Istri Sambung

Istri Sambung
IS52. Warung kopi


__ADS_3

Aku berlari sampai bermandikan keringat, karena dikejar oleh Ra. Dasar anak itu, selalu ingin mencari ayahnya. Sedangkan Canda, ia memintaku untuk mengambil langkah seribu saja.


Hingga sampailah aku di warung kopi yang dimaksud. Laki-laki paling tampan satu RT tersebut, tengah mengobrol dengan sesekali menyeruput kopinya. Kakakku duduk di bangku paling luar, dari warung tersebut.


Saat aku baru sampai, semerbak bau penolak nyamuk dengan aroma jeruk. Jujur, aku ingin tertawa saja melihat suaminya Canda yang memakai parfum unik itu.


"Kau tak bawa motor?" tanyanya, saat aku langsung duduk di sampingnya.


"Tak, lari dari gerbang depan rumah kau. Ra ngejar aku ke sana ke mari. Pas aku keluar gerbang, dia tetap ngejar aku. Betul-betul kek tuyul, Bang. Untungnya ada mamah di gerbang rumah mamah, lagi nganter rekan kerjanya sampai mobil. Jadi Ra ditangkap mamah."


Ayahnya malah tertawa saja.


Jadi seperti itu kah rasanya jadi bang Givan setiap hari? Ya hanya sebagian kecil, saat mengurus Ra saja.


"Aku sering begitu." timpalnya dengan geleng-geleng kepala dan tawanya mereda.


Mengerikan. Untungnya, anak-anakku tidak ada yang seperti itu.


"Jadi gimana?" tanya bang Givan kemudian.


"Ini loh, Bang." aku mengeluarkan map yang sudah aku gulung ini.


"Apa ini?" ia mengambil alih map tersebut.


Aku tidak menjawab, membiarkannya menyimak dan membaca sendiri isi dokumen tersebut. Tak lama kemudian, ia manggut-manggut dan menyeruput kopinya.


"Jadi, sejak aku tinggalkan saat kau jemput Ghavi itu. Pekerjaan kau masih di sini-sini aja, Far? Kau kemarin kerja gimana sih? Kok lambat betul pergerakan kau." bang Givan menaruh map tersebut di samping gelas kopinya.

__ADS_1


"Entahlah, Bang." aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aku pun bingung dan tidak mengerti akan diriku sendiri.


"Ya udah, siapin aja pusaka kau. Biar bisa langsung tempur besok." ia tersenyum mengejek.


Nah inilah yang aku takutkan.


"Ada rekomendasi obat apa, Bang?"


Eh, kenapa aku malah mengatakan hal ini?


Bang Givan tertawa geli, "Aku tak pernah pakai obat, yang penting olahraga sama jaga pola makan aja. Jamu aja kali kau, jamu aduk tuh."


Ah, sudahlah.


"Bang…. Aku harusnya gimana ke Novi? Dia tak peka, dia pun tak paham kalau marah aku diam." aku lebih memilih meminta saran saja.


Aku menyimak saran dan pendapatnya. Memang benar, aku pun mengerti bahwa Novi baru berumah tangga. Tapi, apa harus aku memberitahukan segalanya kewajiban sebagai seorang istri dan ibu. Sekali lagi, aku tak menuntut rumah kinclong. Toh, yang wajahnya kinclong sampai badan seperti bang Givan saja. Ia membiarkan rumahnya memiliki motif pasir 3D yang begitu real.


Ya namanya juga rumah sarang anak-anak. Jika anak-anak sudah besar, pasti rumahnya kinclong terus seperti rumah mamah.


"Ya hallo, Canda. Lagi sama Ghifar, apalagi?" bang Givan berbicara pada ponselnya.


"Ohh, di mamah kah? Kau di mana sekarang?"


Jika Canda adalah Kin, pasti ia sudah mengamuk saat aku mengkau-kau dirinya. Kin begitu tidak suka, saat aku menyebutnya seperti itu.

__ADS_1


"Hmm, ya udah. Iya nanti pulang, aku jemput Ra dulu. Kau jangan tidur dulu ya? Tak sampai jam sepuluh aku pulang."


Eh, eh. Sepertinya ada pertarungan sengit. Aku ingat Canda mengatakan bahwa ia akan menahan kantuknya sampai jam sepuluh malam, jika suaminya menginginkan dirinya.


Ponsel tersebut kini menindihi map yang tadi aku berikan.


"Terus gimana lagi, Far?" tanya bang Givan tiba-tiba.


"Tak ada, Bang. Ya mungkin nanti aku besok ajak Novi ke pantai Ulee Lheue aja, tak perlu nyebrang ke Sabang." aku tidak pernah mengajak Kin singgah di Ulee Lheue. Tapi memang pernah berpijak di sana, hanya untuk menyebrang ke pulau Weh.


"Ya terserah kau. Tiga hari aja, biar anak-anak kau tak merasa bagaimana. Terus baliknya bawakan banyak barang buat anak kau, tapi dari tangan Novi yang kasih. Jadi anak-anak kau merasa, bahwa Novi ini respect sama mereka." bang Givan menyeruput kopinya lagi.


Aku mengangguk, "Iya, Bang. Pulang yuk, Bang? Kek mau hujan." aku memandang langit malam ini.


Tidak ada bintang maupun bulan. Ditambah lagi, hembusan angin yang cukup kuat.


"Ayo." bang Givan mengantongi ponselnya dan menggulung map tersebut, kemudian masuk ke warung kopi ini.


Mungkin, ia akan membayar.


Setelahnya, aku menumpang di jok belakangnya. Sampai di depan gerbang rumah mamah, dengan dia yang berbelok ke rumah tersebut. Ya tentu untuk menjemput anaknya, yang disampaikan di telpon tadi.


Beberapa tanah aku tapaki, hingga kini sampai di rumahku juga. Aku langsung mengunci, kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di dekat pintu samping.


Setelahnya, aku menaiki tangga. Namun, aku menangkap pemandangan indah yang tergolek di sofa ruang keluarga.


Huft….

__ADS_1


Bagaimana aku menyikapi ini semua?


...****************...


__ADS_2