
"Kau jaga diri, anak-anak kau, rumah tangga kau, Far. Kau tengok seluruh saudara kau, kawin rujuk semua. Keknya, rumah tangga ini tak lengkap kalau tak kawin rujuk," abi Haris membuka obrolan, ketika aku menemaninya di dalam bandara.
Pesawat delay, karena hujan lebat. Abi Haris memilih menunggu, daripada menggagalkan penerbangan kali ini.
"Abi pun sama kan?" Aku menoleh ke samping kiriku, di mana beliau duduk.
"Ya, mamah kau dan ayah Jefri juga. Papah kau sendiri, yang punya jejak poligami. Jangan dinilai dari kegagalan itu, tapi pahamilah kalau mempertahankan itu lebih sulit daripada berjuang di awal. Cerai mati, Abi rasa cukup untuk kasih pengalaman besar untuk kau." Helaan nafasnya terdengar berat. "Didik Kal yang benar. Abi pikir, kebiasaan neneknya dulu tak nempel ke cucunya. Ternyata, eh…." Abi geleng-geleng kepala.
Apa maksudnya?
"Neneknya? Siapa?" Mamahku cerminan terbaik untukku.
"Adiknya Abi, Shalwa. Ibu kandungnya Kin, dulu waktu kecil dia begitu. Hukuman tegas, sampai denda dari abinya Abi, pernah didapat juga. Sampai akhirnya, SMP itu ada kecelakaan kecil, yang buat satu ruas jarinya diamputasi. Dari situ dia paham, jera dan kapok. Ternyata betul loh hukuman pencuri itu, ya tangannya dipotong. Dia percaya, karena secara tidak langsung ia mendapatkan hukuman itu."
Shock.
Sungguh, aku tidak percaya dengan kebenaran itu. Ternyata, ucapan Novi tentang sifat jelek turunan orang tua itu benar adanya. Mungkin hanya kebetulan. Tapi segala polah tingkah kita, secara tidak langsung dicopy pada turunan kita. Mungkin Yang Kuasa ingin membuat kami paham, akan rasanya memiliki anak dengan sifat jelek kita.
"Aku harus gimana ngurus Kal, Bi?" Aku tak ingin memperdebatkan sifat jelek itu.
Yang harus aku utamakan, adalah mencari jalan keluarnya.
"Pagi tadi Abi tanya ke papah kau, katanya udah kehandle. Ya biarkan aja dulu di sana, karena butuh penyesuaian juga untuk Kal. Maksudnya, dari polah tingkah jeleknya itu, dia harus terbiasa dengan polah tingkah bagusnya. Kalau menurut ilmu agama, dibiasakan minimal empat puluh hari. Dipaksa, ataupun terpaksa, harus dilakukan. Kek sholat, ngaji, kebiasaan berdoa setiap saat, kek gitu-gitu lah. Mencangkup juga, ya dalam hal lain apapun." Ini ilmu lagi, meski terdengar sepele.
"Ya, Bi. Aku pun pasti lebih memperhatikan gerak langkah mereka lagi." Yang aku maksudkan adalah anak-anakku.
"Ya, itu harus tuh. Anak kau selanjutnya juga, kau harus pahami gerak-geriknya. Jangan terlalu percaya dengan anak sendiri, karena biasanya kebohongan kecil itu kek ilmu naluriah. Dia bisa sendiri, meski tak liat orang lain bohong." Benar sekali yang dikatakan abi Haris. Berbohong, mesti semua orang bisa melakukannya. Namun, tergantung bagaimana caranya ia menyikapi kesalahannya sendiri. Ada yang memilih untuk berbohong, ada juga yang memilih untuk berterus terang saja.
"Nampak juga gerak-geriknya kalau anak-anak bohong, Bi," timpalku kemudian.
"Ya, pandai-pandai kau lah."
Setelah mengatakan itu, abi Haris fokus pada ponselnya. Mungkin, ia ingin mengabari istrinya. Bahwa penerbangan ditunda sekitar satu jam.
Sampai akhirnya, aku kembali ke perusahaan setelah abi dibawa pergi dengan pesawat yang mengantarnya. Aku kembali disibukkan dengan rutinitasku.
__ADS_1
~
"Bang…. Minjam uang lagi." Tamu kali ini, langsung nyelonong ke dalam dapurku.
Ghavi mengganggu acara makan malamku.
"Nanti, makan dulu." Aku menelan makananku lebih dulu.
"Bang, tau tak?" Ghavi mencomot tempe goreng yang tersaji di meja bar ini.
"Tak." Aku kembali memakan masakan Novi.
Hubungan kami bertambah erat, satu bulan belakangan. Aku pun lebih rajin ke tabib, untuk pijat atau mengambil ramuan. Ada perubahan, meski harus aku sendiri yang memperbaiki moodku. Ditambah juga, aku harus lebih banyak olahraga fisik. Bukan hanya peregangan atau menjaga massa otot.
"Waktu bulan lalu kan, aku campuri Tika. Pas ada abi di rumah tuh."
Aku mengangguk, menyimak cerita Ghavi.
"Nih minumnya, Bang." Novi menaruh seteko air putih dan gelas kosong.
"Tak usah lah, Bang. Aku tak selera liat lauknya. Mana pernah aku makan pure sayuran begitu. Tak ada uang pun, kepala ayam lah minimalnya."
