
"Sama ibu sambungnya." jawabku dengan tersenyum manis.
Mata Fira membulat, "Kau serius, Far? Secepat itu?" ia seperti tidak percaya.
Aku mengangguk, "Baru sih sebulan lebih aja." ini adalah kebenarannya.
"Ah, masa? Dulu kau butuh tiga tahun untuk ngelupain Canda. Sekarang setahun, kau udah bisa cari pengganti Kin?" ekspresif sekali Fira ini.
Membuatku takut saja.
"Kasian anak-anak." hanya itu yang ada di kepalaku.
"Terus, siapa itu?" Fira memicingkan matanya.
"Novi. Kau pasti kenal." aku mengedarkan pandanganku pada sekeliling tempat ini.
Plak….
Aku sampai tersentak dari posisiku, saat mendapat pukulan mengagetkan dari arah belakang.
"Papa…. Ye…."
Astaghfirullah, anak yang Masya Allah ternyata.
Aku bisa melihat ketegangan di wajah Fira, saat Ra mencoba lewat dari celah yang sempit ini.
Pantas saja Fira tidak menyahutiku, ternyata ia tegang karena Ra.
"Yayah mana?" aku menoleh ke belakang, di mana tadi dirinya menepukku dulu sebelum muncul.
"Yayah tuh…." Ra menunjuk meja resepsionis.
Bos tambang ada di sana ternyata. Ia sudah rapi menggunakan setelan kemeja dan celana jeans, dengan anaknya yang memakai rok tutu pendek dengan kaos berwarna kuning. Ra benar-benar mirip seperti burung ketilang.
"Biyung mana?" aku menahannya, karena ia akan menuju ke Fira.
"Iyungggg Allah." sepertinya, maksudnya tengah sholat.
Fira sepertinya amat takut dengan anak ini.
"Sama Papa yuk?" aku bangkit dan menahan kedua ketiaknya.
"Mamah Keh." Ra mencoba mencubit Fira dari jauh.
__ADS_1
Fira menahan tangan Ra, meski tangan kecil itu tidak sampai menyentuhnya.
"Iya, iya, iya. Mamah Keh ini." Fira tersenyum terpaksa, dengan wajah paniknya.
Jadi Ra gemas melihat rupa ibunya kakaknya itu? Aku jadi terkekeh, dengan menahan tenaga anak ini agar tidak meraup wajah Fira.
Aku teringat Fira yang menahan dirinya, agar tidak gemas pada bayinya dulu. Ia menutupi rasa sayangnya dengan kilat tega, setiap kali melihat Key sering aku ajak pergi bekerja dengan mobil travel milikku sendiri. Fira membuat anaknya, agar tidak bergantung dengan dirinya. Karena awalnya, Fira tak mengharapkan kehadiran cucu tertua di keluarga kami itu.
"Au iyum." Ra loncat-loncatan di tempatnya.
"Sedikit aja ya?" Fira mendekatkan wajahnya ke arah Ra.
Tidak butuh waktu lama. Teriakan Fira lepas dengan hijabnya yang seketika menjadi amburadul. Bang Givan sampai berlari cepat ke arah anaknya, sayangnya hijab style Fira tidak bisa diselamatkan.
Fira menutupi rambutnya sendiri, dengan kedua tangannya. Sedangkan hijabnya, sudah pindah kepala.
Antara kaget, lucu dan panik menjadi satu. Aku menjadi manusia absurd, gara-gara melihat tingkah Ra ini.
"Ya ampun anak Yayah, Masya Allah." bang Givan langsung menggendong anaknya, dengan mencoba melepaskan hijab Fira dari kepala Ra.
Siapa yang mengenakan? Tentu anak ajaib itu sendiri.
Mau heran, tapi Caera.
"Namanya juga anak-anak, Fir." bang Givan menatap Fira dengan menahan tawa.
Sedangkan nafas Fira, sudah seperti berada di arena matador Spanyol. Mungkin sekarang Fira yang akan menjadi bantengnya.
"Anak aku tak kek anak kau, Bang!" Fira menutupi kepalanya dengan hijabnya tersebut.
"Anak kita." ucap bang Givan dengan menyenggol lengan Fira dengan lengannya.
Fira menatap tajam wajah bang Givan, kemudian ia celingukan ke arah lantai.
"Mana loncatnya jarum pentul aku?" ia bertanya-tanya seorang diri.
Genit juga abangku ini. Entah-entah kalau tidak ada aku di sini.
