
"Gimana?" Novi memperhatikanku begitu lekat.
Aduh, bagaimana caranya menjelaskan? Aku malu dengan kalimat vul*ar yang aku ucapkan.
"Banyak cara, di titik sensitif laki-laki. Yang paling berpengaruh itu o*al." amat malu saat mengatakan satu kata di akhir kalimat itu.
"Die*ut?"
Aku mengangguk, "Tapi ada triknya. Ada bagian yang harus kau stimulasi sesering mungkin, ada bagian yang sebagian jangan terlalu sering distimulasi."
Masalahnya satu, aku tidak tahu nama bagian itu. Aku hanya merasa, tetapi tidak paham trik untuk memberikan kenik*atan itu.
Apa harus aku menunjukkan pustakaku pada Novi, untuk mengajarinya? Tapi jelas, aku pasti malu sekali. Novi seperti orang asing menurutku.
Bukan, tepatnya masih terasa asing.
"Cuma gini-gini aja?" Novi menganggukkan kepalanya berulang, dengan mengepalkan tangannya di depan mulutnya.
Kalian pasti tahu gerakan familiar itu.
"Ya tak juga. Kin sampai ke bawah sana, main di kantong itu juga." aku tersenyum kaku, aku tidak nyaman mengatakannya.
__ADS_1
Alisnya menyatu, dengan matanya yang membulat sempurna.
"Apa itu tak kotor? Apa itu tak jorok?" ujar Novi kemudian.
Bagaimana ya? Menurutku, hubungan se*s itu memang jorok. Bahkan di luar negeri, ada yang melalui tempat pembuangan. Aku tahu dari video dewasa, yang beberapa kali sering aku konsumsi dulu.
"Kotor, mungkin. Tapi aku ngerasa udah cuci bersih." aku menggaruk tengkukku.
Untuk orang awam sepertiku, menjelaskan hal itu adalah hal yang sulit.
"Apa tak bisa dilakukan sendiri?"
Pertanyaan macam apa itu? Rasanya, itu tidak masuk di akal.
"Aku jijik untuk ngelakuin hal itu, aku tak pernah mau."
Lalu, bagaimana ia akan menyembuhkanku?
"Jadi kau udah tau kan, kalau aku ini tak bisa ngasih nafkah batin untuk kau? Kau pun jijik untuk ngelakuin stimulasi ke aku. Aku tak punya cara lain, Nov. Ini sih, udah terserah kau aja. Kita baiknya gimana? Karena jujur, aku merasa pernikahan kita tak bisa membantu kerepotan aku di rumah. Aku tetap jadi bapak-bapak rumah tangga, yang harus cari nafkah juga." aku menghela nafasku dengan memalingkan wajahku.
Pembicaraan ini tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
"Aku tak mungkin jadi janda dengan keadaan masih perawan, Bang." Novi menggenggam tanganku.
"Terus gimana, Nov? Kau keknya tak percaya betul dengan keadaan aku. Aku pun tak pengen jadi laki-laki payah begini, aku ngerasa tak normal." aku gemas sekali, aku sampai mencengkeram erat bantal tidur villa ini.
"Coba buktikan dulu, mana tau udah sembuh. Orang tuh belum berobat lagi, belum dicoba dulu main vonis aja."
Menantang rupanya?
"Sok coba. Sana siapin tisu atau apa. Aku pernah drop gara-gara mimisan parah, aku tak mau ambil resiko." aku teringat kejadian di rumah panggung tengah ladang.
"Drop gimana?" tanyanya dengan melepaskan jepit rambutnya, yang menyatukan rambut di bagian telinga hingga ke belakang.
"Drop parah, tak sadarkan diri. Dibalurkan ramuan Bali, biar bisa sadar. Lemes, tak bisa jalan semalaman. Gara-gara distimulasi Kin sampai keluar, untuk yang pertama kalinya." aku masih teringat saat rasanya tulangku seperti rontok.
"Ah, paling memang lagi kecapean aja." Novi mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
Menyepelekan!
"Nov, masalah kalau aku sakit nanti. Anak-anak aku bakal tak ada yang biayai. Kau jangan menggampangkan gitu. Aku cerita begini-begitu, kau kek tak percaya. Dikiranya aku lagi alasan aja kah, biar tak nyentuh kau? Sekalipun dengan amarah dan misal pun tanpa rasa, laki-laki normal bisa begituan tanpa memikirkan apapun. Kalau aku memang mampu, kau udah habis dari awal." aku menyerukan jariku di atas bantal.
"Iya, makanya dicoba dulu. Aku rebahan kah?" Novi menggeser alas duduknya.
__ADS_1
...****************...