Istri Sambung

Istri Sambung
IS80. Penjelasan


__ADS_3

"Dia ada ngomong apa, Bang?" Aku menegang di sini.


"Ngamer bareng kau." sahut bang Givan dengan menahan tawa.


Ngamer bagaimana? Aku tidak berlaku macam-macam dengan Fira saat di Bali. Aku pun tak pernah memulai kontak dengan Fira terlebih dahulu.


"Mana ada!" Aku mengambil tisu basah yang disediakan oleh Ra.


Aku mengusap tanganku, dengan tisu basah tersebut. Lalu menaruhnya di atas piring kotorku.


Bang Givan tertawa geli, "Terus ngapain di kamar?" tanyanya lirih.


"Kehujanan, makan di kamar. Lepas itu, ngobrol biasa. Tak ada sesuatu yang berbau seksual, tapi memang ada ketidaksengajaan." Karena berbohong pun akan tetap disudutkan oleh bang Givan.


"Apa itu?" tanyanya, dengan mengambil tisu basah juga.


Aku mengingat kembali ketidaksengajaan itu. Itu adalah hal yang di luar dugaanku, benar-benar tidak direncanakan.


Saat itu, Fira ingin membantu mengeringkan celanaku yang basah. Namun, ia malah menarik Black Mamba yang tidak memakai tertutup baju handuk saja. Karena, celanaku tersampir di atasnya. Maka saat Fira menarik celanaku. Tidak sengaja juga baju handuk dan Black Mamba itu terbawa.


Intinya benar-benar memalukan. Mana lemas, tidak berdaya dan kedinginan. Fira pun menahan tawanya, saat kejadian pembetotan itu terjadi.


"Udah aja lah, Bang." Aku langsung bad mood di sini.


"Ra…. Bilang tante Ria, suruh bikin kopi. Ra masuk, cuci tangan." pinta bang Givan, pada anak yang berselonjor menghalangi pintu itu.


Anak bos memang beda. Dari kecil sudah terlihat urat sombongnya.


"Ya, Yayah." Ra bangkit dan langsung berlari.


Setidaknya, anak itu menurut pada ayahnya.


"Bang…. Jadi kan aku udah dapat semua nih kerjasama di Bali itu. Terus, aku mesti gimana lagi? Besok aku kerja gimana?" tanyaku langsung, karena khawatir malah ia ada kesibukan lain.


"Libur aja dulu sok. Ria bisa handle kok, tinggal nanti kau ajak dia ke pasar malam aja." Bang Givan tertawa geli.

__ADS_1


"Masa iya ke pasar malam?" Bertepatan dengan aku berkata, Ria muncul dengan membawa kopi.


Urat wajahnya masam, dengan bibir yang mengerucut. Ya ampun gadis, tidak ada menarik-nariknya seperti kakaknya. Wajahnya, masih seperti wajah anak-anak.


"Bang…. Minta iPad." ungkapnya tiba-tiba, setelah menaruh kopi di atas meja.


"Kau kerja, Ria! Bukannya kau belikan diapers keponakan kau, karena kau udah dicarikan pekerjaan. Tapi malah minta iPad." Bang Givan geleng-geleng kepala.


"Nanti bulan depan ya, Dek?" Aku rasa, aku mampu untuk membelikannya.


"Sama nonton bioskop, terus beli popcorn. Aku mau dibelikan motor juga, soalnya capek nebeng sama karyawan."


Heh?


Bang Givan langsung tertawa lepas, dengan menunjuk wajahku. Adiknya Canda kenapa seperti ini? Perasaan, Canda tidak matre waktu dulu. Malah ia yang sering memberikan barang dan aku pun memberikannya barang kembali, tanpa dimintanya.


"Abang kau belum kaya, Ria. Nanti lagi minta motornya." ujar bang Givan, dengan meniup-niup kopinya.


"Ya, udah deh." Ria beranjak pergi dengan memeluk nampannya kembali.


Aku terkekeh kecil, "Iya, Bang. Terus ini masalah travel di Bali. Kan aku…………" Aku menceritakan segalanya pada bang Givan.


Sesekali aku menyeruput kopiku yang mulai mendingin, sesekali juga bang Givan meladeni Ra yang datang padanya. Anak itu belum tidur juga, sampai aku pamit pukul sebelas malam.


Usut punya usut, Ra bisa tertidur jika menghirup aroma ketiak ayahnya. Jika begitu ceritanya, bang Givan sekarang benar-benar terbelenggu dengan nyaman.


Di sinilah aku, tengah dipeluk oleh Novi di sofa ruang keluarga. Moodku langsung berubah, ketika sampai di rumah dan memandang wajahnya.


"Kangen sama Abang." Novi mencium pipiku dan mengeratkan pelukanku.


Ia bersikap seolah aku baik-baik saja padanya. Maksudku, seolah tidak ada masalah apapun pada kami.


