Istri Sambung

Istri Sambung
IS77. Kerinduan Fira


__ADS_3

"Kenapa ngajak ke kamar sih?!" Aku menghempaskan alas dudukku di sofa yang paling dekat dengan jendela.


Aku sudah ketar-ketir, jika sudah dengan perempuan yang agresif. Fira sama saja dengan Kin, tapi skill-nya hebat Kin.


Beberapa kali, Fira pernah mencoba membangkitkan minatku dulu. Saat aku belum menikah dengan Kin, saat aku tinggal bersama dengannya di pulau ini. Semata-mata, hal itu karena Fira membutuhkan diriku.


"Kenapa sih?" Fira mendorong meja dorong, yang berisi makanan kami.


Fira duduk di sebelahku, dengan menghadap ke meja dorong berisi banyak makanan. Fira mengambil satu piring berisi pasta tadi, kemudian menyangganya dengan tangan kiri. Fira mulai menggulingkan garpunya, kemudian memasukkan ke mulutnya.


"Enak loh, Far." Fira menyodorkan ke depan mulutku.


"Kau bersih kah, Fir?" aku membuka mulutku.


"Sembarangan!!!" matanya sampai membulat sempurna.


Aku tertawa geli, dengan merapatkan mulutku yang berisi makanan. Sudah lama sekali, aku tidak berbincang dan bergurau dengannya.


"Kok enak ya kalau makan barengan?" aku mengambil kerupuk kulit yang berada di atas meja.


Aku menikmati kerupuk ini, dengan gulungan pasta dari Fira. Fira pun ikut menikmati makanan yang ada di sini juga. Kami memang rakus makanan. Hingga tidak terasa, makanan di meja sudah ludes tak tersisa.


"Far…. Aku gemas betul sama abang kau. Mau aku tolak kesepakatannya, tapi bilang Key mau dikasihkan ke orang tua aku. Bukannya dari awal, dia yang mau megang Key ya?" ucapnya, setelah meneguk minuman dalam kemasan botol.


Aku yakin, bang Givan hanya menggertak saja. Bang Givan sayang anak-anaknya, meski galak. Anak yang tidak pasti darah dagingnya pun, ia biayai dan didik sepenuh hati. Ya, Zio Pasha Putra. Kami sekeluarga sebenarnya meragu akan hal itu. Tapi Canda mau menerima, dengan bang Givan yang tidak keberatan.


Ya sudah, biarkan saja selagi memang tidak ada yang merasa keberatan.


"Memang kenapa kalau sama orang tua kau?" aku masih menikmati es campur ini.


Sayang, isinya masih banyak.


"Key tak terbiasa, pasti tersiksa buat dia. Aku tak mau dia stress, atau psikisnya rusak karena hidup bukan di lingkungan yang bikin dia nyaman." ucap Fira, dengan menumpukan piring-piring kosong.


Aku jadi teringat dengan anak-anak di rumah. Apa psikisnya rusak, jika dipaksakan hidup dengan Novi?


Tapi, aku menghadirkan Novi ya untuk mereka. Untuk anak-anakku, untuk kelangsungan hidup mereka. Agar mereka tetap memiliki ibu, memiliki panutan di rumahnya.


"Kau mikirin anak?" Aku hanya mengalihkan pembicaraan saja, agar tidak merasakan hawa sedih.

__ADS_1


Namun, Fira malah menepuk lenganku. Otomatis, gelas yang aku bawa bergoyang. Membuat isi gelas ini membasahi baju dan celanaku.


Aku menatap nanar celanaku yang terkena tumpahan es campur ini. Dinginnya Black Mamba yang tersiram air es campur, yang terasa lengket karena air gula.


Aku menghela nafasku. Kemudian menatap datar pada Fira. Bisa-bisanya, ia malah tertawa renyah.


"Dinginnya polllll." aku mengusap-usap celanaku dengan tisu.


"Ganti aja lah. Ada baju bekas suami aku di sini." Fira menunjuk pintu ruangan lain yang tertutup rapat, "Cari aja yang cocok buat kau." lanjut Fira, dengan mengambil gelas yang berisi es campur dari tanganku.


"Gih sana bersih-bersih. Aku mau naruh ini dulu." Fira mendorong pergi meja berisikan piring kotor tersebut.


Aku tidak mau mengenakan pakaian bekas mantan suaminya. Tapi, aku harus membersihkan diri. Aku tidak mungkin bertahan dengan rasa lengket ini. Apalagi, kami belum membicarakan bisnis kami.


Akhirnya, aku memilih baju handuk saja. Dengan tanpa menggunakan apapun di dalamnya. Aku sudah mengucek bekas tumpahan es campur itu, sedangkan sekarang tengah aku angin-anginkan di tempat laundry di ruangan pribadi milik Fira ini.


Aku menunggu Fira kembali, sembari duduk di sofa yang tadi. Dengan melihat-lihat story chatting milik beberapa keluarga, karena aku bingung ingin apa.


"Wow, ngajakin kah rupanya?"


Aku melirik, pada pemilik resort hotel berkelas ini. Ia melangkah ke arahku, dengan bunyi hak sepatu yang senada.


