Istri Sambung

Istri Sambung
IS293. Keuntungan dan resiko


__ADS_3

"Pernah tak kau?" Bang Givan tertawa meledek.


"Sering lah. Tak mau ya nanti didudukin."


Malah, ia dan Canda tertawa lepas. Mungkin terdengar lucu ya? Tapi sungguh pengalaman baru untukku. Untungnya lagi, istri sendiri. Coba jika istri orang yang tidak diketahui bagaimana kesehariannya, mungkin aku sudah mengamuk.


Karena jujur saja, posisi enam sembilan yang sudah seperti hal lumrah untuk suami istri, tapi terasa janggal untukku. Rasanya tidak fokus, tidak nyaman dan asal bekerja saja. Karena posisi kita sedang mendapat perlakuan, ya boro-boro otak dan tubuh yang tengah keenakan dibagi untuk bekerja. Entah jika orang lain, tapi menurutku seperti ini.


"Enam sembilan, Mas." Canda terkekeh geli dan kembali masuk ke dalam rumah.


Dalam juga pengetahuannya. Lebih-lebih, ia langsung paham dengan posisi yang aku maksud.


"He'em…." Bang Givan masih terkekeh geli dengan bibir rapat.


"Dua istri terdahulu, tak pernah ada yang ngajak posisi itu. Istri ketiga, ya ampun suhu, aku merasa cupu." Aku geleng-geleng kepala dengan menyugar rambutku.


Bang Givan tertawa lepas kembali. "Canda pun nolak, banyak yang kurang suka posisi itu. Aku pun kurang nyaman, karena aku tak bisa kerja sambil diapakan gitu."


Sepertinya, kebanyakan laki-laki sama sepertiku. "Ngerasa tak bebas berekspresi," tambahku kemudian.


"Jangan terlalu banyak ekspresi juga, nanti malah buat ilfeel."


Aku manggut-manggut mengerti. Aku pun paham, saat di mana istriku hanya berpura-pura menikmati.


Eh, muncul lagi.


Canda malah tersenyum penuh harap dan duduk di sandaran tangan. Senyumnya begitu merekah, dengan merangkul bahu suaminya.


"Apa, Canda?" Bang Givan mendongak sejenak menoleh pada istrinya


Cup, cup, cup, cup….


Kakak ipar gila! Dia tanpa malu menciumi seluruh wajah suaminya habis-habisan di depanku.


"Apa?" Bang Givan terkekeh kecil.


Tetapi, Canda lebih memilih untuk berbisik di telinga suaminya. Kemudian ia menunjukkan ponselnya pada suaminya.

__ADS_1


"Nih…." Bang Givan mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.


"Sama Mas aja." Canda seperti menolak ponsel suaminya yang diberikan padanya.


"Aku lagi ngobrol," sahut bang Givan pelan. "Nanti kalau ada notif kode masuk tuh, ya kau masukin ke aplikasi belanja online kau."


Sepertinya ada hal lain pada mereka.


"Mas aja lah, aku tak bisa pakai debit begitu." Canda belum mengambil ponsel suaminya. "COD aja ya, Mas?"


Oh, belanja online.


"Debit aja. Nih HP aku, sana ambilkan aku minum dulu."


Kenapa ya, aku tetap tidak suka perintah diberikan tanpa kata tolong? Ya meski diberikan bukan padaku langsung.


"Sini piring kosongnya." Canda menengadahkan telapak tangannya.


Bang Givan memberikannya. "Nih, kucek dulu satu sih."


"Mas aia, bekas malam aku sama bekas telur pun belum dicuci." Canda turun dari sandaran tangan pada kursi.


Tak lama Canda muncul, dengan memberikan segelas air putih untuk suaminya. Ia menawariku teh manis, tapi aku menolak karena di rumah aku memilikinya. Aca sudah membuatan untukku, tapi aku belum menghabiskannya.


