Istri Sambung

Istri Sambung
IS90. Novi pergi


__ADS_3

"Ya! Aku tak bisa lihat Canda kesakitan atau dapat kemalangan. Apapun yang menyenangkannya, apapun kebahagiaannya, yang terpenting aku ada menyaksikannya. Kalau Canda kenapa-kenapa, aku adalah orang pertama yang bakal narik dia untuk aku bahagiakan. Aku dulu rela debat dan ribut dengan Kin, asal Canda bisa aku bawa pulang dan tetap ada di jangkauan mata aku. Aku tak menuntut apapun dari Canda, yang penting dia terkontrol di depan mataku. Mau dia nikah lagi, ganti pasangan atau jadi orang lain lagi, tak apa, yang penting dia ada di depan mata aku. Ingat ini, biar hati kau puas. Lepas ini, kau tak perlu cari tau bagaimana suami kau lagi." Aku berbicara seperti ini pun, terasa begitu nyeri di hatiku sendiri.


Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Novi. Tapi yang Novi cari hanyalah ini, ia ingin melukai hatinya sendiri. Karena hal itu, yang membuatnya berpuas hati.


Novi bagai kehilangan dunianya. Sorot matanya begitu kaget dipenuhi amarah yang tertahan, bahkan wajahnya begitu memerah.


"Kita cerai aja."


Aku melongo saja, mendengar ucapan itu dengan wajahnya yang berpaling ke arah lain. Ini adalah hal, yang tidak pernah diminta oleh Kin. Bahkan ia rela diduakan, yang penting tidak ditinggalkan olehku.


"Aku nikah itu, berharap diperlakukan dengan baik. Berharap bisa bahagia, meski di awal tanpa cinta. Aku kira bisa memulainya dari awal, nyatanya sampai sekarang kita masih layaknya orang lain." Novi menutupi wajahnya, dengan gelengan berulang.


"Aku tak diam, aku coba memperlakukan kau semampu aku. Daripada kau minta cerai. Coba tau tenangkan diri kau sendiri di rumah mamah. Kita coba pisah sementara, biar kita tau bagaimana perasaan kita masing-masing." Aku tak ingin memperpanjang masalah ini.


Aku berpikir, mungkin aku butuh introspeksi diri juga. Sama seperti waktu kejadian Kin setelah melahirkan Kaf dulu.


"Abang ngusir aku? Abang benar-benar pengen ceraikan aku?" Novi menarik kerah bajuku.


Masalah cerai, bukannya tadi ia yang meminta? Aku pun tak mengatakan talak kifayah. Tapi ia yang malah panik sendiri. Begitulah bingungnya menyikapi kaum hawa, kaumku selalu serba salah.


Tangisnya begitu tragis, seolah aku begitu menyakitinya di sini. Nyatanya, aku mengaku pun agar ia tidak mendesak dan menduhku terus-menerus. Toh, dengan mengaku juga. Mungkin hati Novi merasa puas. Bukan aku tidak tahu diuntung. Aku sangat bersyukur sampai hari ini, tapi tidak begini caranya untuk memulai perdebatan denganku.


Aku jadi membayangkan, bagaimana dramanya Novi ketika hamil. Belum hamil pun, ia suka sekali mengungkit-ungkit masa laluku yang telah usai.


"Tak, nanti aku jemput. Tenangkan pikiran kau, tenangkan hati kau. Kita sama-sama introspeksi diri, biar kita paham bagaimana diri kita ke pasangan." Aku melepaskan tangannya, yang masih menjerat kerah bajuku.


Aku trauma dengan perempuan kasar seperti ini. Memang tangannya belum memukul seperti Kin, tapi bayangan sakitnya pukulan itu sudah membuat nyeri.


Novi geleng-geleng kepala, "Abang keterlaluan!" Ia malah bangkit dan tergesa-gesa menuju lantai atas.


"Tak usah jemput aku, biar aku hidup sendiri setelah Abang selesai proses aku," seru Novi, dengan menaiki tangga.


Pasti ia akan mengambil pakaiannya, kemudian kabur ke rumah mamah.

__ADS_1


Salah terus. Aku jadi bingung menyikapinya.


Aku malu, menjadi tontonan para mata yang melihat. Aku berjalan mengikuti Novi yang tengah tergesa-gesa menuju ke rumah mamah. Jangan lupakan ransel kecil, yang menempel di punggungnya. Novi bagaikan anak kecil yang tengah marah pada orang tuanya.


"Mak wa…." serunya, setelah berhasil membuka pintu utama rumah mamah.


"Mamah, Nov!" Penegasan itu, adalah suara milik ayahku.


Aku mempercepat langkahku, untuk melihat situasi di dalam sana.


