Istri Sambung

Istri Sambung
IS144. Membujuk untuk bercerita


__ADS_3

"Ke mamah aja yuk, Nov? Kita tinggal di kamar atas." Aku memeluknya dari belakang dengan pelan, agar ia tidak terkejut.


"Kita punya rumah, Bang. Masa di mamah lagi?"


Entah kenapa, aku merasa Novi butuh jauh dari tempat yang memberinya pengalaman buruk ini. Maksudnya, ya meninggalkan waktu beberapa saat. Agar ia sedikit lupa, akan kejadian di ruang dokumen itu.


Aku pun baru tahu, ternyata rak kaca itu sudah dihancurkan oleh Zuhdi dan papah. Dengan tidak berbekas, termasuk isinya.


"Beberapa saat aja dulu, sampai kau biasa aja di rumah ini."


Novi banyak melirik ke arah pintu utama dan ruang dokumen. Ia seperti memperhatikan rumah, ada orang atau tidak.


"Tapi kan?" Novi berbalik badan dan memelukku.


"Kenapa, Nov?" Novi menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Aku merasa lebih nyaman di sini."


Apa aku pasang pagar dan teralis besi saja? Seperti rumah bang Givan, yang semua halaman rumahnya pun dikelilingi oleh tembok beton nan tinggi. Tapi jika rumah seperti itu, saudara tidak tahu jika penghuninya butuh pertolongan. Ditambah lagi, orang luar pasti kesulitan mengulurkan bantuan.


Apa aku perlu bertanya pada ahli bangunan seperti Zuhdi?


Kalau dia yang sering merantau pun, rumahnya tidak dipagar tinggi. Hanya saja, ya memang masih rumah panggung. Rumah panggung pun mewah, kayunya luar biasa mahal.


"Aku takut, kau trauma." Aku membawanya untuk duduk di sofa kamar kita.


Setelah sore hari Novi bangun. Aku membawanya untuk membersihkan diri, di kamar kita. Aku membantunya untuk mandi air hangat, karena ia menolak untuk dibilas saja.


"Tak, Bang. Tenang aja."


Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?


"Kau tak diapa-apakan kan?" Aku mencoba membuatnya bercerita kembali.


Namun, Novi menggeleng. Aku ingin penjelasan darinya juga, bukan hanya geleng-geleng begini. Jika Canda, jelas tidak berpakaian saat dulu. Membuatku yakin, apa yang sudah merenggutnya. Jika Novi, ia masih berpakaian hanya saja tidak berhijab lagi.


"Aku pengen ke mamah, seharian ini belum nengok anak-anak. Cuma pagi tadi aja, antar mereka sekolah. Kau mau ikut?"


Kembali, Novi hanya menggeleng.


"Nginep semalam di rumah mamah aja yuk?" Novi butuh tempat baru, untuk menenangkan dirinya.


Kembali lagi, Novi hanya memberi gelengan kepala.


"Cerita coba, Nov." Aku lelah memancingnya.


"Tak ada yang perlu diceritakan, Bang." Novi bersandar pada dadaku.

__ADS_1


Aku hanya diam, dengan pikiran yang semrawut. Aku mengusap-usap rambutnya, yang aku semprotkan sampo kering.


"Kalau begini, kapan aku bisa tenang, Nov?"


Apa harus aku tanyakan langsung pada bang Ken?


Tapi, apa ia mau mengaku?


Namun, jika seperti ini terus. Malah aku yang mati penasaran dan kebingungan. Aku khawatir, prasangkaku salah. Aku khawatir, Novi pun berubah menjadi pendiam. Ditambah lagi, aku khawatir membenarkan kebenaran yang salah pada diriku sendiri. Membuat traumaku semakin menjadi.


Tadi saja, aku tidak bereaksi ketika membantu Novi mandi. Tidak bereaksi, ketika membantu Novi mengeringkan tubuhnya dan berpakaian.


Apa keadaannya sedang tidak mungkin? Membuat Black Mamba tahu posisinya.


Tapi kan, jika laki-laki tidak begitu. Meskipun tempatnya salah, tetap akan bereaksi. Yang terpenting, bagaimana kitanya saja. Kita melakukan, atau lebih memilih mengurungkan niat.


"Tenang gimana, Bang?" Novi mengusap-usap perutku.


"Ke mamah ya?" Aku membujuk kembali.


"Tak usah, Bang."


Cup….


Rahangku diberi tanda kasih dari Novi.


Bunyi ponsel, mengganggu keromantisan kami. Aku segera bangkit, untuk menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo…." Aku segera menerima, sebelum panggilan habis.


