Istri Sambung

Istri Sambung
IS113. Pump ASI


__ADS_3

"Udah tak usah manyun, ayo ikut aja." Aku merangkulnya, untuk masuk ke dalam kamar kembali.


"Tak lah, malas aku."


Sungguh, aku tidak berkenan dengan ucapannya. Ia mengatakan hal itu, seolah-olah mereka adalah orang lain saja.


"Nanti kau hamil, punya anak. Mau kah saudara kau bilang malas jenguk kau?"


Novi menggeleng.


"Ya udah ayo." Aku menarik tangannya dan berjalan keluar dari kamar.


"Nanti, aku salin dulu, Bang." Novi mogok kembali.


Eh, iya. Ia berpakaian seksi.


"Ya udah aku tunggu di bawah ya?" Novi mengangguk, dengan aku yang melanjutkan langkahku ke teras rumah.


Setelah Novi muncul, aku langsung menggandengnya. Ia harus melihat dengan matanya sendiri, bahwa aku tidak mesum dengan Canda.


"Ehh, Brodie. Mana ayah kau?" sapaku, ketika berpapasan dengan Chanda yang keluar dari rumah orang tuanya.


"Di kamar, Pa. Adik aku perempuan lagi, sekutu kak Key tambah besar aja. Hufttt….." Chandra melangkah menuju rumahnya sendiri dengan gelengan kepala.


Oh, ternyata Chandra menginginkan adik laki-laki?


"Di sini aja deh, Bang." Novi mogok melangkah.


Aku menoleh ke arahnya, "Udah, ayo." Aku menarik tangannya kembali.


"Assalamualaikum…." Aku mendorong pintu yang setengah terbuka.


"Wa'alaikum salam."


Aku bisa melihat Canda yang sesenggukan dengan bersandar pada bahu suaminya, dengan Ra di sisi lain ayahnya. Sedangkan bayinya tengah diayun oleh ibu Ummu.


"Sabar, Canda." Bang Givan menarik selimut yang menutupi tubuh Canda sampai ke bahunya.


Canda tidak memakai pakaian?


Apa bang Givan menggaulinya?


"Kenapa, Bang?" Aku masih menggandeng tangan Novi.


"ASI penuh, di-pump katanya sakit. Tak di-pump, Canda demamnya tambah tinggi. Dari semalam ini tuh, masalahnya ASI penuh terus." Bang Givan menahan kain yang menutupi tubuh Canda.


"Pump-nya kek gimana, Bang?" Aku mengusap bahu Novi, lalu menunjuk bayi yang berada di dekapan ibu Ummu.


"Kek gagang pintu, beli di rumah sakit. Ini pun, atas rekomendasi dokter." Bang Givan menunjukkan pump yang digenggam oleh Ra.


Aku berjalan mendekat ke arah Ra.


"Eh, aku ada pump elektrik gitu. Kin jarang ASI langsung, dia lebih suka simpan di kulkas." Aku duduk di tepian tempat tidur.


"Coba ambil, Far. Abang mau bantu Canda pump dulu. Eh, tapi minta tolong Ra ke mamahkan dulu. Terus ayo bantu Abang merakit ranjang bayi." Bang Givan menyatukan rambut Canda.


Pasti ini menjadi persoalan untuk Novi, karena aku melihat Canda tanpa hijab.

__ADS_1


"Biar aku aja yang anter Ra, Bang."


Novi menjadi pusat perhatian sekarang.


"Pegang Cani aja, Nov. Ibu mau bersih-bersih dulu." Bang Givan memberikan perintah.


"Oh, ya deh. Gimana cara gendongnya, Bu?" Novi memposisikan tangannya di depan ibu Ummu, yang tengah menggendong cucunya.


Jadi nama panggilannya Cani? Benar, anaknya akan diberi nama Chandani?


"Ayo Ra, ikut Papa." Aku merentangkan kedua tanganku pada anak itu.


"Mau ma Yayah tuh." Ra menyatukan alisnya.


"Yayah mau ee dulu, Ra." Bang Givan mengambil pump ASI yang berada di tangan Ra.


"Ya dah deh. Ayo, Pa?" Ra malah mendahului melangkah keluar.


Banyak suara kekehan, karena Ra yang menggelikan ini.


"Nanti aku sekalian cari pump-nya, Bang," ucapku dengan mengikuti langkah Ra.


Setelah menitipkan Ra pada kak Aca, yang notabene adalah pengasuhnya. Aku kembali ke rumah, untuk mencari keberadaan pump milik Kin dulu.


Setelah memberikan dan menunjukkan cara untuk menggunakannya, aku keluar dari kamar utama mereka dan diminta untuk ke gudang. Bukan lain, untuk mencari ranjang bayi yang mereka simpan.


Cukup besar, bisa digunakan untuk sampai balita. Modelnya ini, bisa menyatu dengan ranjang orang tua. Jadi Canda tidak perlu berjalan ke ranjang anaknya, ketika anaknya terbangun tengah malam.


