
"Iya, sore tadi. Tak ambil kamar kok, di resto pun ada orang lain." Ada teman Farida yang bernama Noni Ahmad.
"Oh, syukurlah." Ia langsung memelukku.
"Aku tuh cinta betul sama Papa, Papa jangan sama yang lain dong."
Aku tahu sebesar apa cintanya padaku, aku tahu sebesar usahanya untuk mendapatkanku. Kasarnya, ia sampai memasang tubuhnya agar aku kecanduan dengannya.
Aku mengusap-usap kepalanya. "Sebisa mungkin, aku jaga rumah tangga kita. Mama tenang aja, aku bakal tetap setia. Cuma, aku khawatir tergoda. Aku tak bisa putus kerjasama dengan pihak Farida, tapi aku pun tak bisa kalau sering ketemu Farida. Aku tak punya jalan keluar dari masalah ini." Lebih baik mencari jalan keluar, daripada mencari letak kesalahan pasangan. Karena, egoku sendiri yang bersalah di sini.
Ia melepaskan pelukannya padaku, kemudian ia menahan rahangku untuk tetap terkunci dengan sorot matanya. "Aku ikut, bawa aku kek Givan bawa Canda. Papa tau? Alasan terbesar Givan bawa-bawa Canda karena relasinya cantik-cantik, Givan bilang sendiri begitu."
Ish, dasar laki-laki. Ternyata, abangku pun sama saja dengan keimananku.
"Tapi setau aku, Canda tak ikut bang Givan rapat atau kerja." Bang Givan hanya membawa istrinya ke tempat ia bekerja saja.
"Iya, tapi Givan bawa anak Canda."
Eh, benar juga.
"Aku tak bisa konsen kalau kerja bawa anak, perhatian aku pasti ke anak terus." Malahan, aku melalaikan pekerjaanku.
"Papa ajak aku, setiap kali Farida ajak ketemu. Apa, Papah malu bawa aku? Karena aku tak sebanding Farida?"
Apa Aca merasa demikian? Sebenarnya, Aca pun cantik, bodynya menarik. Bayangkan saja bagaimana buah pir, nah itulah bentuk pinggul Aca. Entah, dasarnya mata rakus laki-laki. Padahal istriku tidak kurang apapun. Percayalah, malahan para laki-laki itu memilih yang bodynya bagus dan enak dipandang. Eh, itu sih rakus juga namanya. Karena ingin yang cantik, sekaligus body bagus.
"Besok nanti aku bawa Mama, kalau aku punya jadwal di luar lagi." Aku merapikan rambutnya, kemudian mencium bibirnya sekilas.
"Apa yang Papa suka dari Farida?"
Bisa tutup buku tentang Farida tidak? Aku khawatir malah kami yang berantem gara-gara nama itu.
"Udahlah, Ma. Tak usah lanjut bahas Farida."
Aku malah teringat saat Canda sakit dulu, lalu aku bertemu Rauzha yang menjadi dokter jaga untuk Canda. Dengan keegoisanku kembali, aku mengajak Rauzha bersantap siang dan bertukar email. Hanya email, tidak dengan nomor telepon karena aku takut pada Kin. Sudah, hanya satu kali itu saja karena aku sadar aku tertarik kembali pada Rauzha saat itu juga.
"Jawab jujur dulu, biar aku bisa memperbaiki diri." Aca memaksa.
__ADS_1
"Eummm, dagunya belah. Wajahnya menarik, matanya kek Kin. Bermimik teduh, sopan dan ramah." Menurutku, seperti perpaduan Canda dan Kin. Malah, ada nilai plus sendiri untuk Farida karena dagunya belah.
"Apa mimik aku kek rentenir?"
Sungguh, aku langsung tertawa lepas. Aca pun, ikut tertawa juga.
Syukurlah, Aca tidak marah. Ia malah mencairkan suasana, agar kami tidak saling memunggungi saat tidur nanti.
"Kalau tak suka sama aku tuh, harusnya tak ngajakin mutualan segala!" Tiba-tiba ia meraup wajahku dengan gemas.
Ada sifat ungkit-ungkitnya juga ternyata.
"Iseng, Bebeb. Soalnya body pir, tak tahan aku lihat." Aku mengunyel-unyel kedua pipinya.
Raupan wajah lagi yang aku dapatkan. Tetapi, dicampur dengan gelak tawanya.
