Istri Sambung

Istri Sambung
IS44. Mulai membicarakan


__ADS_3

"Nov!" aku menahannya, yang hendak menarik kaosku ke atas.


Aku bagikan anak kecil, yang hendak dimandikan.


Novi mengurungkan tindakannya. Ia kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa, dengan bersedekap tangan dan membuang wajahnya.


Gadis jaman sekarang, bikin geleng-geleng kepala saja.


"Pulang gih." aku mengusirnya dengan nada lembut.


"Tau ah." Novi menghentakkan satu kakinya ke lantai.


Apa ia ingin memberitahuku, bahwa ia tengah marah sekarang?


Dalam hal membujuk perempuan. Aku suhunya. Karena aku sudah paham, tata cara membujuk Kinasya dulu. Kinasya ratunya ngambek dan marah, aku terlatih untuk menanggapi wanita seperti itu.


Namun, belum waktunya untuk membujuk perempuan. Novi masih belum siapa-siapaku, apalagi belum adanya akad di antara kami.


"Pulang, Nov! Aku tak enak sama mamah aku, kalau kau ditanya kenapa bisa pulang semalam ini." sekarang sudah pukul sepuluh malam.


Tamu itu, diberi waktu hanya sampai pukul delapan. Apalagi, ini adalah tamu perempuan pada laki-laki. Kasarnya, Novi tengah mengapeliku.


Wushhhh….


Ia langsung berlalu pergi di depan wajahku, tanpa sepatah katapun. Ya sudah, yang penting ia tidak mengada-ada saja saat ditanya mamah.


Maaf ya, Kin? Bukan aku selingkuh. Aku hanya mencari ibu, untuk anak-anakmu, anak-anak kita.


Aku memandang foto pernikahanku dan Kinasya, dalam bingkai besar yang terpajang di ruang tamu ini. Aku harus menyimpan ini dengan rapi, agar aku mudah untuk menerima perempuan lain.


Setidaknya, mungkin aku akan memperlakukan dia layaknya ratu. Meski, aku tidak bisa membuatnya hamil. Mungkin Novi akan kecewa, tapi pasti aku akan memilih jalan lain untuk kehamilannya nanti.


~


"Serius tak kau? Cepat-cepat begini, udah kena kah rupanya?"


Inilah, yang aku tidak sukanya dari papah. Mentang-mentang dulu aku selalu ketahuan olehnya, saat tengah bermesraan dengan Kin. Kini, aku dituduh sudah menid*ri Novi.


Ya, pagi ini aku langsung mengutarakan pada papah yang hendak mengantar cucu-cucunya sekolah. Ini bukanlah kegiatan rutin, ini murni keinginannya sendiri. Hanya sewaktu-waktu, kalau ia memang ingin mengantar cucu-cucunya.

__ADS_1


"Hmm, niat baik malah dituduh jelek." aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Ya udah sana bilang ke mamah kau dulu. Obrolin juga masalah catering, sama dekorasi. Papah mau antar anak kau dulu, sama cucu mahal juga." papah Adi menaikan Kaf, di jok depan motor matic berwarna hitam itu.


Cucu mahal dan cucu tercantik, terlahir dari rahim Canda. Anak pertamanya diklaim sebagai cucu mahal, karena penantiannya cukup lama. Sudah seperti itu, anak itu begitu cerdas dan kreatif, ditambah lagi tampan, membuatnya selalu dipuji oleh kakeknya ini.


Jika bersama ayahnya sendiri, Chandra tetap saja didodol-dodol. Semacam diledek, bahwa dirinya bodoh.


Chandra bisa aku sebut cerdas dan kreatif, karena ia begitu cepat meratakan warna kubik. Belum lagi, jika bermain balok susun. Minimalis istana negara dan bentuk lainnya, bisa ia bentuk dengan waktu yang cepat. Padahal, ia baru berusia delapan tahun.


Belum lagi hafalan Al-Qur'an, Chandra sampai hafal surat Al-Baqarah. Yasin seperti lagu anak-anak untuknya, belum lagi doa sehari-hari yang membuat setan mundur teratur.


Mungkin karena didikan Canda, yang notabene hafizah Qur'an. Belum lagi pengasuhnya, yang bang Givan tekan, agar rutin mengantar anak-anaknya mengaji dua kali sehari. Selepas maghrib dan setelah sholat subuh.


Jika Kin, lebih menekan pada ilmu basic di sekolah. Seperti matematika, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Tapi tetap saja, nilai anak-anakku kini merosot. Karena tidak ada yang mengajari mereka lagi.


"Mah…." aku memasuki rumah megah milik orang tuaku.


Tidak nyamannya begini. Selalu ada orang asing, yang membuatku tidak nyaman berkunjung.


