
"Kalau dia benar-benar pengen lanjutkan kegilaan dia itu, aku tak segan-segan klaim Papa jadi milik aku saat itu juga! Kejadian di mobil waktu kita berangkat liburan sama rombongan Canda, sebelum kita sampai di saung makan Sunda." Ia berguling ke samping kananku.
"Oh, iya-iya." Aku manggut-manggut karena baru mengingatnya.
Jadi seperti ini caranya mengklaim aku untuk menjadi miliknya? Yaitu, dengan cara hamil anak aku?
"Ma, kan rencana kita tak gini." Aku berbaring menyamping, dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh kami.
Aku memandangnya dari samping. Ia terlihat seperti melamun, pandangannya kosong menatap plafon kamarku. Apa ia belum keluar? Atau, ia belum merasa plong?
"Kenapa, Ma?" Aku melingkarkan tanganku di atas perutnya.
Dari ujung matanya mengalir air bening, tapi ia langsung mengusapnya begitu cepat. Lalu, ia menoleh ke arahku dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku. Aku merasa tubuhnya bergetar, ia terisak dengan mengeratkan pelukan kami.
Apa aku bersalah? Apa ia masih marah dengan kejadian tadi? Ya, kejadian di mana Novi masuk ke kamarku.
"Maaf, Ma. Tadi aku sama Novi tak ngapa-ngapain kok, aku cuma isengin Mama aja. Aku sabar kok nunggu Mama, cuma tadi memang udah ngantuk aja. Aku tak berniat untuk ngajak dia gelut, aku tak ada niat untuk main sama perempuan lain." Aku mengusap-usap punggungnya yang masih terbebas dari apapun.
Ia tidak menjawab apapun, ia masih terisak dengan menyembunyikan wajahnya. Ia masih belum puas, untuk menangis di dekapanku.
"Mama belum keluar kah? Sini, biar aku keluarkan. Jangan nangis, aku masih mampu kok." Karena ia tak kunjung meresponku, pikiranku jadi bercabang ke mana-mana.
"Ma???" Aku mencoba mendorong bahunya, agar aku bisa melihat wajahnya.
"Mama???" Aku membingkai wajahnya dan mengusap air matanya.
Berkulit cerah dan bermata cenderung sipit, wajahnya sampai berubah merah dengan kantung mata yang langsung membengkak. Ia seperti mamah ketika menangis.
"Mama kenapa?" Aku menatap wajahnya dari dekat.
__ADS_1
Ia menggeleng, kemudian mendekapku lagi. Aku dilanda bingung, meski dirinya sampai mendengkur halus.
Kenapa ia menangis saat kami selesai melakukan? Ia kenapa sebenarnya? Apa aku kasar tadi? Apa aku tidak bisa memuaskannya tadi? Tapi, aku ditahan untuk tetap di bawahnya. Atau, ia kekurangan finansial? Apa trolinya begitu penuh? Sampai ia memikirkan saja, tapi tidak mampu untuk mengatakan padaku? Tapi, biasanya ia selalu meminta tanpa sungkan.
Bingung aku.
Aduh, lupa lagi. Ia belum cuci, aku pun sama. Pintu pun belum dikunci, kami juga belum berpakaian.
Aku melepaskannya perlahan, kemudian lari ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, barulah aku membantu mengelap sisa percintaan kami di tubuh Aca. Aku mengecek keadaan anak-anak, sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk memeluk istriku yang begitu pulas terlelap tersebut.
Hari-hari berikutnya, gangguan dari Novi sedikit berkurang. Hanya saja, ia tetap berani jika berada di tempat kerja.
Setiap malam pun, Aca menawariku untuk melakukan ibadah suami istri. Secara langsung, atau dalam chat. Namun, aku sendiri yang kadang menolaknya karena kelelahan. Tidak setiap hari juga, aku pulang kerja tepat waktu. Aku lebih sering pulang telat karena pekerjaan yang menumpuk. Belum lagi, Ria selalu mengajukan pekerjaan hari esok untuk diselesaikan atau hanya disimak hari ini.
