
"Sebenarnya, aku yang gatal," aku istriku tanpa malu.
Dia orang tersebut langsung terbahak-bahak lepas. Klop sudah jika mereka mengobrol seperti ini.
"Aku keluar dulu, mau keringin teras." Lebih baik aku yang kabur, karena obrolan mereka tidak baik untuk pikiranku. Aku selalu was-was dan tidak habis pikir dengan obrolan mereka berdua.
Benar, ada pelangi di langit. Terlihat sudah begitu pias, mungkin muncul sudah begitu lama. Yang tidak aku mengerti kini, ternyata aku masih dalam keadaan on fire. Menyesakkan sekali ketika sulit dijinakkan seperti ini.
~
Dua Minggu kemudian, kini aku menerima Novi kembali untuk bekerja di sini. Alasan dari gagalnya dirinya menjadi seller online adalah, karena mamah yang tidak mengizinkan. Banyak pertimbangan dan banyak pemahaman karakter mamah tentang Novi, membuat Novi kini bekerja kembali di kantorku.
Bagaimana respon istriku?
Dia biasa saja, yang penting aku menyempatkan diri seminggu sekali untuk menginap di rumahnya. Aca tidak memiliki terlalu banyak aturan untukku. Yang penting, dia tetap menjadi cintaku saja katanya.
"Betah-betah ya, Nov?" Aku tersenyum lebar, dengan mengantarkannya ke ruangan khusus dirinya.
"Makasih ya, Bang?" Ia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan.
"Ya, Nov. Sama-sama. Aku pergi dulu ya?" Aku pamit dari ruangannya.
Sejak pagi, aku sudah mendapati voice note dari istriku yang mesum itu. Permintaan sederhana, malam ini aku diminta tidur di rumahnya. Sudah seperti gilir istri muda dan istri tua, meski nyatanya aku lebih memilih waktu yang pas saja agar mamah tidak curiga.
Aku langsung menuju ke ruangan Ria, ada pembahasan di sana dan Ria butuh pendapatku. Hari ini begitu sibuk, sampai aku melewatkan istirahat makan siangku.
Hingga masanya waktu pulang kerja, Novi sudah siaga di samping mobilku. Aku merasakan ada sesuatu yang mengacaukan niatku untuk pulang ke istriku.
"Aku ada kerjaan di luar, Nov. Aku tak bisa antar kau pulang." Aku menolaknya, sebelum ia meminta untuk aku antarkan.
Wajahnya langsung ditekuk. "Aku ikut aja deh, aku nungguin."
Runyam urusannya.
Jika aku pulang lebih dulu untuk mengantarkan Novi, sudah pasti orang rumah akan curiga ketika aku kembali pergi. Meski Novi tidak tinggal di rumah mama lagi, tapi jalan yang aku lalui untuk sampai ke rumah adalah tepat di depan rumah mamah. Nanti permainanku ini, terkesan tidak rapi.
"Duh, gimana ya?" Aku menggaruk kepalaku sendiri. "Aku bakal lama, biasanya sampai tengah malam. Aku pesankan taksi online aja ya?" Itu adalah jalan terbaik untuknya.
"Bang…. Aku udah bilang ke pak wa, kalau aku ini pulang sama kau. Tadinya pak wa nawarin jemputan, tapi aku tolak karena mau pulang sama kau."
__ADS_1
Sabar, Far.
"Ya udah, aku antar pulang."
Sudahlah, bagaimana nanti saja untuk sampai ke rumah Aca. Aku tak mau berdebat lebih panjang lagi dengan Novi, aku sudah tahu jika akhirnya aku harus mengaku bahwa aku yang bersalah.
Aku menikmati perjalanan pulang, tanpa percakapan dengan Novi. Bukan aku muak padanya, aku hanya mencoba menghindari perdebatan saja.
Drttt…..
Ah, ini pasti pesan dari Aca. Aku langsung merogoh ponselku dan melihat isi pesannya. Salah, karena ternyata itu adalah dari Canda.
[Aku mau liburan ke Aceh Selatan, di Tapak Tuan. Aku mau ajak semua anak-anak dan pengasuhnya, termasuk kak Aca juga. Kalau kau mau, kata mas Givan kau bisa ikut. Biar mas Givan tak usah sewa bus, dua mobil aja cukup keknya.]
