Istri Sambung

Istri Sambung
IS235. Ulti dalam mobil


__ADS_3

Celotehan Canda, membuat mamah memberikan izin agar aku bisa menjadi salah satu supir mereka untuk pergi keluar kota. Yang membuatku tidak ikhlas kali ini adalah, sosok Novi yang ikut dalam kendaraanku.


Meski di sampingku ada istriku yang sering menyentuh lenganku, tapi rasa tidak nyaman itu hadir karena Novi terus menyindir kami. Kali ini, ia lebih-lebih gila karena menarik perhatian anak-anak.


"Kak Kal, Adek Kaf, kalian bakal punya mama baru lagi loh." Aku bisa melihatnya mengusap kepala anak-anakku yang duduk di samping bersamanya.


Semua anak bang Givan dan para pengasuhnya, benar-benar ikut dalam liburan kali ini. Empat pengasuh dan empat anaknya, ikut dalam mobilnya. Ra dan istriku berada di mobilku, dengan Nahda juga tentunya. Beserta Jasmine dan Hala, pengasuhnya. Kemudian dua anakku dan Novi.


"Ya, itu Tante Cantik kan? Terserah Papa aja udah, aku tetap ikut nenek," jawab Kal terdengar malas-malasan.


"Aku juga ikut nenek aja udah," timpal Kaf yang kepalanya muncul dari sela kursi kemudi ini.


"Mama…. Mau jajanan. Kentang gulung yang tadi buru-buru aku kemas itu mana?" Suara manja Kaf melebihi bayi. Ia sudah seperti anak mami.


Aku tak yakin mereka akan tetap menjawab sama, jika tahu bahwa ibu sambungnya adalah Aca. Mereka tak mungkin masih memberatkan neneknya, yang ada malah langsung minta ikut tidur ditemani Aca.


"Dimakan Papa."


Mataku membulat mendengar jawaban Aca. "Ehh, mana ada!" Aku tak pernah memakan makanan anak-anak, jika tidak diberikan oleh tangan mereka sendiri.


Karena mereka pasti menanyakan makanan mereka yang kita makan, jika kita memakannya tanpa izin.


Tawa Aca begitu lepas. Ia seperti tidak terbebani, dengan sindiran yang terus menerus Novi berikan.


"Ini nih, masih ada kok." Aca membuka tasnya yang ditempatkan di atas dasbor.


Ra berada di pangkuannya, dengan Nahda yang bergabung bersama Novi dan kedua anakku di bangku kedua. Ra bukan anak kandung Aca, tapi begitu lengket dengannya.


"Mayonesnya benyek kecampur kentang gulungnya, Ma." Kaf merengek manja.


Aduh, sudah seperti pada ibunya saja.


"Buang aja kah?" Aca memutar kepalanya meladeni Kaf tersebut.


"Tak mau, mau dimakan." Kaf tetap mengambil makanan tersebut.

__ADS_1


"Hmm, dasar anak Ghifar!" Aca kembali membenahi tasnya, kemudian duduk manis dengan mengusap-usap salah satu kaki Ra yang naik ke atas dasbor.


Anak bos memang beda. Sopan santun bisa dibelinya, yang penting kenyamanannya nomor satu.


Aku mendengarkan Kal, Kaf dan Nahda yang berbicara terus menerus. Mereka sambil membahas bentuk kendaraan yang lalu lalang, dengan memakan makanan milik Kaf yang sudah tidak indah dipandang lagi. Aku yakin, mereka akan menjadi kakak beradik yang akur.


"Kalau punya mama baru tuh, nanti punya adik lagi loh. Papanya nanti sayang ke adik baru, dikurangin kadar sayang ke Kal sama Kaf."


Maksudnya apa ia merusak pikiran anak-anakku seperti ini?


"Iya tau, sepuluh ribu nanti dibagi tiga sama adiknya."


Aku tidak percaya, karena Aca malah ikut merusak pikiran anak-anak.


"Iya, Tante Cantik memang begitu, Ma. Makanya mending sama nenek aja udah aku sih. Waktu itu aja, sepuluh ribu aku suruh barengan sama Kaf."


Loh? Kenapa bisanya Kal malah menjelekkan Novi? Apa karena Novi pernah menjadi ibu sambung mereka kemarin? Lalu, cara Novi seperti itu dan membuat mereka berpikir demikian?


