
Ghifar menelan ludahnya, "Za, maaf."
Rauzha mengerti. Tidak ada laki-laki yang mau menunggu, apalagi selama itu.
"Mendiang istri aku pun, dia dokter. Aku keberatan dengan dinasnya, papah aku pun cuma dukung dia jadi dokter keluarga. Masa itu, aku juga mampu sekolahkan dia lagi. Tapi, papah aku tak setuju. Papah belajar dari pengalamannya sendiri, kalau istri kerja, suami dan keluarga itu pasti disepelekan, pekerjaannya nomor satu. Yaaa…. Mungkin itu hanya pemikiran papah aja. Tapi, aku pun keberatan kalau istri aku dinas pekerjaan. Aku pengen istri, yang diam di rumah. Didik anak-anak, urus anak-anak, urus rumah, jaga anak-anak, urus aku, kebutuhan aku. Di mana kita jalani rumah tangga, di mana kita menjadi keluarga yang harmonis." Ghifar memperhatikan reaksi Rauzha sejenak, "Kalau kau mau sama aku, jadi istri aku, jadi ibu sambung anak-anak aku. Esok, aku bawa kau ke rumah orang tua aku. Kalau mereka juga setuju, aku bakal nikahi kau satu atau dua bulan lagi. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri, untuk mengenal kau sama keluarga kau juga. Yang jelas, tak sampai tiga bulan, aku bakal langsung persunting kau, kalau semua pihak kasih restu." lanjut Ghifar kemudian.
Bulu mata Rauzha sudah basah. Ibu adalah pilihan yang sulit untuknya. Sudah selama ini, ia menantikan hari ini. Di mana laki-laki serius untuk melamar dan mempersuntingnya. Namun, harus terhalang dengan impian dan cita-citanya selama ini.
Rauzha hanya bisa memilih satu, dari dua pilihan yang sulit baginya itu.
"Apa aku punya waktu buat berpikir, Far?" Rauzha ingin membujuk Ghifar.
Tetapi, Ghifar malah menggeleng halus.
"Aku paham kau, Za. Aku tak maksa kok. Kalau memang kelak kita berjodoh, mungkin kita akan menikah di waktu yang sudah Yang Kuasa persiapkan. Tapi, untuk sekarang. Aku benar-benar butuh sosok ibu sambung dan istri sambung untuk anak-anak aku, juga untuk diri aku sendiri. Kalau memang kau tak bisa, tak apa Za. Kita masih bisa berteman, kau tak perlu canggung, atau tak enak hati sama aku. Aku coba pahami keadaan." Ghifar berkata begitu lembutnya.
Perkataan laki-laki itu, nyatanya membuat Rauzha semakin bertambah cengeng.
Ghifar menyadari air mata yang berjatuhan itu, "Jangan nangis, Za. Kita di tempat umum sekarang." ungkap Ghifar lirih.
Rauzha segera menghapus air matanya, kemudian ia memandang Ghifar seribu makna.
"Far…. Bisakah kita sama-sama? Bisakah kau tunggu aku lima tahun lagi?" Rauzha terisak kembali.
Ia tertunduk, dengan mengusap segera air matanya yang membasahi wajahnya.
"Kalau lima bulan lagi, mungkin aku masih bisa toleransi. Maaf ya, Za?" Ghifar tidak enak hati, karena sudah membuat anak gadis orang menangis.
Hari ini Ghifar mengetahui alasan di balik Rauzha enggan menikah. Ternyata, ambisi dan cita-cita gadis itu begitu kuat. Ghifar hanya bisa mendoakan, agar semua keinginan Rauzha untuk masa depannya, segera terwujud.
"Cuci muka dulu gih. Terus kita pulang. Aku tunggu di sini."
Rauzha mengangguk, kemudian ia segera berjalan ke arah toilet coffee shop.
__ADS_1
Ia harus menerima keputusan Ghifar, yang tidak bisa menunggunya itu. Karena, nyatanya dirinya pun tidak bisa meninggalkan impiannya itu. Keinginan Rauzha begitu dominan. Rauzha sudah bertekad sejak dulu, agar ia bisa menjadi dokter spesialis yang memiliki rumah sakit sendiri.
Beberapa saat kemudian. Ghifar kembali mengantarkan Rauzha, dengan buah tangan yang ia beli untuk kedua orang tua Rauzha.
Ia segera bergegas menuju ke rumah orang tuanya, karena hari sudah semakin malam. Ditambah lagi, petir dan gemuruh sudah terdengar. Ini menandakan, sebentar lagi akan turun hujan.
"Tidur di sini aja, Far. Anak-anak udah pada pulas." ucap mamah Dinda, setelah melihat anaknya masuk dari pintu samping.
