Istri Sambung

Istri Sambung
IS307. Hifzah Raudhah


__ADS_3

"Kau jangan ngomong aja ya, Bang! Kau malah nangis-nangis pas Canda lahiran, lebih dari aku ini." Aku kesal karena bang Givan terus menyuruh untuk tenang. Aku tahu bagaimana gilanya dirinya saat Canda kolaps, masa disesar melahirkan Ra.


Ia terkekeh. "Ya aku kan kasian, tenang aja. Sini duduk." Bang Givan menepuk tempat di sebelahnya.


Asal kalian tahu, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Aca harus dioperasi. Masalahnya satu, air ketubannya tinggal 1 sentimeter katanya, tetapi Aca tidak kunjung kontraksi. Aku tidak mengerti, kenapa banyak lahiran yang harus dilakukan operasi sesar. Meski jalan keluar dari masalah yang ada, tapi kenapa hanya ada pilihan operasi?


Bukan aku tak ingin mengurus istri pasca operasi, hanya saja aku takut jika istriku dioperasi. Bukan hanya satu kasus, seorang wanita tidak kuat hidup pasca operasi. Tapi banyak cerita, tentang mereka yang meninggal pasca operasi. Ya memang cerita yang menyertainya banyak, ada yang jatuh di kamar mandi. Ada yang pendarahan di bagian luka operasinya, dua contoh tersebut terjadi di daerahku. Aku yakin tenaga medis itu mampu, makanya menggelar acara penyelamatan bayi dan ibunya dengan melakukan metode operasi. Tapi, aku takut jika menimpa istriku.


"Memang Mas Givan begitu hebohnya kah?" tanya Canda kemudian.


Aku melirik bang Givan, dengan dirinya melirik Canda dan tersenyum tipis. Entahlah, konsep apa itu. Aku tidak berniat menjelaskannya juga sekarang, karena pikiranku sedang kalut sendiri.


Aku tidak ikut menemani Aca di ruang operasi, karena permintaan Aca sendiri. Mungkin, istri yang keras kepala itu paham jika aku sudah sulit mengontrol diriku sendiri. Apalagi, jika melihatnya hanya diam ketika disayat-sayat. Mungkin, aku bisa jatuh pingsan dan merepotkan tenaga medis yang sedang bekerja.


Kepanikan sedikit mereda, ketika tenaga medis memberikan seorang bayi mungil berkulit sawo matang sepertiku untuk segera diadzani. Begitu haru, saat aku mengumandangkan adzan di telinga bayiku.


Bayi perempuanku, anak bungsuku untuk saat ini. Lihatlah, ia begitu mirip dengan aku, ia begitu mirip dengan papanya. Wajahnya yang teduh, tidak seiras dengan tenaganya yang kuat menendang dan menangis. Jangan khawatir, nak. Kau pasti papa akui, meski jarak memisahkan saat ibu kau mengandung dirimu.


Tangisnya tak kunjung mereda, anak perempuanku terus menangis di dekapanku ini. Sampai papah pun enggan untuk mengambil alih, berniat untuk mengadzani ulang dan meniupkan doa. Karena sudah terbiasa seperti itu, ketika cucu-cucunya lahir. Bayiku kembali ke dekapan suster lagi, tangisnya tetap begitu jelas terdengar.


"Apa dia ngerasain sakit, Sus?" tanya papah yang berdiri di dekat pintu ruang operasi.


"Tak, Pak. Kalau bayi nangis kesakitan itu merintih, kalau ini memang cikal bakal cerewet aja keknya. Anak perempuan, Pak. Maklum." Suster malah membuat gelak tawa untuk keluargaku.


Aku sudah feeling, pasti ia akan cerewet seperti Aca dan mamah. Semoga, keras kepalanya tidak menempel dari ibunya.


"Saya permisi dulu, Pak. Mau IMD pun susah, dari tadi bayinya nangis terus. Udah cukup lama dia keluar ini, cuma nangis terus pas ditaruh di atas dadanya ibunya. Jadi kitanya panik sendiri."


