
"Balik dulu, Bang." aku menggiring dua buah hatiku yang sudah kenyang ini.
Bang Givan mengangguk, "Kalau lapar ke sini lagi ya?"
Tidak enak sekali perkataannya.
"Dadah Ayah…." anak-anakku melambaikan tangannya.
"Dadah. Sikat gigi dulu sebelum tidur." sahutan itu terdengar cukup jauh, karena aku sudah melewati pintu besi.
"Pa, aku udah belajar. Aku langsung tidur aja ya?"
Aku merasakan keanehan pada diri Kal. Tumben sekali anak ini ingin langsung tidur, padahal sholat isya baru turun.
"Belajar sama siapa, Kak?" aku melihat Novi yang tengah mencuci piring di dapur.
Kin biasanya langsung mengerjakan tugas itu, setelah dirinya rampung masak. Tapi ya sudahlah, itu bukan masalah. Memang setiap orang itu pasti berbeda.
"Sama biyung, Pa." Kal berjalan mendahului, kemudian ia masuk ke kamarnya.
Loh?
"Bobo sendiri, Kak?" aku menarik Kaf, untuk mengikutiku ke kamar Kal.
"Sama Papa lah. Kan tante Cantik tidur di sini, di kamar mama."
Ohh.
"Kaf juga mau bobo kah?" aku memperhatikan wajah anak itu.
"Aku mau sama nenek, Pa. Boleh tak?"
Aku langsung menggendong anak ini. Pasti ada masalah pada mereka, sehingga seperti menghindar begini. Saat aku melihat wajahnya pun, mereka malah menundukkan pandangannya.
"Sama Papa ya?" aku membawa anak itu ke sofa yang berada di dalam kamar Kal.
Sedangkan Kal, ia sudah masuk ke kamar mandi. Mungkin ia akan sikat gigi dan mencuci tangannya.
"Ada apa, Kaf?" aku membelai rambut anakku yang mulai gondrong ini.
"Kata tante Cantik belajar bobo sendiri." ia berbicara lirih.
"Ya tak apa belajar. Ceysa aja bobo sendiri kan?"
Aku teringat akan anak-anak bang Givan yang sudah mandiri itu. Mereka tidur sendiri di kamar, dengan pengasuhnya yang pindah tidur di ruangan lain. Karena di rumah minimalis itu ada ruang tamu dan juga ruang keluarga.
"Aku kan takut." suaranya rendah.
Mental anakku tidak terlatih untuk ini. Bagaimana caranya? Apa aku harus memberi mereka rumah juga? Tapi tidak seperti itu juga caranya.
"Papa temani dulu ya? Nanti Papa pindah gitu." aku memindahkan Kaf ke ranjang.
"Kalau gitu, aku nginep di nenek aja. Di sana bisa bobo sama kakek di ruang TV, atau tidur bareng nenek kakek di kamar." Kaf tetap mengganduli leherku, meski sudah berada di ranjang Kal.
__ADS_1
"Ya jangan. Ya udah sama Papa aja di sini." aku lebih baik mengalah dulu saja.
Anak-anak belum siap.
Tapi aku harus tetap pindah, saat anak-anak sudah tertidur. Meski aku tidak bisa memberikan nafkah batin pada Novi, tapi aku tidak boleh membiarkannya tidur sendirian tiap malam.
Aku ragu dengan mereka tidur siang. Kenapa mereka bisa tertidur secepat ini? Atau, entah-entah Canda memarahi anak-anakku? Membuat mereka lebih memilih cepat tidur, untuk melupakan perkataan Canda. Soalnya anaknya sering seperti ini, jika dimarahi oleh Kin.
Saat mereka sudah mendengkur halus, aku merindik-rindik untuk keluar dari kamar ini. Hingga, aku dihadapkan dengan ruangan yang lampu utamanya masih menyala terang.
Novi ada di kamar, dengan memainkan ponselnya di atas sofa. Novi belum tidur. Ya iya juga sih, ini baru setengah delapan.
"Makanan masih ada, Nov? Coba angetin aja." aku duduk di tempat yang sama dengannya.
"Udah aku buang."
Ya ampun, ngusap dada.
Aku menghela nafas, kemudian memilih untuk membaringkan tubuhku di ranjang. Aku adalah orang yang malas ribut.
Arahnya akan ke mana rumah tanggaku ini. Aku bingung sekali, aku merasa buntu. Karena usahaku tidak ada yang berhasil.
Ya untuk membuat Novi masak, itu adalah salah satu cara dariku. Tapi, anak-anak tetap makan di rumah orang. Aku sudah memberi saran agar Novi memberikan stimulasi, tapi ia yang seolah jijik.
