
"Aca tuh di depan, sana bujuk."
Aku bergegas menuju teras rumah mamah. Heboh sekali di sini, ada anak-anak yang baru kembali dari pasar malam dengan membawa banyak tentengan. Kak Aca dan para baby sitter pun berkumpul mengawasi anak-anak, dengan memakan jajanannya.
"Kak…." Aku tersenyum lebar dengan menghampirinya.
Ia menoleh sekilas, kemudian fokus memakan jajanannya kembali. Ia sering sekali seperti ini, tidak merespon sapaanku.
"Kak, jalan yuk? Kita cari makan di luar." Aku langsung mengajaknya tanpa berbasa-basi seperti biasa.
"Temani dulu itu, Dek. Udah galau aja, minta bantuan orang tuanya buat bujuk kau."
Hei, bisa-bisanya papah muncul dengan mengatakan hal demikian?
Kak Aca menggeleng cepat. Ia langsung menolakku, tanpa menghargai permintaan papah dulu.
"Malas, Pak Cek," jawabnya cepat.
Ia berani sekali menolak anaknya pamannya, berani sekali tidak menuruti perintah pamannya.
"Duda kaya ini, Ca. Coba pikirkan dua kali, jangan main malas aja. Entah-entah kalau tak kaya sih, kau tak perlu pertimbangkan." Papah duduk di sampingku.
Ada juga orang tua yang seperti ini.
Kak Aca melirikku, kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain lagi. Kak Aca terlihat begitu sombong.
"Malas aku kalau orangnya banyak alasan. Terang-terangan minta mutualan, direspon malah bercandain. Yang di RT sebelah pun kaya, Pak Cek," ucapnya kemudian.
Duh, pasti ini tentang video call ini. Bukan aku menggurauinya, tapi aku malu. Waktu di rumahnya, aku mengajaknya langsung, ia tak mau. Sekarang, ia malah memaksaku untuk menunjukkan intiku padanya.
"Ya udah mutualan lagi aja, mungkin Ghifar lagi mood bergurau aja kemarin." Papah yang malah melobi kak Aca.
"Gih pergi, jam sepuluhan pulang. Nahda sama Ra biar di sini dulu. Kau pulangnya ke sini dulu, jangan langsung ke rumah. Atau, malam ini nginep di sini aja," lanjut papah dengan menepuk pundak kak Aca.
Kak Aca menoleh ke arahku. "Mau ngajak ke mana sih?!" Wajah judesnya bertambah kadarnya.
Wah, lampu hijau nih.
"Ke coffee shop, ayo. Ke swalayan, oke juga. Atau, mau ke angkringan?" Aku tahu ia suka makanan kaki lima.
Ia suka menikmati makanan pinggir jalan di tempatnya. Katanya, rasanya berubah lain jika dibawa pulang ke rumah.
__ADS_1
"Ya udah."
Yey.
Papah menepuk pundakku. "Gih. Harus aja orang tua, apa-apa tuh mesti disuapin aja." Lirih papah dengan pandangan malasnya.
Aku sepayah itu.
"Aku keluarin mobil dulu." Aku tidak mau masuk angin karena motor-motoran di malam hari. Udara dinginnya bisa membuat flu mendadak.
Tanpa berganti pakaian, kak Aca sudah berada di sampingku. Ia duduk di depan, bersama aku yang tengah mengemudi.
"Ke mana ini?" Penampilanku cukup rapi, dengan celana chino panjang dan hoodie saja.
"Muter-muter aja, sok ngomong." Permintaan yang sederhana.
"Nepi di situ aja ya?" Aku menunjuk tempat di seberang jalan raya. Cukup ramai, hanya saja tidak ada penduduk di sana. Aku yakin orang yang berlalu-lalang pun tidak akan curiga.
"Terserah."
Kenapa pikiranku berprasangka bahwa kak Aca ingin mengajakku mesum. Jangan tanya keimananku, aku laki-laki yang jelas memiliki syahwat. Ada hidangan menarik, ya tentu tidak lupa menyicipinya.
Aku sudah menepikan mobilku dan mematikan mesinnya. Kaca mobil begitu gelap, dari luar tidak akan bisa melihat ke dalam. Namun, dari dalam bisa melihat ke bagian luar.
"Gimana apanya? Kau mau ngomong apa tiap hari bikin risih tuh?" Ya ampun mulut kak Aca ternyata tidak ramah seperti wajahnya.
