Istri Sambung

Istri Sambung
IS148. Mendatangi bang Ken


__ADS_3

"Bang Ken ada di dalam kah, Tan?" Aku mendatangi rumah om Safar, ayah sambung bang Ken.


Aku sudah pernah memberitahu, bahwa ibu kandungnya bang Ken menikah dengan adik sepupu papah. Lalu lahirlah Ahya, atas pernikahan tersebut. Ahya adalah adik satu ibu, tetapi lain ayah dengan bang Ken.


"Ada di kamarnya. Jam empat tadi baru sampai, nelpon mamah kau katanya udah pegang aja dulu mobilnya." Mungkin tante Sukma berpikir, aku ke sini untuk membawa pulang mobil mamah.


"Aku ke bang Ken dulu ya, Tan?" Aku pun tidak tahu pasti, bang Ken sebenarnya tinggal di mana.


Karena pagi tadi, ia ada di rumah mamah. Tapi, di sini pun ia memiliki kamar.


"Jangan berantem tuh, Far! Tante yakin cuma salah paham aja. Tak ada laki-laki di sini, tolong jangan tonjok-tonjokan. Om Safar kau lagi keluar." Sepertinya, kabar aku memukul bang Ken didengar beberapa orang juga.


Padahal, tidak berbekas kok di wajah bang Ken.


"Tak, Tante. Tenang aja." Aku tersenyum lebar, pada ibu-ibu seusia papahku itu.


Tante Sukma adalah teman satu kelas papah.


"Di atas kamar abang kau, yang view-nya halaman belakang itu nah." Tante Sukma menunjuk ruangan yang ia maksud.


"Ya, Tan. Makasih." Aku mengayun langkahku cepat, agar cepat sampai di kamar bang Ken.


Sampai juga di pintu kamar ini. Aku langsung membuka pintu tersebut, tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Bang…." Panggilku cepat.


Mungkin, aku akan dicap sebagai orang yang tidak memiliki malu. Kemarin aku menonjoknya, tapi hari ini malah sok akrab seperti ini.


"Hih…. Astaghfirullah!" Bang Ken malah terkejut.


Aku terkekeh geli melihat reaksinya. Dengan berjalan mendekatinya, yang tengah bercermin di depan lemari.


Kentara sekali, bahwa furniture di kamar ini begitu lapuk. Sepertinya menggunakan kayu jati, dengan ukiran khas jaman dulu.


"Apa kau?" Bang Ken menutupi leher bagian bawahnya, kemudian ia membelakangiku dan mengenakan kemejanya kembali.


Ada apa di area lehernya itu?


"Bang, Abang cerita apa ke bang Givan?" Sebenarnya, ini hanya basa-basi di awal saja.

__ADS_1


"Apa sih?" Ia berbalik badan dengan kemejanya yang sudah rapi.


Bahkan, kemeja itu dikancingkan sampai atas. Sampai kerah kemeja tersebut, terbentuk sempurna.


Apa dia berpikir, bahwa aku akan berselera padanya? Atau, ia menutupi sebuah tanda haram dari kejadian kemarin?


Entah mengapa aku berpikir begitu, karena telapak tangannya tadi menutupi bagian bawah lehernya.


"Tadi pagi dia bilang, telponan sama kau sampai dia ditinggal tidur istrinya."


"Ya Allah…." Bang Ken geleng-geleng kepala, dengan berjalan ke arah balkon kamarnya.


"Bang…."


Bukan aku yang memanggil, tapi orang yang berada di belakangku. Eh, tapi tadi aku masuk sendirian.


Bang Ken melongok ke arahku, dengan aku yang tidak berani memutar kepala. Pasti ada hantu di belakangku.


"Apalagi, Ahya?!" Bang Ken berakting menangis.


Oh, Ahya. Eh, tapi tidak ada suara saat pintu dibuka. Pantas saja bang Ken terkejut, saat aku tiba-tiba memanggilnya. Ternyata, pintunya tidak menimbulkan suara ketika dibuka atau ditutup.


Aku memutar leherku, terlihat perempuan berperut besar berbadan kecil itu tengah tersenyum cengengesan.


"Suami kau dipakai!" Bang Ken membogem pelan dahi Ahya.


"Enak betul jadi dia! Aku di sini, yang terus-menerus menuhin ngidam kau."


Ahya mengandung anak keduanya. Ia menikah cukup lama, dengan anaknya mak wa Ayu. Bernama bang Hafidz, yang memiliki pangkat sebagai polisi di kantor Polresta terdekat dari sini.