Aku tidak salah, bukan?
Aku memejamkan mataku, meski dengan cahaya yang seterang ini. Aku mencoba meredam emosiku, ketimbang lagi-lagi ribut. Masa mau tiap hari ribut saja
Tapi, sampai kapan akan seperti ini?
"Memang ada apa, Nov?" aku meliriknya, dengan mata sedikit terbuka.
Novi menggeleng lemah, dengan matanya yang seolah berbicara. Aku tak mengerti, harus bagaimana lagi.
Aku bingung dengan sikapnya.
"Abang tak pengen tau aku ngapain aja? Abang tak pengen cerita gimana kerja hari ini?"
Nah, begini kan lebih baik.
"Sini." aku bersandar di kepala ranjang, dengan menepuk tempat di sebelahku.
Senyumnya terukir, kemudian ia beranjak mendekatiku.
Masya Allah, gaun tidurnya.
Entahlah, kalau laki-lakinya normal. Laki-lakinya sepertiku seperti ini, memang bisa apa? Aku seperti dibunuh perlahan, jika seperti ini.
"Aku udah potong kuku." Novi mengulurkan tangannya padaku.
Aku menerima uluran tangannya, kemudian memperhatikan punggung tangannya. Jemarinya begitu lentik, panjang dan kurus. Novi memiliki jemari seperti penari.
"Lagi haid juga, jangan pakai gaun malam yang mengundang ya?" aku berbicara lembut, dengan mempersilahkan dirinya untuk duduk di sampingku.
__ADS_1
"Aku terbiasa tidur pakai pakaian yang terbuka. Kulit aku iritasi, kalau pakai pakaian tidur yang jahitannya agak tebal." Novi menunjukkan lengan dalamnya.
Di situ ada bekas memerah yang persis seperti jahitan baju yang diobras.
"Semalam aku tidur, masih pakai kaos distro." lanjutnya kemudian.
"Pakai brandnya Canda aja, anak-anak aja pakai brand dia." aku mengusap bekas memerah itu.
"Dinda's Wear?"
Aku mengangguk, "Iya, daster. Kal juga banyak dasternya."
Daripada menggunakan gaun malam begini, aku yang stress.
"Apa aku nampak menarik, kalau pakai daster?"
Pertanyaan yang menjebak.
Daster juga, bagaimana si pemakainya saja menurutku. Kin memakai daster saja, ia bisa pargoy.
"Memang belum pernah pakai daster?" jika ia mengiyakan, rasanya aneh sekali.
Kok ada perempuan tidak tertarik daster?
"Pernah, tapi tak pede. Memang aku pantaskah, kalau pakai daster?"
Aku mengedikan bahuku, "Tak tau. Tapi perempuan sih, telan*ang aja cantik."
Namun, Novi malah mencubit lenganku.
Aku tergelak, dengan merangkul pundaknya.
"Gimana hari ini? Ngapain aja?" tanyaku kemudian.
"Aku masak, giling baju, terus pas kering langsung aku setrika, masukin lemari. Anak-anak aku suruh ngulang pelajaran, lepas mereka pulang dari sekolah." Novi seperti mengingat kembali, dengan pandangan menerawang melihat plafon kamar.
"Kaf diantar jemput?" tanyaku kembali.
Novi menoleh ke arahku, ia menggeleng kecil.
"Berangkat sama papah, pulang sama bang Zuhdi."
Baiklah, lebih baik aku menitipkan pesan agar ia mengerti.
"Besok tolong anter anak-anak sampai ke gurunya ya? Berangkat pas jam masuk aja. Antar Kal dulu, terus antar Kaf. Aku pengen tau teguran apa, yang pengen guru mereka sampaikan ke orang tuanya. Itung-itung kau ngobrol nitipin anak pas di sekolah gitu kan? Biar anak-anak kita diperhatikan guru-gurunya." mungkin pada Novi, guru mereka mau menegur.
Karena padaku dan papah mamah, guru-guru pada segan. Mereka tidak mau buka suara, atau sekedar memberikan sedikit pesan pada kami selaku orang tua anak-anak.
"Ada apa memang, Bang? Eh, sering kehilangan uang tak sih? Aku sehari aja kok ilang tujuh puluh lima ribu. Aku pusing ngitung, ini uang dipakai apa aja. Aku takutnya, tak cukup ke tanggal satu."
Apa ini pelaku yang sama seperti di rumah bang Givan? Tapi masa iya?
"Ya…..
__ADS_1
...****************...