Istri Sambung

Istri Sambung
Antara Ayah dan suaminya


__ADS_3

Semakin hari, Brian semakin romantis dan selalu membuatnya seperti ratu, Menuruti semua keinginannya.


Namun Sandra juga merasa sedih saat mengetahui jika Yolan di kirim Brian ke tempat orang tua Sandra selama libur sekolah dengan alasan Wulan rindu cucunya.


Sandra menikmati kesendiriannya berdiri di balkon di temani angin malam. Tak lama Brian datang memeluk tubuh Sandra dari belakang.


"Kenapa berdiri disini sayang nanti masuk angin." ucap Brian di belakang telinga Sandra.


"Mas mabuk ya?" tanya datar Sandra, saat mencium aroma alkohol di tubuh suaminya.


Brian membalik tubuh Sandra dan kini memeluk pinggang Sandra. "Maaf aku tadi harus menemani Klein minum."


Sandra mendekap tubuh suaminya, "Mas bisa kah aku jujur, beberapa hari ini ingin aku mengatakan sesuatu yang ada di hatiku."


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan?"


"Kenapa sekarang ini aku merasa sedikit berubah, apa ada yang salah dengan ku mas?"


Brian melepas pelukannya dan mengangkat dagu Sandra agar menatap dirinya.


"Dengarkan aku, selama aku tidak menyakiti mu dan hatimu, Jangan pernah mencurigai aku, karena itu menyakitkan hatiku." Brian mencium bibir Sandra sesat sebelum mengangkat tubuhnya kembali ke kamar.


"Istirahatlah hari sudah malam, aku akan pergi sebentar." Brian menyelimuti tubuh Sandra dan dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Bisakah pekerjaannya di selesaikan besok, aku butuh mas di sampingku." Sandra menahan tangan Brian agar tak pergi.


Brian kembali menatap istrinya dan duduk di sampingnya." Baiklah, aku tak akan pergi. Tapi biarkan aku keruang kerja sebentar, setelah itu aku kembali menemanimu."


"Baiklah, maaf mas jika aku melarang mas pergi." Brian pun pergi meninggalkan Sandra di kamar.


Brian memang kadang berubah, kadang begitu romantis dan kadang mengacuhkan istrinya, Setiap di tanya Brian akan selalu mengelak dan memberi jawaban yang monolog.


Tanda Yolan, keseharian Sandra semakin membosankan apalagi saat di tinggal bekerja suaminya, Sandra seperti burung dalam sangkar tak di izinkan pergi kemanapun tanpa Brian.


Terlintas dalam pikiran Sandra saat sendirian merasa suaminya tak seperti yang dulu saat baru pertama kali bertemu dan mendadak jadi suaminya.


Tengah malam Sandra terbangun dari tidurnya dan merasa tenggorokannya sangat kering dan gatal, Air di gelas yang biasa di siapkan di atas nakas sudah habis. Terpaksa Sandra turun ke dapur untuk mengambil air minum.


Sandra berjalan menghampiri ruang kerja suaminya hanya ingin tahu apa yang sedang di kerjakan nya, walaupun Sandra di larang keras mendekati ruang kerja suaminya.


"Paksa dia untuk membuka mulut, jika perlu siksa dia, tak peduli bagaimana kondisinya, karena dia adalah kunci utama untuk bisa menemukan Rexsol, setelah dia jujur bunuh dia lenyapkan mayatnya lakukan sesuai perintah dan jangan bikin kesalahan." Suara Brian sedang berbicara dengan seseorang di balik panggilannya.


Tubuh Sandra langsung gemetar mendengar apa yang baru saja suaminya ucapkan,


"Apa aku tidak salah dengar? kenapa dia menyebut nama ayah. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada hubungan apa antara mas Brian dengan ayah?" tanya Sandra bergetar mendengar ucapan Brian yang baru kali ini ia dengar.


Kini tangannya tak mampu lagi menahan gelas yang di bawanya hingga merosot dari tangannya dan pecah di lantai.

__ADS_1


Brian yang ada di dalam, mendengar suara pecahan di luar pintu membuatnya langsung berjalan ke arah pintu, namun saat di buka hanya terdapat pecahan gelas yang masih terbengkalai dan tetesan darah masih nampak seger di lantai. "Sandra..." Brian langsung menghampiri istrinya yang pasti ada di kamar.


Brian membuka pintu secara berlahan dan bola matanya mencari-cari keberadaan Sandra. Matanya tertuju pada ranjang dengan tubuh di selimuti. Brian berjalan menghampiri dan membuka dengan kasar selimut yang menutupi tubuh Sandra.


Sandra memejamkan mata seolah-olah di sedang tertidur. "Bangunlah, aku tahu kamu belum tidur," ucap Brian dan terpaksa Sandra bangun kerena ketahuan.


Dengan berlahan Sandra membuka mata dan menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Berikanlah tanganmu! " perintah Brian dan Sandra memberikan. " bukan yang itu, tapi yang satunya." Dengan terpaksa Sandra memberikan tangannya yang terluka akibat pecahan gelas saat ingin membersihkan puing-puing yang pecah.


Brian mengambil tangan Sandra yang terluka dan membuka obat yang ada di kotak p3k yang di bawanya. "Apa yang kamu lakukan di depan ruang kerjaku? sudah ku katakan beberapa kali, jangan pernah mendekati ruang kerjaku." ucap Brian sambil mengobati luka di tangan Sandra.


"Maaf mas aku tadi hanya ingin melihat mas, karena mas tadi bilang cuma sebentar." ucap Sandra sambil meringis karena perih.


"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Brian dan Sandra pun menggeleng.


"Kembalilah tidur, dan jangan di ulangi lagi apa yang aku larang." Brian tak mau menekan Sandra untuk jujur, karena sudah tersirat ketakutan di wajah Sandra, Brian tak ingin membuat ibu hamil ini tertekan.


"Aku tak bisa tidur. Apakah mas mau menemaniku?" ucap Sandra sedikit terbata-bata.


"Baiklah, tapi harus tidur dan jangan memikirkan apapun. Hapus pendengaran mu dan hilangkan keraguanmu." Brian merebahkan tubuhnya di samping Sandra dan mengusap pucuk rambut Sandra agar segera tidur.


Sandra tak banyak bicara, takut suaminya marah. Rasa penasaran pun muncul tentang kebenaran antara ayahnya dan suaminya dan apa selama ini yang dia ceritakan benar. 'Aku gak mau mas Brian menjadi orang yang kasar' gumam Sandra sebelum tidur dalam pelukan Brian.

__ADS_1


To Be Continued ☺️☺️☺️☺️


__ADS_2