Terlihat, kedua orang tuaku bingung dengan saling melempar pandangan. Mamah yang dipeluk oleh Novi, beliau bagaikan hilang di dekapan Novi. Sedangkan papah yang hanya mampu mengedipkan matanya beberapa kali, dengan gelas teh yang masih berada di tangannya.


"Ghifar minta aku pergi." Aduan Novi bukan kebenarannya.


"Betul, Far?" Papah mengintimidasiku lewat sorot matanya.


Aku menggeleng, kemudian aku melanjutkan langkahku dan menutup pintu.


"Ya udah. Ayo istirahat dulu di kamar." Mamah membawa Novi pergi ke kamar beliau sendiri.


Aku masih bingung untuk menjelaskan. Karena, bukan seperti ini rencana yang aku buat.


"Balik kapan kau?" tanya papah, dengan diikuti dentingan gelas yang beradu dengan meja kaca.


"Kemarin sore, Pah." Aku memilih untuk duduk menemani beliau. Karena barangkali, beliau ingin menanyakan sesuatu padaku tentang kepulangan Novi ini.


"Tak kerja? Canda udah hamil besar, abang kau udah tak tega ninggalin Canda di rumah."


Aku paham maksud beliau. Beliau ingin, aku tidak merepotkan bang Givan.


"Ya, Pah. Cuma diminta libur sehari aja kok." Aku mengatakan yang sebenarnya.


"Libur bukannya hfun, malah perang badar." Papah tidak berkontak pandang denganku, beliau malah bersantai dengan meluruskan punggungnya.

__ADS_1


"Aku nitip Novi ya, Pah? Nanti aku jemput lagi." Aku mencoba tersenyum, agar orang tuaku merasa tenang dengan masalah rumah tangga anaknya ini.


"Kau mau ke mana?" Papah memperhatikanku dengan wajah tenang.


"Tak ke mana-mana. Aku pengen, aku dan Novi sama-sama ngerti aja, Pah. Bukannya begini, bentrok terus." Aku menelan ludahku dan menunduk lemah.


Aku sudah amat pusing dan bingung di sini.


"Kalau permasalahannya udah begitu serius, barulah ambil opsi ini. Kalau masalahnya cuma sepele, kek perbedaan pendapat, selisih paham, cemburu, merasa tak adil dengan anak, itu kau bisa selesaikan sendiri tanpa mulangin Novi gini. Rukun-rukun sama istri tuh, Far. Yang transparan, sering cerita, karena komunikasi itu penting." Setelah mengatakan hal itu, papah malah menguap lebar.


Sepertinya, beliau tengah kelelahan. Sekarang pun, beliau tidak menggunakan kaosnya. Beliau sepertinya baru pulang dari ladangnya.


"Awalnya aku pun berpikir kek gini. Tapi, Novi terus bahas meski aku udah minta maaf. Semakin dihindari, semakin menjadi. Diberi penjelasan, malah minta perdebatan. Suka ungkit-ungkit, padahal kejadiannya sebelum beristrikan dirinya. Aku bingung sendiri nyikapinnya." Aku berharap Novi tersadar, jika sementara waktu kami berjauhan.


"Biasanya, kalau konteksnya begitu." Papah bangkit dari posisinya, "Berarti, perempuan itu lagi cemburu. Kau pawangnya Kin yang kena sindrom cemburu buta itu, harusnya kau bisa menanggulanginya sendiri. Bukan malah mulangin istri." Setelah mengatakan itu, papah malah melangkah ke teras rumah.


Papah tidak seperti dulu lagi, setelah kesalahannya membuat istrinya pergi. Papah merasa dirinya tidak pantas menasehati, karena dirinya pun tidak patut ditiru. Ditambah lagi, Ghava pernah mengatakan bahwa papah tidak bisa dijadikan contoh. Membuat papah, kini lebih banyak berbicara seperlunya. Mungkin hatinya tergores, karena ucapan anaknya itu.


Aku harus mencari mamah. Setidaknya, mungkin mamah punya jalan keluar untuk masalahku ini.


Jika sudah minta maaf dan berusaha bersenda gurau, amarah Kin lekas padam. Tapi Novi, ia malah terus menuduh dan mengungkit masalah lain. Ia seolah-olah tengah menunggu kata-kata keramat dari mulutku, karena kesalahan yang ia limpahkan itu.


"Mah…." Aku bangkit dan berjalan ke arah kamar beliau.


"Ya, Far. Bentar." Mamah menyahuti dari dalam kamarnya.


Beliau masih bersama dengan Novi.


"Mah aku mau ngomong bentar, Mah," ungkapku di depan pintu kamar mamah.


"Ya, Far. Kau masuklah, sini kita obrolin bersama."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2