Aca tertawa lepas dengan menoleh pada anak-anak. "Betul kan?" Aku mendengar suara jari yang beradu.


"Ya, aku pun dikasih kentang gulung yang ukurannya sama pagi tadi. Aku, Kaf, kau, Ra, sama yang lain, ukurannya sama semua," tambah Kal dengan suara serenyah kacang sangrai.


"Iyalah, Mama gitu loh." Aca begitu sombong dengan membenahi moncong hijabnya.


Oh, jadi nilai rupiah menjadi perdebatan. Tapi, nilai ukuran yang penting harus sama begitu? Konsep adil kah yang dipakai di sini?


Silahkan lah, Nov. Langsung saja main ulti dengan suhunya, jangan denganku. Karena aku pasti akan kalah. Berdebat saja aku kalah, apalagi ulti.


Banyak percakapan yang menjadi topik pembicaraan anak-anak ini. Novi pun malah tertidur. Aku yakin ia memilih tidur, karena kalah dengan ulti yang diberikan Aca.


"Kata Canda singgah makan dulu, dia lapar katanya." Aca mungkin tengah membaca pesan dalam ponselnya.


"Iya gitu, kita di belakang mobilnya," jawabku kemudian.


Aku baru mengetahui, jika Aca dan Canda ini serupa BESTie dalam kekeluargaan. Ya menurutku, bertambah lah jumlah teman ngerumpi Canda. Karena sebelumnya pun, memang Canda akrab dengan semua keluarga. Dengan Giska apalagi, ia sampai bertukar pakaian.

__ADS_1


Pakaian gadis Giska jarang terpakai, lalu diambil alih Canda. Koleksi daster modern Canda banyak dan berbagai motif dan corak, membuat Giska begitu ngiler ingin memilikinya.


Aku jadi teringat Novi, yang hanya mendekati Canda ketika ia ingin mengorek masa laluku saja. Mungkin awalnya hubungan keakraban Canda dan Aca terjalin karena Aca mengurus anak Canda, tapi mereka kini sekarang menurutku sudah lebih dari hubungan antara majikan dan pekerjaannya.


"Makan di saung Sunda katanya, mau mengulas kisah kaburnya Canda dan diberi ATM isi ratusan juta katanya." Aca mengarahkan layar ponselnya pada wajahku, dengan dirinya terkekeh kecil.


"Hari pertama aku dan Kin ribut besar setelah itu." Aku pun malah meladeni tawa kecilnya.


Aku mengatakan para Canda bahwa Kin memakluminya, hanya untuk kalimat penenang saja. Karena nyatanya, mulai hari itu Kin mulai aktif menyiksa tubuhku. Sindromnya mungkin sudah mulai serius masa itu, sayangnya aku tidak peka.


"Nyampe saung, keknya Givan yang bad mood di sini." Ia tertawa bertambah geli.


"Aku geli sendiri, kalau nampak wajah marah Givan karena istrinya itu. Segitu wajah sampai merah padamnya, beberapa detik kemudian langsung ngakak aja karena tingkah istrinya. Keknya, komedi betul ini Canda untuk Givan." Aca masih sibuk dengan ponselnya.


"Beberapa bulan di awal nikahan aku kemarin, dia bawa istrinya pergi karena rahasia aku bocor."


Eh?


Aku langsung menutup mulutku, karena kebablasan bercerita. Sedangkan, pelaku pembobol rahasia itu ada di bangku kedua.


"Oh, apa itu?"


Aku melirik istriku sekilas. Lihatlah, dalam wajahnya tidak terlihat raut marah sama sekali.


"Aku belum bisa move on dari Canda selama sebelas tahun. Udah tuh, bang Givan langsung bawa lari istrinya. Padahal nih ya, istrinya jelas nolak masa aku ajak main kotor. Jelas di sini, bahwa istrinya pun berat ke dirinya. Segitu diberatkan Canda juga, tetap kalang kabut dia."


Istriku malah merespon dengan tawa ringan. "Dia takut kalau kejadian Canda direbut balik sama Papa. Lebih-lebih, dia mungkin takut Canda hamil anak Papa." Ia seperti seorang teman yang merespon pembicaraan sensitif.


"Gimana bisa hamil, kalau bujuknya aja susah?"


Tawanya meledak seketika.


"Berarti itu kejadiannya masa beristrikan aku kan?"


Ehh??? Dia tidak tidur???

__ADS_1


...****************...


__ADS_2