"Aku udah bilang ke Ria, ke Dewi juga. Kalau ada pekerjaan yang berhubungan dengan Farida, suruh mereka aja ya handle. Katanya, iya siap. Nah, nanti sama resepsionis nanti juga dialihkan misal dia minta ketemu sama kau. Kalau untuk pemutus kerjasama, keknya jangan dulu. Semisal Farida tak cukup profesional, dipagari begitu dia mungkin bisa putuskan kerjasamanya sama kau. Tapi kalau dia bisa profesional, ya harusnya tak masalah."


Ternyata, ia sudah melakukan tindakan untuk itu.


"Tapi gencar aku dichatnya, Bang," akuku risih.


"Yaaa, biarkan aja jangan diladeni. Aku pun pernah ada perempuan begitu, tapi aku tak respon, sampai akhirnya dia mundur sendiri. Aku pun pernah ada relasi yang tak profesional, karena keadaan perusahaanku tak masalah misalkan putus kerjasama sama pihak mereka, ya aku langsung putuskan biar dia tak ganggu aku lagi."


Sepertinya perempuan-perempuan seperti Farida, banyak yang memburu laki-laki sukses dengan usahanya. Aku yakin, bukan hanya ketertarikan fisik yang membuat mereka berani. Tapi, karena kesiapan keuangan laki-lakinya juga yang mereka pikirkan.


"Aca pun jangan ladeni juga. Jangan balas nelpon jangan diangkat. Karena, kalau kita salah ngomong sedikit. Biasanya, malah disebarkan ke dunia bisnis. Bisa juga mereka tambahkan, jadinya kan nama kita jelek. Jadi lebih baik diam tak merespon, daripada salah ngomong. Fatal soalnya nih, aku pernah ada kawan satu profesi yang tiba-tiba stabilitas perusahaannya goyah karena gosip begitu. Jadi kek mematwa dan menghasut orang, untuk tidak melanjutkan kerjasama sama kita. Tapi, pihak mereka bertahan semata-mata hanya untuk mengambil simpati kita. Jadi kita berpikir nantinya, ternyata cuma dia yang bisa bantu dan tak termakan gosip tak bermutu di luar sana. Kita kan tak tau, kalau dia yang udah buat kek gitu tuh. Jadi kek kesannya serigala berbulu domba gitu nah."


Oh, ternyata ada juga yang menggunakan jurus licik seperti itu untuk memikat pasangan.

__ADS_1


"Keterlaluan lah namanya, Bang," imbuhku kemudian.


"Ya memang, kedoknya manis. Kita pun tak bakal nyangka akan hal itu, karena tindakan dan mulut mereka pasti manis sama kita. Bermulut dua perempuan yang lagi terobsesi itu. Ya semoga aja, tidak dengan Farida. Kalau relasi kau sedikit dan ngambil barangnya besar, kalau mereka pada mundur karena mulut Farida, yang ada nanti kau benar-benar kolaps."


Ini yang aku takutkan. Apalagi, tindakan seperti itu pasti dilakukan di belakang kita. Kita pasti tidak menyangka sendiri.


"Iya, mending tak direspon daripada salah ngomong. Dengan bukti kau beristri aja, dia tetap maju gini. Berarti, ya memang golongan Farida ini adalah orang-orang yang nekat. Lagian, tak habis pikir aku sama Farida. Dia ini cantik dan modis, pasti banyak yang suka juga tuh. Aku mikirnya, dia ini hilang perawan atau gimana, makanya mereka lebih milih suami orang."


Aku menyimak pendapat bang Givan. Masuk akal juga, tapi bisa jadi karena tahu ekonomi kita stabil jadi mereka egois seperti itu. Ya contohnya saja Aca, ia ada pilihan lain, tapi ia memilihku karena ekonomiku lebih baik ketimbang laki-laki bujang yang dekat dengannya.


"Banyak-banyak luangin waktu untuk Aca aja, biar rumah tangga kau tak goyah lagi. Aku ada perempuan lain yang coba dekati juga, orang istri aku nempel aja, mereka sulit action. Kadangkala Canda anteng, aku perginya bawa anak, ya mereka ilfeel sendiri karena anak aku rewel-rewel, harus nempel ayahnya terus juga ke Canda."