"Huuu!!! Iseng! Iseng! Terjebak kan?!" Wajah judesnya langsung kentara lagi.
"Tak terjebak lah, namanya terje***t nikmat." Aku mengisyaratkan kedua telapak tangannya yang hampir disatukan.
"Nah, iya. Ayolah, Pa. Aku yang gerak deh."
Aca main langsung nangkring ke atas tubuhku saja. Ia sudah seperti ayam, yang siap mengerami telurnya.
"Nanti dong, besok ya? Setelah kita cek up, oke?" Aku menunggu izin dokter, agar tidak membahayakan Aca dan anak kami lagi.
Helaan napas kecewanya terdengar jelas. "Ya udah deh, aku patuh biar Papa makin berat sama aku." Ia turun perlahan dari pangkuanku.
"Tadi pun berat.".
Eh, aku salah berbicara. Aku langsung mendapat delikan tajam, setajam silet.
Aku memberi senyum kuda. "Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul."
"Awas aja lepas aku bersalin nanti, aku buat Papa mabuk body pir lagi." Ancaman yang sungguh aku nantikan.
Bukan bilang juga body pirnya, pinggulnya tetap terlihat lebar. Namun, tenggelam karena perut cembung yang sudah mulai membesar naik tersebut. Aku tinggal beberapa hari dengannya saja, aku sudah merasa bahwa perutnya besar. Pas awal bertemu, aku merasa perutnya kecil saja.
__ADS_1
Aku memberinya hormat, kemudian mengikutinya ke arah tempat tidur. Waktunya beristirahat, dengan curhatan yang sedikit membuatku plong. Setidaknya, Aca sudah tahu dan mungkin akan mulai memberiku perisai berlapis baja.
Cek kandungan Aca kembali, USG ulangan kembali. Anak kami sehat, normal dan aktif. Bahkan ketika di USG saja, ia tidak mau diam. Semoga ia seperti Cani saja, jangan seperti Ra. Aku khawatir tenagaku kalah, jika satu dua seperti Ra.
"Boleh…." Aca mengisyaratkan tepuk tangan beberapa kali.
Makhluk yang absurd. Jika dokter tidak tertawa seperti ini, mungkin aku akan meninggalkannya di sini saja. Bisa malu aku.
"Boleh, Bu. Kemarin posisi bayinya lagi turun karena dibawa penerbangan sepertinya. Misal dalam keadaan capek, ya mohon istirahat begitu. Jangan dipaksakan, karena nanti akan tidak nyaman, terus timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan. Buat suasana serileks dan senyaman mungkin, Pak." Dokter tersebut beralih menatapku.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Dok."
"Iya, sama-sama. Ini resepnya untuk ditebus, silahkan."
Aku langsung menerima secarik kertas dengan tulisannya yang tidak terbaca itu. Kemudian, aku menggandeng istriku keluar dari ruangan dokter ini.
"Ah, nanti malam belah duren." Aca berbisik ketika kami tengah berjalan ke parkiran.
Bahagianya ia ketika kami akan menyatu? Memang, senikmat apa sih rasanya?
Bukan aku kurang excited padanya. Tapi menurutku, se*s ya rasanya umum saja, rasanya seperti itu. Ya memang sensasinya berbeda, tetap membuat candu dan ketergantungan juga. Memang secara deskripsi kan, rasanya sama begitu.
"Pakai sarung yang ribbed, Pa. Wuh, pasti rasanya kek diapakan."
Diapakan memang?
"Aku tak pernah pakai sarung." Begitu menikah dengan Kin pun, aku sudah halal dan bebas dengan sarung.
Eh, pernah memakai sih. Hanya saja, aku merasa tidak terasa ke batangku. Membuatku melepaskan, ketika sudah sampai di tengah permainan.
"Cobalah, Pa. Kita mampir ke minimarket dulu tuh. Ribbed itu, bergaris dan bergerigi, Pah. Coba deh bayangkan, Pa."
Aku yang malah bergidikan, apa rasanya tidak seperti diparut?
"Memang pernah?" tanyaku kemudian.
"Pernah dong, tapi kan beda ukuran anunya sama punya Papa. Aku jadi membayangkan, udah penuh, besar, mentok, terus bertekstur karena sarung juga kan? Eukhmm…. Pasti, rasanya kek digelitikin di dalam sana."
__ADS_1
Benarkah? Lalu apa keuntunganku jika memakai sarung?
...****************...