Istri Sambung

Istri Sambung
IS202. Perdebatan Givan


__ADS_3

"Kalau aku tak hormati dia, tak jaga dia, tak nganggap dia kakak ipar, mungkin salah satu anaknya kemungkinan anak aku. Itu bukti aku memiliki batasan dengan istri kau, Bang." Aku bertutur santai dan halus, meski nyatanya aku merasakan lain di hatiku.


Bang Givan seolah ingin mengajakku berperang terus, apalagi jika sudah bercakap-cakap tentang istrinya.


"Terus kenapa kau bahas lagi?!" Dengarkan pemirsa, bahkan ia malah berseru.


"Aku nanya Aca di sini. Betul kan sama kau dia ini?" Aku beralih untuk duduk di sofa yang sama dengannya. Karena jarak dari kursi kerjaku ke sofa lumayan jauh.


"Iya, kenapa? Aku pun pertama kalinya sama dia. Kau jijik kah sama perempuan itu? Itu kejadian udah lama, Far! Bahkan, aku tak jijik sama bekasan kau sendiri. Padahal semalamnya sama kau kan? Paginya sama aku."


Maksudnya?


Aku mengerutkan keningku, mencoba menyimak keterangannya. Perempuan mana yang bekas aku? Novi kah Kin?


"Siapa?" Aku bertanya, karena aku tidak mengetahui pasti siapa yang bekas aku.


"Canda." Ia tetap menatap plafon ruanganku.


Hmm….


"Dia menyerahkan diri, bahkan tak aku ambil itu, Bang. Dia mau kuapakan aja, asal aku jangan tinggalkan dia. Bekas di mananya? Cuma cium-cium itu? Bahkan kau kan lebih dari itu sama Aca. Apa aku ada jijik? Tak juga tuh, Bang. Lagian kan aku cuma nanya, urat kau udah macam aku ngajak ribut aja."


Feelingku sih dia cemburu, hanya saja memang gengsi.


"Biar apa kau ceritakan Canda sampai segitunya sama aku?"


Tuh kan? Fokusnya malah tentang Canda.


"Biar kau cemburu." Aku langsung tertawa lepas.

__ADS_1


Mendarat tepat di wajahku, bantal sofa yang dilempar dari jarak dekat itu.


"Kenapa kau tanya-tanya begitu?! Kau suka Aca, ya udah aja nikahi. Aku yang tak sengaja buka segelnya kan, suaminya juga yang akhirnya hamili dia. Toh, kalau pakdhe Arif setuju. Aku nikahin dia kok, aku udah bilang ke mamah juga masa itu. Tapi, pakdhe bebankan restu. Tak mau nanti renggang lah, misalkan jodohnya tak lama. Tak mau jadi besan antara kakak dan adik lah. Ditambah lagi alasannya, katanya tak umum menikah antar sepupu itu. Ya terus aku mesti gimana? Maksa restu begitu? Keknya itu terlalu berat, karena calon besan mamah ya kakaknya sendiri. Khawatirnya malah mereka jadi renggang, kalau misalnya aku nekat hamili dia biar dapat restu. Kak Aca juga jawabnya, ya kalau jodoh tak ke mana. Dia tak maksa restu dan harus nikah masa itu, meski aku tanyakan beberapa kali."


Loh? Kak Aca tidak bercerita seperti ini padaku.


"Kejadiannya kapan?"


"Aku SMA, dia SMP. Tapi kan, untuk menikah ini kan bisa nanti kalau lulus sekolah. Masa itu, kita tunangan dulu gitu. Kau di tante Zuhra masa itu, jadi tak tau perdebatan ini."


Perawannya hilang di usia yang begitu dini? Pantas saja ia pernah berganti laki-laki beberapa kali, karena memang usia itu ya umur-umur mereka penasaran.


"SMP juga badannya udah kek Zaskia Gotik. Kalau pakai pakaian sekolah sih, ya nampak kek gemuk aja, karena dia pakai rok payung gitu. Tapi kalau pakai bebas kan, udah tuh nampak badan udah balighnya," lanjutnya kemudian.