"Tak usah pakai pentul lagi lah. Tak apa, aku maklumi." bang Givan membawa anaknya duduk di sofa yang paling dekat denganku.
Fira duduk kembali di tempatnya, "Tak dimaklumi, ya malas betul aku tanda tangan kontrak." Fira memandang bang Givan penuh marah.
Sedangkan bang Givan, ia malah cekikikan saja dari tadi. Sepertinya, ia terhibur juga sepertiku. Karena melihat adegan lucu tadi.
__ADS_1
"Eh, tapi ngomong-ngomong kecilnya Key memang tak begini ya Fir?" tambahku kemudian.
Fira melirikku sekilas, "Satu dua juga kek ini anak, tapi tak seastaghfirullah ini gitu. Aku curiga Abang kau buatnya tak bismillah dulu. Makanya anaknya kek Ra. Benihnya dia itu memang tak ada yang hawanya positif. Liat Key aja sekarang gimana, masih lari-larian lincah aja dia. Mulut udah kek klakson kereta api, mana nyerocos aja lagi." Fira geleng-geleng kepala.
"Kau mau dititipi benih yang kek gitu?" bang Givan masih dengan ekspresi menahan tawa dan geli saja.
Fira memukul lengan bang Givan, "Kau yang buang sembarangan, Bang! Bukan aku yang mau dititipkan." Fira sudah meletup-letup.
"Woy, tak leh. Yayah La." jidat Fira seketika ditepuk oleh si pemilik yayah itu.
Bagaimana tawa kami? Tentu terbahak-bahak begitu lepas.
Ya ampun, ada saja humor sore ini.
"Udah abis ini, jangan kau bilang lagi untuk anak kita anak kita. Udah anggap total aja, Key anak Canda. Biar sekalian! Anak kita, anak kita. Bikin aku rugi bisnis sama kau aja! Alasan anak aku ada di kau, bareng-bareng biayai. Bulshit betul lah! Palaknya aku." Fira menggeser sofanya sedikit, kemudian membenahi hijabnya yang tanpa pentul itu.
Oh, jadi jaringan bisnis ini atas dasar membesarkan Key bersama. Bang Givan memang tidak perhitungan, tapi pola pikirnya terbentuk dari laki-laki yang memperhitungkan segalanya. Ya, papahku.
"Ya kan benar, Fir. Aku tak ngada-ngada. Ceysa yang kecil aja loh, dia sehari itu omsetnya udah di luar dugaan. Aku belajar begini dari mendiang Lendra nih. Bukan semata-mata karena bisa say hay sama kau kali." bang Givan menampakkan wajah sombongnya.
Eh, benar juga. Bukan cuma Ceysa. Chandra yang anak tirinya bang Lendra saja, ia mendapat bagian darinya. Jadi perusahaan itu diatasnamakan anak-anak, lalu saat usahanya sukses ya untuk biaya hidup dan biaya pendidikan anak-anak.
Jadi, bang Givan mencoba menerapkan itu dengan Fira? Pantas saja ia menyebut anak kita. Ternyata itu embel-embel, agar Fira mau digandeng oleh usaha-usahanya.
"Sekalipun ada minat say hay, aku udah tak kepengen lagi sama kau!" Fira membalas kesombongan bang Givan.
"Tinggal tekan, kalau aku mau. Bukan aku sombong, tapi aku memang tak butuh persetujuan kali. Kecuali Candanya nangis." bang Givan meninggikan bibir bawahnya dengan menahan senyumnya.
Fira ikut tergelak, "Nangis harga mati." tambah Fira kemudian.
Oh, jadi mungkin bang Givan tetap seperti dirinya yang lama. Hanya saja, ia tidak berani lagi karena Canda menangis begitu? Masa iya hanya karena Canda menangis?
"Bukan harga mati sih. Tapi nanti kalau dia kenapa-kenapa kan, aku yang bakal mati." ucapnya datar, dengan mengusap keringat di kepala anaknya.
"Uhh, so sweetnya." Fira hampir menyentuh pipi bang Givan.
Namun, segera ditepis dan dipelototi oleh Ra.
"Mamah Keh tak leh uwel-uwel Yayah La."
Kami tergelak bersama, melihat protes Ra saat ayahnya akan disentuh perempuan lain. Aku jadi curiga, bahwa Canda memperalat anaknya sendiri. Atau memang, Yang Kuasa memberi Ra untuk membuat bang Givan terbelenggu dengan nyaman?
...****************...
__ADS_1