Rupa wanita karier. Begitu anggun dan wangi. Belum lagi gerak langkahnya, yang terlihat penuh aturan dan tuntutan. Satu dua seperti Novi, saat ia masih bekerja.


Sekarang, aku menyangga tubuhku dengan siku yang bertumpu di atas paha. Punggungku sedikit condong ke depan, dengan kaki yang menapak ke lantai.


Fira duduk di sampingku, dengan menekan bahuku. Aku merasa, ada hal yang tidak enak jika terjadi.


"Kau gatal kah?" aku menggeser posisi dudukku.


Fira tergeletak, dengan langsung memeluk tubuhku.


"Aku kangen, pengen cerita-cerita. Makasih, udah menemani aku waktu dulu. Sampai kuat dan mampu lahirin Key tanpa sosok suami. Makasih juga, udah jadi orang tua Key saat dia bayi. Sekarang Key gimana ke kau, Far?" Fira melepaskan sendiri pelukannya.


"Key sering minta jajan lah." Aku menjawabnya singkat.


Fira terkekeh, kemudian membingkai wajahku kemudian dihadapkan ke wajahnya. Daripada patah leher, aku memilih untuk sedikit memutar tubuhku agar kepala tidak tercengklek.


"Apa, Fir?" tanyaku santai. Aku sudah akrab dengannya sejak dulu, hanya saja statusku dulu membuat kami tidak akrab lagi. Ditambah, Fira takut dengan Kin.

__ADS_1


"Kangen." Fira mendekap kembali tubuhku.


Aku mencoba melepaskannya, "Aku tak." aku tidak mudah rindu seseorang.


Fira memanyunkan bibirnya, "Kau masih aja gitu sih, Far." Ia terlihat menggemaskan.


Tapi lebih gemas, jika Canda yang manyun.


"Mana tadi tas aku? Aku minta tanda tangan aja nih. Terus aku siap-siap, ada jadwal lagi soalnya." Aku sengaja menghindar, padahal aku masih memiliki waktu cukup lama untuk jadwal selanjutnya.


Aku bisa mendengar helaan nafasnya. Bukan aku berprasangka jelek, hanya saja aku memiliki kecurigaan lain. Jangan-jangan, Fira ingin bermesraan denganku?


Ia adalah perempuan yang aktif dan tingkat keminatannya tinggi. Ia bisa saja menerkam seperti Kin, atau dengan gerak tubuhnya yang membuatku minat.


"Mana yang harus ditandatangani? Tak ada obrolan, main minta tanda tangan aja." ucap Fira, diikuti dengan suara bolpoin tekan.


Aku menemukan tas milikku. Mengambil dan mencari surat yang aku butuhkan, untuk bekerjasama dengan Fira. Setelah mendapatkannya, aku berbalik badan dan berjalan ke arah Fira kembali.


Matanya cukup nakal. Saat Canda jadi janda, tidak begitu seperti ini. Malah ia cenderung sombong, lebih-lebih malah memelihara bujang. Dengan artian, duda dan suami orang bukanlah ketertarikannya.


"Nih." Aku memberikan surat bermap pink ini padanya, "Kau kenapa bisa jadi janda, Fir?" Aku kembali menghempaskan tubuhku untuk duduk di sampingnya.


"Masa iya dapatnya model abang kau lagi coba?!" ucapnya yang malah melempar pertanyaan yang harus aku iyakan.


"Bang Givan? Kenapa memang dia?" Aku berpikir bahwa bang Givan bukanlah laki-laki yang buruk.


"Puas sendiri aja, kasar. Dikasih saran yang benar, selalu nolak. Dibilang sakit tuh, dia kek tak percaya." Fira seperti melamun saat mengatakan hal itu.


Ia melirikku, "Makanya heran Canda kuat betul." lanjutnya berucap.


Canda memiliki trauma pemerkosaan. Tidak mungkin rasanya, jika ia kuat mendapat perlakuan kasar.


"Si bang bule juga begitu?" Aku memicingkan mataku memperhatikannya.


Fira mengangguk samar, "Yaaa, begitulah. Ditampar itu, tampar betulan. Aku tak tau dia begitu, karena sebelum nikah itu tak ada kontak seksual dengan dia. Meski tinggal bersama, kek cuma romantisan aja gitu. Tapi tak pernah hubungan badan, apalagi tau bagaimana kesenangannya. Jadi pas nikah itu, aku kaget lah." ungkapnya, dengan helaan nafas beberapa kali.


Aku membayangkan bagaimana hubungan kasar itu berlangsung di atas ranjang. Kok heran aku, kenapa laki-lakinya tega?


Ditambah lagi, bang Givan sepertinya bukan laki-laki seperti itu. Sekalipun ia marah besar, ia tidak pernah main tangan. Canda yang cengeng pun betah, yang artinya ucapan Fira ini mungkin hanya bualannya saja.

__ADS_1


"Memang gimana cara kau main, Far? Dulu tak pernah kesampaian, mana kan kau ada kelainan." ucap Fira, langsung membuatku mematung di tempat.


...****************...


__ADS_2