
"Ati-ati, Ca. Telpon kalau udah sampai di rumah." Pesan mamah, dengan mengantarkan kak Aca dan Nahda ke dalam mobilku.
Aku sudah bersiap mengemudi, dengan mesin mobil yang sudah menyala. Pakaian kak Aca dan Nahda pun terlihat sederhana, tapi senada dengan warna kemejaku. Aku mengenakan kemeja berwarna putih, kak Aca mengenakan dress midi berwarna putih, dengan Nahda yang mengenakan tunik berwarna putih. Setelah ini, mereka berdua akan menjadi tanggung jawabku.
Bismillah, menuju halal.
Tin….
Aku mulai menjalankan mobilku dengan perlahan. Tidak ada keragu-raguan di sini, hanya saja aku deg-degan. Ini adalah hal ternekat, yang pernah aku lakukan. Jika tidak mendapat dorongan penuh dari kak Aca pun, sepertinya pernikahan rahasia ini tidak akan terjadi. Aku bukan orang yang berani mengambil resiko.
"Berapa lama perjalanannya, Far?" Kak Aca menyentuh lenganku lembut.
"Satu jam lebih, nanti kalau udah dekat baru Nahda suruh…." Aku memejamkan mataku rapat.
Nanti anak ini bisa mengerti, jika aku mengatakannya. Nahda sudah pintar, apalagi jika diminta untuk bercerita tentang aktivitasnya seharian. Berbeda dengan anak-anakku, yang cenderung tertutup dan enggan untuk banyak bercerita. Beda anak, beda sifatnya.
Kak Aca mengangguk, kemudian ia mengajak anaknya berbicara. Sepertinya, Nahda kurang tidur juga. Karena ia sudah menguap beberapa kali, ditambah jam tidurnya yang memang masih cenderung terlalu malam saja.
Ketika tempat sudah mulai dekat, aku sengaja memutari jalan beberapa kali dengan jendela yang terbuka akan Nahda benar-benar pulas ditambah dengan sapuan angin alami. Karena Nahda akan dititipkan sementara di rumah keluarga pak kyai, agar kami bisa akad dengan cepat.
Pengabadian dalam video pun, aku sudah meminta salah satu anak pak kyai untuk merekam akad kami dalam kamera digital milikku. Ini jelas lebih aman, karena jika di ponsel pasti akan tidak sengaja dilihat oleh anak-anak kami yang meminjam ponsel kami.
"Udah mendengkur, Pa."
Cie, aku sudah dipanggil papa.
"Oke." Aku mengarahkan mobilku ke arah rumah pak kyai, yang kebetulan sekali dekat dengan mushola tempat kami akad nanti.
Lima orang saksi dan pak kyai sudah menunggu di depan mushola. Namun, pak kyai lebih dulu menyambut kami untuk masuk ke rumahnya. Mungkin karena ia melihat Nahda yang terlelap dalam gendongan ibunya.
Keluarga pak kyai pun begitu ramah, dengan istri pak kyai yang bersedia menjaga Nahda ketika anak itu tertidur. Aku harus memberikan uang ucapan terima kasih, karena mereka sudah membantuku sedemikian rupa.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku duduk bersila, dengan kak Aca duduk lima jengkal di belakangku. Uang dalam amplop dokumen yang cukup tebal, sudah berada di bawah tanganku yang tertaut dengan tangan pak kyai.
Ya Allah, semoga dengan ini surga lebih dekat. Semoga dengan ini, aku bisa halal untuk menyentuh wanita yang selalu bisa mendengarkan semua keluh kesahku ini. Semoga hubungan kami ini berkah, lalu dipermudah kedepannya.
Aamiin.
"Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan pada-Nya, kami berlindung pada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya."
Pak kyai mulai menyerukan suaranya. Kemudian, beliau melirik secarik kertas yang tertulis nama kami dan jumlah mahar yang sudah aku bawa untuk kak Aca.
"Saya nikahkan engkau ananda Teuku Ghifar bin Adi Riyana dengan Anasya May Sonia binti Imam Arif dengan mas kawin uang lima puluh juta delapan ratus dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai."
