
"Kau beristri, Far."
Heh? Apa hubungannya?
"Ya memang kenapa? Istri juga kabur." Aku tidak mengerti dengan arah pikirannya.
Menurutku, pasti ia menyangka jika Novi tahu. Novi akan melarangku untuk memberi bantuan padanya.
"Terus kalau istri kau kabur, kau bisa nikah lagi tanpa izin dari dia?"
Kenapa aku harus menikah lagi?
"Apa hubungannya?" Aku menggaruk kepalaku sendiri.
"Ish…." Ia menghentakkan kakinya meninggalkanku.
Sebentar-sebentar, aku memahaminya lebih dulu. Aku membantu untuk mencukupi kebutuhan Nahda, dengan kak Aca yang berpikir tentang aku menikah lagi.
Ah, iya-iya. Ia pasti berpikir, bahwa aku ingin menikahinya. Keren sekali kepercayaan dirinya, meski niatku bukan seperti itu.
Meski nanti jika aku menduda kembali, aku belum ingin untuk menikah kembali. Dengan pengalaman yang Novi berikan, sungguh aku agak takut menikah kembali meski dengan saudara sekalipun. Karena sifat-sifat rahasianya, tidak aku ketahui.
Biar nanti aku akan membantu untuk membiayai Nahda lewat mamah saja, agar kak Aca tidak berpikir lain tentangku. Aku benar-benar ingin membantu, tanpa alasan apapun. Karena entah mengapa, aku tertarik untuk memenuhi kebutuhan Nahda, karena sedikit percakapan tadi.
Aku langsung mengambil buku pintar tersebut, kemudian menitipkannya pada kasir terlebih dahulu. Karena aku masih ingin berkeliling bersama kak Aca dan Nahda, untuk membeli semua perlengkapan sekolah kedua anakku.
Memang, ini baru mulai liburan sekolah. Tapi kebiasaan keluarga Adi's Bird, selalu melupakan perlengkapan sekolah anak. Karena, terlalu asyik menikmati liburan sekolah bersama. Liburan sekolah bersifat rata, dari Paud, TK, sampai SMA.
Oh, iya. Pasti dua bungsu mamah akan dijemput juga dari pesantren. Kalau tidak salah Gavin kelas sebelas MA, naik ke kelas dua belas. Sedangkan, Gibran dari MTS masuk ke MA.
Di antara kami semua, hanya mereka yang biaya pendidikannya mahal. Pesantren Gontor cabang Aceh Besar, bayangkan saja biayanya dua orang anak itu. Entah-entah satu orang anak, ini dua sekaligus.
Yang diminta untuk masuk pesantren hanya Gavin, tapi Gibran malah ingin ikut dengan kakaknya. Karena Gavin tebal telinga, ia susah diberi nasehat dan pemahaman. Sekolah selalu telat bangun sejak TK, ia hanya bersekolah dua sampai tiga hari saja seminggu. Belum lagi mengaji yang tak pernah ikut urutan, lebih-lebih ia hanya menemani Gibran mengaji, sedangkan dirinya tidak. Makanya, mamah dan papah mengirimnya ke pesantren.
"Kak…," panggilku cepat, karena aku tertinggal cukup jauh.
__ADS_1
Lihatlah, sudah penuh saja troli yang ia dorong.
"Apa, Far?" sahutnya dengan menoleh padaku.
"Lepas ini aku mau singgah ke tempat lain," tuturku dengan mengimbangi langkah kakinya.
"Ya udah, gih pergi aja dulu. Nanti aku hubungi kau, kalau aku udah selesai belanjanya. Nanti tinggal kau datang, untuk bayar ke kasir. Jadi, waktu kita tak terbuang percuma."
Apa ia tak takut aku tinggalkan? Bagaimana, jika aku lama kembali? Lalu, bagaimana caranya ia menghandle anak dan berbelanja banyak seperti ini? Kak Aca pasti kerepotan.
"Biar nanti bareng aja," putusku kemudian.
Aku menghindari hal-hal yang tidak terduga. Khawatirnya, khawatirnya, khawatirnya. Aku menjadi manusia yang terlalu banyak khawatir, apalagi ia perempuan dengan membawa anak kecil.
"Mau ke mana memang?" Kak Aca memilih barang tanpa persetujuanku. Tidak begitu repot seperti Novi, yang selalu meminta pendapatku, tetapi akhirnya ia memilih pilihannya sendiri. Tidak seperti Kin juga, ibu-ibu ekonomis yang menimbang dan memperkirakan perbandingan harga.
