Istri Sambung

Istri Sambung
IS294. Aca sakit


__ADS_3

"Balik kerja kok malam sekali?" sapa papah ketika aku hendak berbelok ke arah rumah. Papah berada di samping Riyana Studio, dengan menggendong Can. Si cucu paling cengeng dan paling nempel dengan papah, Cani sudah seperti anak bungsu papah.


"Selesaikan dokumen, Pah. Alhamdulillah, udah kehandle semua." Aku menginjak pedal rem sesaat. Aku tidak menutup kaca jendela mobilku, karena AC mobilku sepertinya mengalami kerusakan. Sejak pagi aku membawanya tidak terasa dingin.


"Ya udah gih pulang! Nanti ke Papah ya kalau udah makan?" Papah membenahi cucu dalam gendongannya itu.


"Ya, Pah." Aku perlahan menjalankan mobilku kembali.


Aku memiliki dua mobil, tetapi satunya sudah lama dipinjam oleh Ghavi. Ia belum memiliki kendaraan kembali, sedangkan ia sering dinas ke luar kota untuk pekerjaannya.


Papah ingin membahas apa ya? Sepertinya pupuk.


"Pa…. Mama sakit." Nahda menyambutku dengan kabar buruk.


Tadi aku izin lembur, Aca hanya mengiyakan tanpa mengadukan keadaannya. Apa ia baru saja merasakan tidak enak badan?


"Mama di mana? Adek lagi ngapain di bawah sendirian?" Nahda ada di lantai bawah.


"Buat telor dadar sama bu Tami, Pa. Aku belum lapar, perutnya keroncongan." Nahda mengusap-usap perutnya.


"Waduh, nanti makan yang banyak ya? Minta bu Tami bantu bawakan makanan Nahda ke atas ya nanti?" Aku mengusap kepala anakku.


"Iya, Pa." Nahda kembali berlari ke dapur.


Nahda sampai belum makan. Sakit apa ya jantung rumahku?


Aku memperhatikan Kal dan Kaf yang tengah belajar di ruang keluarga. Dengan Ra yang tengah anteng dengan bermain ponsel. Aku tahu, itu adalah ponsel milik Kin yang penuh dengan kenangan dan cerita. Mereka hanya bertiga, tidak ditemani oleh Aca. Aku semakin tidak sabaran untuk tahu, akan apa yang Aca derita.


"Ma…." Aku menemukannya tengah berbaring ke samping kanan. Matanya terpejam, dengan wajah yang pucat. Saat aku menyentuhnya, kulitnya terasa begitu basah dan dingin. Ia bermandikan keringat dingin.


"Awas itu ada muntahan aku, Pa. Entah vertigo atau kurang darah, kepala aku berputar betul tak tahan sampai mual-mual." Aca berbicara pun dalam keadaan mata terpejam.


"Udah bilang mamah belum? Apa aja yang dirasa?" Aku mengusap keringatnya dengan tisu kering yang berada di nakas.


"Mata pusing pas buka, dunia terasa berputar cepat. Timbulnya mual-mual soalnya pusing betul. Mabuk alkohol sampai kalah sensasinya."


Pantas saja ia masih memejamkan matanya.


"Aku telpon mamah, biar dipanggilkan dokter. Sabar dulu ya?" Aku langsung merogoh ponselku.


Aku yakin Aca tidak mengadu pada mamah. Lain dengan Canda, ia pasti langsung heboh dengan ibu mertuanya.


"Hallo, Mah. Lagi ngapain?" Aku khawatir mamah sudah terlelap.


"Lagi lipat baju, kenapa?" sahut mamah dari dalam panggilan telepon ini.

__ADS_1


"Aca sakit, Mah. Aku tak tau lagi, aku baru pulang kerja. Mual-mual, kepalanya pusing betul katanya. Tolong ke sini, Mah. Panggilku dokter gitu." Aku merasa tubuhku perlu mandi, karena cukup lengket. Sedangkan, Aca tidak ada yang menjaga dan mengurus.


"Iya, Mamah ke sana." Panggilan terputus.


Aku memperhatikan istriku lagi. Membereskan beberapa kain yang bekas muntahannya, sesekali menilik keadaannya. Aku pun sudah menyiapkan ember, barangkali ia ingin muntah kembali.


Aku melilitkan handuk di pinggangku. Aku baru selesai mencuci beberapa kain kotor tersebut, berniat ingin memastikan keadaan Aca kembali. Namun, ternyata sudah ada mamah di sampingnya.


"Mah, jagain ya? Aku mau mandi dulu," ucapku dari ambang pintu walk in closet.


Mamah menoleh ke arahku, kemudian beliau mengangguk. "Mamah udah telpon Ken, nanti dia ke sini untuk cek keadaan Aca."


Hmm, laki-laki itu. Jangan sampai, ia tertarik dan membawa istriku dalam pesonanya kembali.


"Ya, Mah." Aku hanya mencoba menurut saja.


