
[Kalau tak jadi nginep tuh ngomong, Pa! Biar aku tak nungguin kek orang bodoh begini. Udah pagi buat kesal aja, sekarang malah kasih janji penenang aja.]
Pukul 22.23 aku baru selesai mengurus Kal. Namanya juga anak-anak, diare ya banyak yang menempel di celana. Jadi aku mencuci semua celana kotornya dulu, agar Kal tidak kehabisan celana segitiganya.
Namun, ketika baru kembali ke kamar. Aku mendapati pesan masuk yang kurang mengenakkan, kak Aca menuduhku memberi janji manis semata.
[Maaf, Ma. Lepas Maghrib, aku dapat telepon dari mamah kalau Kal diare dari pulang sekolahnya. Namanya juga papanya anak, aku kalap dengar anak diare, karena aku pernah diare sampai masuk rumah sakit. Sekarang udah di rumah, abis nyuci pakaian Kal yang kena kotoran. Abis bersih-bersih juga, ini baru rebahan di kamar.] Terangku dalam pesan chat ini.
Ceklis dua berganti biru, sudah terbaca. Tetapi, tidak dibalas olehnya. Seperti ini, jika kak Aca mulai marah.
Besok hari Minggu, Kal pun masih dalam masa pemulihan. Rasanya begitu sulit aku keluar rumah, untuk singgah di rumah istriku. Bagaimana caranya, agar aku bisa membujuk kak Aca segera? Masa malam ini aku keluar rumah lagi? Tidak ada laki-laki di rumah ini, papah masih belum pulang ke rumah juga.
[Maaf, Ma. Maaf juga untuk pagi tadi. Aku sama Ahya kan memang akrab, dari kecil pun udah main bareng terus. Tapi akrab sebatas saudara aja, aku kan punya istri, dia pun punya suami.] Tulisku kembali dan langsung mengirimkan padanya.
Sama juga, hanya terbaca tanpa dibalasnya. Hufttt, rasanya aku ingin menelponnya saja. Bagaimana caranya membujuknya, jika berjauhan seperti ini. Misalkan dekat, bersama sebentar saja ia sudah pasrah.
Ehh, benar tidak ya? Tapi pernah seperti ini, ketika kami belum menikah. Tepatnya, saat aku berzina yang kedua kalinya.
Esok harinya, keadaan Kal sudah lebih baik. Alhamdulillah, ia mau makan dan minum banyak. Jadi, tubuhnya tidak drop meski semalam pun sempat beberapa kali terbangun untuk minta diantarkan ditemani ke kamar mandi.
Kal sudah bisa mandiri, hanya saja ia tidak berani ke kamar mandi sendiri jika malam hari. Ia malah lebih sudi keluar kamarnya dan membangunkanku lebih dulu, ketimbang masuk langsung ke dalam kamar mandi.
"Papa…." Kek merengek, ketika melihat saudara-saudaranya berjalan beriringan. Kebiasaan rutin mereka di Minggu pagi adalah car free day, tapi kali ini Kal tidak ikut serta.
"Nanti kalau Kal udah sembuh ya? Nanti gimana kalau kebelet BAB di sana?" Aku menyampirkan hijabnya yang mulai modis ini.
Jika aku berada di rumah, rasanya aku ingin melarangnya untuk tidak terlalu mengikuti gaya hidup Jasmine. Bukan apa-apa, masalahnya seperti terlalu boros. Jasmine mengerti mode, kepantasan, merek dan juga warna yang harus sepadan. Rasanya agak berlebihan saja, jika anak sembilan tahun sudah seperti tengah baligh seperti itu. Aku lebih suka biasa saja, berpenampilan sederhana dan tidak terlalu mencolok.
"Mau beli apa sih?" Aku membingkai wajah anakku, kulitnya begitu dingin. Sepertinya, Kal masih merasakan sakit pada perutnya. Meski frekuensi diarenya sudah jarang, tapi ia masih sering menekan perutnya sendiri.
__ADS_1
"Ya lihat-lihat aja dulu, Pah." Kal bergelayut pada lenganku.
Aku punya ide.
"Eummm…. Main ke Nahda aja yuk? Di sana enak loh, bisa main engklek di aspal juga." Karena perumahan itu masih sepi.
Kal masih berpikir, tapi aku sudah meninggalkannya dan ingin meminta izin pada mamah.
"Mah, aku ke Nahda ya?" Aku coba meminta izin.
