
"Aku tak pernah diapa-apakan bang Givan. Memang diapakan?" Ria sampai mengerutkan keningnya.
"Dicium mungkin?" Aku memicingkan mataku.
"Sering, di jidat. Cium tangan dia, kalau aku mau pergi. Kasih uang sama dia, fasilitas, upah lebih. Udah kek simpanan dia. Tapi aku juga disuruh cebokin anaknya, suruh nyuapin anaknya dan suruh jagain anaknya masa dia sibuk rapat. Super sekali abang ipar ini, ngasih jajan tapi aku disuruh-suruh terus."
Ia malah curhat. Tapi jika didengar dari ceritanya, bang Givan tidak macam-macam pada Ria.
"Ya udah sana balik, udah malam." Aku meninggalkannya dengan berlalu ke Riyana Studio.
Aku bercakap-cakap dengan bang Dendi dan juga Ghava. Hanya membahas perihal ladang, juga rencana awal setelah ini. Deposito mamah memang masih banyak, tapi kami tak ingin mamah dan sampai mencairkan dana besar-besaran. Yang ada, malah nanti masa tua mereka yang bingung. Katakanlah itu untuk bekal di hari tua, jika memang usaha tersebut sudah tidak berkembang lagi.
[Udah sepi belum?] Aku mengirimkan pesan pada kak Aca.
Sejujurnya aku tak ingin meminta untuk berhubungan badan. Tapi, dengannya yang mesum itu. Pasti bisa saja kami malah melakukannya.
Aku ingin menembuskan langsung tentang ucapan bang Givan itu. Benar tidaknya, atau memang hanya bergurau saja.
[Udah pada dengkur, tadi aku cek ke depan kamar mak cek. Aku kurang sopan betul ya?]
Dia yang tidak sopan pun, aku yang menanggung dosanya.
[Ya udah aku ke kamar dulu.] Aku kembali berjalan ke arah rumah.
Bahkan, aku sengaja tidak mengunci pagar. Agar ketika papah mengecek, aku terlihat belum kembali ke rumah.
Aku tidak pernah seperti ini. Aku sampai deg-degan, karena seperti maling di rumah sendiri. Untungnya, salah satu jendela di setiap kamar tidak terpasang tralis. Gunanya jika terjadi kebakaran, kami yang berada di dalam kamar bisa menyelamatkan diri.
Namun, letak jendela ini cukup rahasia. Berada di dekat sudut yang paling dekat dengan kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.
Wow, ranjang yang penuh. Kak Aca memeluk kaki Ra, dengan Nahda yang berada di ujung tempat tidur. Malang melintang cara tidur mereka.
__ADS_1
Jika aku sudah bisa memboyong kak Aca, aku akan membuatkan tempat untuk masing-masing dari mereka. Aku tak apa kebagian mengasuh Ra juga, dengan Ra berada pada asuhanku, Canda pasti akan terkontrol olehku juga. Ya, dia akan sering menanyakan keadaan anaknya. Dengan begitu pun, aku bisa menanyakan keadaannya. Hanya keadaannya, tidak dengan lainnya.
"Ma…." Aku memanggilnya lirih.
"Hei…." Ia mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, dengan senyum yang merekah.
"Pantesan dichat tak balas." Ia menunjukkan layar ponselnya.
Padahal aku sudah mengatakan, bahwa aku tengah jalan ke kamarnya. Aku duduk di salah sofa kamar, lalu menepuk tempat di sebelahku.
"Sini." Aku mengangguk agar ia kemari.
"Ya." Ia duduk dari posisinya.
Lalu, wingggg….
Dengan mudahnya ia meloloskan wadah ASI dari dalam kaosnya tanpa membuka bajunya, lalu ia melemparkan wadah tersebut ke kepala ranjang. Wadah tersebut nyangkut di bagian atas kepala ranjang.
Pabrik ASI itu terlihat bergoyang ketika berjalan. Rupanya, ia tengah menguji imanku.
"Ehh…." Ia malah duduk di pangkuanku.
"Di sini, dodol." Aku terkekeh dan menepuk tempat di sebelahku.
Ia tertawa ringan, lalu berpindah duduk di sofa. Begini saja aku bisa tertawa.
"Bagaimana, Pak? Mau malam pertamaan kah? Tapi keknya standing aja, soalnya kasurnya penuh." Kak Aca merangkulku dan mencium pipiku.