"Kok diam aja sih, Bang?" tanyanya, dengan nafas yang terasa diarahkan ke ranjangku.


"Istirahat, Nov! Udah malam." Ungkapku lembur seperti nada bicaraku biasa.

__ADS_1


Padahal, hati ini terasa amat dongkol.


"Abang tak kangen aku kan? Apa di sana ada yang bangkitin selera Abang?" Novi mengusap rahang dan leherku.


Aku memutar kepalaku dan memandang wajahnya. Semenarik dan secantik ini wanitaku, tapi kenapa hati ini semakin sulit menerimanya? Padahal, awalnya aku yang memantapkan diriku sendiri untuk memilih Novi.


"Aku bukan laki-laki begitu, Nov!" Ini adalah sebagai bentuk peringatan untuk Novi, agar ia tidak meragukan akan komitmenku.


"Aku dengar kasus Abang dulu sama Canda, waktu Abang baru punya Kaf." Matanya memandangku begitu dalam.


"Cuma sama Canda." Aku tak bisa menepis kenyataan itu.


Apakah sampai sekarang aku belum bisa melupakannya? Sejauh hatiku meraba, tetap Kin yang masih bersemayam. Meski, aku tak pernah hidup tenang jika tidak melihat keberadaan Canda.


Novi tertawa sumbang, "Cuma." Ia geleng-geleng kepala, dengan melepaskan rengkuhannya padaku.


"Aku mau istirahat ya, Nov?" Aku bangkit dan hendak melangkah.


Namun, Novi mencekal tanganku.


"Di sini aja, Bang. Aku perlu ngobrol sama Abang." Novi menarik lembut tanganku.


Tanpa menoleh, aku kembali duduk di tempatku. Tepatnya, di sampingnya. Sepertinya, Novi memang menginginkan perdebatan.


Meski, aku sudah berusaha menghindarinya.


"Kal udah delapan tahun, dia harus bisa sedikit mandiri. Lagi pun, aku tau kira. Aku cuma minta dia ngepel di tempatnya bermain pasir ajaib tadi, karena sampai berantakan dan berceceran di sana. Setiap harinya, Kal aku minta dia nyapu dan ngepel kamarnya sendiri. Aku pun, minta dia cuci bekas piring kotornya dan beresin barang yang ia berantakin. Selebihnya, aku semua yang ngerjain tanpa terkecuali." Novi memandang kosong meja yang berada di hadapan kami.


"Cara kau salah!" Aku memandangnya dari samping sejak tadi.


Novi memutar lehernya ke arahku, "Karena sulung kita tak pernah mau tertib. Di mana ia duduk, perlengkapan sekolahnya di situ semua setelah dia pulang sekolah. Abang tau kalau aku suka kerapian. Dari sejak ada Abang, aku tiap hari gembar-gembor buat Kal simpan sepatu dan tas di tempatnya. Seragam yang masih dipakai pun, hendaknya digantung di kapstok bajunya. Bukan asal taruh aja, karena pernah kejadian seragamnya dikerubungi semut. Terus dia tak berangkat sekolah." Novi memutuskan pandangan kami kembali, dengan ia memilih untuk memandang meja di depannya.


"Hari kedua setelah Abang berangkat ke Bali, aku nampak Kal berani buka isi dompet aku. Aku tak langsung menegur dia, aku pun biarkan dia ambil beberapa lembar uangku. Bukan masalah jumlahnya, tapi pribadi Kal setelah ini. Kalau dibiarkan, anak itu makin tak terkendali. Sifat panjang tangannya khawatir semakin berkembang dan terampil. Setelah ketiga kalinya, aku langsung berdiri di belakang Kal yang lagi ngacak-ngacak isi dompet aku. Di situ dia panik, dia pun langsung alasan mau minta jajan tapi aku tak ada di depan matanya. Aku kasih dia teguran dan pengertian, akupun kasih tau dia tentang hukum syariat di sini untuk seorang pencuri. Aku pahami gerak-gerik Kal dan semua uang misteriusnya. Setiap dia pulang sekolah, aku minta dia cerita dan aku cek tas sekolahnya. Aku larang dia main untuk sementara, karena pernah aku izinkan main dia pulang dengan uang misterius lagi. Kalau dibiarkan, atau aku tak tegas. Sulung kita akan rusak, Bang. Dia keturunan orang baik-baik, tak pantas dia punya perilaku jelek kek gitu. Kal harus kita didik benar-benar. Ini semua, adalah bentuk tegas aku sama dia. Aku begini, karena aku sayang dan peduli sama dia. Aku tak mau, dia tumbuh jadi anak perempuan yang minus sifat baik seperti itu. Aku harap, Abang bisa maklumi dan ngertiin cara didik aku untuk Kal." Novi menggenggam tanganku dengan menyalurkan rasa tegas yang ia pancarkan.


Aku masih memandangnya, menelusuri setiap ekspresi yang ia pasang sekarang. Ternyata…..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2