Siapa yang tidak panik memangnya? Bayi ini menangis lepas, begitu keras dan nyaring. Eh, aku familiar dengan suara keras dan nyaring. Aku yakin, itu adalah sumbangan suara dari Ra. Aca terlalu banyak meneriaki Ra, membuat bayinya kiri seberisik Ra.


"Udah lapar dari tadi dia keknya," timpal papah dengan menunjuk cucu barunya dengan dagunya.


"He'em, iya. Entah karena kaget diberi suntikan tadi. Kami permisi dulu ya, Pak? Salah satu keluarga boleh ikut untuk isi data bayi di ruangan bayi."


Papah langsung mengangguk dan mengekori suster tersebut. Sekarang, aku tinggal menunggu Aca keluar dan dipindahkan ke kamar inapnya.


Aku harus menyiapkan mental, melihat Aca menangis dan menggigil. Dua kali sesar pada Canda, dua kali juga aku melihatnya menggigil hebat pasca operasi. Yang kedua, ia teralihkan dengan obrolan. Meski tetap ia menggigil dan menangis melulu.


"Mau kau kasih nama siapa, Far?" tanya Canda kemudian.

__ADS_1


"Maghfiratunnisa tuh, Far," usul bang Givan. Ia selalu menggunakan usulan namaku, apa aku perlu menggunakan usulan namanya?


"Itu nama si Fir'aun, Mas!" Canda memukul paha suaminya.


"Fira sih Cut Maghfirah, beda lah." Bang Givan seperti memaksa.


Aku tidak mau nama anakku mirip author. Aca sudah sawan Canda, bayiku sawan Ra. Aku tidak mau juga Aca maupun bayiku mendapat sawan dari author karena namanya mirip.


"Hifzah Raudhah, Far. Malaikat pelindung yang rindang, atau bisa diartikan subur. Hifzah Wafaa, malaikat pelindung yang setia." Mamah memberikan usulan nama yang lebih baik.


Tidak ada yang memiliki arti berhati lembut dan pemaaf kan? Oke, tidak masalah. Aku tak mau jika memiliki nama yang sama sepertiku, nanti anakku malah sepertiku lagi.


"Nanti dua nama itu aku kasih tau ke Aca, Mah." Bertepatan dengan ucapanku, pintu operasi dibuka dan ada brankar didorong oleh dua perawat.


Itu adalah Aca.


Aku bergegas membantu mendorong brankar tersebut, dengan memperhatikan nya yang masih pucat.


"Apa yang dirasa, Ma?" tanyaku kemudian.


"Kek lapar."


"Boleh makan setelah dua jam masa anastesi ya, Bu. Nanti kami beritahukan, kalau memang sudah diizinkan makan," terang salah satu perawat.


Aca hanya mengedipkan matanya rapat, tanda ia mengerti. Aca terlihat lemas, seperti mengantuk juga.


Tidak seheboh Canda dan tidak seperti bayanganku. Aca hanya meringis dan menyeka keringatnya di dahinya, ketika ia mulai merasakan sakitnya. Keringatnya adalah keringat dingin, dengan gigi yang bergemletuk.


Aku sudah memanggilkan dokter untuknya, Aca pun sudah disuntikkan obat untuk meredakan nyerinya. Zaman sekarang sudah banyak rumah sakit di Jakarta, yang menawarkan persalinan sesar tanpa sakit. Harganya lumayan tinggi, dengan fasilitas bak hotel bintang lima.


Kalau ada di daerahku, sudah kudatangi tempat tersebut. Tapi tadi adalah urgent, kami pun langsung merujuk Aca ke rumah sakit terdekat saja. Karena air yang mengalir itu langsung banyak, bukan rembes ketuban lagi, tapi seperti benar-benar pecah besar.


"Ca, Mamah kasih nama untuk anak kau. Menurut kau, bagus Hifzah Raudhah atau Hifzah Wafaa?" Mamah tengah mengalihkan perhatian Aca dari rasa sakitnya.