Aku merasa tidak enak pada tetangga, karena mereka tahu bahwa orang tuaku tidak berada di rumah. Tetapi, aku sering berada di rumah orang tuaku yang ditempati dua perempuan dan satu aki-aki tersebut. Benar, Novi masih betah berada di rumah orang tuaku.
"Far…." Canda muncul dari pintu besi halaman samping.
"Apa, Cendol?" Aku meliriknya sekilas.
"Pegang Cani, aku belum asharan. Mas Givan lagi sibuk, pengasuh lagi bawa anak-anak ngaji. Ibu pun lagi berbenah tutup toko jam segini. Kalau tak ada mamah tuh, aku serba repot."
Anak perempuan yang seperti bolu ulang tahun ini langsung ditempatkan di atas pangkuanku.
"Papa baru pulang loh, Biyung." Aku memasang wajah memelas.
"Iya, aku tau. Nanti aku buatkan teh manis. Aku buat dulu nih, terus mandi dan sholat." Canda berlalu pergi kembali.
"Momong Cani, Papa dikasih teh manis aja gitu? Hm, hm, hm. Dasar, biyung!" Aku mengajak anak ini berbicara.
__ADS_1
"Ain…." Anak dua tahun kurang ini menunjuk rumah mamah yang begitu jelas dilihat dari sini.
"Nanti, Dek. Papa nungguin teh manis dulu." Aku menundukkan anak ini di lantai.
Cara yang tepat untuk membuat anak-anak anteng adalah, memberinya ponsel. Aku melakukannya, lalu aku bersantai dengan memperhatikannya yang kepala bergoyang mengikuti irama musik lagu anak-anak.
Canda kembali dengan memberiku segelas teh manis hangat. Lalu, ia kembali lagi ke rumahnya tanpa menyapa Cani. Aku menikmati soreku sejenak, dengan teh manis yang komposisinya selalu aku rindukan ini. Teh manis buatannya, begitu pas dan candu. Dari dulu aku selalu suka dengan teh manis buatannya. Terkadang, saat dulu aku sering meminta dibuatkan. Sekarang aku sungkan, karena suaminya galak.
"Au, Papa." Cani lebih dekat padaku.
"Nih." Aku memberinya dengan sendok.
Teh manis sudah ludes, aku menikmatinya dengan berebut bersama Cani. Setelahnya, aku mengantongi ponsel dan mengajak Cani ke rumah mamah.
Anak-anak yang sudah pulang mengaji, ternyata dilepasliarkan di halaman rumah mamah. Ada yang bermain sepeda, scooter, mobil-mobilan besar, ada juga yang berlarian saja.
"Minta jatah lagi ya? Pulang cepat ya?" ledek Novi, yang melewati kami begitu saja.
"Iya, kau diajak bertiga tak mau." Aca meliriknya sampai ke ekor matanya.
"Udahlah, Ma." Aku bertutur lembut dengan mengusap-usap bahunya.
Masalah kehamilan, jujur aku tidak yakin aku langsung bisa menghamili. Makanya, aku tenang saja saat ia sering memaksaku untuk keluar di dalam. Setelah Kin keguguran dulu, ia sulit hamil yang mungkin karena airku yang kurang tokcer. Bersama Novi pun, aku tak bisa membuatnya hamil juga. Padahal benih yang jarang dikeluarkan kan cenderung bagus.
"Siang tadi mak cek nelpon, Pa." Aca mengambil alih Cani, kemudian ia menurunkan anak itu di tanah.
Membiarkan Cani berbaur, dengan kaki tanpa alas. Tentunya, Chandra langsung sigap menjaga adiknya yang paling kecil tersebut. Ia sudah selalu menggandeng tangan Cani, dengan peci yang masih berada di atas kepalanya. Cani bisa tertawa geli, dengan wajahnya yang diperhatikan lekat oleh kakaknya tersebut.
Satu tahun kemudian, setting waktu sudah berada di novel Retak Mimpi. Sedangkan novel ini, harus ditamatkan bulan ini agar tidak menyambung ke novel Retak Mimpi.
__ADS_1
"Mamah ngomong apa, Ma? Gimana usaha mereka?"
...****************...