"Far, kau tak apa? Sakit kah? Gimana? Ra cerita, katanya papa pingsan."


Si Tuyul Ra ternyata yang menyebarkan sampai ke Pulau Kalimantan.


"Tak apa, Bang." Aku tak mungkin menjelaskan, bahwa aku K.O karena teringat akan bayangan kesedihan Canda dulu.


"Ish, tak mungkin tak apa. Ada apa? Sakit kah? Atau tak punya makanan?"


Padahal dirinya tahu sendiri, bahwa ekonomiku tengah melesat tinggi sekarang. Bisa-bisanya ia berpikir, bahwa aku tidak memiliki makanan?


"Ada kejadian kecil aja, Bang. Coba tanyakan ke bang Ken aja langsung. Dia pelakunya kok." Aku tidak menjelaskan secara langsung, karena aku pun belum tahu pasti bagaimana kejadiannya.


"Ya udah, Abang matikan dulu."


Tut….


Panggilan diputuskan sepihak. Aku langsung menoleh ke arah Novi, ternyata ia tengah mengamatiku sejak tadi.

__ADS_1


"Ayo ke mamah yuk? Kau tak mau cerita sama suamimu kan? Coba ceritakan ke ibu mertua kau, Nov." Aku sudah buntu untuk membujuknya.


Jawaban yang membuatku naik pitam, ia malah menggeleng kembali. Sebenarnya, apa maksudnya? Kenapa ia terus menolak untuk buka suara?


Hingga paginya lagi, kami beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, Novi enggan mengantarkan makanan pada anak-anak. Ia tidak mau keluar rumah, ia pun memintaku untuk mengantarkan anak-anak bersekolah.


Karena keadaan kepalaku yang merumit, aku memutuskan untuk menghubungi Dewi. Aku mengatakan, bahwa hari ini aku tidak bisa berangkat bekerja. Aku memintanya untuk menghandle, kemudian membawa dokumen yang membutuhkan tanda tanganku, untuk diantarnya ke rumahku saja.


"Tak apa kah sendirian? Aku mau antar Kal dulu." Pagi pun tidak ada makanan yang kami antar untuk anak-anak.


Sungguh, aku pusing dan bingung sendiri. Mamah pun pasti di sana memasak juga, anak-anak bisa makan masakan mamah dulu.


Sekarang sudah pukul setengah tujuh pagi. Kal masuk kelas jam tujuh pagi.


Novi mengangguk. "Aku mau bersihkan kamar mandi kita dulu, baju yang udah dilipat pun belum dirapikan ke lemari lagi." Novi naik ke tangga, dengan membawa cairan pembersih kamar mandi.


"Ati-ati ya? Aku keluar dulu. Kunci aja pintu kamarnya, pas kau aktivitas di kamar," pesanku, sebelum aku berjalan menuju pintu penghubung ke garasi rumah.


Aku mengeluarkan motor satu-satunya ini, Nmax penuh kenangan. Aku tidak pernah menggantinya, sejak aku pertama membeli. Beginilah aku, tidak pernah berganti ponsel, kendaraan atau barang lainnya ketika masih bisa digunakan.


Aku melajukan kendaraanku, ke rumah mamah yang berjarak cukup dekat.


"Kal…. Ayo berangkat," seruku dari halaman rumah mamah.


"Biar sama aku, Far. Sekalian jalan."


Laki-laki sialan itu!


"Tak perlu kau repot-repot! Mau ngerusak anak perempuan aku juga kan kau?!" Aku menurunkan standar samping motorku ini.


Kemudian aku turun, kemudian berjalan ke arahnya yang duduk di teras depan memakai sepatu.


Pantas Novi tidak mau dibawa ke mamah. Ternyata, anak angkat ini bersarang di rumah mamah.


"Ck…." Ia malah geleng-geleng kepala.


"Udah, Far! Jangan mulai!" peringatan tersebut datang dari dalam rumah.


Mamah muncul dengan bersedekap tangan. Wajah galaknya dipasang untuk menakut-nakutiku.


"Dia yang mulai, Mah!" Aku menunjuk bang Ken.


Helaan nafas bang Ken begitu berat. Kemudian ia bangun, langsung berdiri tegap di hadapanku.


"Istri kau udah cerita belum? Dia udah buka suara belum? Kau masih kira aku bersalah? Kalau di pikiran kau, aku tetap bersalah. Aku minta maaf, untuk prasangka yang kau tuduhkan ke aku itu."


Maksudnya bagaimana?

__ADS_1


Kenapa dalam ucapannya, bang Ken seolah mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah di sini.


...****************...


__ADS_2