Setelah selesai, aku memilih untuk menemani Novi yang duduk di ruang tamu dengan menggendong bayi Cani ini.


"Lagi ngurus istrinya, terus mau mandi katanya. Kita pegang aja dulu anaknya, mana tau ketularan." Aku berbicara lirih dengan mengecup pipi Novi.


"Tapi aku mau anak laki-laki." Novi bersandar pada lenganku.


"Sama aja perempuan laki-laki, yang penting sehat." Aku mengambil alih bayi Cani dari gendongan Novi.


Aku gemas sekali melihat bayi seperti ini, aku ingin terus menciuminya.


"Chandani Qaila Alnetta. Gemes, Papa." Aku menciumi seluruh wajahnya.


"Memang itu ya namanya?"


Aduh, aku takut keceplosan.


Aku tersenyum lebar pada Novi, "Pas awal lahir tuh katanya namanya itu, tapi belum tau lagi nama aslinya siapa," jelasku pada Novi.


"Tau kan sekarang, kalau aku ini disuruh-suruh? Bukan malah mojok sama kakak ipar." Aku berbisik padanya, khawatir bang Givan tiba-tiba muncul di belakang kami.


"Iya, Bang." Novi bergelayut di lenganku.


Aku jadi ingin punya bayi lagi.


"Far…. ASIkan nih. Abang mau mandi dulu." Bang Givan tiba-tiba menyodorkan dot botol padaku.


"Ya, Bang." Aku memberikannya pada mulut bayi yang menggemaskan ini.


Kakakmu Ra, Cani. Kau tak boleh manja, Ra saja yang manja. Karena kau tidak akan menang, jika melawan kakak kau.

__ADS_1


Aku yakin ini.


Bayi ini begitu cepat menyantap makanan pokoknya ini. Ia seperti kehausan.


~


Esok harinya, aku kembali ke rumah setelah selesai bekerja. Pukul sebelas siang ini, aku memutuskan untuk mengajak Novi agar mau menemaniku berobat. Setelahnya, sesuai rencana kemarin.


Menemani Novi perawatan, kemudian belanja bulanan. Toh, swalayan besar tutup sampai malam juga.


Sayangnya, prosesnya tidak semudah dulu. Aku diarahkan sesuai prosedur rumah sakit, aku tidak bisa langsung diperiksa mengenai permasalahan pusakaku.


Seperti biasa, melalui proses cek darah terlebih dahulu. Kemudian, aku diarahkan kembali ke poli yang berbeda.


Sungguh merepotkan. Belum lagi aku yang awam mengenai hal ini, Novi pun tidak mengerti bagaimana caranya juga sistem berobat di rumah sakit.


Hingga akhirnya, kami diminta datang di minggu depan. Sungguh mengecewakan, karena aku tidak langsung diarahkan ke dokter yang tepat.


"Minggu depan tuh, ambil hasil tes darah, Bang." Novi mengecek selebaran yang aku dapat.


"Iya." Aku fokus mengemudi untuk datang ke klinik kecantikan langganan tempat para perempuan Adi's Bird Family.


"Aku perawatan apa ya, Bang? Aku kurang apa memang, Bang?"


Aku khawatir pembahasan ini, menjadi awal perdebatan kami.


"Terserah, barangkali kau mau memanjangkan diri." Aku tidak mungkin membuat list perawatan yang rutin untuk Kin dulu.


"Filler-filler gitu, selagi aman ya tak apa." Aku tahu tentang ego perempuan.


Apalagi dulu Kin paham tentang keamanan dan kesehatan. Aku tidak pernah melarang, selagi aman untuk dirinya sendiri.


Biarpun dokter juga, Kin bahkan memiliki anting di pusarnya. Bayangkan saja, bagaimana seksinya ia jika menggunakan baju crop.


Ah, sudahlah. Jangan mengingat orang yang telah tiada.


"Aku takut, aku tak pernah berani." Novi menyimpan surat yang aku dapat dari rumah sakit, ke dalam tasnya.


Hanya begitu saja, sudah keluar satu juta tujuh ratus. Padahal belum diperiksa langsung, belum juga mendapat obat.


Bukan masalah biayanya juga. Namun, tak apa jika aku mendapatkan hasil baik untuk diriku sendiri.


"Facial kek apa gitu lah. Nanti aku dikira tak memelihara kau dengan baik lagi." Aku bersiap akan belok ke klinik kecantikan.


"Uangnya aja deh. Biar aku sendiri, sama siapa gitu kan."


Aku tahu arahnya.


"Tak, kalau tak sama aku." Aku membelokkan langsung dan memarkirkan Pajero seribu kenangan ini di depan klinik kecantikan langganan ini.


Karena Kin wafat pun, di dalam mobilku ini.


"Kok begini sih rasanya punya suami?" Suaranya seperti menggerutu.


Mulai kan?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2