. Lagian, heran aku sama kau. Sama mantan yang satu itu, keknya susah lepas betul." Kak Aca bangkit dan membuka pintu belakang ini. Hanya teralis besinya yang tertutup, tapi ruangan ini langsung begitu terang tanpa tambahan lampu.


Memang ini siang hari, tapi cahaya tidak masuk ke ruangan ini. Ventilasi udaranya kurang baik.


"Bukan susah lepas, udah aku lepaskan dari dulu. Tapi kelak nanti dia lepas dari bang Givan, ada atau tidaknya istri, aku tetap bakal bawa dia balik. Bukan untuk anu, tapi untuk ketenangan hati aku sendiri. Canda lepas, bisa-bisa ada yang jadi bang Lendra lainnya. Aku tak mau Canda hamil lagi, apalagi hamil dengan banyak problem."

__ADS_1


Kok aku malah curhat?


"Secinta itu kah? Sampai jadi penyebab perceraian kau." Aku malah terkejut dengan perkataan kak Aca.


"Aku cerai bukan karena Canda."


"Loh?" Kak Aca mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. "Bukannya gara-gara kau ke Oyo sama Canda ya?" tanyanya kemudian.


Kapan aku ngOyo dengan Canda?


"Kata siapa sih?" Aku malah penasaran dengan pelaku yang mengatakan bahwa aku mengambil kamar dengan Canda.


"Lupa, tapi ada yang bilang katanya Ghifar kan nidurin Canda sampai hamil. Tapi Ghifar beristri, jadi tak dinikahi juga."


Rasanya aku ingin mencekik leher pelaku fitnah tersebut.


"Bukan begitu, Ca! Kejadian itu, waktu Canda hamil Ceysa. Beberapa tahun silam, waktu Ghifar masih sama Kin."


Eh, ada yang menimpali.


Itu ibu Ummu sepertinya. Karena ruangan ini pun, bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi lantai bawah.


"Iya, pas Canda sama Lendra dulu. Rumah tangganya direcoki si Putri." Suaranya benar ada di ruangan samping.


"Sekarang cerai karena apa, Far?"


Sebenarnya, aku ini disidang mengenai apa? Kak Aca kepo dengan penyebab perceraianku? Atau kak Aca ingin menyelidiki kenapa aku dekat dengan Nahda?


"Mau apa sih?" Aku tidak suka, jika ada yang bertanya tentang masalah intern.


"Ya mau tau lah. Kalau letak kesalahannya ada di kau kan, bisa terulang lagi tuh kisah perceraian gara-gara kau begini." Sayangnya, perceraian ini bukan karenaku.

__ADS_1


"Bang Ken." Aku hanya menarik nama, tanpa memberi penjelasan.


"Oh, iya-iya. Aku ngerti sih, rasanya jadi orang yang punya trauma kek kau. Aku tau kau pasti sembuh, ke psikolog, ruqyah juga tuh. Karena biasanya, kalau laki-laki tertarik sama laki-laki lagi itu ada jin bencong dalam tubuhnya."


Apa aku boleh menyebutnya second Canda? Ini adalah sosok Canda kedua yang lugu, polos dan tukang tidur itu. Tapi sayangnya, kak Aca sering cerdas dan hanya sesekali bodohnya.


Rasanya kau ingin memoles kepalanya dengan mentega.


Sabar, Far. Namanya juga orang tidak tahu, namanya juga orang yang tidak pernah tahu tentang kehidupan kita. Aku tidak boleh berubah menjadi maung, nanti kak Aca bisa heran sendiri.


"Terserah kau udah, Kak." Aku mengacak-acak rambutku sendiri.


"Saran aja sih, jangan dikembangkan perasaan itu. Kau harus jauhi bang Ken, jangan terlalu banyak kontak sama dia." Kak Aca masih melanjutkan perkataannya itu.


Aku membuang napas panjang. "Novi dong, Kak. Bukan aku." Aku memukul-mukul dadaku sendiri.


Duh, emosinya.


"Ohhh…." Kak Aca tertawa begitu lepas, sampai menutupi mulutnya sendiri.


Ia jadi seperti Canda yang mentertawakan otaknya sendiri.


"Novi selingkuh sama bang Ken, gitu ya?" Aku langsung mengangguk saja.


"Cukup adil lah, harusnya tak perlu pisah. Tak hamil juga kok." Kak Aca begitu santai mengatakan pendapatnya itu, dengan mengesampingkan bantal sofa yang tadi ia peluk.


"Adil gimananya? Aku kerja, dia selingkuh, itu adil? Aku tak minta dia kerja juga, yang penting di rumah jaga marwah." Aku naik pitam.


"Karma jalur langit dong, Far. Adil bukan? Kau kan ngOyo sama Canda, yang notabene adalah kakak ipar kau. Entah-entah, kalau di luar status bahwa bang Givan pernah jadi mantan suami Canda. Terus sekarang, istri baru kau ngamer sama abang angkat kau. Udah tuh tuntas. Kau terima Novi, karena dulu pun Kin terima kau kan? Kalian masih bisa sama-sama, biar tak ngerecokin pemikiran aku aja, tentang kau yang nemplokin aja Nahda. Aku tak enak hati terus disindir, aku tersinggung terus dikasih urat masam, aku jadi merasa bersalah sendiri karena jadi tak pernah tegur sapa. Kalau kau balik sama Novi, keknya persepsi Novi tentang kita ada hubungan itu keknya selesai tuh."


Apa?

__ADS_1


Aku dan kak Aca? Ada hubungan? Menurut Novi? Apalagi itu, karma jalur langit? Benarkah, aku harus sama-sama menerima? Apa begini yang dikatakan karma? Apa menerima kesalahan yang sama seperti kesalahan kita, akan dianggap tuntas?


...****************...


__ADS_2