Sialan, aku mengerti maksudnya.
Aku memelankan laju kendaraan, sebelum akhirnya menepi sejenak di ladang yang terbelah ini. Aku ingin membalas pesan dari Canda dulu.
[Berapa hari? Aku pun dibayar juga lah, masa iya bensinnya pakai air kencing.] Aku hanya bergurau saja.
"Bang, kenapa berhenti di tengah ladang? Abang mau berbuat tak senonoh ya?"
Ada saja, Ya Allah.
Ah, iya. Aku belum memberitahu istriku bahwa aku mengubah rencana kedatanganku.
Drrtttttttttttttttttttt….
Namun, ia malah menelpon lebih dulu. Panjang umur sekali.
"Hallo…." Aku menjepit ponselku dengan bahuku.
"Pa…. Tanggal tiga satu kan tanggal merah, hari Jum'at tuh. Sabtu Papa tengah hari kan? Minggu Papa libur. Papa geser-geser jadwal ya mulai hari ini? Kamis sore kita berangkat, kita ke Tapak Tuan sama Canda dan Givan."
Ia memberitahu juga. Kesempatan sekali, aku pun ingin liburan bersama juga.
"Kal, Kaf bisa ikut?" Aku mengharapkan istriku pun bisa menjaganya, tentu aku akan membantunya mengurus kedua anakku juga.
"Eummm…. Cukup tak ya mobilnya? Coba Papa hitung bangku dan kepala. Kalau tak cukup, kita ajak bang Ken atau siapa untuk ikut mobilnya."
__ADS_1
Mobilku, mobil berpostur besar yang memiliki kapasitas cukup banyak. Mobil bang Givan juga, memiliki kapasitas yang cukup banyak.
"Cukup deh keknya. Ya udah, Kamis sore kita berangkat liburan." Aku sudah membayangkan liburan berkesan kami.
"Aku ikut."
Ini bukan hal yang menyenangkan.
"Cuma keluarga kecil Canda, aku cuma nyupirin." Aku langsung memberikan alasan pada Novi.
"Siapa itu, Pa?" Suara Aca dari seberang telepon.
"Novi, dia minta aku anterin dia pulang. Pagi tadi, dia udah berangkat kerja lagi." Sebelumnya, aku sudah bercerita pada Aca tentang Novi yang bekerja kembali ke kantorku.
Tidak terdengar respon suara dari seberang telepon.
"Aku ikut deh, aku nanti bilang ke bang Givan." Malah Novi yang menimpali.
Ia sudah sibuk dengan ponselnya saja. Aku tahu, ia akan merengek pada bang Givan.
"Nanti diobrolin lagi ya?" Aku akan memikirkan ulang, untuk mau menjadi supir anak-anak Canda.
Karena masalahnya, akan ada Novi yang ikut serta. Aku keberatan dengan kehadirannya, karena pasti ia akan membandingkan liburan kami ketika di Pulau Weh.
"Ya, Pa. Jangan datang terlalu malam ya?" Ia tetap ingin aku pulang ke sana.
"Oke, siap. Diusahakan." Aku menyimpan ponselku kembali setelah bertelepon ria.
"Tuh, Bang. Kata bang Givan boleh ikutan." Novi menunjukkan layar ponselku.
Aku akan coba mengundurkan diri menjadi supir liburan keluarga Canda. Aku akan merekomendasikan bus par yang mau disewa. Tapi, jika begitu malah Aca tidak ada yang menjaga. Kami tidak bisa liburan bersama juga.
Kapan lagi bisa liburan bersama anak-anak? Mumpung mereka pun tengah libur sekolah. Ya memang hari Sabtu mereka malah bolos, tapi biasanya lumrah karena hari pitnes, kejepit nasional.
"Ya, Bang? Aku ikut ya?" Novi malah merengek dengan menggoyangkan lenganku.
Aku jadi dilema di sini. Jika aku tidak ikut, aku tidak bisa bersama istriku yang liburan bersama keluarga Canda. Tapi jika ikut, Novi pasti akan terus merecoki dan mengajak berdebat.
Cerita tentang aku K.O saat liburan di Sabang pun, sepertinya akan dibuka olehnya juga. Aku memiliki feeling seperti itu, karena karakter Novi yang terus membanding-bandingkan.
__ADS_1
Bagaimana sebaiknya?
...****************...