Tanganku terayun sekali.
"Saya terima nikahnya Anasya May Sonia dengan mas kawin uang lima puluh juta delapan ratus dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai."
Teksnya hanya begini. Namun, jika ditelusuri lebih dalam. Artinya, saya terima kebaikan dan keburukan serta dosanya dalam bentuk wanita yang menjadi makmum saya.
"Sah…."
Selesai.
Nasi kotak sudah dibagikan dan kami berpamitan dengan pak kyai beserta keluarga, dengan membawa Nahda yang masih tertidur pulas. Aku pun pergi dengan menitipkan beberapa nilai uang, sebagai ucapan terima kasih karena membantu kami halal dalam agama.
Surat keterangan nikah siri dari RT setempat pun, kami kantongi sebagai bukti bilamana kami dimintai keterangan perihal hubungan kami. Senyum lebar menghiasi wajahnya, dengan aku yang masih deg-degan saja. Karena biasanya ada malam pertama.
Namun, dengan kami kembali ke rumah yang berbeda. Bagaimana caranya aku untuk menuntaskan nafkah batinku, yang pastinya akan dituntut sesering mungkin oleh wanita yang begitu mirip dengan ibuku itu. Sudah ketebak benih yang kupendam selama menduda ini, harus dikuras habis-habisan oleh perempuan mesum satu ini.
"Bisa tak alasan ke mamahnya? Aku sih tak berani bohong ke mamah, soalnya pasti ketahuan." Ini sudah sering terjadi dan aku selalu sial.
"Aku telpon dari sekarang juga deh. Harusnya sih percaya, karena sekarang pun lagi hujan." Memang hujan tengah membasahi sepanjang jalan pulang kami.
__ADS_1
"Sok." Aku memperhatikan wajahnya yang tengah menempelkan ponselnya di telingaku.
Dosa berbohong sudah masuk daftar tanggunganku di akhirat nanti. Setelah ini, aku harus banyak menasehatinya agar tidak sering berbohong pada orang tua lagi.
"Ya, Mak Cek. Di sana juga hujan kah?" Kak Aca sudah berbicara dengan ponsel tersebut.
"Ya Allah. Terus aku harus ke mana dulu? Ini lagi perjalanan pulang."
Aku mencium bau gawat darurat di sana.
"Ada apa?" Aku menepuk pangkuannya.
Sedangkan Nahda, dia lelap di bangku belakang kemudi.
"Angin ribut di sana." Kak Aca melirikku sekilas.
"Ya Allah, Kal, Kaf…. Di mana mereka?" Aku langsung panik seketika.
Saat aku pergi, anak-anakku tengah berkunjung ke rumah bang Givan. Mereka tengah bermain bersama di sana.
"Bentar, nepi aja dulu. Aku mau lanjut ngobrol." Kak Aca mengusap-usap bahuku.
Sepertinya mamah masih berbicara cepat dalam panggilan telepon itu.
"Coba speaker." Aku menepikan Pajero Sport Dakar berwarna putih ini. Kyai dan keluarga pak kyai percaya bahwa aku dari Bali, ditambah lagi plat DK pada mobil ini.
"..... Udah lima belas menit yang lalu, kata papah pohon pada tumbang. Rumah Mamah kokoh, rumah anak-anak Mamah juga aman. Cuma atap parkiran baja ringan punya Riyana Studio itu terbang. Anak-anak juga aman aja, kebetulan mereka semua lagi sama Mamah di sini. Papah lagi pergi ke rumah Giska yang kemarin sama Zuhdi, soalnya Zuhdi dapat telepon dari keluarganya kalau rumah orang tuanya dan dan rumah Giska kemarin gentengnya pada terbang. Takut-takut dengan Novi sendirian di sana. Jadi masih hujan besar begini pun, papah nekat pergi pakai jas hujan sama Zuhdi."
"Ya Allah, Novia." Aku langsung teringat akan pelipisnya yang berdarah-darah.
Tanganku langsung gemetaran, dengan lututku yang seketika lemas. Aku tidak bisa menghadapi apapun dengan traumaku, termasuk trauma baru.
__ADS_1
...****************...