
"Tak, jijik ya?"
Tuh, ia langsung tersinggung saja.
"Ya tak jijik juga. Cuma kalau bisa dirawat, ya besok aku geser-geser waktu. Kan tak enak kalau ada yang ngomong, suaminya mampu tapi istrinya begini begitu." Aku cukup berhati-hati dalam bertutur ulang.
"Begitu-begitu gimana? Aku kotor, dekil gitu ya?" Ia menyentuh lehernya yang menghitam tersebut.
Hufttt, ke mana Acaku sebelum pulang ke Cirebon?
Sudahlah, aku lebih memilih untuk diam dan memeluknya saja. Aku malas jika harus berdebat, aku tidak mau cari ribut. Aku cinta damai.
"Maaf, aku tak paham kalau aku harus selalu tampil indah di mata suami yang berduit. Suami dulu aku, dia tak pernah komentar keadaan aku mau bagaimanapun aku belum mandinya."
Jangan membuatku berpikir, bahwa Aca menjadi mirip Novi.
"Aku tak tau dan aku cuma nanya keadaan Mama kenapa begitu, gitu loh. Aku baru tau, ya kaget juga karena aku pikirnya aku tak bisa rawat dan manjakan istri. Bukannya gimana-gimana kok, Ma." Aku mengusap-usap punggungnya.
"Ya udah, besok aku mau diantar ke tempat perawatan. Biar Papa tak lirik perempuan lain, biar Papa paham bahwa aku cukup memuaskan keindahan di mata Papa juga."
Aku jadi teringat Novi yang tersinggung ketika diantarkan ke tempat perawatan. Ia malah meminta uangnya saja, ketika aku mengantarnya.
"Tak maksa kok, aku cuma mau manjain istri. Tak suka ya udah, kita pilih opsi lain. Mau jalan-jalan kah? Atau mau beli apa gitu? Rekreasi kah?" Dengan keadaan pekerjaanku yang repot, rasanya memang tidak bisa. Tapi dari pada istriku positif mengamuk, ya lebih baik nanti aku ambil lembur.
"Gadis dulu, memang sering bolak-balik klinik kecantikan." Ia memperhatikan jam dinding yang berada di seberang sofa kami.
Maksudnya, dia libur ke klinik setelah punya suami begitu? Sampai sekarang pun ia libur, karena aku tak mampu memberinya waktu kah?
"Nanti hari Minggu depan, pengasuh anak datang, tapi cuma satu. Mungkin, nanti Mama punya waktu sedikit renggang, jadi bisa nyantai atau gimana kan gitu? Aku harus kerja soalnya, aku tak bisa handle urus anak-anak kalau bukan hari libur. Tapi kalau aku di rumah, aku pasti bantu urus kok." Aku mencoba membuat Aca paham, bahwa ia pun nanti memiliki waktu senggang untuk dirinya sendiri.
Ia menoleh ke arahku, dahinya disatukan dengan dahiku. Aku terpejam, karena bulu mata kami saling menyolok.
"Romantis betul kita ini." Aku terkekeh pelan.
"Papa tuh tak pengen kah? Rindunya aku ini." Ia mencubit pipiku berlainan arah.
Heh! Tadi kita membahas apa? Bisanya jadi membahas ke arah ranjang?
"Maksudnya gimana sih?" Aku menarik kepalaku dan memandang wajahnya dengan terkekeh geli.
__ADS_1
"Tadi kita bahas hitam-hitam itu, klinik, terus jadi ke waktu dan mengurus anak. Kok bisa jadi ke ranjang ya?" lanjutku bertanya dengan bingung.
Ia terkekeh dan merengkuh tubuhku lagi. "Gatal kali loh aku ini. Diapakan atau diapakan lah, bawaannya pengen marah terus tak dikeluarkan tuh."
Oh, jadi ini penyebabnya yang membuatnya cepat tersinggung?
"Aku mandi dulu ya?" Aku mencoba melepaskan pelukannya.
Namun, ia tetap ingin memelukku.
"Bentar lagi, Pa. Masih pengen dipeluk begini." Ia malah mengeratkan pelukanku.
"Udah jam setengah sembilan, Ma." Aku melirik ke arah jam dinding.
"Cium bibir, Pa." Wajahnya mendekat ke arah wajahku.
Kloningan Kin kah ini?
Cup….
Aku hanya menempelkannya saja, lalu melepaskannya lagi. Aku masih bau keringat dan bau segala macam rupa, aku belum membersihkan diri. Aku tidak percaya diri untuk berhubungan badan.
