Istri Sambung

Istri Sambung
IS103. Ketahuan


__ADS_3

...Aku ceroboh ๐Ÿ˜ญ Episodenya tertukar sama buat besok pagi ๐Ÿ˜ข Episode Ketahuan dulu, terus baru Chandani Qaila Alnetta ๐Ÿ™ Mohon baca ulang, biar alurnya nyambung ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...


"Aku tak pernah meminjamkan uang ke orang tua atau saudara, Nov. Aku punya, aku kasih. Masalah berapa jumlahnya, ya semampu aku. Aku pun tak berharap dikembalikan, tapi ada aja yang balikin uang yang aku kasih." Aku tersulut emosi karena secuil ucapannya itu.


"Aku cuma nanya, Bang. Kalau Abang bisa begitu ke saudara, baguslah. Tapi pikirkan juga istri Abang! Uang belanja dan uang saku anak, itu udah pakai tabunganku sebelum aku resign kerja." Novi malah berlalu ke arah kamar mandi.


Aku tidak mengerti, kenapa siklus rumah tanggaku dipenuhi dengan cekcok.


"Kau cuma perlu bilang baik-baik, Nov! Aku tak lalai kewajibanku." Aku keluar dari kamar, setelah mengantongi dompetku.


"Ini, Vi." Aku memberinya tiga ratus ribu.


"Ya, Makasih. Nanti aku ganti, Bang." Ghavi menerima uang tersebut.


Tangan kecil itu malah menengadah, "La nana, Pa?" ujarnya dengan mata penuh harap.


Dasar, Cendol kecil!


"Nih." Aku memberinya uang yang berwarna hijau.


"Acih ya, Pa?" Ra mengambil alih uang tersebut.


Aku mengambil kembali selembar uang berwarna biru, kemudian aku memberinya pada Ghavi.


"Buat jajan Ra, tolong diurus dulu," ucapku yang langsung diangguki Ghavi.


"Dadah, Ra. Baik-baik ya sama Bapa." Aku melambaikan tanganku pada Ra.


"Dadah, Papa. Ati emput La ya?" Ghavi berlalu pergi dengan Ra di tangannya.


"Nanti aku ke sini lagi buat beresin beling, Bang. Aku mau ngasih uang ke Tika dulu, sama lepasin Ra di sana." Suaranya samar terdengar karena ia sudah beberapa langkah di depanku.


Sekarang, tinggal menitipkan Kal dan Kaf.


"Kalโ€ฆ. Kafโ€ฆ." Aku mengedarkan pandanganku.


"Mana mereka?" Aku bermonolog sendiri.


"Ya, Papa. Aku abis pipis," sahut anak laki-lakiku.


Tak lama ia muncul, dengan menarik resleting celananya. Lalu, ke mana anak perempuanku?


"Mau ke pondok biyung, apa di sini sama Nahda?" Aku menggandeng tangan bungsuku.


"Ke Jasmine, Pa." Kaf menunjuk ke arah rumah Jasmine berada, meski tidak terlihat dari sini.


"Ya tunggu di teras. Papa nyari kak Kal dulu." Aku melepaskan tangannya, kemudian menunjuk pintu utama.


Kaf hanya mengangguk, lalu ia berjalan menuju ke luar rumah.

__ADS_1


Namun, saat aku berbalik. Aku mendapati Kak baru keluar dari kamar mamah, dengan uang berwarna merah di tangannya.


Ya Allah, jadi benar yang dikatakan oleh Canda dan Novi? Kini aku diperlihatkan sendiri.


"Papaโ€ฆ." Kaf langsung melebarkan matanya.


Aku geleng-geleng kepala dan mendekatinya, "Bisa taruh balik?" Aku mengusap kepalanya.


Kaf mengedipkan matanya beberapa kali. Ia seperti bingung untuk mengeluarkan alasan dari mulutnya.


"Aku tak mencuri." Lolos pembelaannya, padahal aku tidak menuduhnya.


"Iya, taruh balik!" Aku membuka kembali pintu kamar mamah.


"Ini uang aku." Kal mendongak menatapku.


Dari matanya, kentara sekali bahwa ia tengah berbohong. Kin, aku tidak menyangka buah hati kita ada yang seperti ini. Harus bagaimana aku mendidiknya?


Persoalan rumah tangga terus meghantam. Ditambah lagi, kenyataan seperti ini membuatku amat kecewa pada Kal. Padahal, harapanku besar padanya.


"Taruh balik, Kal!" Aku baru kali ini membentaknya.


Bibirnya langsung rapat. Ia terisak dengan menundukkan kepalanya.


"Kal tau ini salah kan?" Aku menarik tangannya untuk masuk ke kamar mamah.


Ia mengangguk samar. Isakan tertahannya terdengar, dengan sesekali Kal menyeka air matanya.


