Istri Sambung

Istri Sambung
IS104. Chandani Qaila Alnetta


__ADS_3

...Aku ceroboh ๐Ÿ˜ญ Episodenya tertukar sama kemarin sore ๐Ÿ˜ข Episode Ketahuan dulu, terus baru Chandani Qaila Alnetta ๐Ÿ™ Mohon baca ulang, biar alurnya nyambung ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...


Mamah pasti curiga, karena Novi tidak ikut serta. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memaksanya untuk ikut. Novi masih betah menangis dan ingin memperpanjang konflik kami.


Sedangkan, ibu Ummu sampai mendatangiku untuk mau mengantarnya membeli perlengkapan bayi untuk cucu barunya.


"Mah, nitip Canda. Aku mau adzanin dulu." Bang Givan keluar dari ruangan Canda.


Operasi caesar dilakukan kembali, karena riwayatnya baru sekitar dua tahun lebih saja. Ditambah juga, Canda ternyata sudah mencapai pembukaan satu. Makanya, segera dilaksanakan operasi tersebut di hari libur ini. Untungnya, ada dokter juga.


"Bang aku videokan ya?" Ria langsung bergegas menyetarakan langkahnya dengan kakak iparnya itu.


Entah datang dari mana gadis itu. Karena pagi tadi, aku tidak melihatnya.


Mamah masuk ke dalam ruangan, aku pun langsung mengekorinya. Aku ingin melihat kondisi Canda, pasca ia dipindahkan ke ruangan ini.


Sayangnya, ini adalah pilihan yang salah.


Aku malah tidak kuasa, melihatnya meringis dengan menggenggam erat tangan ibunya.


"Mau bakso kah, Canda?" ujar mamah dengan menghampiri brankar tersebut.


Aku tahu, mamah sedang mencoba mengalihkan perhatian Canda dari rasa sakit setelah obat bius hilang tersebut.


"Sakit, Mah." Mata kami bertabrakan, dengan setetes air bening mengalir untuk meredam rasa sakitnya itu.


"Sabar." Mamah mengusap keringat di wajah Canda, dengan tisu kering.


"La haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adzim." Canda terlihat begitu pasrah, dengan air mata yang terus menetes.


"Kita ngobrol aja ya? Biar kau lupa rasa sakitnya itu." Mamah senantiasa menghapus cairan dari wajah pucat Canda.


Saat kami menunggu di luar kamar tadi pun, karena Canda tengah diperiksa oleh dokter. Menurut dokter keadaannya cukup stabil. Dokter pun, sudah memberikan obat di selang infusnya agar Canda lekas pulih. Seperti itu yang sempat mamah ceritakan, karena ia paling telat untuk keluar dari kamar Canda tadi.


"Mah, aku ini dalam keadaan junub. Nanti kalau aku mati, gimana dong?" Aku terkekeh tertahan, mendengar penuturan polosnya.


Sepertinya, pecah ketuban tersebut karena tindakan suaminya.


"Ya mandi junub dulu, baru mati." Jawaban mamah bukanlah jawaban yang sesungguhnya.


"Ngomong apa sih, Mah?!" Ibu Ummu seperti tidak berkenan dengan pembahasan ini.


Aku menarik sebuah kursi, lalu aku memindahkannya di dekat mamah.


"Duduk, Mah." Aku bisa melihat wajah Canda lebih jelas dari posisi ini.


Aku berdiri di belakang kursi yang mamah duduki. Sedangkan kursi ini, cukup dekat dengan tiang infus.

__ADS_1


"Ra sama siapa, Far?" tanyanya begitu lemah.


"Sama Ghavi. Kau tenang aja, Canda." Aku tersenyum samar.


Canda hanya mengangguk, kemudian ia memutar kepalanya ke arah lain. Sampai akhirnya, Canda menoleh ke arah mamah kembali.


"Mah, nanti Ra Mamah yang pegang ya? Mas Givan harus urus anak bayinya." Jika tahu suaminya, aku yakin Canda mendapat pelototan tajam.


"Udah, nanti biar sama Ibu." Ibu Ummu masih memegang tangan Canda.


Sepertinya, ibu Ummu menggantikan posisi bang Givan untuk menjadi pegangan Canda.


Canda menoleh ke arah ibunya, "Sama Ibu sama ma Nilam, Ra tak ketahan. Kalah tenaga semua," tuturnya dengan alis menyatu.


"Mas Givan kau suruh urus bayi, Mamah pegang Ra. Terus kau?" Mamah bertopang dagu.


Aku ingin melihat wajah mamah. Aku memilih untuk mengambil satu kursi lagi, lalu aku tempatkan di sisi kaki Canda. Aku pun menarik selimutnya sedikit ke bawah, untuk menutupi jemari kakinya yang terlihat dari tempatku duduk.


"Aku bedrest lah, Mah." Canda berekspresi sedikit manyun.


"Manja kau jadi." Mamah melirik malas menantunya itu.


"Papah mana sih, Mah?" Aku baru mengeluarkan suaraku lagi.