"Pengen marah aja tuh, karena kepengen itu belum keturutan kah?" tanyaku lembut.
Ia mengangguk samar. "Biar apa sih dokter ngelarang? Kita kan suami istri." Langsung murung saja istriku ini.
"Untuk kebaikan Mama juga. Ke bayi kita, resikonya itu lahir lebih dini kalau Mama sering kontraksi. Tapi kenyamanan kan untuk Mama sendiri, kita disarankan jangan sering karena untuk kenyamanan Mama." Cukup susah menasehati, karena itu adalah bagian dari keinginan.
"Ya malam ini main dulu." Ia memanyunkan bibirnya dengan wajah hampir menangis.
"Iya, iya. Yuk ke atas, aku mau mandi dulu." Aku bangkit dan mengulurkan tanganku.
Setelah sampai di kamar, aku bergegas mandi dengan Aca yang kembali berbaur dengan anak-anak. Mandi air hangat tentunya, karena udara cukup dingin.
Aku meninggalkan mereka yang masih bermain, untuk mengecek dokumen di ruang keluarga. Aku masih sedikit trauma untuk pergi ke ruang dokumen, atau ruang kerjaku itu. Bayang-bayang Novi dengan bang Ken masih berputar jelas di mata. Meski Novi sudah bukan istriku lagi, tapi trauma itu tetap tidak bisa pergi.
Suara anak-anak sudah sepi, aku berniat untuk masuk ke dalam kamar bermaksud untuk menstabilkan hormon Aca yang sudah meletup-letup itu.
"Di ruang keluarga aja yuk?" Aku tersenyum manis dengan memperhatikannya yang berdiri di depan rak penyimpanan, dengan layar ponsel yang menyala.
__ADS_1
"Siapa Farida?" tanyanya dengan memicingkan matanya.
Perempuan yang siang di Takengon itu kah?
"Eummm…. Keknya relasi bisnis yang di Takengon itu." Aku lupa dengan namanya.
"Apa dia perempuan lain selama aku pergi kemarin?" Ia membawa ponselku dengan berjalan ke arahku.
Aku berdiri di pintu kamar.
"Aku tak punya perempuan lain." Inilah kebenaran dan keadaannya.
Aku paham aku beristri, aku tak mungkin mencari perempuan lain semasa istriku ditawan orang tuanya.
"Kenapa dia bilang sampai ketemu lagi ya, aku akan jamu pak Ghifar lebih dari pertemuan tadi?" Ia menunjukkan chat dengan nomor tanpa nama tersebut.
[Farida.] Chat pertama itu adalah chat awal, saat ia memberitahu bahwa itu adalah nomornya.
[Sampai ketemu lagi ya, aku akan jamu pak Ghifar lebih dari pertemuan tadi.] Itu chat yang terbaru, meski aku tidak mengiriminya pesan.
Aku menjawab sudah beristri juga. Namun, sepertinya ia tertarik padaku sampai berani mengirimiku pesan.
"Aku tak tau." Aku mengedikan bahuku.
"Aku tak suka pembohong!" Ia melewatiku untuk keluar dari kamar ini.
Sepertinya, akan ada pertumpahan air mata dan emosi dulu. Sebelum air pelepasan tumpah ruah, karena rindunya sudah bercampur dengan kegatalannya.
Aku menghampirinya yang masih memainkan ponselku di sofa ruang keluarga.
Urat judes mamah, langsung dicopy oleh Aca. Benar-benar menakutkan, karena tidak marah pun urat wajahnya terlihat judes.
"Aku tak bohong, Ma. Aku datang ke resto terbuka di hotel Takengon. Nah, si perempuan itu tuh pengelolanya. Aku ngobrol bisnis biasa, tanda tangan kerjasama, terus makan gurita yang udah dia pesan itu. Tak lama, dia nunjukin nomor kontak aku di teleponnya, aku tak tau dia dapat nomor dari siapa. Terus dia chat pas masih di sana, dia minta aku simpan kontaknya, tapi tak aku simpan, aku pun belum hapus pesannya yang isinya cuma keterangan namanya dia aja itu," jelasku secara singkat.
"Biar aku telepon dia." Ia langsung menempelkan ponselku di telinganya.
Waduh, aku khawatir Farida malah melebih-lebihkan ucapannya.
Aca, ingin dig"g*hi, emosi, cemburu, bertubrukan menjadi satu. Habis sudah aku nanti.
__ADS_1
...****************...