
Aku memangkas ucapannya, "Kemarin pun kau udah janji, Nov. Tapi, tetap kau ulangi hari ini." Sudah kuduga, suaraku terdengar bergetar.
"Abang aja nyatanya gitu, udah janji tapi tetap aja Canda terus." Novi masih bersimpuh di hadapanku.
Jadi, Canda lagi?
"Dia lagi bersalin, Nov. Aku pun di sana buat disuruh beli ini dan itu. Bayinya lahir tanpa persiapan apapun, aku standby di sana karena diminta bang Givan." Aku jujur di sini.
"Tapi apa pantas, kau balas aku dengan pengkhianatan begitu? Kalau kau memang pengen udahan, tak kek gini caranya. Mumpung kita belum punya keturunan, jadi kalau mau u…." Mulutku dibekap oleh papah.
Aku melirik beliau. Mamah pun menarik Novi, untuk bangkit dari posisinya.
"Benahi! Benahi! Anak-anak tinggal di sini, sana kau pulang ke rumah bawa istri kau. Baru seumur jagung, udah lancang bawa-bawa pisah. Balik sana! Jangan jemput anak-anak, kalau belum bisa benahi hubungan kalian!" Papah mendorong bahuku ke depan.
"Bang…." Mamah menatap tajam suaminya.
"Pernikahan bukan mainan, Dek. Mereka sendiri yang mutusin buat nikah, bukan paksaan dari kita. Apa salahnya dulu pacaran dulu? Biar saling kenal. Nyatanya, anak Adek milih buat langsung nikah. Udah disahkan, malah ribut pisah." Suara papah langsung meninggi.
"Tapi tak diusir malam-malam begini juga, Bang." Suara mamah pun ikut tingginya saja.
Aku membuat orang tuaku bertengkar.
"Udah! Sana pulang!" Papah bangkit, kemudian berjalan ke arah pintu samping dan membukanya.
"Sana pulang, Nov! Ikut suami kau!" Bentak papah, dengan menyorot tajam pada Novi juga.
"Sana, Far. Nurut dulu sama Papah kau." Mamah bangkit dan mengusap bahuku, "Susah orang darah tinggi kalau udah ngamuk gini," ujar mamah dengan suara pelan.
Aku bangkit, lalu berjalan menuju pintu samping. Novi pun, mengikuti langkah kakiku dari belakang.
Aku jadi bingung sendiri. Aku butuh bantuan orang tua, tetapi orang tua malah mengusirku. Apakah aku diminta untuk memperbaiki rumah tanggaku sendiri? Namun, kenapa anak-anakku ditahan?
"Gandeng istri kau, Bodoh! Dini hari ini, jalanan masih gelap."
Aku sampai tersentak kaget mendengar suara keras itu. Sabar-sabar hati, menghadapi orang tua yang darah tinggian begini.
Aku berhenti sejenak, lalu membiarkan Novi untuk berjalan mendahuluiku. Aku tidak menyentuhnya, aku memilih untuk tetap berjalan di belakangnya.
Hingga sampailah di rumah, aku memilih untuk ke kamar lain saja. Aku masih ingin menenangkan diri dan mengekspresikan emosiku tanpa merugikan orang lain. Yaitu, dengan cara menyembunyikan wajahku di bawah bantal.
__ADS_1
Aku bagaikan anak perempuan, yang begitu cengeng dan mudah menangis. Karena memaki dan menyumpahkan orang lain tak membuatku puas, yang ada permasalahan makin melebar. Masalahku bukannya cepat beres, tetapi malah semakin runyam.
Kleb…..
Aku mengangkat bantal yang menutupi wajahku, untuk melihat makhluk apa yang masuk ke kamar tamu ini. Seketika aku langsung menutup kembali wajahku dengan bantal, setelah mengetahui bahwa orang tersebut adalah Novi.
Aku tak ingin terlihat lemah di matanya. Ia akan sering membuatku seperti ini, jika ia tahu aku ternyata selemah ini.
"Bang…. Kita tidur di kamar kita yuk?" Novi naik ke atas ranjang.
Aku tidak meresponnya, aku tetap menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Bukannya ia saja sana yang tidur di kamarnya sendiri. Segala menggangguku di sini.
"Hmm…." Novi menempatkan tangannya di pinggangku.
Sesaat kemudian, kakinya naik ke atas kakiku. Aku membiarkannya sendiri, aku tidak meresponnya atau menepisnya juga.
