Istri Sambung

Istri Sambung
IS78. Terkejut dengan perubahan


__ADS_3

Akhirnya, aku sudah sampai di teras rumahku. Rasa senang bercampur bahagia, karena bisa pulang kembali dengan segudang kerjasama yang akan menguntungkanku.


Namun, di balik itu semua. Aku melihat kesedihan di wajah anak perempuanku, yang tengah mengepel lantai ruang tamu.


Ini adalah pemandangan yang baru pertama kali aku lihat. Sebelumnya, Kal tidak pernah mengepel seperti ini.


Apa ini mengepel seluruh lantai di rumah ini?


Apa pemberi perintah itu Novi?


"Papa…." Sorot matanya penuh kesedihan, saat melihatku berdiri di ambang pintu.


"Jangan lari, Nak. Licin." Aku tak kuasa, melihatnya berlari ke arahku dengan air mata.


Apa yang terjadi dengan anak-anakku?


Apa mental mereka terganggu, karena ibu sambungnya?


Apa Novi tidak bersikap baik?


Apa alasan di balik anak delapan tahun ini, mengepel lantai ruang tamu?


Tangisnya pecah, dengan memeluk pinggangku. Aku segera menekuk lututku, untuk bisa membalas pelukannya dengan erat.


"Tenang, Kal. Papa ada di sini." Aku mencoba menenangkan buah hatiku.


"Papa kenapa tak pulang-pulang? Papa aku kangen Papa." Kal berbicara sembari menangis.


Aku membawa putriku dalam gendonganku, "Maafin Papa ya? Ini Papa pulang nih." Aku melangkah masuk dengan menggendong tubuhnya yang terlihat sedikit kurus.


Apa anak-anakku tidak makan dengan baik?


"Kaf…." Aku menaiki tangga, dengan menyerukan nama anak keduaku.


Jujur, pikiranku tertuju pada si bungsu. Karena melihat keadaan si sulung yang menyedihkan seperti ini.


"Abang udah pulang?" Novi menoleh ke arahku. Ia tengah duduk di sofa ruang keluarga, dengan sekotak makanan dalam kemasan transparan. Sepertinya, itu adalah salad buah.


"Hmm." Aku hanya memandangnya, yang berjalan cepat lalu mencium tanganku.


Kal yang mengepel lantai, ia yang malah bersantai dengan menyantap makanan tersebut. Keadaan yang berbanding terbalik, karena harusnya tidak seperti ini.


"Kaf mana?" tanyaku dengan mengedarkan pandanganku.


Rumah yang kinclong dan wangi. Tidak ada tas maupun buku milik anak-anak di ruang keluarga ini. Tidak juga beberapa mainan yang terselip di beberapa sudut ruangan.


Novi celingukan, "Keknya di kamarnya, tadi dia liat TV di sini sama aku." jawabnya, dengan menyatukan rambut ke belakang telinganya.

__ADS_1


Novi pun mengira-ngira. Berarti ia tidak tahu pasti, di mana keberadaan anakku.


Aku tetap menggendong Kal, dengan membawanya ke kamar Kal. Namun, kamar Kal kosong. Rapi dan tertata dengan baik, hanya saja terlihat begitu sepi. Karena boneka-boneka kesukaannya enyah dari ranjangnya. Boneka kesukaannya itu tersusun di satu sofa, yang berada di seberang ranjang milik Kal.


"Kaf nempatin kamarnya sendiri, Pa." ucap Kal dengan nada yang sangat rendah.


Benarkah?


Aku segera berbalik badan, membiarkan kamar Kal dengan pintu terbuka. Tidak butuh waktu lama, aku langsung mendorong pintu kamar milik Kaf yang berhadapan dengan pintu kamar Kal ini.


"Kaf…." suaraku bergetar, melihatnya duduk di pinggir ranjang dengan menatap kosong jendela kamarnya.


Kenapa anak-anakku terlihat melamun dan menyedihkan seperti ini?


Apa aku sudah salah memilih ibu untuk mereka?


Kaf menoleh cepat, "Papa…." Ia berlari cepat ke arahku.


Kenapa seperti ini?


Aku berjongkok dengan memeluk cepat tubuh ringkih Kaf. Kedua anakku menangis tersedu-sedu, dengan saling memeluk ayahnya seperti ini.


Aku pun tidak kuasa menahan rasa cengengku. Aku seperti mengerti akan hati mereka, lewat perasaan yang tersalur ini.


"Maafin Papa, Nak." Aku mencium pipi mereka bergantian.


Malangnya nasib anak-anak yang ditinggal orang tua kandungnya. Pasti mereka begitu tertekan, karena tidak memiliki tempat untuk mengadu.


"Loh…. Kok pada kangen-kangenan sendiri? Mama tak diajak?"


