Istri Sambung

Istri Sambung
IS209. Pedekate


__ADS_3

"Kau ini selalu mengulangi kejadian yang sama. Kin dulu begini, dilarang juga tetap aja. Sekarang tinggal sama Aca." Papah malah tertunduk dengan menggelengkan kepalanya berulang.


"Masa harus aku tinggalkan, Pah?" Aku memasang raut sedih seperti papah.


Papah melirikku, lalu beliau tertunduk kembali. "Masa harus maksa juga sih, Far?" Papah menirukan nada suaraku.


Papah tidak berpihak padaku.


"Terus aku gimana, Pah?"


Eh, papah malah menghela napasnya. "Papah juga harus gimana?"


Papah mengerjaiku.


"Papah tuh, Ya Allah." Aku jadi terpancing emosi.


"Kebiasaan! Kalau kau pengen nikah tuh, yang pusingnya Papah. Ada aja tuh dramanya." Papah melirikku sinis.


Benarkah aku demikian?


"Terus aku minta sama siapa, kalau bukan sama Papah." Jika anak kecil, mungkin aku sudah menangis.


"Ngerengek ke mamah kau sana! Coba berani tak?!"


Jelaslah aku langsung menggeleng. Aku langsung memeluk lengan beliau. Masa ototnya masih terjaga, meski kulitnya sudah terlihat kendur.


"Pah, bantu aku." Aku pura-pura menangis, meski rasanya aku ingin menangis betulan saja.


Helaan napas panjangnya terdengar lagi. "Harus gimana Papah ini, Far? Minta Aca ke pakdhe kau? Itu udah Papah lakukan, meski kau tak minta. Kata beliau apa coba? Kalau jadi anak kau, ya tak apa, tolong bareng-bareng jaga dia. Tapi kalau jadi menantu kau, lebih baik antarkan dia ke bandara."

__ADS_1


Loh? Benarkah? Jadi siasat pulang dan pesawat delay itu, rupanya ada permintaan dari pihak pakdhe juga?


"Masa harus aku hamili dulu, Pah?" Aku menyugar rambutku ke belakang.


Hufttt….


"Memang dia mau?"


Pertanyaan apa itu? Tidak tahu saja papah, kalau kak Aca malah berani membuka resleting celanaku sendiri. Ketika aku menoleh ke arahnya, papah tengah memandangku dengan alis terangkat.


"Tak tau lah, Pah." Aku tak mungkin berterus-terang yang sebenarnya.


"Ck, sulit-sulit sekali sih ya udah aja pakai pelet."


Tak dipelet pun, ia sudah nangkring sendiri.


"Kak Aca sih udah tak perlu dipelet. Cuma keknya pakdhe perlu dikasih wiridan."


"Kasih ganjalan ya si Aca?"


Tuh? Apa lagi ini? Jangan-jangan, papah tahu?


"Ganjalan apa, Pah?" Aku mulai tegang. Jangan-jangan, papah tahu masa aku masuk dari jendela kamar yang kak Aca tinggali.


"Kau sih apa?" Sepertinya papah tengah mengetes kecerobohan mulutku.


"Mana ada!" Aku memalingkan wajahku ke arah lain, agar papah tidak tahu bahwa aku tengah berbohong.


Papah malah terkekeh, kemudian merangkulku. "Ganjalan apa sih yang kau maksud? Dana kau kuat, makanya Aca jadi garda terdepan mempertahankan hubungan kalian ini. Dia realistis kek mamah kau." Papah berbisik-bisik.

__ADS_1


Memang, aku sudah tahu. Tak apalah realistis juga, dananya jelas untuk apa. Sebulan ia menjadi istriku juga, perhiasan semacam gelang dan kalung sudah nampak di mataku. Kutanyakan, ya dari uangku. Gajinya pun malah dialihkan ke saham, ia pemain saham ternyata. Itu loh, saham online yang bisa dimulai dari dana satu juta rupiah dengan jangka tiga sampai satu tahun. Jika perusahaan tengah untung, malah ia mendapat banyak keuntungan. Jika perusahaan tengah merugi, yang kembali hanya uangnya saja dengan jangka waktu yang ditentukan.


Hutangnya padaku lunas dibayar. Tapi uangnya tetap akhirnya kembali padanya, sebagai bentuk tanggung jawabku.


Seperti aku menjatah Novi. Tiga juta sebulan untuk uang dapur dan barangkali ada anak-anak yang jajan padanya, setelahnya aku memberinya berupa barang sembako dan kebutuhannya. Aktivitas belanja itu, aku melakukannya sekalian untuk memberi mamah jatah sembako. Ini sudah rutin sejak aku bersama Kin.