Herannya lagi, Kal tahu tempat mamah menyimpan uang. Sudah pasti, ini bukan hal yang pertama untuk Kal. Karena ia sudah tahu, letak neneknya menyimpan uang.


Ia menaruh kembali uang tersebut di laci nakas. Di sana, ada dompet panjang yang berwarna coklat tua. Dari modelnya, sepertinya itu adalah dompet wanita.


"Udah, Papa." Kap mendongak menatapku, kemudian ia menunduk kembali.


"Kalau begini lagi, jari mana yang mau dipotong?!"


Tubuhnya tersentak, kemudian tangisnya pecah dengan langsung memeluk pinggangku.


"Maafin aku, Papaโ€ฆ. Aku janji, tak bakal ulangi lagi." Tangisnya pecah seketika.


Ya ampun, Kal. Harus bagaimana aku mendidiknya?


Aku duduk di tepian ranjang, kemudian menahan bahunya untuk tegak menghadapku.


"Papa tak mungkin tau Kal bakal ulangi lagi tak. Hanya Kal sendiri yang tau sama Allah." Aku menunjuk ulu hatinya.


"Kal kurang kah jajannya? Kal pengen berapa banyak pegang uang?" Aku menghapus air matanya.


Ia menggeleng berulang. Nafasnya yang sesenggukan masih terdengar jelas, Kal belum bisa dinasehati.

__ADS_1


"Kal anak baik kan?" Aku menengadahkan wajahnya, agar aku bisa melihatnya dengan jelas.


"Ya, Papa," jawabnya tersengal-sengal.


Aku memilih untuk memeluknya. Mencoba untuk menenangkannya dulu, sebelum aku mulai menasehatinya.


Sampai tiba waktunya, aku mengeluarkan suaraku lembut agar mampu diterima di otak dan hatinya.


"Kal bisa ambil uang orang ini, apa ada yang nyuruh?" tanyaku kemudian.


Kal menggeleng. Aku butuh jawaban yang jelas.


"Jawab, Nak." Aku mengusap keringatnya.


Lalu, aku mengangkat tubuhnya dan kududukan di tepian ranjang milik orang tuaku juga.


"Tak ada, Papa. Biyung tau dan biyung percaya sama aku. Papa memang tak percaya sama aku?" Ia malah melemparkan pertanyaan, seolah tengah mengalihkan pembicaraan.


"Kalau biyung percaya sama Kal, apa Kal pengen kecewakan biyung juga? Terus, Kal mau kapan berhenti ambil uang orang? Memang belum cukup hukuman tak boleh main dari mama Cantik untuk Kal? Apa Kal pengen hukuman yang lebih berat dari Papa?" Aku mengunci pandangannya yang melirik ke sana ke mari.


"Jangan, Papa." Tangisnya terdengar kembali.


"Janji sama diri Kal sendiri, jangan ambil uang orang lagi. Kal tak kasian sama Papa? Kal yang jahat begini, nanti Papa yang dihukum sama Allah." Aku mencoba menarik rasa ibanya.


"Ya, Papa. Aku janji, aku tak bakal ambil uang orang lagi." Kal menghapus air matanya sendiri.


Kenapa aku ragu pada anakku sendiri?


"Kalau ketahuan begini lagi. Kita ke dokter ya? Buat minta potong jari Kal." Aku berniat membawanya ke tempat konseling anak seperti itu.


Karena ini sudah menjadi kebiasaannya. Kal sulit lepas dari kebiasaan jelek itu, meski terlihat bahwa ia tidak ingin mencuri lagi. Apalagi, Kal mencuri ini tidak didasari dengan desakan.


Maksudku, seperti himpitan ekonomi. Sehingga ia kekurangan jajan dari orang tuanya, lalu ia mengambil jalan ini untuk memenuhi egonya sendiri. Bisa jadi juga, karena Kal menyukai sensasi memegang uang banyak. Aku tidak tahu pasti apa keinginan hatinya.


"Jangan, Papa." Tangisnya terdengar begitu ketakutan.


"Ya makanya diingat pesan Papa. Kal tak boleh begitu lagi!" Aku menggoyangkan jariku di depan wajahnya.


"Ya, Papa. Aku minta maaf." Kal memelukku.


Aku mencoba menciptakan ketenangan, dengan mengusap-usap punggungnya. Aku harus meminta bantuan pada siapa? Untuk membantuku membimbing dan mendidik Kal.


Novi.


Hukuman dari ibu sambungnya saja tidak membuatnya jera. Aku harus mendiskusikan banyak hal dengan Novi, sayangnya aku dan dirinya pun memiliki masalah intern yang tidak ada habisnya sendiri.


Jika orang tua tidak kompak mendidik anak, pasti anak tersebut merasa dilindungi oleh salah satu pihak dan membenci salah seorang orang tua yang tegas padanya.


Sepertinya, aku benar-benar membutuhkan bantuan orang lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2