Aku langsung menghapus tumpahan rasa cengengku, dengan melepas pelukan kedua anakku. Dengan segera, aku memutar posisi tubuhku ke arah Novi. Begitu juga dengan anak-anak.


Eh tunggu, mama katanya? Apa ada panggilan yang berubah di sini?


"Tante bukan mama aku!" ketus Kal, membuatku tidak percaya.


Kilat amarah begitu kentara di mata gadis kecilku itu. Bahkan dadanya kembang kempis, seiring dengan nafasnya yang memburu.


"Kok berani lagi sama Mama?!" Novi terlihat tegas di sini.


Ada apa ini? Kenapa suasana tidak terlihat kondusif, seperti sejak terakhir aku meninggalkan mereka selama tiga minggu.


"Papanya pulang, berani nada tinggi lagi ke Mama?! Ngerasa ada yang membela ya?" Novi bersedekap tangan.


Aku hanya terdiam, mencoba mengerti keadaan ini. Aku baru sampai, kemudian langsung dihadapkan dengan situasi yang seperti ini?


"AKU TAK SUKA SAMA TANTE!!!" teriak Kal, dengan air mata yang terus berjatuhan.

__ADS_1


Kal tidak pernah tak terkendali seperti ini. Emosinya tidak stabil, dengan air mata yang terus berjatuhan. Pasti dirinya sedang begitu kacau sekarang. Kal tidak bisa mengatur emosinya sendiri.


"Mama tak butuh Kal harus suka atau tak. Mama ada di sini, karena Papa Kal yang buat Mama ada di sini." Novi sampai menunjukku dengan dagunya.


"Maksud kau apa, Nov?!" Aku terpancing emosi di sini.


Aku tidak suka, melihat sikapnya yang tidak bisa memperlakukan anakku dengan baik dan lembut.


Novi melirik ke arah Kal, "Papa Kal nanya tuh, silahkan Kal jelasin dan cerita yang jujur." ujaran Novi menyiratkan akan dirinya sendiri yang ingin mengadu.


Kal melihat ke arahku, "Papa…. Tante jahat. Aku dilarang main, aku suruh kerja di rumah." ungkapnya dengan memeluk pinggangku kembali.


Tangisnya menggema kembali. Aku hanya bisa mengusap-usap kepalanya, karena aku kebingungan di sini.


"Nov…." Aku memandang Novi, "Suami kau baru datang, Nov. Pantaskah kek gini?" Aku mengharapkan sedikit sambutan yang hangat dan penuh canda tawa.


Bukannya seperti ini.


"Bang…." Novi hendak menyentuhku.


Namun, aku menepis tangannya. Kemudian mengangkat tubuh kedua anakku, lalu meninggalkannya sendirian di kamar Kaf.


"Papa…. Aku tak boleh masuk kamar ini." ujar Kal, saat aku mendorong pintu kamar utama.


"Iya, Pa. Nanti kami dimarahin tante lagi." tambah Kaf, dengan menyiratkan suara yang menandakan bahwa ia ketakutan.


Apa-apaan lagi ini? Masa anak-anakku dilarang masuk ke kamar orang tuanya sendiri?


Tetapi, aku tetap membawa mereka masuk. Lalu mengunci kamarku ini dari dalam.


Kamar yang begitu terlihat nyaman, tanpa barang-barang milik anak-anak ataupun mainan. Pewangi ruangan yang langsung menyemprot otomatis saat aku masuk, menambah nilai plus kenyamanan di sini.


Aku menurunkan mereka di ranjang, kemudian memandang wajah kedua anakku yang penuh air mata ini. Pasti mereka begitu tersiksa, pasti mereka tidak baik-baik saja.


"Tunggu di sini ya? Papa mau mandi sebentar." Aku menghapus air mata mereka.


"Ya Papa, jangan lama-lama." sahut Kaf, dengan menggulingkan tubuhnya di ranjang.


Aku mengangguk dan berjalan memutar. Aku menuju walk in closet dan mendapati pemandangan yang mengagetkan lagi di sini. Susunan lemarinya berbeda, bahkan lemari milik Kin tidak ada di sini.


Novi mengubah segalanya. Termasuk cara memperlakukan anak-anakku.


Dengan langkah cepat, aku membuka pintu satu persatu lemari ini. Betapa terkejutnya aku, saat pakaian Kin dan barang-barang miliknya tidak ada di sini.


Malah, ada lemari yang berada di gudang beralih ke sini. Pasti, Novi memindahkan lemari Kin di gudang juga.


Meski perhiasan berharga milik Kin, sudah aku amankan. Namun, semua barang-barang peninggalan Kin menurutku memang sangat berharga. Itu adalah kenang-kenangannya untukku.

__ADS_1


Sekarang, Novi membuatnya berantakan dan kacau dalam tiga minggu saja. Bagaimana, jika Novi selamanya hidup denganku? Apa sepenggal kisahku dengan Kin harus ia rusak juga?


...****************...


__ADS_2