"Ayolah, Bang." Ahya menggoyangkan lengan kakaknya.


"Nanti lah, mandi aja belum. Tadi mau mandi, ada Ghifar masuk." Bang Ken melirikku.


Oh, ia bercermin tanpa menggunakan baju karena akan mandi. Herannya, ia malah memakai kemejanya kembali.


"Duh, ya udahlah!" Ahya malah manyun tinggi.


"Nanti abis Maghrib Abang keluar, Dek." Bang Ken berusaha tidak merusak mood ibu hamil itu.

__ADS_1


"Iya, aku sama Alma ikut."


Alma adalah anak pertamanya. Kalau tidak salah, usianya satu tahun di atas Ceysa. Aku tidak tahu pasti, karena aku sudah hidup dalam tembok cinta dari Kin.


Aku menghampiri bang Ken yang duduk di kursi teras. Ia tengah memainkan ponselnya di sana.


"Bang…. Bisa kau ceritakan?" Aku memilih bersandar pada pagar balkon.


Sore hari dengan angin yang menusuk tulang. Mulai waktu Ashar tiba, udara di sini memang begitu dingin. Sampai, pukul delapan pagi. Setengah tujuh itu, masih cukup berkabut meski orang-orang sudah beraktivitas. Tentunya kabut dingin. Makanya kota sebelah, disebut dengan Kota Dingin Takengon.


"Cerita apa, Far?" Ia memperhatikanku.


"Cerita tentang kejadian kemarin. Kau tau, bayang-bayang Canda muncul kembali. Kek nempel di pelupuk mata aku." Itu adalah traumaku.


"Tak perlu kau tau ceritanya, Far. Teruskan aja rumah tangga kau, tapi jangan minta aku pergi dari kota ini. Umi aku udah tua, aku pengen ngurus beliau, berbakti sama beliau." Ia bangkit dari kursinya, kemudian berdiri dengan tangan berpegangan pada pagar balkon ini.


Berbeda dengan aku, yang pagar balkon menjadi penopang di pinggangku.


"Aku butuh ketenangan, Bang. Aku pengen tau cerita versi aslinya. Biar otak aku tak berpikir, aku pembawa trauma untuk wanita yang memiliki hubungan dengan aku."


Bang Ken melirik sekilas. Jakunnya bergerak naik turun, kemudian ia menatap hamparan kebun pisang yang mengelilingi area rumah ini.


Itu adalah kebun pisang, di mana aku menemukan Ghava tengah mesum dengan Winda. Cek kisahnya, dalam novel Belenggu Delapan Saudara.


"Abang tak tau harus bilang apa. Abang pun tak punya nasehat terbaik untuk kau. Tapi sekali lagi Abang tekankan, Abang bukan masalah awal yang bikin kekacauan ini. Abang pun lebih nyaranin kau, untuk tetap lanjutkan aja rumah tangga kau, tanpa mikirin masalah kemarin. Karena itu yang terbaik," ucapnya dengan menepuk pundakku.


Maksudnya bagaimana?


"Aku bukan minta saran, aku minta kau ceritakan." Aku berdiri miring untuk bisa memperhatikannya dengan jelas.


"Kalau kau udah tau, kau mau apa?" Wajahnya terlihat ketus.


"Maksudnya gimana, Bang? Memang ada apa?" Aku merasa ada makna rahasia di balik ini semua.


"Ck…." Bang Ken memutar posisinya, seperti posisiku sebelumnya.


"Kau betul pengen tau?" tegasnya yang langsung aku angguki.


"Ini bukan hal yang bagus sebetulnya. Abang milih bungkam, biar kau tetap baik-baik aja. Mungkin Abang pun ada salah, tapi Abang tak mau disalahkan dengan kejadian ini. Abang tekankan, bukan Abang yang mulai dan ngawalin. Abang pun udah tahan-tahan, Abang pun inget posisi, Abang pun tau posisinya salah. Abang tak akan cerita panjang lebar, begini dan begitu. Terus minta kau bandingkan keterangan Abang, dengan keterangan Novi. Karena Abang tau, pasti ada kebohongan di sini. Penjelasan bagaimanapun, pasti ada yang ditutupi. Tapi, mungkin dengan ini kau paham sendiri. Sebelumnya, Abang tak ada kontak fisik dengan perempuan lain." Bang Ken membuka kancing teratas pada kemejanya.

__ADS_1


Kemudian, ia menunjukkan…..


...****************...


__ADS_2