Ghifar melirik pada anak-anak yang tergeletak di atas karpet itu. Pantas saja, sofa ruang tamu ini sampai dipinggirkan. Eh, tidak tahunya di karpet ada empat orang anak yang tengah terlelap.
"Gimana, sukses?" tanya papah Adi, yang muncul dengan tumpukan selimut.
Beliau segera menyelimuti cucu-cucunya itu. Meski ada salah satu di antara empat cucu tersebut, yang berstatus bukan cucu kandung. Tetapi papah Adi menyayangi mereka semua begitu tulus.
Ghifar membuka dua kancing teratas kemejanya. Kemudian ia segera melepaskan sepatunya, lalu menyimpannya di dekat pintu samping tersebut.
"Impian Roza, sama kek impian Kin. Papah pasti paham apa jawaban aku kan?" Ghifar malah melemparkan pertanyaan lagi.
Mamah Dinda mematikan lampu ruang tamu, kemudian ia berbaur lagi di ruang keluarga tersebut.
Ghifar langsung menggeleng, dengan matanya yang mekar sebesar jengkol. Itu tidak mungkin Ghifar lakukan.
Bagaimana nasib anak-anaknya, jika ibu sambungnya seperti Novi?
Ghifar teringat akan ucapan Novi, yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang mudah emosi. Bagaimana nanti, kalau anak-anaknya malah menjadi pelampiasan amarah Novi saja?
"Betul, Far. Tadi aja apet tuh sama Novi. Makan malam disuapin Novi, sampai tidurnya. Terus baru Novi naik ke atas." tambah papah Adi.
Ghifar berjalan ke arah karpet, tempat anak-anaknya dan juga keponakannya tertidur.
Sedangkan mamah Dinda memilih duduk, dengan mengusap-usap kepala Ghifar. Papah Adi lebih memilih untuk duduk di salah satu sofa, yang tidak ditumpuk.
"Carikan kandidat lain aja dulu, Mah. Jangan dulu langsung milih Novi. Novi itu pemarah orangnya. Aku khawatir anak-anak dimarahin terus." Ghifar mencoba berterus terang, mengenai kekhawatirannya.
__ADS_1
"Ya sambil kita cari, coba kau dekati Novi. Pendekatan alami lah gitu, biar tak dadakan kek ke Roza gini." usul papah Adi kembali.
Ghifar memejamkan matanya, "Ya, Pah. Aku coba." Ghifar hanya asal menjawab.
"Makanlah dulu! Jangan langsung tidur." mamah Dinda bangkit, ia berjalan ke arah dapur.
"Udah, Mah. Matikan aja lampunya, aku udah ngantuk." Ghifar memilih untuk beristirahat bersama keempat anak itu.
"Ya udah. Besok berangkat bareng sama Novi, kau harus mulai start."
Ghifar hanya berdekhem, saat mendengar saran dari ayahnya kembali. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tidak pernah ingin menjadikan Novi sebagai kandidat.
Dalam pekerjaan saja, Novi berani mengamuknya. Apalagi, jika Novi satu rumah dengannya. Ghifar tidak bisa membayangkan, jika hari-harinya ditindas oleh Novi.
Cukup luka kecil di tubuhnya dan gigi palsu miliknya, yang menjadi sejarah kekuasaan istrinya. Ghifar tidak bisa mengelak, saat dulu Kin menganiayanya dengan tuduhan tidak jelas. Ia tidak mau lagi, ada wanita lain yang memberikan luka terhebat untuknya.
Meski Ghifar tak memungkiri, bahwa hanya Kinasya yang terbaik. Tapi, ia memiliki sedikit trauma akan kekerasan dalam rumah tangga yang menimpanya dulu.
Normalnya laki-laki yang berlaku kasar dalam rumah tangga. Namun, pada rumah tangga Ghifar malah kebalikannya. Saat itu pun, Kinasya sudah memiliki tanda-tanda kecenderungannya mengidap Sindrom Othello. Tetapi, tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Kinasya telat mendapatkan penanganan.
Suasana mulai sepi, suara jangkrik mulai terdengar menguasai kesunyian ini. Namun, telinga Ghifar mendengar suara langkah pelan yang menuruni tangga.
Sungguh, ia takut itu adalah sebuah penampakan. Apalagi di rumah orang tuanya ini, lampu-lampu biasa dimatikan ketika penghuninya beristirahat malam.
"Ish…."
Ghifar mendengar suara perempuan seperti tengah menyingkirkan sesuatu. Namun, yang berada di otaknya adalah itu sebuah hantu.
Sampai, suara kunci pintu yang tengah berusaha dibuka pelan oleh seseorang. Ghifar yakin itu adalah orang, karena hantu tak mungkin membuka pintu untuk keluar dari sebuah ruangan.
Ghifar memberikan diri, untuk mendongak melihat seseorang yang memungkinkan adalah seorang pencuri tersebut.
...****************...
__ADS_1
😳