Mamah memperhatikanku sejenak, kemudian menghela napasnya. "Jemput aja, Far. Jangan di sana ngobrolnya, di sini aja."
Kalau begitu, ya aku tidak bisa nyelup. Aku ingin merasakannya sejenak, aku rindu dan ingin.
"Ya, Mah. Nanti dibawa ke sini." Daripada tidak diizinkan sama sekali, yang penting ikut aturannya saja dulu.
Mari kita berangkat, aku membawa kedua anakku yang tengah murung ini. Anak-anak biyung sedang rekreasi di CFD tanpa mereka, membuat mereka sedih. Kaf tidak berani ikut, jika kakaknya tidak ikut.
"Ambil mobil, terus ke Nahda. Main di sini, sama Nahda dan Ra juga. Nanti Papa telpon biyung, buat belikan jajanan untuk Kak Kal, Abang Kaf, sama adek Nahda dan Ra." Aku menggandeng dua anak ini.
"Di rumah mama ada kloset kan, Pa?" tanya Kal kemudian.
Anak polos.
"Ada dong. Tunggu di teras ya? Papah ambil mobil dulu." Aku meninggalkan kedua anakku di teras rumahku.
Terawat sih, hanya saja yang memang tidak berpenghuni. Bahkan Minggu kemarin, aku habis punya orang untuk mengecat ulang tampilan depan rumahku. Kini warnanya sudah dominan putih, dengan sedikit abu-abu muda untuk variasinya. Kemarin, aku menggunakan warna abu-abu tua dan hitam. Sudah kosong, bertambah seram.
Aku membantu anak-anakku masuk ke dalam mobil, karena mobilku cukup tinggi. Modelan Canda atau mamah saja, sering kesulitan untuk masuk ke mobilku.
__ADS_1
Semoga aku bisa membujuk dan nyoblos lebih dulu, agar sedikit plong rasa yang menggebu-gebu ini. Tapi apa kata nanti saja, karena ada empat orang anak yang butuh pengawasan nantinya.
Kegirangan Nahda dan Ra begitu lepas, saat Kal dan Kaf turun dari mobil. Dua anak tersebut, sedang bermain di luar. Sedangkan kak Aca, tengah menjemur pakaian.
Kemeja putih sepanjang pahanya basah. Ditambah perumahan ini masih sepi, membuatnya berani keluar rumah dalam busana seperti itu saja.
Cantiknya dan seksinya tiada tara. Ibarat artis lokal, wajahnya seperti Mira Putri. Hanya saja mata Mira Putri belo, sedangkan kak Aca sedikit sipit. Jika postur tubuh, ya mirip Aura Kasih. Pinggul ke bawah besar, perut datar dan menurutku dadanya sangat pas dan mangkal. Tidak terlalu lebay atau tinggi bulat seperti implan.
"Main di dalam dulu yuk? Mama belum mandi." Kak Aca menggiring empat anak tersebut masuk.
Aku langsung mengekori mereka. Namun, pintu segera akan ditutup kala aku baru menginjak teras.
Cepat-cepat, aku langsung menahan daun pintu tersebut. "Nanti sih, Ma," rengekku seperti anak kecil.
Kak Aca membuang napasnya. "Udah, di luar aja." Wajahnya masih masam saja.
"Ya aku jagain anak-anak dulu, nanti gimana kalau mereka berantem?" Pintu bahkan sudah setengah ditutup.
Aku paham, ia masih marah. "Maaf ya, Ma? Ahya cuma temen kok, memang orangnya agak saiko kek Canda. Mama kan kenal akrab sama Ahya, jadi pasti tau dong gimana dia?"
Bukannya Canda atau Novi yang ia cemburui. Tapi Ahya, yang memang hanya temanku saja.
Eh, tiba-tiba matanya memerah dan berair.
"Ya, harusnya cerita. Tak cerita apapun sama sekali, tapi datang dia langsung peluk-peluk aja. Ngakunya, aku ini cuma satu-satunya teman Papa. Tapi, Ahya lebih baik kenal Papa dan bergurau sama Papa."
Aduh, bagaimana ini?
"Iya, maaf. Mama kan teman hidup aku. Ahya kan, cuma teman masa kecil dan kebetulan sepupuan aja." Aku mencoba menyentuh tangannya.
__ADS_1
Pusingnya aku, ketika sudah cemburu mode on begini.
...****************...