Novi cekikikan saja.
Bagaimana jika dia jadi aku? Di mana pola makan harus dijaga. Aku makan daging-dagingan tiga hari sekali. Selebihnya, harus melulu sayuran setengah matang.
Jika Novi, ia memiliki menu makan sendiri. Ia hanya memasakkan makananku, sesuai saran dari tabib.
"Belum kaya, kau sombong betul. Kau tengok bos tambang, dia makan pakai timun sama cabai ditumbuk pun jadi. Malah lahap makannya." Sebenarnya, lebih tentang selera makan. Bukan kekuatan uang.
Karena dari dulu, Ghavi yang memang rewel dalam menu makan. Bang Givan yang paling mudah dalam hal makan, ia bukan pemilih makanan. Bukan karena kemampuan perdapuran mamah.
"Mulut aku hambar, kalau melulu makan sayur." Ghavi melirik ke arah lain.
"Ya udah, tak usah makan kau! Mau cerita apa tadi?" Aku tak ingin memperdebatkan tentang menu masakan.
__ADS_1
"Tika hamil."
"Uhuk, uhuk…." Aku terbatuk-batuk, sampai nasi di mulutku melompat keluar.
Dengan sigap, Ghavi yang paling dekat menuangkan air putih dalam gelas dan memberikan padaku.
"Hamil anak aku lah, Bang. Kek hamil anak kau aja. Sampai keselek begitu," tuturnya dengan duduk kembali di kursinya.
"Lebay Abang kau itu, Vi," celetuk Novi, yang tengah mencuci piring.
Ia tidak ikut makan denganku. Ia mengatakan, ia sudah makan lebih dulu. Sedangkan aku, baru pulang dari rumah mangge Yusuf. Lepas Isya tadi, diadakan acara kirim doa tahunan untuk bang Lendra. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara seperti ini sudah rutin dilakukan.
"Kok bisa hamil? Sekali aja kan masa itu?" tanyaku, setelah batukku reda.
"Dua kali, pas rumah kosong aku ulangi lagi. Papah ke ladang, mamah sama bang Ken bawa anak-anak ke rumah umi Sukma. Masa kau antar abi Haris ke bandara itu. Anak-anak kau kan, kebetulan udah berangkat sekolah semua. Nah, Tika kan tak pakai KB karena jarang kan urus biologis aku. Sebelumnya kan, sama aku buang di luar terus. Dua kali itu, barulah aku buang dalam. Karena susah betul loh diajak rujuk baik-baik, udah terdoktrin mamah keknya."
Aku dan Novi hanya bisa tertawa-tawa saja. Cukup licik juga, orang alim seperti Ghavi ini.
"Jadi rujuk sekarang?" tanyaku kemudian.
"Ya, udah tadi. Mamah, papah, ibu, mangge Yusuf, kak Aca, jadi saksinya. Mungkin besok pagi balik ke rumah, soalnya Tika drop juga badannya," jawaban Ghavi cukup jelas.
Jadi begini akhir ceritanya.
"Bisa ketahuan hamilnya tuh gimana?" Novi berjalan ke arah kami, dengan mengeringkan tangannya menggunakan tisu.
Ghavi menoleh sekilas ke arah Novi. "Dari acara di rumah mangge tuh, aku langsung ke rumah mamah kan. Aku kasih nasi kotak kau juga ke anak-anak kau, aku pun kasihkan nasi kotak aku ke anak-anak." Aku menitipkan tentengan dari acara di rumah mangge itu pada Ghavi.
Bukannya apa-apa, aku teringat saja akan anak-anak yang begitu antusias pada tentengan tahlil. Lagipula, Novi tidak mau makan nasi kotak tahlil. Banyak alasannya, salah satu pikirannya adalah makanan itu yang sudah dicicipi orang-orang yang sudah meninggal.
"Terus?" tanya Novi dengan bertopang dagu memperhatikan Ghavi.
"Kata mamah, Tika sakit tuh. Disuruh antar ke bidan katanya, atau ke bang Ken. Eh kebetulan betul, bang Ken ada di teras lagi makan nasi kotak bareng anak-anak. Dia kan datang juga ke acara tahlil tadi. Setelah bang Ken makan itu, disuruh cek kan. Kan di rumah itu, ada alat dokter punya kak Kin tuh. Stetoskop, alat tensi dan entah apalagi itu. Dicek sama bang Ken kan di kamar Tika, aku sama mamah nemenin. Katanya sakit perut bawah juga. Langsung tuh disibakin baju Tika, ditekan pelan gitu perutnya sama bang Ken. Pakai jari gitu loh. Terus kata mamah, hamil kah, kok kau gitu meriksanya. Bang Ken diam aja tuh, garuk-garuk kepala, kek mikir gitu. Berulah dia bilang, coba ambil testpack. Mamah kan stok tuh, Bang. Aku ambil kan, terus kasih Tika. Eh ternyata, betul garis dua. Menurut ukuran jari dari bang Ken sih, keknya ukuran janin empat mingguan. Nanti besok mau ke dokter sekalian, biar USG gitu." Cerita yang sangat komplit.
"Kok bisa langsung hamil ya, Vi? Aku kok tak hamil-hamil." Kini perhatian tertuju pada Novi.
__ADS_1
...****************...