"Pengen aja jalan-jalan ke swalayan besar." Ini sudah awal bulan juga, mana mendekati lebaran idul Adha.
Apa benar-benar Novi pergi dariku? Meski kasusnya, ia yang bersalah? Pengecut sekali Novi ini.
"Dengan pakaian begini?" Kak Aca menarik pakaiannya sendiri. Dengan aku, yang akhirnya memerhatikan penampilanku dari ujung kaki sampai kepala.
Apa karena sendal jepit yang kita kenakan kah? Membuat kak Aca seperti tidak percaya diri, untuk pergi ke swalayan besar?
"Sendal kita ya? Nanti beli di sana deh," bujukku dengan memamerkan senyumku.
Ternyata ia tidak seperti Canda, yang pergi menyebrang pulau hanya menggunakan daster dan sendal karet aja. Mungkin karena Canda berpikir bahwa dirinya sudah cantik, jadi begitu saja ia amat percaya diri.
Tapi, kak Aca tidak kalah cantik. Ya memang tidak setara dengan Canda, tapi kak Aca kan mirip-mirip dengan mamah.
"Ihh, ya bukan minta beli juga." Langkahnya berbelok ke jajaran rak lain, membuatku kembali mengekorinya.
"Tak apa deh, Kak. Ya, Kak? Mau ya?" mohonku dengan suara mengiba.
Akhirnya, ia mengangguk juga. "Ya deh, terserah kau." Ia memilih kotak pensil dengan karakter animasi anak laki-laki.
__ADS_1
Apa ia tahu, tentang Kaf ya menyukai semua karakter superhero? Apa ia tahu juga, tentang Kal yang suka dengan karakter Doraemon?
"Kau tau Kaf suka superhero, Kal suka Doraemon?" tanyaku dengan menunjuk barang-barang yang berada di troli. Ia hanya mengangguk saja, tanpa memberiku sahutan dengan suaranya.
Sialnya, tiba-tiba aku teringat dengan Canda. Aku teringat akan dirinya yang menyeretku ke sana ke mari, untuk membeli kebutuhan dapur saat aku merantau di Cirebon. Dengan uang tiga ratus ribu, aku mendapatkan semua kebutuhan dapur. Tentu saja, Canda yang mengeluarkan uang lebih. Semata-mata, karena ingin mendapatkan cinta dariku.
Menyesalnya aku saat itu. Di mana fungsi pusakaku masih normal, tapi aku tidak merenggutnya dan menguncinya lebih dulu. Jika seperti itu, mungkin tidak ada drama berkepanjangan tentang traumaku.
"Kau sakit, Far?" Kak Aca menahan lenganku.
Aku sedari tadi memijat dahiku sendiri. Jujur saja, aku selalu sakit kepala jika tiba-tiba teringat akan Canda. Kelak nanti aku memilih cela untuk melindungi Canda, aku akan menahannya tetap aman dan nyaman di jangkauanku. Sekalipun dunia menentang, orang tua ataupun suaminya juga. Aku akan berusaha memuliakannya dan membahagiakannya.
"Suka sakit kepala aja, kalau tiba-tiba inget yang kemarin-kemarin." Aku mencoba tersenyum menenangkan.
"Novi ya?" Ia memandangku dengan sorot prihatin.
"Hmm, bukan." Aku terkekeh getir, aku tak mungkin mengatakan bahwa aku teringat dengan iparku sendiri.
"Ayo kita ngobrolnya sambil jalan, biar waktunya tak terbuang. Khawatir Ra ngamuk, dia susah kalau sama orang lain." Kak Aca menarik lenganku untuk mengikutinya.
Untungnya, Nahda didudukkan di troli dengan anteng.
"Kau tuh keknya tak sehat, Far. Kek pusing terus, kalau liat muka kau. Sakit kau apa sih sebenarnya? Apa pernah berobat?"
Apa ini dalam mode curhat?
"Tak sakit kok, Kak." Aku bukan orang yang mudah untuk mencurahkan isi hati.
Hanya dengan Canda, aku berani terbuka tentang hatiku. Karena sejak dulu, aku sering curhat dengannya.
"Masa?" Ia melirikku sekilas.
Oh, dilirik saja ser-seran di hati.
"Iya. Ayo, lepas ini kita jalan ke swalayan," ajakku yang melihat perlengkapan anak-anakku sudah terpenuhi.
__ADS_1
"Jalan?" Ia mengerutkan keningnya.
...****************...