Mungkin, aku bisa menggunakan cara ini.


"Memang Canda ikut kau ke kantor?" Setahuku, di sini Canda ditinggal-tinggal terus. Bang Givan hanya membawa anaknya saja, kadang sampai satu hari full.


"Kalau di Kalimantan, dia sering ikut. Di ruangan aku ada kamar, dulu kan aku jarang pulang. Tidur di kantor bareng sama Ai, tinggal bersama di kantor, di ruangan aku itu. Sekarang udah dalam kuasa Canda, kamar itu langsung disulap pink Hello Kitty. Pink nyala semua, sama sprei kasurnya juga. Tirai, jendela, cat kamar, properti, semua berubah pink. Untungnya tuh ada pintunya sendiri, jadi tamu yang datang itu tak tau. Awalnya aku begini pun, karena masa itu ada relasi bisnis, dia perempuan dan selalu nyosor aja. Masa sama relasi laki-laki aku begini, di nyosor terus? Karena dia cantik, tinggi dan menarik. Ya udah aja aku bawa Canda sebagai perisai, karena takut khilaf sendiri. Sadar ketahanan iman tak seberapa, sedangkan aku posisinya rujuk dengan istri yang ngambek karena orang ketika. Tak mau aku ini menduda lagi, apalagi dengan kasus serupa. Jadi aku jaga-jaga sendiri aja, toh Canda anteng juga. Yang penting ada makanan, belanja online jalan, kuota penuh, udah tuh anteng. Dengan adanya istri di kamar ruangan aku, kan jadi kita takut dong kalau mau ngapa-ngapain sama perempuan lain."


Oh, ternyata ini alasannya.


"Jadi, aku harus kek gitu kah?" Barangkali ini pun saran terbaiknya.


"Jangan, anak kau tak punya baby sitter. Aku tak suka kau terlalu merepotkan mamah, kasian udah tua mamah ini jaga anak-anak kau masa ibunya ikut kerja sama kau. Lagian, tempat usaha kau pun dekat sama letak rumah kau. Kalau kau minat dengan perempuan di luar, tinggal langsung pulang dan ajak istri kau berhubungan. Malah ada hadistnya kalau tak salah, tentang suami yang disarankan datang ke istri-istri mereka, jika merasa berh****t dengan perempuan di luar. Bukannya nganggap istri ini tempat sampah kita, tapi lebih ke menyadarkan diri sendiri bahwa istri kita pun sama menariknya dengan perempuan di luar sana. Apalagi, kita dengan berkah dan pahala gitu nyentuh istri kita ini." Bang Givan menerangkan dengan suara yang cukup lirih, mungkin cukup sensitif jika sampai terdengar ke telinga Canda.


"Ya, Aca pun nyaranin begitu. Aku ada pikiran, apa mereka tak berpikir nanti bahwa kita hanya melampiaskan aja?" Aku pun mengikuti suaranya yang ditekan lirih.


"Harusnya mereka paham tentang hadits itu deh. Terus yang paling utama, cepat diresmikan. Farida itu pada berani, karena tau kau cuma siri sama istri kau. Seberapa pun aku ceritakan bahwa kau mabuk Aca duluan juga, tapi mereka tetap tak akan ngaruh karena melihat banyak keuntungan dan kecil resiko untuk bersatu dengan kau. Orang bisnis kek Farida, untung dan resikonya pasti menjadi semua pertimbangan mereka."


"Iya, Bang. Habis ini aku mau nanya ke papah lagi, bisa dipercepat lagi tak gitu." Aku paham jika papah banyak mengenal orang-orang yang mudah dibayar seperti itu.


"Cerita juga kalau kau lagi diganggu orang ketiga, biar papah punya masukan."


Aku mengangguk mengerti. "Ya, Bang. Aku balik dulu, mau siap-siap berpakaian." Aku bangkit dari posisiku semula.


"Ya, Far. Tinggal nanti ke sini lagi aja."


Aku hanya mengangguk dan berjalan pergi. Saran sudah aku dapatkan, sekarang hanya tinggal melakukan beberapa step lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2