Kemarin Novi, sampai aku akhirnya merasa biasa saja padanya. Kini, kak Aca. Ya, si Anasya itu. Nama panggilannya adalah Aca.


Mamahku seolah begitu kesepian, padahal anak begitu banyaknya. Ia selalu membuka lebar-lebar rumahnya, untuk menampung sanak saudaranya.


Aku hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkah kakiku menuju dapur. Tetapi, aku sudah berpapasan saja dengan Caera.


"Masih pagi gini, kau udah di sini?" aku mengusap kepala anak itu.


"Ain, ma yayah." anak itu berlari ke arah pintu samping.


Benar, ada ayahnya di sini. Ia tengah memasang roda bantu untuk sepeda roda dua, yang berwarna ungu dengan stiker Barbie.


"Ra…. Sini Ra! Coba dulu duduk di sini. Ayah mau turunin joknya." bang Givan melirikku sekilas, kemudian ia melambaikan tangannya pada anaknya yang berada di depanku.


Aku melanjutkan langkah kakiku menuju dapur, setelah Caera berlari ke ayahnya kembali.


Jika penasaran dengan kisah rumah tangga kakakku, bisa langsung cek pada novel Canda Pagi Dinanti.


"Mah…." aku memanggil seseorang yang selalu menjadi tempat bersandarku ini.

__ADS_1


"Apa?" mamahku tengah repot dengan pancinya.


"Mah, aku mau nikahin Novi. Gimana menurut Mamah? Mamah setuju tak? Papah sih cuma ketawa aja tadi, suruh bilang ke Mamah aja katanya." aku berkata langsung, tanpa obrolan lain sebagai pembuka. Karena, aku khawatir lupa seperti kemarin.


Mamah menaruh panci yang sedang ia gosok dengan spons itu. Kemudian, beliau berjalan ke arahku setelah mencuci tangan.


"Udah review kah?" mamah duduk di kursi makan, yang paling dekat denganku.


Aku tersenyum masam.


Tidak papah, tidak mamah. Sama saja, suka meledakku seperti ini. Jika aku iyakan, pasti centong nasi melayang ke kepalaku.


Namun, jika dibiarkan. Aku malah menjadi bahan tertawaan.


"Belum, Mah. Serius loh ini, Mah. Biar jam makan siang, aku tak perlu pulang ke rumah lagi. Karena udah ada ibu sambung, untuk anak-anak aku." aku sudah ingin fokus bekerja, agar perusahaanku tidak tergerus oleh zaman.


"Novi sama kek Kin. Kau harus pikirkan itu. Kau yakin, nikah dengan dua perempuan dengan latar belakang yang sama?"


Ambigu.


"Novi waras kok, Mah. Masa ia mengidap Sindrom Othello lagi? Katanya, tak semua perempuan bisa mengidap sindrom itu?" aku mengerutkan keningku, karena memikirkan hal ini.


Mamah menepuk jidatnya, "Bukan, Far!" mamah sampai menunjukkan semua gigi depannya.


Aku terkekeh kecil, "Terus apa, Mah?" aku tidak bisa menebaknya.


Mamah menghela nafasnya, "Resikonya kau nikahin Novi. Kau tak bisa ngundang banyak tamu, keluarga inti aja. Keluarga kita, misal Mamah sama papah aja. Nah, terus pihak dari keluarga almarhumah tante Bena. Karena dari pihak almarhum om Edo, ada papah kau yang jadi saudara sekandungnya. Keluarga lain, tak usah hadir sebagai saksi."


Aku mengerutkan keningku. Aku bingung di sini, kenapa dua pernikahanku harus dilaksanakan dengan privat.


Karena Novi memiliki orang tua. Maksudku, Novi tidak seperti Kin. Kinasya terlahir dari pernikahan siri, lalu ia diadopsi oleh kakak ibunya. Tentu saja membuatnya diwakilkan ayah biologisnya, tetapi dilempar kembali pada wali hakim, karena Kinasya ada putri yang dikandung sebelum adanya akad nikah.


Membingungkan ya? Tapi benar adanya. Ditambah lagi, bintinya harus diganti dengan ibu kandung Kinasya. Kinasya tidak bisa ikut nashab ayah biologisnya, begitulah ilmunya. Karena ia sudah berada di dalam kandungan, sebelum adanya pernikahan.


Apa aku ini bermasalah? Maksudnya, aku tidak boleh diketahui publik bahwa aku sudah menikah? Tapi, untuk apa gunanya?


Aku jadi merasa, bahwa aku ini aib. Sampai-sampai, dua pernikahanku pun, hendak di rahasiakan.


"Kenapa sih, Mah? Aku jadi tersinggung. Aku merasa, kek aku ini aib." aku menggaruk kepalaku.

__ADS_1


"Bukan kau. Tapi……


...****************...


__ADS_2