"Ikut cucunya. Dari ruang operasi langsung dicek dan dipindahkan ke ruang bayi tuh, papah udah langsung ngintil aja. Tadi chat, katanya anak Canda mirip Candanya lagi." Mamah menoleh ke arahku.


"Wah, berarti kau yang lebih dominan ya, Kakak Ipar?" Celetukku, membuat mamah dan ibu Ummu tertawa lepas.


"Masa iya?" Canda mengerutkan keningnya, dengan memandang ke atas. Sepertinya, ia tengah mengingat-ingat kembali kejadian pembuatan anak tersebut.


Polosnya masih saja. Aku jadi ingin lebih keras mentertawakannya.


"Nanti aku tanyakan sama mas Givan."


Sontak. Aku langsung tertawa lepas, dengan tawa mamah yang lebih keras.


"Kamu ini ada-ada aja, Ndhuk." Ibu Ummu menepuk punggung tangan Canda yang terbebas dari selang infus tersebut.


"Ya barangkali memang iya kan, nanti tak diulangi lagi. Nanti aku bilang ke mas Givan, biar dia yang dominan. Biar anaknya mirip sama dia." Penjelasan yang membuatku semakin ingin mengunyel-unyel wajahnya.


Aku tidak cemburu. Namun, aku begitu kecanduan mendengar penuturan polosnya.


"Yakin mau mirip mas Givan kau?" ucap mamah yang membuatku kembali ingat bagaimana dengan ayah dari anak-anak Canda tersebut.


Itulah ketidakyakinanku pada bang Givan dalam menjaga Canda. Aku khawatir, ia tidak bisa memperlakukan istrinya ini dengan semestinya.


Banyak bayangan burukku akan kemalangan Canda karena bang Givan, yang membuatku tetap ingin melihatnya berada di jangkauan mataku. Aku merasa, bang Givan tidak lebih baik dariku. Apalagi, dalam hal bersikap.

__ADS_1


Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi, kekhawatiran itu membuatku semakin tak ingin jika Canda jauh dari pandanganku dengan laki-lakinya yang seperti bang Givan.


Bagaimana dia nanti?


Siapa yang akan menolongnya?


Siapa yang akan membantunya?


Siapa yang akan menjaganya?


Setidaknya, jika aku tahu. Aku akan menjadi orang pertama yang akan mengulurkan bantuan padanya.


"Sifat cabulnya jangan lah, Mah. Tapi masalah otak kan, mas Givan unggul. Tapi betul tak sih kalau mas Givan itu pintar, Mah? Apa aku yang bodoh ya? Tapi aku tak pernah tak naik kelas, aku pun lancar menghafal juga. Tapi kenapa, mas Givan sering betul cendol-cendolin aku? Sama bang Daeng, latah betul aku disebutnya bondeng." Wajah polosnya membuatku gemas.


"Bondeng itu artinya m*ntok, Canda. Lain Givan, yang sengaja pengen ngata-ngatain kau." Aku yang kembali tertawa, mendengar ucapan mamah.


"Assalamualaikumโ€ฆ. Hallo syedara, kenalin nih anggota baru Adi's Bird Family."


Kami semua serentak menoleh pada seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan ini.


Senyumku mengembang, kemudian aku bangkit dan menghampiri papah. Bayi di dekapannya, cukup menjelaskan bahwa itu adalah anak siapa.


Benar sekali, wajah Canda kembali di-copy paste dalam rupa yang mungil ini.


"Boleh kasih saran nama tak sih aku nih?" Aku mencolek pipi merah bayi ini.


Lembutnya pipi itu, butiran tepung saja kalah lembutnya.


"Boleh, kasih saran nama apa?" Canda yang merespon ucapanku tadi.


"Tolong, jangan Cantengan!"


Tawa kami begitu lepas, mendengar penolakan papah di awal tersebut.


Mentang-mentang, semua anak Canda berawalan huruf C. Papah berpikir, aku mengusulkan nama Cantengan untuk bayi ini.


Chandra, Ceysa, Caera, Cantengan. Blacklist Cantengan, itu terlampau buruk untuk sebuah nama anak dari Canda yang polos dari hari nurani tersebut.


"Chandani Qaila Alnetta. Anak perempuan bermahkota indah yang selalu tanggap dengan dipenuhi kecerdasan, itu artinya," ungkapku dengan berjalan ke arah belakang kursi mamah kembali.


Karena bayi itu berada di dekapan mamah. Sedangkan papah, beliau duduk di kursiku tadi.


Itu adalah sepenggal nama, yang pernah aku bahas dulu dengan Canda saat jam makan siangku. Dulu Canda selalu datang ke rumah sakit, tempatku bekerja sebagai OB. Ia datang dengan keceriaan, juga setepak makan siang olahan tangannya.


Obrolan konyol tentang sebuah nama itu, kini terlintas kembali di ingatanku.


...****************...

__ADS_1


Eit, nungguin flashback muncul nie ๐Ÿคญ


__ADS_2