Istri Sambung

Istri Sambung
IS238. Membuat orang tua berdebat


__ADS_3

"Novi sama siapa?"


Hufttt….


"Sama Hala kalau tak salah, Mah."


Aku sudah tidak bisa bernapas dengan hidung, mulutku sampai terbuka untuk bisa menghirup oksigen lebih banyak. Aku tidak kuasa menahan rasa ini.


Dengan gerakan cepat, aku menarik kepalanya untuk menyudahi kegiatan ini. Namun, ia malah menghempaskan tanganku. Ia tetap masuk kembali ke dalam selimut, dengan sapuan yang semakin membuatku ternganga lebih lebar.


"Kau kenapa? Kau tidur sama anak aja betul?"


Aku mencoba fokus kembali pada obrolan bersama mamah. "Mulas, Mah. Perasan, perut aku tak enak deh. Keknya aku masuk angin." Aku meringis kecil.


"Kau tidur sama siapa?" Mamah mengulangi pertanyaan tersebut.


"Kenapa sih, Mah?" Aku fokus memandang layar ponsel saja.


"Novi bilang, tidur per kamar dua orang dewasa dan ambil lima kamar. Givan, udah pasti sama di Cendol. Novi sama Hala. Berartikan pengasuh Key, Ceysa, Chandra, Zio, dua kamar nih. Terus, Aca sama siapa? Kau sama siapa? Kan sisa dua kamar lagi, berarti kalian ambil satu kamar kah?"


Oke, aku mengerti.


Aca pun langsung berhenti dari aktivitasnya, begitu mendengar mamah menyelesaikan kalimatnya.


"Far…. Mamah ini, punya kepercayaan besar sama kau. Mamah bakal percaya, meski kau bohong. Tapi, Mamah pastikan juga abang kau dan Canda bakal mamah tegur habis-habisan."


Deg….


Aku lebih memilih untuk tersenyum lebar lebih dulu. "Mamah tenang aja." Aku bingung untuk menanggapi apa.


"Oke, Mamah percaya sama kau." Percayalah, nada suaranya begitu dingin dan menakutkan.

__ADS_1


"Makasih, Mah." Aku tidak yakin mamah benar percaya.


"Oke. Teruskan aktivitas kau!"


Mati aku!


Padahal, aku benar-benar menjaga kamera ponselku. Masa iya mamah bisa tahu? Apa mamah dukun? Peramal? Paranormal? Kyai?


"Kok gelagapan?"


Sialan! Ternyata mamah tengah mengujiku.


"Maafin aku, Mah. Oke, aku ambil kamar terpisah malam ini." Aku tidak bisa berbohong di depannya langsung seperti ini.


"Hmm…." Mamah menghela napasnya.


"Mamah bakal betul-betul tegur abang kau." Suaranya menurun.


"Mah, aku tak ada bilang ke bang Givan kok." Aku berbohong lagi.


"Itu biar urusan kau sama Tuhan kau, Far. Mamah mau tegur, karena abang kau tak bisa jaga orang-orang yang dia bawa. Dia tak bisa buat Aca tetap aman, dari jangkauan buaya air payau kek kau. Beraninya kalau di atas ranjang aja kau! Minta restu, mesti aja orang tua ikut andil. Diminta tinggalkan, malah ambil kamar bersama. Kau masih mau jadi anak Mamah tak sih?!"


Aku menegang. Rasanya aku ingin menangis saja, jika sudah seperti ini. Aku tidak mau berdebat, apalagi dimarahi mamah.


"Mah, maafin aku." Aku berguling ke arah samping, dengan memeluk guling.


Sudah tidak ada aktivitas lagi di tengah-tengah tubuhku.


"Terus mau apa, misal udah Mamah maafkan?" Ketegasannya tidak ada duanya.


"Iya ini aku siap-siap ambil single bed, Mah." Aku bangkit dari posisiku, kemudian membenahi Black Mamba yang masih kaku dan bangkit dari dudukku.

__ADS_1


Istriku sudah pindah di ranjang lain dengan para gadis kecil.


"Sebenarnya kau ini gimana sih, Far? Sifat kau memang beginikah? Harusnya bagaimana? Maunya bagaimana? Enaknya bagaimana? Mentang-mentang abang kau penganut gaya hidup bebas, berani ya kau ambil sekamar sama yang bukan muhrim kau."