Aku melampiaskan rasa lelahku, dengan memejamkan mataku hingga pulas. Sampai akhirnya, usapan lembut membangunkanku bersama adzan subuh yang berkumandang.
"Sholat dulu, Bang. Nanti tidur lagi juga tak apa." Novi mengusik tidurku, dengan mengangkat bantal yang menutupi wajahku.
"Hmm." Aku hanya bergumam saja.
Cup….
~
"Coba endus baunya, Pa." Kin membuka kancing teratas pada kemeja malamnya.
Aku langsung menunduk, kemudian menyesapi aroma segar dari belahan part depannya yang menyembul. Aku suka sekali dengan benda ini, ditambah aroma wangi yang menggugah selera.
"Wangi, aku suka." Tanganku merambat untuk bisa menggapai hidangan yang terbelah itu.
"B*e*st rejuve and tightening ya, Pa? Nanti aku puaskan malam ini."
Aku tergelak, cukup paham dengan maksudnya. Ia menginginkan perawatan kecantikan, semacam filler p*y*da*a.
"Oke, selagi aman buat kesehatan Mama." Aku langsung membuka pengait celanaku dan menurunkan resletingnya.
Kin tersenyum lebar, ia mengerti maksudku.
__ADS_1
~
Rasanya, wajahku sudah terlihat cabul sekarang karena memiliki minat di subuh ini. Katakanlah, ini serangan fajar.
"Demam kah, Bang?" Novi menempatkan tangannya di dahiku.
Aku memandang wajahnya, ini adalah perempuan yang berbeda. Namun, harumnya sama.
"Kau wangi betul." Aku menurunkan pandanganku pada lehernya dan semakin turun ke arah part depannya.
Kin setelah filler payuda*a, akan terlihat sekencang milik Novi. Namun, pasti menyusut kembali setelah habis jangka waktunya. Kin mau kesakitan, kala tahu bahwa aku menyukai part depan yang besar dan kencang. Yang terpenting menurut Kin adalah, aku tidak membuangnya dan meninggalkannya.
Aku tak menuntut harus kencang dan besar juga. Aku tahu, bahwa Kin mengalami penurunan part depannya pun karena menyusui anakku. Sebelum ia memiliki anak pun, bentuknya bahkan lebih besar dari istri perawanku ini.
"Ya, aku udah mandi. Ayo jama'ah, atau aku duluan aja?" Novi tersenyum lebar.
Aku ingin.
"Apa kau bisa penuhi mauku?" Aku memandang wajahnya kembali.
"Ya, pasti. Asal aku dapat maaf dari Abang."
Persetan dengan maaf, toh aku pun tidak diperbolehkan untuk berpisah oleh papah. Tetapi, awas saja jika aku tahu langsung bahwa Novi masih berusaha menghubungi Nando.
"Ini bukan lagi tentang maaf, Nov. Kalau sekali lagi kau ketahuan hubungi Nando, atau laki-laki lain lagi. Apalagi, kalau kau berani buat nemuin dia. Udah pasti, aku langsung proses tanpa minta persetujuan dari kau lagi." Aku memberinya peringatan.
Novi memandangku tegang, lalu ia langsung mengangguk.
"Aku pastikan, aku tak ulangi lagi. Abang pun, tak boleh mengesampingkan aku, ketimbang Canda lagi." Jadi, masih persoalan cemburu?
"Tolong bedakan titik kasusnya. Kemarin, Canda bersalin dengan membutuhkan bantuan saudara untuk beli ini dan itu. Aku tak berc*mbu sama dia, aku tak mojok sama dia. Cemburulah pada porsinya! Jangan sampai, orang-orang ngecap yang jadi istri-istri aku ini pasti kena Sindrom Othello." Aku bangkit dan menyibakkan selimut.
Hufttt, sekalipun dapat serangan fajar. Tapi tetap, pusakaku tidak memiliki pergerakan dan amunisi.
"Tunggu di sini, aku mau cuci muka." Aku berjalan ke dalam kamar mandi pribadi di kamar tamu ini.
Aku buang air kecil, menyikat gigi dan mencuci muka. Setelahnya, aku kembali ke ranjang dengan Novi yang masih duduk di sana dengan merapihkan ikat rambutnya.
Sangat terlihat seksi, ketika kedua tangannya terangkat untuk mengikat rambut.
__ADS_1
...****************...
🙈