"Raudhah aja, Mah. Biar sama kek Nahda, da begitu belakangnya." Aca mengambil pilihan pertama.


"Raudhatul Athfal boleh juga tuh." Bang Givan mengusap-usap dagunya.


"Kenapa tak sekalian taman kanak-kanak aja?!" ketus Aca dengan melirik bang Givan.

__ADS_1


Eh, bisa marah juga ia di tengah keadaannya yang seperti ini.


Bang Givan tertawa renyah mendapat respon Aca yang seperti itu. Raudhatul Athfal memang disingkat menjadi RA, setara pendidikan TK.


"Hifzah Raudhah berarti ya, Ma?" Aku memastikannya lagi dengan mengusap keringatnya.


Ia mengangguk. "Dipanggil Raudhah," timpalnya kemudian.


Kenapa aku malah teringat dengan Rauzha? Ia akhirnya dipanggil Roza di sekolahnya, karena tiga suku kata kurang singkat untuk sebuah nama panggilan.


"Janganlah! Nanti jadi Roda dipanggilnya." Aku langsung menolak untuk ini.


Aca menahan tawa, dengan merapatkan bibirnya. Sedangkan keluarga yang lain, malah sudah tertawa lepas.


"Ambil adeknya sih, Pa. Mau lihat, mau ASI gitu, biar boleh." Aca memberikan tatapan penuh harapan.


Aku segera mengangguk. "Aku coba ke sana ya?" Aku berpikir sekarang pun Aca sudah teralihkan dari rasa sakitnya.


Ternyata berhasil, bayiku diantarkan perawat ke kamar inap Aca. Bang Givan dan papah menunggu di luar kamar, karena Aca akan dibantu untuk menyusui oleh perawat.


Anak bayiku terlihat tidak sabaran, ia mengamuk dengan melahap cepat ujung dada ibunya. Sesekali ia menangis dan memukul dada ibunya karena ASI-nya belum keluar dengan lancar.


"Sabar, Nak." Aku memahami kekesalan pada bayi baru lahir ini. Baru dilahirkan, ia sudah emosi saja.


Bukannya panik, sedari tadi Aca malah terkekeh pelan terus. Amukan bayi itu, seperti humor untuknya.


"Alhamdulillah, udah mau anteng," ucap suster yang membantu menposis bayi kami.


Ngereog saja bayiku ini. Aku berpikir aliran ASI sudah mulai lancar, makanya ia anteng menikmati dengan suara rengekan yang mereda. Ia mulai nyaman, dengan matanya yang terpejam.


Aku memandang wajah istriku yang tersenyum bahagia dengan penuh kasih. Tidak mudah untuk merasakan kebahagiaan sederhana ini, mesti saja ada rasa sakit di dalamnya.


Istriku, kau telah sukses mengambil hatiku dari sisa-sisa rasa masa laluku yang kurang beruntung. Kau telah berhasil mengambil hati dua anakku, yang ditinggal ibu kandungnya di usianya yang masih belum mengerti tentang kehidupan ini. Kau telah berhasil memberiku hadiah yang aku inginkan, yaitu anak perempuan yang memiliki wajah teduh. Suka ngereog dan menangis keras, mungkin bonus karena Ra selalu mendoakan agar adiknya dari kami kuat sepertinya.


Jadilah anak yang beruntung, Nak. Anak sholehah, baik budi, baik akhlak dan beradab. Semoga kau bisa memuliakan dan berbakti pada kedua orang tua kau, Nak. Jadilah pandai agama, agar kau tidak tersesat di dunia ini.


Kebahagiaan yang sempurna, kehidupan yang sempurna, kelengkapan yang sempurna. Semoga, Aca adalah istri terakhir untukku, meski ia bukan yang pertama. Semoga petikan dari ceritaku ini, bisa menjadi sumber bacaan yang bermanfaat untuk kalian semua.


...T A M A T...

__ADS_1


__ADS_2