Ia menarik di mataku. Entah-entah jika cinta dan yang lainnya, aku rasa itu belum ada. Tapi rasanya aku begitu kehilangannya, ketika dirinya marah padaku dan tidak membalas pesanku.
"Gimana kalau kita jalani dulu? Aku belum pengen menikah lagi, kalau buru-buru takut kek kemarin." Aku tidak mengatakan tentang perasaan di sini.
"Aku udah pengen ada yang ngejamin. Aku udah pengen serius, aku udah setahun setengah sendirian. Ra mau aku kembalikan ke orang tuanya, aku mau fokus sama Nahda dan keluarga kecil aku aja."
Loh? Bagaimana dengan anakku? Ra saja ia kembalikan, jangan-jangan anakku diminta untuk tetap bersama mamah.
"Aku ada anak dua, Kak." Aku merasa bahwa ia tidak akan menerima anak-anakku.
"Tau, Far. Ra kan bukan anak aku, dia juga bukan anak kau. Aku punya suami ya, aku tak kerja jadi baby sitter lagi. Gimana caranya aku ngurus anak-anak dan jadi ibu rumah tangga, kalau merangkap jadi baby sitter anak orang juga?" Kak Aca membuka sunroof mobilku. Ia tahu saja cara membukanya.
"Kau ingin fokus ke keluarga kita? Gimana kalau aku mau Ra tetap sama kita?" Aku kira itu adalah obatku.
Udara lebih segar dan tentunya dingin, karena bagian atap mobil terbuka. Lalu lalang kendaraan pun cukup mengganggu.
__ADS_1
"Aku masih bisa hamil anak kau." Kak Aca memandang lurus ke depan.
Aku memutar posisiku, lalu memperhatikannya yang tengah manyun lima senti itu.
Kak Aca menolak agar Ra tetap bersama kami. Sebaiknya aku tidak memaksa, lagipula kami pun belum menikah.
"Oke, tapi aku tak bisa janjikan nikah cepat. Aku belum tau semuanya tentang kau." Aku ingin tahu sifat aslinya juga.
"Berapa lama kau janjikan?"
Waduh, cepatnya gerakan kak Aca. Ia langsung meminta janjiku di awal.
"Setengah tahun, mungkin." Aku tidak bisa memastikan juga.
"Ya udah, liat dulu."
Aku menoleh cepat, ia terlihat santai dengan memainkan ponselnya. Kak Aca mesum, atau bagaimana sebenarnya? Bukan apa-apa, aku jadi takut sendiri. Apa jangan-jangan, ia lebih buas dari Kin?
"Kita ambil kamar aja." Keadaan Black Mamba tertidur pulas sekarang.
Entah apa yang terjadi di kamar hotel nanti, karena kak Aca pun mengangguk. Aku seperti perempuan yang akan diperawani. Diam-diam, terlihat judes, ternyata sepak terjang kak Aca langsung ke batang.
Aku yang ketar-ketir di sini.
Terlanjur mengajak dan ia menyetujui juga, ia pasti marah kembali jika aku mendadak membatalkan rencana. Apalagi, sekarang mobilku sudah berjalan.
Penginapan kelas bawah saja, tapi memang aman dan juga aku mengambil dua kamar. Meski akhirnya, satu kamar yang aku kenakan.
Ditambah lagi, kak Aca seperti tidak ada takut-takutnya. Ia menantangku secara tidak langsung.
"Nanti sebelum balik kamarnya diacak-acak dulu, Kak." Kamar inap kami bersebelahan. Aku membukakan pintu kamar dengan reservasi atas namaku, sedangkan kamar kak Aca tetap terkunci.
Ia begitu santai masuk ke dalam kamar ini. Kak Aca langsung masuk ke kamar mandi, dengan aku yang dilanda deg-degan setengah mati.
Aduh, bagaimana ini?
Aku bolak-balik tidak karuan, sampai akhirnya kak Aca keluar lagi dari dalam kamar mandi.
Sepertinya, akan ada zina besar di sini. Tidak tahu juga, karena alur penulis kadang suka membingungkan.
"Aku ke kamar mandi dulu, Kak." Aku melarikan diri.
__ADS_1
Haruskah aku bersembunyi di kamar mandi saja? Tapi aku laki-laki, harusnya kak Aca lebih segan padaku. Aku harus memiliki wibawa, agar kak Aca tidak semakin semena-mena untuk membuatku tidak berpakaian.
...****************...