Jika ingin belanja online atau ada keperluan lainnya ya tinggal bilang. Kak Aca tidak seperti Novi, yang selalu mengajak ribut jika meminta uang. Ia minta, ya minta saja. Contohnya begini, tolong transfer dua juta, punya COD skincare. Ya aku pun percaya, karena menggunakan kontak WAnya. Bukan 'papa tolong isi pulsa mama' dari nomor tak dikenal seperti itu.


Ia tidak selalu mengajak ribut, ada pancingan masalah pun ia tidak terpancing. Seperti Novi atau Canda begitu, kak Aca tidak marah. Menurutku, ia paling pengertian di antara segalanya. Kadang aku berpikir, ia tidak cinta padaku. Namun, ia mengatakan yang penting responku bagaimana. Ia tahu saja, bahwa aku sudah terpaku padanya.


"Papah aja mabok ke mamah, meski tau mamah realistis." Aku membalikkan ucapan beliau.


"Pernah mau Papah tinggalkan juga di butik waktu di Cirebon, tapi kasian sama abang kau. Takut anaknya digadaikan di butik itu, buat bayar baju-bajunya yang sampai sebelas juta. Dipakainya sih sekali, pas nikahan orang tuanya Novi aja."


Aku malah tertawa lepas, karena reaksi wajah papah seperti lawak.


"Itu pedekate kah?" tanyaku kemudian.


"Mamah kau aja yang nemplok aja ke Papah, Papah mana ada pedekate ke dia. Udah mabok dia, malah dia yang perlahan jauhi Papah. Sampai mengkambinghitamkan Kin, demi bisa ketemu mamah kau di rumah abi Haris. Udah ketemu orangnya, Papah langsung bilang cinta dan ngajak nikah. Ditolaknya langsung. Malamnya Papah ketemuan lagi di depan stasiun Cirebon, ditolak lagi. Sampai akhirnya nekat nyusulin ke Aceh, soalnya dulu mamah kan jadi orang kepercayaan Papah. Dia pegang ladang Papah ini, sedangkan Papah jadi pengangguran di Cirebon." Posisi papah pengangguran saja, mamah sampai nemplok saja. Tapi sepertinya mamah memang tahu, jika papah memiliki banyak warisan. Karena tidak mungkin saja, jika orang seperti mamah rela mengejar laki-laki tanpa embel-embel kekayaan yang pasti.


Ya memang sih, perempuan yang sudah memiliki trauma menemani berjuang dari nol, lalu lelakinya sudah kaya, ia malah ditinggalkan, pasti akan mencari laki-laki yang sudah siap dengan kekayaan dan kemapanannya.


"Jadi mamah yang pedekate ke Papah ya?" tanyaku dengan memperhatikannya dari samping.


Jika bercerita tentang masa lalunya dengan mamah, papah terlihat bersemangat sekali. Ya terlihat antusias, kesal dan jengkel.


"Iya, siang malam sore pepet terus. Dikirimi makanan terus, karena dia paham kelemahan laki-laki ada di lidahnya juga. Ditambah lagi, abang kau kasihan betul. Kek di masa bodo sama mamah kau, tapi ternyata memang cara asuhnya kek gitu. Jalan sama papah nih, papah yang digandeng, anaknya yang jelalatan sendiri. Kesal terus tuh sama mamah kau, eh tak taunya malah demen." Papah sampai geleng-geleng kepala.


"Awalnya kasihan gitu ke abang kau, Papah urus, Papah mau terus kalau dititipkan abang kau. Terus tau tuh di situ, mamah kau cari nafkah sampai putar otak, putar kepala. Soalnya kan, ayah kandungnya abang kau masa itu belum mampu jamin abang kau. Iba kan gitu sama mamah kau, sama abang kau. Terus dibuat candu, karena adegan dewasanya dan cara dia yang selalu mau jadi pendengar dan teman ghibah. Selalu nyambung bahas apa aja, sekalipun dalam hal yang serius atau sepele begitu. Misalkan ngorek mantan juga, tak nampak wajah cemburunya. Cinta kasihnya itu dibuktikan, kek cara abang kau gitu. Dulu mamah sampai jual motor, untuk obati papah yang kena santet. Terbukti dari hal itu, makin dalam aja rasa Papah ke mamah kau."

__ADS_1


Kenapa cara kak Aca tidak jauh berbeda dengan mamah? Apa kak Aca belajar jadi suhu lewat mamah?


...****************...


__ADS_2