Aku kembali beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dengan segera, kemudian berpakaian. Rupanya, perutku kelaparan juga seperti Nahda.


Mungkin aku mandi cukup lama, sampai bang Ken sudah berada di dalam kamarku bersama mamah dan Aca.


"Darahnya rendah, Far. Jangan ajak begadang dulu. Tebus ke apotek ini resepnya, aku tak sedia obat." Bang Ken menaruh secarik kertas di atas nakas.


"Mah, aku ke Givan dulu ya?" Bang Ken pamit pada mamah.


Ia hanya memeriksa, kemudian kembali pergi. Eh, tapi apa katanya? Jangan begadang dulu? Kemarin pun, baru aku begadang sekali dengannya. Rupanya, Aca tidak biasa begadang atau tidur terlalu malam. Ia menjadi sakit, karena begadang sampai jam setengah satu semalam tadi.


Aku berjalan menghampiri dan mengambil kertas tersebut. "Aku pergi dulu ya, Mah?" Aku berbalik badan.


"Pa, beli bubur sop."


Rupanya belum makan.


"Oke, pedas tak?" Aku memperhatikannya sejenak.


Aca miring ke arah kiri sekarang.


"Jangan," sahutnya lemah.


"Mamah mau ya, Mah?" Aku menawari mamah.


"Tak, sate aja."


Aku terkekeh geli mendengarnya. "Oke, siap." Aku melanjutkan langkahku kelaut dari kamar.


Setelah memesan sate dan bubur sop ayam kampung. Aku langsung menuju ke apotek sejenak. Sengaja pesanan aku tinggalkan, agar ketika aku kembali pesananku sudah jadi.

__ADS_1


Aku membantu Aca makan. Ia menolak untuk bangun, karena ia merasa kepalanya begitu berputar. Ia makan dalam posisi rebahan menyamping.


Anak-anak pun, digiring bang Givan untuk ke rumahnya. Bang Givan mengatakan, biar anak-anak menginap semalam di sana. Memang biasa saja, jika mendengar ibu hamil anemia dan muntah-muntah. Tapi masalahnya, aku memiliki banyak anak dan aku belum terlatih mengurus banyak anak. Ditambah lagi, aku memiliki anak asuh yang super aktif.


"Mamah tidur di sini aja sih, Mah." Aku makan satu piring berdua dengan mamah, lauknya tentu dengan sate.


Aku membeli tiga kodi sate ayam. Dua kodi dibawa oleh anak-anak, biar nanti mereka makan bersama. Lalu, satu kodi untukku dan mamah. Mamah tidak makan olahan kambing, mamah memiliki pantangan untuk itu. Membuatku harus ikut serta makan sate ayam ini, meski sebenarnya aku penikmat olahan kambing. Hanya aku dan papah, sayangnya papah memiliki hipertensi. Papah disarankan untuk tidak mengkonsumsi daging kambing, apalagi jika daging kambing muda.


"Papah kau tak ada yang ngelonin."


Aca yang tengah sakit pun sampai bisa tertawa.


"Ya tak apa, papah juga nginap di sini," usulku kemudian.


"Nanti aja, kalau lahiran."


Aku akan menagih untuk itu.


"Mah, Mamah di sini dulu ya? Aku ada perlu sama papah sebentar." Aku yakin mamah bisa menemani dan menjaga Aca sementara.


"Papah suruh sini aja deh, nanti biar pulang bareng Mamah."


Mereka satu paket. "Iya nanti aku panggilkan."


Beberapa menit berlalu. Aca sudah minum obat dan tengah berusaha untuk tidur. Aku bergegas menuju ke luar rumah, untuk melihat anak-anak lebih dulu sebelum memanggil papah. Papah jarang membawa ponsel sepertiku. Membuatku harus datang menghampiri, ketika butuh dengannya.


"Masih sama Cani aja, Pah." Aku menemukan papah masih berada di area Riyana Studio.


"Iya, tak mau pulang. Lagi manja sama Kakek." Papah mencium pipi Cani dengan gemas.


"Kek ayang." Cani mengusap pipi kakeknya.


"Cani sayang." Papah melakukan hal yang sama pada pipi Cani.


Sepertinya, papah adalah cinta kedua untuk Cani.


"Ke rumah yuk, Pah? Ngobrol di rumah, nanti pulang bareng sama mamah katanya. Mamah takut pulang sendirian." Akal-akalanku keluar.


"Ck…. Medan, Bener Meriah aja berani sendirian mamah kau. Apalagi cuma melangkah dari rumah anak ke rumahnya."


Aku terkekeh kecil, karena kentara memanipulasi perkataan mamah.


"Yuk, bobo di Papa. Nanti besok tinggal kau antar ke Givan aja, Van. Minum susunya jarang kalau malam tuh, lebih sering minta air putih dia." Papah melangkah lebih dulu.


Sepertinya, aku akan begadang lagi bersama papah dan Cani.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2