Aku sudah ngap-ngapan mendengarnya mendeskripsikan tentang istri rahasiaku.


"Kok bisa-bisanya loh, Bang?" Aku meliriknya dan menggeleng berulang. "Aku dapat seleksi kau terus." Mungkin aku tengah menggerutu sekarang.


Ia malah tertawa lepas, ketika aku meliriknya dengan tajam.


"Kapan nikah? Abang mesti sumbang apa? Dangdutan kah? Atau buroq masa kita sunat dulu?" Ia malah mengajakku bergurau.


Masa lalu tidak bisa dirubah. Ditambah lagi, bang Givan pun membenarkan dan malah menceritakan niat awalnya untuk menikahi istriku di masa dulu. Bukan masalah aku keberatan, atau tidak bisa menerima masa lalu pasangan. Yang aku pikirkan, kenapa hasil jamahan kakakku lagi?


"Mau yang benar-benar segel pabrik ya Ria tuh. Tapi kau paham sendiri aja sifatnya. Sama Ra aja, dia berantem terus. Dia ngemong Key, malah asyik sendiri dia main Barbie." Ban Givan malah menarik adik iparnya.


Aku sedikit trauma dengan perawan, khawatir dia tidak bisa mengerti akan diriku dan kewajibannya. Belum-belum, cemburuan seperti Novi.


Aku sudah mentok dan cocok dengan kak Aca. Seribu tawaran tentang perempuan, aku lebih memilih untuk meresmikannya saja. Ketimbang menceraikannya, lalu menggantikannya dengan wanita baru.

__ADS_1


Mungkin saja wanita baru lebih menarik dari yang kita punya, tapi hanya istriku yang akan mengerti tentang diriku dan kewajibannya. Bahkan Novi yang dulu masih berstatus sebagai istriku saja, lebih memilih kabur saat melakukan kesalahan.


"Tak, Bang. Aku pilih janda anak satu aja."


Persetan dengan bekasnya. Bahkan aku menyayangi sepenuh hati keturunannya dengan suami terdahulunya.


"Iyalah, tak usah diajari lagi. Udah paham tugas-tugas rumah tangga, udah ngerti tugas seorang istri. Tinggal menata hati dan memfasilitasi aja. Agak lain lagi kalau jandanya modelan Canda kemarin. Tak disuruh, tetap tak gerak. Tak diminta, dikiranya tak butuh. Main sama anak, malah dititipi anak terus dianya tidur."


"Yang itu pun buat aku aja tak apa, Bang. Aku siap memfasilitasi juga." Aku hanya bergurau dengan nada serius.


Kini, bantal kedua sudah melayang.


Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya. "Kalau keadaan di sini tak lagi kacau, udah kubawa dia ke luar pulau lagi." Ia malah pergi dengan gerutuan hebat.


Modelan bang Givan yang sejak kecil diurus oleh pakdhe Arif saja, beliau menolak untuk memberikan restu. Apalagi modelan aku, yang memiliki darah seberang pulau meski anak dari adiknya sendiri.


Apa mungkin, beliau tahu tentang papah yang memiliki sifat tempramen dan suara lantang. Membuatnya tak mau, jika anaknya memiliki suami yang sukar mengamuk.


Tapi malah sifatku tidak sekasar bang Givan, meski aku memiliki darah seberang. Ya menurut kepercayaan orang Jawa, termasuk mamahku. Orang dari seberang pulau itu galak, padahal apa orangnya saja. Ada yang galak, ada yang lembut. Umumnya manusia saja, seperti pada di Jawa. Namun, memang logat bicaranya kadang mengagetkan. Tidak begitu lembut apalagi mendayu-dayu.


Drrtttttttttttttttttttt…..


Ada yang menelponku.


Novia? Kenapa dia?


"Ya, hallo." Aku segera menerima panggilan telepon tersebut.


Suara grasak-grusuk tidak jelas, seperti jaringan yang begitu sulit sinyal.

__ADS_1


"Hallo, Nov. Ada apa?" Aku mengulangi beberapa kali, karena tak kunjung mendapat jawaban darinya.


...****************...


__ADS_2