"Nanti ya?" Aku mengusap-usap tangannya yang berada di pangkuanku.
Ia mengangguk. "Oke, aku ngerti Papa lagi lemas. Cerita apa nih? Mau didengarkan aja kah? Atau mau dikasih saran?"
__ADS_1
Enaknya begini ketika bercerita dengan kak Aca. Jika memang aku tak menginginkan saran, ia hanya memberi perhatian penuh tanpa menceramahi ini dan itu.
"Aku mau nanya, tapi jawab jujur ya?" Aku menyerong menghadapnya.
Kak Aca pun melakukan hal yang sama, ia mengangguk dan memperhatikan wajahku.
Aku mirip Jonas Rivanno katanya. Sampai GeEr sendiri, kalau mengingat pujian kecilnya itu. Itu loh, suaminya Asmirandah. Kalem dan postur tubuh kami mungkin sepintas terlihat sama, tapi bedanya kulitku khas pribumi sini.
"Mama pernah main sama bang Givan?" Aku langsung mengisyaratkan tanda petik.
Kak Aca mengerutkan keningnya. "Apa masa lalu aku bisa diterima? Aku bakal ceritain semua, kalau Papa tak keberatan dan tak shock."
Aku terdiam sesaat. Jejak masa lalunya pasti bebas, makanya ia bisa selihay ini. Masa lalu Kin, mungkin tidak ada apa-apanya dengan masa lalu kak Aca.
"Yang penting Mama fokus ke aku." Aku mengusap-usap pipinya.
"Aku usahakan, Pa. Karena aku pun ada anak, aku pun paham Kal dan Kaf akan jadi anak aku juga." Kak Aca malah menarik tanganku dari pipinya.
Aku mengangguk. "Sok cerita, perlahan aja biar bisa aku pahami."
Kak Aca menarik napasnya, lalu menghembuskan perlahan. "Perawan aku, hilang sama Givan."
Allahu Akbar.
Shock.
"Lepas itu aku pacaran, aku bilang bahwa keadaan aku udah begini. Tapi ternyata, malah dimanfaatkan mereka. Kalau pacaran, satu dua kali pasti ada tidur bareng. Sampai sekitar empat mantan aku, mereka minta untuk begituan juga kalau aku bilang bahwa aku udah tak virgin. Kalau tak jujur, aku takut laki-laki aku kaget pas di malam pertama. Sampai akhirnya benar-benar capek, karena selalu merasa diperbudak. Aku tinggalin, aku tak mau berurusan sama laki-laki. Terakhir itu, pas kau ada di sana itu nah. Paginya, aku baru putus sama pacar aku, siangnya Papa datang ke Cirebon. Makanya ngajakin refreshing kan malamnya? Habis itu berusaha jadi cewek yang galak ya ibaratnya. Aku tak respon laki-laki, entah itu di chat atau secara langsung. Belum lagi kan aku mulai skripsi, mulai macam-macam kesibukan di tempat kuliah. Malah ngeresanya, malas betul ngeladenin laki-laki, kek buang-buang waktu aja. Chatting, nanya lagi apa dan makan belum terus. Aku bosan, mending nanya yang lebih terpusat. Makanya bisa DP rumah, bisa kebeli motor. Terus sampai di MTS tempat ngajar, ketemulah guru honorer juga yang pendiam betul. Motornya Astrea, helmnya Arai. Kocak betul ini laki-laki kan menurut aku. Mulailah dekat, eh ternyata orangnya asik juga. Langsung ngajak nikah, aku jujur lah di situ. Ngilang dia tiga hari, bahkan tak ketemu di sekolah juga, izin sakit katanya. Tapi tiba-tiba datang ke rumah, minta izin buat nikahin aku ke ayah. Terus pas mau lamaran itu, dia jual helm Arai itu karena jujur tak ada modalnya. Lamaran kan kita, terus jarak tiga bulan nikah sederhana. Akad, terus foto studio, barulah syukuran di rumah. Tak sampai lima juta biayanya, karena ngundang cuma tiga puluh orang."
Napasku langsung sulit sekali. Aku terus menyatur napasku, dengan mengusap keringat dingin yang mulai banjir.
Ya Allah, astaghfirullah.
__ADS_1
...****************...