Mah, aku sudah menikahinya.


"Mah, aku minta maaf." Aku mencari-cari kaosku, yang entah aku taruh di mana.


"Tak pernah belajar kah, Far?"


Entahlah, Mah. Aku dimabuk cinta dan dimabuk b****i. Andaikan, aku bisa menjawab seperti itu. Sayangnya, aku tidak berani menjawabnya. Aku terlalu takut.


"Ingat ucapan ayah waktu dulu, Dek. Laki-laki itu, bukan cuma Abang aja. Givan ya laki-laki, Ghifar ya laki-laki. Laki-laki, tergoda cinta, ya bakal nekat. Adek juga tak pernah belajar." Aku hanya mampu mendengar suara papahku saja, tanpa melihat keberadaannya di dalam layar ponsel.


"BELAIN ANAK TERUS!!!"


Aku menelan ludahku, mendengar papah mendapat bentakan dari mamah. Suaminya saja dilawan, kadang aku traumanya dengan perempuan, karena ibuku seperti itu juga. Takut-takut, aku mendapat bentakan serupa dari istriku kelak.


"Ihh, dikasih tau kok gitu? Kan jangan jauh-jauh, kita jadikan pembelajarannya itu diri kita sendiri. Masih berminat Adek untuk ngelarang anak nikah? Bukannya kejadian Ghifar nekat sama Kin pun, karena kita larang dan Haris larang?"


Aku tidak enak hati, karena malah membuat orang tuaku berdebat di sana. Aku masih berdiri di dekat pintu kamar, aku masih urung keluar dari kamar. Aku masih bertelepon, aku khawatir ada petugas hotel ini yang mendengarkan obrolanku dengan ponsel. Lalu mereka menghakimiku, karena salah paham mendengar percakapanku dengan ponsel ini.


"Ya harusnya pun Ghifar belajar, Bang! Aku tak ngelarang juga, aku udah persilahkan dia minta restu. Kurang baik apa coba aku ini, Bang?!" Mamah sudah tidak bisa berbicara santai di sana. Gambar dalam panggilan video pun, terlihat hanya menghadap plafon ruangan saja.


"Iya Adek baik. Abang juga untuk ngomong sama a Arif, cuma tetap tak dapat kesepakatan. Ya menurut Abang, udah aja sih siri aja. Toh, kita yang punya pihak laki-laki." Dalam ucapan papah, mengandung arti bahwa pihak laki-laki tidak dirugikan dalam pernikahan siri.


"Toh kita yang punya, gimana?!" Mamah terdengar ngotot. "Anak mereka lahir, apa harus kita juga sebagai orang tua dalam akta kelahirannya? A Arif pun mungkin tak akan tau juga, kalau anaknya udah mengandung dan udah punya cucu dari anak kita. Tapi dipikir dong, Bang! Selain karena masalah dokumen, ini masalah tali silaturahmi keluarga juga. Yakin, a Arif masih mau anggap aku adiknya? Kalau kita ketahuan nikahin anaknya dengan anak kita secara siri dan hanya kesepakatan sepihak aja?" Mamah memikirkan permasalahan yang lebih kompleks.


"Itu cuma ketakutan Adek aja, siapa sih yang bakal nolak cucu yang udah berwujud mirip anak kandungnya sendiri? Ingat umi dan ayah, dengan bahagianya mereka menerima dengan lapang dada tiga bayi dari pernikahan siri anaknya. Mereka malah merasa bersalah, karena udah mempersulit anaknya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Di balik pernikahan siri kita yang udah menghasilkan banyak anak, umi dan ayah pun turut bahagianya ketika tau anaknya kasih tiga cucu. Eh, empat cucu sekaligus termasuk Givan. Udah wujud cucu, mereka pasti nerima kok. Tak terkecuali a Arif juga."


Apa aku harus mengikuti jejak mereka? Tapi, aku sungguh tidak ingin membuat Aca hamil sebelum kami resmi.

__ADS_1


Banyak alasannya, termasuk aku yang tak selalu ada untuknya jika kami belum resmi. Ia berada di rumahnya, dengan Nahda dan Ra. Aku yang berada di rumahku, dengan dua anakku. Bagaimana tanggung jawabku, untuk bisa selalu siaga pada istriku yang tengah mengandung nanti? Aku memikirkan hal tersebut.


...****************...


__ADS_2